How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Istirahat



Siang, waktu pulang telah datang, terlihat semua murid meninggalkan gedung sekolha, begitu juga para guru. Dilahan parkir hanya ada satu motor saja yang terlihat begitu berbeda dari yang lainnya, berwarna hitam mengkilat dan begitu bersih layaknya baru. “Beuh Triumph speed triple 1050 cok. Motornya Ryan Reynolds di Hitman bodyguard.”


Disana ada Hakim dan juga Ardine yang tengah mencari motor mereka dilahan parkir itu, namun mereka terhenti karena melihat motor itu, mereka begitu terkesan. “:Beuhh motor Eropa ini cu, spare partnya gak begitu banyak kaya motor Jepang. Beuh ini orang kaya ini yang punya, siswa kah yang punya ?”


“Baru liat ini gw Din.”


Semi datang dilahan parkir itu. “Hakim, Ardine, gak pulang kenapa diem aja ?”


Semi berjalan sambil menyapa kedua muridnya, lalu ia segera menaikkan motor yang tengah mereka lihat. Mata mereka terbelalak. “M…. Mas motornya mas ?”


“…. Iya kenapa ?”


“Be… Beli berapa mas ? Ini kan mahal.”


“Ya mahal emang, tapi ini harganya beda jauh sama CBR 1000.”


“Kalo lebih murah berarti berapa mas ?”


“Ini harganya tiga ratus sepuluh juta.”


“Wuihh. Kalo boleh tau mas, punya penghasilan dari mana mas ?”


“Pertanyaan bagus Kim. Saya itu punya investasi, ya maju lah lumayan.”


“Maap juga mas pertanyaannya lancang. Kalo mas Sem punya invest yang maju, kenapa masih kerja jadi guru mas ?”


Semi turun dari motornya dan tersenyum. “Hobi saya itu membenarkan mereka yang rusak, dan sekolah adalah tempat yang tepat. Kalia itu dicap bermasalah sama kepala sekolah bukan ? Karena itulah saya ada disini. Saya ingin membenarkan kalian. Lalu setiap gaji yang saya terima itu selalu saya amalkan. Jadi saya emang ke sini karena itu aja. Walau saya udah terbilang kaya, saya jadi guru karena hobi saya. Andai nggak digaji gak masalah, karena saya udah ada invest.”


Mereka mengangguk sambil menutup mulut mereka perlahan. “Ok mas makasih jawabannya.”


“Bila kalian menginginkan apa yang saya punya juga, pertama kalian berangan aja dulu, lalu kalian mulai menempuhnya dengan menggunakan skill kalian. Walau hasilnya gak seberapa sama target kalian gak masalah. Semuanya kan berproses. Kalian sabar, disiplin pasti kalian bisa mendapatkan apa yang saya punya.”


“Ok, makasih mas sarannya.”


“Dari pada kalian beli CBR 1000, harga bisa nyampe delapan ratus Cuma 1000 CC, ini punya saya 1050 CC lo. Istilahnya menang banyak kan ? Harga tiga ratus sepuluh CCnya gede juga lagi.”


“Otw, dah mas. Otw ngedesain terus nabubng buat beli mas.”


“Nah bagus kamu terangsang sama apa yang saya katakan. Yaudah saya cabs ya ?”


“Hati-hati mas.”


Sebuah pembicaraan kecil yang menunjukkan betapa rendah hatinya seorang Semi. Pertanyaan itu mungkin baru pertama kali ditanyakan oleh muridnya. Semi belum memberitahu bahwa café yang kemarin mereka kunjungi adalah itu café miliknya. Semi sengaja tidak memberitahu itu, lamabat laun nanti mereka juga akan mengetahui itu.


Semi senang muridnya bertanya demikian, seorang pria kaya, memiliki café, tetapi mengapa masih saja mau menjadi seorang guru yang gajinya tidak seberapa. Jawaban Semi adalah hobinya. Sebuah hobi yang dimana hanya sedikit saja orang yang mau menekuni, jangankan menekuninya, untuk menjalankannya saja hanya sedikit yang mau menjalankannya. Yaitu membenarkan hal yang salah, terutama pada manusia. Semi telah banyak berhadapan dengan orang dijalanan, dan itu bukan lah mereka yang rusak seberapa. Mungkin mereka tidak begitu rusak, tetapi hanya salah saja. Untuk mendapatkan mereka yang rusak disekolah lah tempatnya. Dimana tempat mereka semua terlihat terdidik, tetapi siapa tahu bahwa sebenanrya mereka rusak, dan ia hanya menempatkan dirinya layaknya terdidik saja.


Sampai, akhirnya Semi sampai rumahnya. Rumhanya yang begitu besar dan juga nyaman. Ia terlihat berjalan dengan bermalas-malasan. Ia meletakkan tempatnya sembarang tempat, melepas baju, celana, dan kaos kakinya disembarang tempat. Ia berjalan kekamarnya, saat membuka pintu kamarnya ia segera tumbang, suara yang cukup keras itu tidak membua tutbuh Semi sakit, karena ia sudah terlatih akan itu. Mempelajari beladiri membuatnya tangguh. Ia bahkan sekarang merayap menuju ranjangnya.


“Aduhhh boy.” Semi mulai merayap perlahan, seharusnya calon istrinya ada disini, karena ia berkata akan menginap selama empat hari, tetapi mengapa ia tidak ada ? Mungkin saja ia tengah berada diluar tengah membeli apa yang ia butuhkan, atau ia melakukan hal yang lain.


“Ahhh… Cape juga anjay. Cuma ngajar di empat kelas rasanya tulang belakang gw pegel banget!” kembali merayap mencoba itu mencapa ranjangnya yang nyaman dan empuk, hingga akhirnya ia bisa mencapai ranjangnya itu.


“Ahhh… Akhirnya nyampe juga ni kasur. Tidur dulu dah, nanti bangun jam lima atau nggak jam empat lah. Najwa kemana lagi, katanya nginep tapi ngapa dia gak ada sekarang. Bodo lah, ngantuk gw”


Semi terlelap. Entah kemana calon istrinya pergi, ia berkata ia menginap dirumah Semi selama empat hari, tetapi buktinya hari ini ia tidak ada. Waktu demi waktu berjalan, terlihat lah Najwa kembali sambil membawa beberapa kardus yang berisi barang belanjaan yang ia beli.


“Semi udah pulang ya ? Motornya ada tuh di depan. Terus…. Ya ampun!” ia terkejut dengan berserakannya barang Semi, tas, sepatu, kaus kaki, baju, dan celana. Wajahnya terlihat sedikit memerah karena itu.


“Semi ih masih aja kaya bocah dah! Ini pada berantakan kenapa coba ? Ampun dah Semi Semi.” Najwa tidak membereskan barang itu, ia mengunci pintur rumah dan segera mencari dirinya.


“Eh emang kebiasaan udah gitu tidur.” ia melihat Semi yang tertidur begitu lelap, tidur layaknya seorang kuli yang baru bekerja sehari semalam.


Ia tak mengambil pusing apa yang calon suaminya lakukan. Ia duduk didepan computer Semi yang berada dikamar. Menyalakannya, entah apa yang ingin ia lakukan pada computer itu. “Nah kan lagi tidur yah, aku pinjem ya say komputernya, aku mau push rank, bentar lagi mau turun season.”


Terlihat, bahwa Najwa bermain game battleground yang sangat disukai banyak orang. Ya, siapa sangka ternyata dirinya sangat suka memainkan game ini. Tak lepas juga dari seorang Semi yang dirinya juga seorang gamer. Memiliki uang banyak membuatnya membeli game battleground itu untuk versi computer.


Terlihat, Najwa begitu asik memainkan game itu menggunakan headphone, ia bermain layaknya seorang gamer wanita profesional, pergerakan matanya layaknya CCTV yang beregerak ke segala arah dengan akurat.


-


Sore pukul 16.30.


Semi mendengar suara ledakan senjata dikamarnya, ia mencoba untuk tetap memejamkan matanya sambil berpindah posisi yang nyaman. Namun suara itu tetap datang, seperti suara rentetan suara senjata mesin dan ledakan granat. Semi memutuskan untuk bangun, dengan mata yang masih lengket ia mencoba melihat dengan jelas siapa yang berada didalam kamarnya.


“Najwa ?”


Ia mendapati calon istrinya bermain dengan komputernya. “Najwa ?”


Najwa tersadar dari headphone yang ia gunakan. “Eh kamu udah bangun ?”


“Kamu dari mana aja ? Aku cariin tau gak, katanya nginep dirumah aku, tapi kamunya gak ada.”


“Aku abis belanja say, kamu banyak yang udah abis tau gak.”


“Aku walau udah banyak yang abis tapi aku tetep merasa cukup aja. Terus kamu dateng main PUBG lagi dikomputer aku.”


“Kan kamu punya akun Steam, aku bisa manfaatkan dong, aku buat akun juga, jadi aku bisa main juga deh di PC kamu.”


“Terserah lah.” Semi bangkit perlahan, dari balik selimut itu terlihat Semi hanya mengenakan celana pendek boxer selama tidur, tubuh kekarnya yang sudah terbentuk terlihat begitu menggugah.


Najwa memutar kepalanya begitu melihat Semi keluar dari selimutnya. “Sem… Semi….”


Semi memperhatikan raut wajahnya yang memandangi tubuhnya, setelah itu ia segera mengenakan baju biasa untuk dirumah. Setelah itu ia tak lupa untuk merapihkan kekacaun yang ia buat. Setelah ia memasak untuk dirinya dan juga calonnya. “Baby…”


“Udah makan belom kamu ?”


“Belom.”


“Ya udah makan steak aja ya. Aku soalnya gak makan nasi. Palingan makan kentang atau umbi-umbian.”


“Buat otot kamu ya ? Yaudah gak masalah supaya nanti bisa kasih aku pemandangan indah nanti kalo udah nikah.”


“Masih jauh Najwa Alwianna Faruq.”


“Ok Semi Fahrian.”


Mereka mulai saling bercanda, pada dasarnya Najwa ingin memuji bentuk tubuh Semi, dan ia mendukung apa yang ia lakukan dalam program makannya, karena Semi juga untuk membentuk ototnya.


“Kamu tadi kenapa pas aku pulang barang kamu berserakan ? Udah kaya bocah kelas dua SD!”


“Aku cape lah say, abis ngajar empat kelas, udah gitu aku ngejelasin materi panjang. Acc ini itu. Cape lah aku. Latihan menjadi pendampingku lah. Kan menikah itu menyatukan dua kepribadian menjadi satu, kalo kamu gak bisa sama aku yang begitu ya ngeri juga.”


“Iya-iya aku bisa nerima kamu.”


“Ngomongnya jangan pake mulut. Tapi pake tindakan. Karena tindakan tak terbantahkan.”


“Iya pak guru.”


Lalu mereka makan bersama dan menghabiskan waktu hingga malam. Bermain, menonton film, saling mengajarkan, dan banyak lainnya. Walau Semi sudah memiliki rumah sendiri, Semi tetap tidak mau melakukan hal yang gila. Karena ia mendapatkan ini semua dengan susah payah, apa bila ia melakukan satu hal saja yang tidak benar pada rumahnya. Semuanya bisa ditarik kembali satu per satu. Karena itu Semi memperingatkan calon istrinya keras agar selalu menjaga jarak, agar taka da hal yang tidak diinginkan terjadi. Lagi juga mereka akan segera berkeluarga dalam jangka waktu yang singkat.