How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Senin



Karena ia salah memilih jalur, ia harus terjebak macet setelah mengantar Najwa. “Santai aja men, macet gak macet nikmatin aja. Inilah seninya sebuah perjalanan.” ia memutar sebuah music keras favoritnya. Unanswered, lagu yang sangat keras pada masanya. Disaat orang-orang ramai memencer klakson ia dengan santai menikmati lagu itu.


Lagu yang dimasanya sebuah terobosan. Dimasa yang sama sebuah band dengan nama Bring Me The Horizon memiliki aliran yang sama dengan SUICIDE SILENCE. Yaitu Deathcore, tetapi dimasa itu SUICIDE SILENCE datang dengan sebuah terobosan yang sangat gila, dimana mereka membuat lagu yang sangat keras dan juga dengan scream yang belum pernah didengar disaat itu.


Setelah arus perjalanan kembali lancer ia mengendarai dengan santai tapi dengan kecepatan yang terbilang cepat. Selama ia mengendarai, ia memutar lagu-lagu keras. SUICIDE SILENCE, Thy Art Is Murder, Slaughter To Prevail, dkk. Baginya semua lagu itu adalah lagu lembut, karena baginya metal tidak ada yang sekeras Deathcore, walau ada itu tak begitu banyak.


Akhirnya Semi sampai dirumahnya,  pukul 23.30 malam. Ia harus mencari cara agar ia mudah tertidur, ia memutuskan untuk mandi dengan air hangat, karena itu akan melemaskan otot dan akan menimbulkan efek mengantuk. Dengan begitu Semi bisa cepat tidur.


Minggu berganti Senin, ia bangun sedikit telat hari ini, ia bangun pada pukul 06.30 pagi. Tetapi ia masih bisa sedikit bersantai, karena ia seorang guru, bukanlah seorang murid yang harus datang tepat waktu. Karena waktu yang sudah terbilang tak banyak lagi, ia memutuskan untuk mengendarai motorya. Ia mengendarai motor Triump Speed Triple 1050. Motor yang dikendarai Ryan Reynolds pada film Hitman Bodyguard. Pertama kali ia melihat motor itu, ia snagat terkesan, lalu ia mengumpulkan uang dan membeli motor itu.


Semi sedikit mengebut dalam mengendarai motornya, tetapi ia masih telrihat tenang, karena ia juga sudah mengetahui jalan tikus untuk ke sekolahnya agar lebih cepat sampai dibandingkan menggunakan jalur yang biasa ia gunakan. Jalur itu membuahkan hasil yang memuaskan, ia sampai sepuluh menit sebelum waktu tenggang untuk para murid.


Ia segera masuk dan keruang guru untuk mengikuti upacara. Hampir saja ia terlambat, bila ia terlambat maka akan ada yang mengkritiknya, mungkin saja, karena ia adalah guru baru, tetapi memberikan contoh yang buruk  kepada muridnya, seperti contohnya bila ia terlambat pada hari Senin ini.


Setelah beberapa lama, akhirnya upacara bendera selesai. Akhirnya aktivtias belajar mengajar bisa dimulai. Ia segera mendatangi kelas XI MM II. Tampak semua murid senang dengan kedatangan dirinya. “Nah pada nyengir semua nih, udah pada selesai ini kaosnya ya ?”


“Udah mas, beuh lebih mantep dari pada desain di adobe ps.”


“Ok, kalo gitu keluarin, saya mau liat, lalu kalian pake ya, saya pengen tau kalo kalian yang make kaya apa.”


Kelas itu berisik berisi suara sleting tas terbuka dna juga plastik yang terbuka. Semi dengan senang melihat pemandangan ini, tampak semua muridnya antusias untuk mendengar komentar darinya. “Nilai mas langsung.”


“Ok, kalian semua udah selesai tepat waktu, gak ada yang molor ya waktunya, mantab jiwa. Ok, saya mau liat berdasarkan absen ya.” Semi menyorot matanya kedepan murid didepannya.


“Didepan muka saya, coba diri, kaya apa jadinya. “ Semi memperhatikan beberapa saat.


“Coba kamu lepas, saya mau pegang bahannya kaya apa.” muridnya melepaskan baju yang ia kenakan dan memberikan itu kepada Semi. Semi dengan puas menyentuh baju itu secara keseluruhan.


“Keren ini, kamu kan pake desainnya itu kaya alphabet lampu kan ? Maksud saya kaya alphabet lampu kaya di bar gitu kan ?”


“Iya mas.”


“Mantab, ini bagus, ini sablon apa print ?”


“Sablon mas.”


“Keren, sablonnya kaya nyatu sama kaos, terus desain kamu juga alus banget rapih, bahan kaos kamu juga kaya kao buat ngegym, mantab banget Abdul.”


“Makasih mas, selanjutnya.”


Arian segera melepas kaosnya dan memberikan kepada Semi. “Wih, Dreams. Judul lagunya Weird Genius, suka k banget kamu sama lagunya ya ?”


“Banget mas, tenrgiang-ngiang terus dikuping.”


“Keren ini, font scriptnya bagus, gak flat, kamu tambahin blending option jadi kaya font ini tebel, n then kamu ngasih efek kaya ada percikan, terus tulisannya itu kamu buat, kalo saya nyebutnya itu lidah. Ini yang tali panjang ini, saya nyebutnya lidah huruf. Semuanya overall keren, kaos kamu juga bahannya bagus, perkombinasian tiga warnya semuanya terang tapi gak nora. Kaya lampu di Las Vegas gitu. Inspirasi warna kamu itu ya ?”


“Tau tuh mas. Jelas lah, saya kan hafal warnanya kaya apa. Good Arian. Ok Lucky.”


“Ni mas, saya pas pertama kali liat kaos ini amaze sendiri saya mas, kaya bukan saya yang desain.” lalu ia kembali ke bangkunya.


Semi berdiri dan melebarkan kaos itu. “Ini keren banget beneran. Gak kalah sama punya Abdul sama Arian. Luck, pinter kamu. Tinggal kamu jual ini, saya rasa ini mau kamu juga cepe tiga puluh juga dapet ini.”


“Siap mas, otw saya jual ini mas.”


“Ok, kalo udah laku bilang ya ?”


“Nanti saya kabarin mas.”


“Yang kemaren desainnya di retouch mana nih ? Maju lah.”


“Ni mas, jangan dimakan ya mas bajunya.”


“Kamu pikir saya kelaperannya kaya gitu apa nggak lah, aneh-aneh aja kamu.” Semi memuka baju itu dan ia tercengang beberapa saat.


“Alvianita. Bener ucapan kamu.” Semi melebarkan baju itu.


“Vi itu desain apa kue Vi ? Enak banget keliatannya ?” tanya Abdul.


“Vi ya ampun Vi laper gw liat baju lu, belom makan gw dari jam enam.”


“Kecilin tuh perut, makan mulu, meledak yang ada kamu.”


“Eh iya maap mas Sem. Ampun mas.”


“Nih, saya beli kaos kamu. Selamat ya mba.”


“Makasih banget mas.”


“Barusan kalia liat apa yang kalian kerjakan itu nggak sia-sia. Walau kalian udah ngeluarin uang, tapi kalian balik modal liat kan ? Nanti semua baju kalian saya bawa keruang guru, saya kasih tau walikelas kalian, bu Ayana, sama mba Riana, berharap aja ada yang mau tuh sama kaos kalian. Terus… Oh iya!”


“Apa mas ? Kayanya seneng banget mas ?”


“Kalian bilang anak saya banyak yang bermasalah kan ? Kalian sendiri ada yang bermasalah gak ?”


“Ada mas, delapan orang.”


“Nah kalian kumpulin kaos kalian sekarang.” mereka segera memberikan kaos itu kepada Semi, lalu Semi berdiam untuk beberapa saaat memperhatikan kaos mereka.


“Kalian yang bermasalah keren desainnya. Kalian tau kenapa saya tadi seneng ?”


“Ngapa mas ?”


“Saya mau tunjukkin hasil karya kalian ke kepala sekolah. Buat bukti kalian yang bermasalah itu sebenernya pinter, Cuma butuh guru yang tepat.”


Sebuah pukulan keras dimeja terdengar, sehingga semua murid teruju pada sang pmukul meja. “Sapa tuh ?”


“Saya mas, nggak sengaja mas mukul mejanya kekencengan. Saya seneng banget mas, soalnya jarang ada guru yang merhatiin kita mas.”


“Gak masalah. Saya bisa jadi guru, saya juga bisa jadi sahabat kalian. Kalian mau tau kan reaksi kepal sekolah kaya apa  kan ? Nanti saya bawa ke kepala sekolah  Santuy aja. “


Semi kembali duduk dimejanya. “Kumpulin deh semuanya, saya nilai disini juga, nah pas jam pelajaran abis saya bawa keruang guru abis itu saya bawa ke kepala sekolah.”


“Ok mas.”


Semuanya mengumpulkan kaos itu kepada Semi, lalu Semi menilai semua kaos itu dikelas,  Semi menghabiskan waktu pelajarannya hanya untuk menilai karya muridnya. Ia merasa begitu puas, ia bukan merasa puas karena semua muridnya mengerjakan kaos itu, tetapi ia merasa puas karena hasil desain mereka lebih bagus saat sudah dicetak. Lalu Semi membicarakan beberapa desain yang menurutnya ia sangat sukai. Semua muridnya mendengarkan dengan seksama. Tak ada dari mereka yang tidak mendengarkan Semi.


Hingga jam pelajaran habis ia meninggalkan kelas lalu membawa semua baju itu ke  ruang guru. Ia masuk ke ruang guru dengan sedikit kesulitan, disaat ia masuk ia dilihati oleh semua guru yang ada didalam.


“Wih mas Sem, baju dari mana tu mas ?”


“Ini karya anak bapak semua pak. Beuhhh, bukan kaleng-kaleng semuanya pak.”


“Mana coba aku mau liat.” Riana dengan cepat mendekati kaos itu.


“Karya anak bapak Alvianita, langsung saya beli dimuka pak. Hasilnya ini semua bukan kaleng-kaleng pak.”


“Saya mau beli juga kalo gitu mas Sem, sebagai tanda dukungan kepada murid.”


“Liat dulu bu Aya, bagus bu semuanya. Kalo bisa saya juga mau beli semuanya bu, bagus beneran.”


“Saya mau kasih yang paling bagus buat anak sulung saya, suka banget pasti dia.”


“Mau kakek-kakek juga pasti suka pak, ini semuanya bagus pak.”


“Pinter ni mas Sem bisa ngedidik murid saya sampe bisa membuat karya kaya gini.”


“Oh ya pak, kata anak bapak, dikelas bapak ada juga yang bermasalah ?”


“Ada mas, emang delapan orang.”


“Wah liat deh pak yang bermasalah, itu aja hasilnya bagus pak. Rasanya mau saya tunjukin ke kepala sekolah pak.”


“Nah mas Sem, berhubung masalah kepala sekolah, kita ada waktu sekarang ni mas Sem buat ketemu sama kepala sekolah.”


“Oh ya bu ? Wah berarti tepat banget dong bisa langsung kasih tau potensi anak bapak sekalian murid saya juga. walau baru packaging doang sih pak.”


“Nah ini semua udah tepat banget sih mas Sem, gak masalah, lima menit lagi kan kita mau ketemu sama kepala sekolah ni, berarti jangan kita liat dulu, nanti malah berantakan.”


“Iya juga, nanti aja lah bu milihnya.”


“Iya ntar aja lah. Kan padahal saya yang minta waktu sama kepala sekolah, masa saya yang ngundurin waktunya sih. Yaudah mending langsung aja deh mas.”


“Ok bu, saya ambil packaging anak saya dulu.”


Semi dan guru yang lain bersiap untuk berhadapan dengan kepala sekolah, pak Afrian dan Semi masing-masing membawa karya anak mereka untuk ditunjukkan kepada kepala sekolah, sebagai bukti bahwa anak yang bermasalah sebenarnya pintar, bila mendapatkan pengajar yang tepat.