How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Akhir pekan



“Hmm, jam…. Jam berapa sekarang ?” Semi sedikit mengigau.


“Oh jam tujuh, ok ntar gw bangun empat puluh menit lagi.” dengan nada malas dan kembali menarik selimutnya.


Satu jam kemudian. Semi baru saja akan bangun memulai harinya dipagi akhir pekan ini. “Kayanya semalem gw gak cape banget. Tapi ngapa rasanya tadi pas mau bangun males banget ?” Ia bangkit dari duduknya lalu mengganti pakainnya.


Ia menggunakan pakaian sporty, jelas ia akan berolahraga pada pagi ini. Tetapi ia sudah memiliki janji dengan muridnya. Yaitu Hakim untuk sparing kickboxing bersama. Semi segera menuju lokasi karena Hakim sudah memberitahukan dimana lokasi ia berlatih. Semi segera menyalakan mobilnya untuk ke lokasi, selama perjalnan ia penasaran akan kehebatan muridnya, diusianya yang masih belia sudah menguasai beladiri yang cukup mematikan. Kixkboxing adalah salah satu beladiri yang selalu Semi harapkan untuk mempelajari. Hingga ia telah mempelajari itu.


Hingga ia sampai, ia melihat dari luar tenyata tempat dimana Hakim menjadi pelatih sangat bagus. Terlihat seperti tempat berlatihnya orang berdompet tebal. Ia segera masuk ke dalam dan bertanya dengan orang yang berlatih sekitar untuk menemui Hakim.


“Hakim, ni ada yang mau ketemu kamu.”


“Iya makasih pak.”


“Gimana latihan kamu Kim ?”


“Lumayan mas, udah membakar badan sedikit.”


“Ok berani gak kita langsung sparing aja ? Saya penasaran sama kamu. Gimana ? Kalo menang nanti saya traktir makan.”


“Ayo mas bisa langsung.”


“Loh kamu mau sparing to Kim ?”


“Iya pak Andes, saya udah janjian buat sparing sama guru saya.”


“Oh itu guru kamu. Ah saya mau liat, kamu itu udah bagus lo diusia kamu yang remaja.”


Mereka segera menggunakan pelindung kepala dan sarung tangan. Sebelum itu mereka mengenakan sebuah perban khusus untuk melakukan olahraga ini. Setelah mereka siap mereka segera masuk ke dalam ring. Para pengunjung sekitar segera meriung untuk melihat latihan Hakim dengan Semi. Keduanya tampak tegang , karena mereka dilihat oleh banyak orang. Tampak mereka berdua cengar-cengir seperti tak yakin satu sama lain. hingga bel dibunyikan.


“Ayo mulai Hakim!” ucap pak Andes memulai pertarungan diantara mereka berdua. Bukan lah sebuah pertandingan asli, tetapi hanya sebuah latihan. Semi bisa mengimbangi tenaganya untuk berlatih dengan Hakim.


Menit awal mereka tampak saling meninju satu sama lain dengan pelan. Keduanya tampak masih tenang dan belum ada yang berkeringat. Penonton pun masih belum tahu siapa yang akan memenangkan sparing ini. Tempat itu menyajikan pemadangan yang menegangkan pada pagi itu. Dimana Hakim yang berusia tujuh belas tahun akan melawan Semi yang Sembilan tahun lebih tua darinya. Semi juga sudah lama mempelajari Kickboxing, ia juga sempat lima kali mengikuti tarung amatir kickboxing. Lima kali itu ia membuahi juara satu dan mengalahkan lawan yang terbilang tak mudah untuknya.


Semakin berjalan waktu, pertarungan menjadi tegang. Dimana saut sama lain saling menujukkan tenaga mereka dalam meninju. Tampa Hakim meninju Semi dengan tenaganya. Sebuah pukulan yang bukan artinya sebuah candaan. Semi mencoba untuk menghindar dan bertahan mencari kesempatan untuk menyerang, walau hanya latihan keduanya tampak seperti musuh bubuyutan.


Waktu sudah berjalan sepuluh menit, penonton semakin tegang, karena mereka semua sudah mulai meluncurkan tendangan-tendangan yang bila terkena kepala akan menyebab kan KO. Keduanya tampak bertahan walau salah satu dari mereka ada yang sudah menerima tendangan didekat kepala. Walau semi tendangannya begitu cepat ia tahu kapasitasnya yang harus dikeluarkan untuk melawan musuhnya.


Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan telah mereka luncurkan. Tampak mereka masih berdiri walau nafas mereka sudah bisa didengar dengan penonton. Hingga akhirnya satu pukulan secara bersamaan yang membuat mereka berdua tumbang dan tak bangkit lagi.


Pak Andes segera masuk ke dalam ring untuk melihat kondisi Hakim. “Hakim kamu gak apa-apa nak ?”


“Gak apa\=apa pak, Cuma cape aja pak.” sedangkan Semi sudah duduk disudut ring. Pak Andes mencoba untuk membuat hakim duduk dan menyandarkannya pada ring.


“Hakim, kamu bukan kaleng-kaleng. Keren kamu. Walau baru tujuh belas tapi rasanya tenaga kamu udah kaya dua puluh tahun.” kata Semi sambil membuka sarung tangan dan membuka pengaman kepala.


“Makasih mas. Mas Semi juga berasa banget mas ngerinya kaya apa kalo ribut beneran. Walau saya sempet kena pukul sama tending beberapa kalia tapi saya masih kuat si mas.”


“Oh mas Sem, Hakim ini walau baru tujuh belas tahun, orang yang badannya kaya saya aja bisa kalah mas Sem. Ya kan ?” hadap pak Andes kepada penonton.


“Oh iya betul.” jawab mereka ramai.


“Mas Sem, kalo Hakim udah umur sembilan belas tahun, dia ini bisa menjadi juara sebanrnya ini mas. Saya aja yang setiap hari latihan bareng, ngelatih dia, pasti selalu ngasih kejutan buat saya.”


“Bapak mulai deh, suka lebay.”


“Kamu itu emang bener gitu kan ? Kamu pernah pukul bapak sampe bapak pusing lima belas menit.”


“Hakim bukan kaleng-kaleng beneran.”


“Ibaratnya ni mas, dia ini bisa lawan preman pasar satu lawan satu mas. Saya megang Hakim, dan saya yakin itu preman gak bakal tahan sampe lima menit.”


“Pak Andes apa sih pak ? Lebay banget.”


“Heh kamu itu emang bener gitu to ? Udah lah jangan malu mengakuinya.” Sambil menjitak pelan Hakim yang cengar-cengir. Pak Andes keluar dari ring meninggalkan Hakim dan Semi bersama. Mereka pun perlahan keluar dari ring perlahan dengan kelelahan.


“Hakim keren banget kamu, gak salah emang saya sparing sama kamu. Itu kalo beneran mungkin saya bisa aja kalah. Keren Kim.”


“Makasih mas. Gak nyangka juga bisa kaya begitu mas tadi springnya.”


“Itu benar-benar kehabatan kamu itu tadi. Kamu kan badannya udah lumayan nih. Kamu tinggiin lagi badan kamu, jangan buat ngebentuk dulu, tapi kalo tangan dada itu gak masalah. Perut belakangan aja. Ya kamu latihannya jangan kaya atlet. Latihan santai aja. Pas nanti kamu udah Sembilan belas atau dua puluh tu baru kamu latihan keras. Kamu bentuk badan kamu biar kaya saya.”


“Oh ok mas. Soalnya saya udah dari umur empat belas mas mau negbentuk badan kaya gini, bener juga si mas tinggiin dulu ya badan saya, nanti kalo udah six pack malah sussah tinggi lagi.”


“Nah bener tu. Kamu tinggiin dulu badan kamu, nah kalo udah cukup umur bar utu kamu bentuk. Nah pas umur pernikahan nanti badan kamu udah jadi. Kaya gitu kan enak, jalan sama istri gak ada yang mau ganggu, kamu tinggi, badan keker kaya gitu. Kalo ada yang mau nyoba ya itu namanya bundir.”


“Iya juga tuh mas. Makasih mas sarannya.”


“Emangnya belom pernah ada guru kaya saya sebelumnya ? Kalian kayanya itu nurut banget sama saya.”


“Nggak ada mas. Demi apapun belom ada mas. Pas ada yang kaya mas Sem kita seneng banget, ada yang bisa mengerti kita, bisa menjadi sahabat buat kita. Belum pernah ada mas.”


“Oh pantes. Tenang aja, saya akan bersama kalian sampe kalian kelas dua belas nanti.”


“Makasih lo mas mau ada disekolah saya.”


“Saya itu suka membenarkan hal yang dibilang rusak. Jadi itu hobi saya. Salah satunya dengen profesi ini.” Hakim tersenyum mengangguk.


“Ayo saya traktir makan. Ajak pak Andes juga sekalian.”


Mereka makan siang bersama, walau sebelumnya waktu belum menunjukkan siang. Mereka makan disaat mereka merasa lapar bukan menunggu waktu. Mereka makan disebuah kedai rumahan yang ada dekat tempat mereka berlatih bersama. Mereka berbicara banyak hal, saran untuk Hakim, tentang sekolah mereka. Keluarga Hakim, begitu juga dengan Hakim menanya kepada Semi.


Mereka tampak seperti saudara yang terpaut cukup jauh. Mereka begitu akrab sekali, padahal mereka adalah seorang guru dan murid. Tetapi karen keakraban itu membuat mereka memiliki status sosial saudara.


Setelah mereka makan bersama, mereka kembali ke tempat latihan, kini mereka berlatih sendiri-sendiri sambil sedikit latihan fisik. Terlihat komptensi Hakim dalam beladrii ini cukup besar, pukulannya terlihat bertenaga. Tendangannya bagaikan sebuah kaki besi yang menendang tiang bangunan. Semi yang melihat itu mengangguk dnegan senyumana ternyata muridnya benar-benar berkompetensi dalam bidang ini. Semi kembali memukul samsak tinju itu, pukulan kombilasi disertai juga tendangan yang mematikan kesukaanya.


Hingga siang hari, mereka berdua masih berada ditempat itu. Tetapi tak lama Semi dan Hakim akan pulang. “Rumah kamu dimana Kim ?”


“Lumayan rada jauh si mas dari sini. Saya aja kesini  jalan kaki, olahraga mas.” dengan senyuman.


“Saya anter sini masuk ke dalem.”


“Makasih mas.” Hakim segera duduk disseat depan bersama Semi.


“Lain kali saya mau juga ni latihan disini. Tempat kamu nyaman.”


“Banyak mas membernya disini. Udah gitu gak terlalu mahal lagi mas. Paling sekitar cepe empat puluh mas.”


“Wih murah dong ? Nyaman, lumayan besar. Fasilitas cukup. Murah gitu ?”


“Iya mas.”


“Ok besok kalo saya  ke sini saya jadi member. Pak Andes yang punya ya ?”


“Iya mas.”


“Ok, besok minggu saya ke sini  lagi deh jadi member. Kita sparing lagi ok ?”


“Ok mas, siapa takut.”


Semi segera mengendari mobilnya sesuai dengan perintah Hakim. Dimobil mereka berbicara banyak hal, bahkan lebih banyak dari pada meraka berada dikdai tadi. Bahkan sekarang pembicaraan mereka sudah mulai hal yang terbilang cukup personal untuk masing-masing. Tetapi mereka tidak ada yang menunjukkan bahwa mereka menutupi diri satu sama lain. Mereka nyaman. Mungkin yang lebih tepat Hakim yang nyaman dengan Semi. Karena ia berkata belum pernah ada guru seperti dirinya disekolah. Begitu Hakim menemukan sosok seperti Semi ia begitu akrab bagaikan saudara.


Hakim sampai didepan rumahnya, “Makasih banget lo mas.”


“Iya sama-sama Kim.” Hakim segera masuk kedalam rumahnya yang kebetulan ada ibunya.


“Pulang sama siapa kamu nak ?”


“Sama guru aku bu, itu masih ada didepan.”


Semi dengan sopan keluar dari mobil dan menhampiri ibu Hakim. “Ibu saya walikelas anak ibu. Nama saya Semi bu.”


“Oh jadi kamu yang sering Hakim omongin ya. Hebat kamu masih muda tapi udah jadi guru.”


“Terima kasih bu.” tak lama ayah Hakim juga bertemu dengan Semi.


“Yah, ini walikelasku yah.”


“Halo mas. Siapa namanya ?”


“Semi Fahrian pak. Bapak keliatan kaya masih muda aja pak, otot bapak juga masih keliatan keras pak.”


“Ah mas Sem, saya emang udah tua, saya juga udah mulai males latihan, gampang cape mas. Biasa namanya juga orangtua mas.”


Mereka berbincang sedikit, kini Semi sudah menyentuh Hakim luar dalam.


“Pak, bu saya pamit ya bu. Hakim saya pamit ya.”


“Ya mas hati-hati dijalan.”


“Ya hati-hati ya mas Sem.” Kata orangtua Hakim.