
“Wooh mantab! Mas Semi karya anaknya bukan kaleng-kaleng. Semuanya bagus. Beuhhh kalo begini terus mereak bisa berwirausaha mas."
“Saya juga berharapnya begitu pak.”
“Sisa berapata tuh yang masih kebungkus ? Satu, dua, oh tiga. Laku keras mas Sem kaos anaknya. Mantab jiwa mas Sem.”
“Saya jgua seneng pak kalo begini. Saya gak sabar buat ngeliat hasil mereka nanti jual kaos mereka nanti. Kan tugasnya udah saya kasih, sekarang lagi ngerjain dilab, nah kalo udah selesai ya langsung eksekuis pak.”
“Kita siap mas Sem buat beli karya mereka.”
“Nanti saya kasih tau juga ke mereka.”
Semi sudah selesai memasukkan nilai untuk para muridnya, lalu ia berjalan ke lab untuk melihat mereka. Semuanya terlihat begitu tenang dan focus, dengan sedikit music untuk menemani mereka dalam mengerjakan tugas ini. “Gimana ngerjain tugasnya ?”
“Lancar jaya mas, so far gak ada hambatan.”
“Silvia gimana ?”
“Sebentar lagi selesai mas.”
“Pake Corel ?”
"Iya mas karena hasilnya menjanjikan.”
“Oh ok mantab. Nanti kalo misalkan kalian udah selesai nanti saya kabarin ke pak Afrian, bu Aya sama mba Ria, kalian gak tau kan kalo baju kalian itu diborong sama mereka bertiga ? Di ruang guru itu sisa tiga kaos doang itu, nah yang sisa itu bisa kalian jual deh kesiapa aja. Semangat ok ? Calon wirausahawan.”
“Bener mas ?”
“Lah bener dong, kalo kalian mau liat ke ruang guru aja."
“Jadi semangka ya ?
“Pasti mas.”
“Hakim gimana desainmu ?”
“Fight for honor fight for you life pray to God that our side is right.” Hakim tengah menyanyi sebuah lagu yang ia sukai, Semi yang menyadari jawaban yang aneh pun mencari tahu segera.
“Oh bocah, pake earphone ternyata.” Semi melepas earphone Hakim."
“Kenapa mas ?”
“Gimana desain kamu ?”
“Hampir kelar ni mas, pake AI.”
“Wih, leh uga itu hasilnya. Kalo kalian udah selesai nanti malem gmeet ya buat saya acc sama koreksi.”
“Ok siap mas.”
“Bentar lagi kan waktunya abis ni, desain aja sampe waktunya abis, selesai gak selesai nanti lanjutin lagi, saya tinggal ya, sampai bertemu malem nanti.”
-
Semi sedang berada diruang tengah bersama calon istrinya untuk melihat kaos yang Semi beli.
“Mana sini aku mau liat ?”
“Nih, gimana karya anakku ini.”
“Bukan kaleng-kaleng ini. Bagus banget, sesuia yang aku bilang ya, aku ambil dua buat Laras juga.”
“Iya ambil aja.”
“Kamu kosong abis ini ?”
“Enggak lah, aku masih harus acc desain mereka, kamu kalo mau liat desain mereka kaya apa nanti join aja sama aku digmeet.”
“Ok, kita incam bareng kan ?”
“Iya lah.”
“Kapan ?”
“Sekarang.” Semi segera beranjak dan berjalan ke kamarnya, ia segera duduk didepan computer untuk memulai panggilan kepada semua muridnya. Najwa juga tidak ingin ketinggalan, ia juga berada di dalam kamar bersama Semi.
“Pangku aku ya.”
“Gak usah ngadi-ngadi.”
“Iya, iya aku paham. Tunggu sah dulu ya ? Supaya bebas mau ngapaian aja.”
“Bukan gitu, bisa aja hal kecil menghancurkan hal yang sudah diperjuangkan. Aku gak mau. Pasti kamu ngertikan maksudnya apa ?”
“Iya. Aku ngerti. Sweet banget sih kamu samper sebegitnya.” Najwa menarik pipi Semi layaknya adonan kue.
“Kamu kalo udah nyubit pake dendam ya ? Sakit banget kaya mau sobek kulitku.”
“Kalo sobek kan nanti bisa aku awetin.”
“Jangan sampe aku tunjukkin betapa psycho aku sebenernya.”
“Hmmm.”
Semi memulai pertemuan, ia segera mengabarkan kepada mereka bahwa pertemuan sudah dimulai. Dalam hitungan jari mereka semua telah memenuhi gmmet. “Halo, udah siap semuanya ?”
“Siap mas.”
“Ok Silvia mana, penasaran saya sama desain kamu kaya apa.”
“Ok mas, jangan kaget ya.”
“Nggak.”
“Udah keliatan mas ?:” Najwa yang berada diranjang melihat desain Silvia tidak begitu jelas, ia segera bangun lalu melihat lebih dekat.
“Itu bagus, bagus banget beneran.”
“Calon istri saya itu.”
“Oh makasih kakak. Aku tersanjung.”:
“Ok Silvia, ini desainmu keren ini, kamu buat ini temanya street art ya ?”
“Iya mas, street art tapi kaya rada ke feminine gitu mas.”
“Oh berasa banget sih apa yang kamu buat. Menurut kamu gimana say ?”
“Bagus, bagus banget. Kalo udah jadi nanti aku beli ya ?”
“Boleh kakak.”
“Ok mantab Silvia. Tinggal eksekusi aja ya.”
“Ok mas,”
“Selanjutnya sang kickboxer.”
“Ngapa si mas saya sering banget disebut urutan kedua ?”
“Masa si ? Kalo sekarang saya mau liat desain kamu gimana kan kamu pake AI tuh. Saya itu belajar AI lama loh, empat tahun ada. AI emang beda, tapi hasilnya keren.”
Hakim segera menunjukkan hasil desainnya kepada Semi. “Mantab, pasti tema desain kamu food ya ? Itu desainnya ada kue sama lumeran coklat. Saya ngeliatnya kaya coklat beneran. Mantab kamu Kim.”
Najwa dari ranjang hanya bisa mengeleng melihat karya dari anak Semi. “Langsung saya acc dah. Mantab Kim.”
“Ok thank you mas.”
“Mas, mau nanya tapi diluar tugas mas.”
“Kenapa ?”
“Pas ada pelajaran desain grafis in ditagih gak mas tugasnya ?”
“Pertanyaan bagus. Jawabannya tidak, ini tugas, tapi tugas yang saya bebeaskan. Andai kalian nggak mau buat juga gak masalah. Ini bukan tugas wajib, istilahanya ini tugas kaya kalian yang minta. Jadi ini gak saya wajibkan. Nanti kalo ada pelajaran saya ya kalo kalian udah selesai ya bagus, silahkan kalian jual,, tapi kalo belom kita belajar biasa aja. Gitu.”
“Ok thanks mas.”
“Yo lanjut lagi siapa.”
Malam itu habis hanya untuk menerima desain yang mereka buat. Semi dan Najwa sangat merasa puas melihat desain yang mereka buat, itu merupakan desain yang sangat bagus untuk seorang anak remaja yang membuatnya. Memang sudah seharusnya mereka bisa membuat seperti itu. Karena pada dunia sebenarnya kau harus bisa bekerja, tak perlu betapa bagusnya nilaimu, bila kau mendapatkan semua nilai seratus tetapi kau tidak bisa bekerja maka kau akan dianggap keset kaki. Tetapi bila kau memiliki banyak nilai jelek, tetapi kau memiliki keahlian dan bisa bekerja, derajat kalian akan sama seperti mereka yang bekerja.
Banyak orang diluar sana menganggap angka begitu penting, pada nyatanya angka tidka begitu berpengaruh. Walau kau memiliki banyak nilai nol tetapi kau bisa bekerja perusaahan akan mempekerjankanmu. Walau kau memiliki nilai semua seratus tetapi tak bisa bekerja perusahaan akan menendangmu. Itu adalah realita sebenanrya. Pada dasarnya kita semua nanti akan bekerja dengan keahlian. Bukan bekerja dengan angka.
Lagi juga, angka bisa saja dimanipulasi, sedangkan keahlian tidak bisa dimanipulasi. Angka kau bisa membeli kunci jawaban atau menyogok seseorang untuk menuliskan nilai bagus. Tetapi tidak dengan keahlian, bila kau ahli dalam suatu bidang, maka itu akan terlihat jelas, tetapi bila kau tak bisa dalam suatu bidang itu juga akan terlihat jelas.
Itu sebabnya kenapa banyak didunia pekerjaan orang bodoh, mereka hanya bodoh dalam akademik saja, tetapi mereka pandai dalam suatu keahlian, mereka bisa bekerja. Itu adalah nilai yang sesungguhnya. Nilai yang terlihat, bukan yang tertulis.
“Kamu udah selesai ?”
“Udah.”
“Pinter anak-anak kamu. Kebayang nanti kalo aku punya anak pasti bisa lebih pinter lagi.”
“Nikah aja belom Najwa, udah mikir punya anak.”
“Kalo udah sah langsung kasih aku anak yang banyak ya ?”
“Mau berapa kamu ? Empat ?”
“Tujuh! Aku mau tujuh.”
“Tujuh ? Jangan salahin aku ya kalo lahirnya delapan.”
“Itu malah lebih bagus.”
Semi segera berbaring diranjangnya. “Aku tidur sama kamu ya ?”
“Jaga jarak ya ? Tau kan bahayanya kaya apa kalo udah kaya gini ?”
“Iya, aku paham say.”