How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Ok jadi....



Senja berganti malam, monser menelan sang surya. Semi duduk bersama Najwa di ruang keluarga bersama, Najwa tengah membaca sebuah buku teka-teki yang pernah ia tulis dulu. “Kalo dianya bisa ngebunuh tapi gak nyadar… Jadi dia itu…. Ih gimana sih gak ngerti.”


“Jangan nyerah dong say.”


“Aku nyerah ah, susah.”


“Ok, dia itu sebenernya kepribadian ganda. Ngerti ?”


“Oh aku tau tuh kepribadian ganda. Ternyata itu aja jawabannya ? Pinter juga kamu buat riddlenya..” Najwa menutup buku itu. “Nah sekarang jelasin aku.”


Semi diam, sambil mengunyah ubi ungunya. “Oh ok. Jadi kenapa film adaptasi itu gak begitu mirip banget sama bukunya… Karena satu karena terbatasnya durasi, film di jaman sekarang itu paling panjang itu tiga jam. Walau ada film di jaman item putih itu bisa sampe delapan jam.”


“Ogah aku nonton selama itu.”


“Nah karena itu lah. Nanti aku jelasin itu. Pertama durasi terbatas, film kan paling lama tiga jam, sedangkan novel itu bisa panjang banget nget-nget-nget. Novel itu bisa panjangnya puluhan ribu halaman, sedangkan film gak bisa. Satu durasi terbatas, kedua budgetnya say. Film yang dua jam aja biayanya bisa sampe jutaan Dollar. Bayangkan kalo mau nayangin yang ada buku. Misal film dua jam biayanya tiga juta Dollar, bayangkan bila film enam jam, belom lagi banyak figuran, banyak lokasi sewaan, sewa properti, sewa mobil dsb. Bayangkan.”


“Iya juga ya.”


“Setelah itu, pasti bosen say. Kamu bayangkan deh semua yang ada di buku masuk ke film, bagian yang gak penting di masukin, ogah gak kamu ?”


“Ogah.”


“Nah, itu udah berkaitan langsung. Kenapa durasi adaptasi itu gak bisa lama, karena pasti bakal bosen, udah aku jelasin kan semua ? Clear kan ?”


“Hmmm… Ok clear, tapi kamu telen dulu napa itu ubi, nyangkut aja di tenggorokan, nyengir nanti kamu.” Semi mengunyah ubinya cepat dan segera menelannya.


“Ah sekian lama akhirnya aku bisa juga transaksi sexual aku.”


“Hah, jadi kamu itu udah pernah sama perempuan lain ?”


“Nggak kata siapa ?”


“Itu kamu bilang, jadi kamu itu udah gak virgin waktu nikah sama aku ?”


“Nggak, aku nggak bilang kaya gitu dengerin-“


“Jadi kamu suka dong sama yang open BO ? Hah gimana ?”


“Ya ampun Najwa.” Semi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.” Najwa Alifatul Aisyah S.E dengerin aku dulu ya  ok ? Inget kamu lagi hamil, jangan marah-marah.”


“Aku cuma butuh jawaban jelas aja,”


“Ok dengerin aku dulu ya, mentang-mentang laki-laki sering dituduh, bukan artinya wanita selalu benar ok ? Kenapa aku bilang bisa transaksi sexual, karena itu bahasa kerennya dari nikah.”


“Hah ? Gimana-gimana ? Coba jelasin aku gimana maksudnya ?”


“Ok, kenapa aku bilang begitu ? Karena aku katakan kepada orangtua kamu, aku katakan itu kepada pemuka agama, di depan banyak orang, aku berikan kamu apa yang bisa aku berikan, aku kasih kamu satu Fortuner yang paling baru di tahun ini, kotak perhiasan emas tiga kilo, masih ada gak cincin permata ?”


“Ada dong, masa aku ilangin..” Najwa tersenyum. “Suamiku ternyata crazy rich.”


“Setelah itu… Oh iya aku juga punya Ruby, batu yang warna merah. Itu bagus banget sih. Itu pun aku kasih ke kamu, aku beli lagi. Kurang sah apa lagi ? Kurang legal gimana lagi ? Itu kan artinya aku transaksi sexual, aku kasih ke kamu apa yang bisa aku berikan, kamu memberikan ke aku apa yang seharusnya. Itu transaksi sexual bukan ? Sekarang aja kamu hamil. Itu transaksi bukan ?” Najwa mengangguk.


“Nikah itu transaksi sexual dengan sah, resmi dan legal lagi. Karena aku mau tanggung jawab, itu yang membedakan secara legal dan illegal. Mengerti Najwa ? Bidadariku ? Malaikatku ?” Najwa memerah.


“Clear ya ?” Najwa mengangguk.


“Say.”


“Iya ada apa ?”


“Kamu, pas ketemu sama temen kamu dicafe itu kamu Cuma ngobrol doang atau ngapain gitu ?”


“Iya kenapa cuma ngobrol doang  ?”


“Nanya.”


“Gak Cuma itu doang sih, dia bilang dia mau jadi isri kedua aku.”


“Hah ?! Gak usah aneh-aneh ya Sem!”


“Bener, ngapain aku nutupin. Kalo udah nikah harus terbuka say, biar gak ada yang disembunyikan. Ya aku sih juju raja daripada kamu nuduh aku selingkuh. Ya kan ?”


“Ok, lanjutin.”


“Ya aku bilang aja kalo bener mau jadi istri kedua aku, ya kamu harus tulus sama aku, aku kasih dia waktu buat bener-bener rasa suka sama aku tulus.”


“Enak dong kamu kalo punya dua istri. Emang semua laki-laki itu sama!” Semi sedikit tersedak di saat minum. “Kata siapa hah ? Justru aku itu tau lagi gak enaknya punya banyak istri.”


“Apa gak enaknya ?”


“Misal nih, kamu nanti hamil delapan bulan aku nikah lagi sama Riva, aku itu harus ngasih perhatian adil, adil nafkah, adil jatah ranjang, perhatian. Semuanya harus imbang say, gak bisa misalkan kamu baru lahirin anak aku, aku lebih sayang sama kamu, gak bisa. Aku harus adil, terus gak bisa juga aku lebih sayang sama kamu misal anakku nanti udah enam bulan sedangkan dia lagi hamil. Gak enak say, kebanyakan orang mikirnya kesitu, tapi mereka gak mikir itu. Kamu berpikirnya di kamar bisa berdua ya ? Justru kamu salah lagi. Misal ada orang yang punya banyak istri gak boleh di bawa semuanya dalem satu kamar, justru harus bergantian. Aku itu gini-gini belajar agama. Tampangku boleh Chinese, tapi agam seseorang tidak tau, nah apakah kamu berpikir kalo aku nikah lagi itu enak ?”


“Nggak deh. Andai aku jadi kamu pasti aku bakal kebingungan sih buat melakukan itu. Tapi ngaku deh pasti di pikiran kamu ada enaknya kan ?”


“Ya ampun say, kalo udah nikah itu kan emang juga buat menyalurkan kebutuhan biologis dengana aman lagi, ya misalkan kamu menayanyak begitu ya aku akan mengatakan iya.” Semi diam. “Nah sekarang gentian, kenapa kamu suka kaya mancing aku, bilang gak sabar nikah ? Apa karena badanku yang udah kebentuk ? Pasti kamu memikirkan enaknya juga kan sama aku ? Sekarang ngaku!”


Najwa tersenyum dan memalignkan wajahnya. “Najwa, ngaku!”


“Iya, iya emang aku itu nyari enaknya juga sama kamu. Soalnya aku gak tahan kalo liat kamu gak make kaos. Aku rela punya banyak anak dari kamu.”


“Aku denger kamu pas di pesta pernikahan kayanya kamu itu bahas masalah psikologi juga ya ?”


“Ya sedikit nyinggung lah.”


“Sekarang coba dong kamu share psikologi kamu.”


“Ok, yang paling dasar aja tentang manusia. Semua manusia di muka bumi ini munafik.”


“Hah!? Lho jadi kamu sendiri juga begitu ?”


“Pasti. Semuanya, gak pemuka agama, semua orangtua, mereka itu munafik.”


“Lho, jadi… Gimana ceritanya kalo semua munafik ?”


“Kesannya emang negative tapi itu lah yang membuat kita bisa hidup bersandingan dengan banyak orang. Itu disebut Persona. Persona itu adalah topeng yang menutupi semua sifat asli kita, tadi kamu sempet nyangkal kan kalo gak mikirin enaknya sama aku ?”


“Iya.”


“Nah itu namanya Shadow, nanti aku jelasin lagi itu. Ini sedikit berkaitan sama kepercayaan orang Jepang. Orang Jepang percaya manusia itu punya tiga muka, muka pertama itu yang kita tunjukkan kepada temen kita, kedua pada keluarga, ketiga yang tidak pernah kita tunjukan, itu adalah sifat asli kita. Sedikit mirip sama Persona dan Shadow. Karena tanpa persona, kita itu susah hidup bersandingan dengan banyak orang. Misal nih ada tetangga yang sebenernya cabul, dia bilang ke anak tetangga “nenag main yuk ke rumah abang, mau abang hamilin neng” besok yang ada itu orang di masukin penjara. Nah bayangkan bila gak ada Persona. Sekarang ini aku ngobrol sama kamu gak akan begini. Misal sifat asli aku keras ya mungkin aku ngobrol sama kamu itu teriak-teriak. Misal juga kamu itu matre, aku akan mungkin bertahan sama kamu. Nah Shadow itu adalah muatan negative dalam diri manusia, bisa juga di sebut dengan sifat asli kita. Begitu sayang.” Semi merangkul Najwa, dan Najwa membaringkan kepalanya di bahu Semi.


“Bahu kamu nyaman.”


“Nyaman lah, kekar.”


“Kamu belajar beladirinya apa aja Sem ?”


“Hmm, Kickboxing, Silat, Judo, Jiu-Jitsu, sama BJJ.”


“Aku aja Cuma Taekwondo sama Karate. Pasti kamu itu udah black belt ya ?”


“Oh tentu saja. Makanya aku bisa ngajarin kamu.” mereka hening, lalu Semi perlahan bangkit dari duduknya, ia mengambil gitarnya.


“Kamu mau lagu apa ?”


“Lagu favorit aku dong.”


“Apa ?”


“Yang kamu nyanyiin pas acara deh.” Semi tersenyum.


“The best thing about tonight's that we're not fighting it couldn't be that we have been this way before i know you don't think that I am trying i know you're wearing thin down to the core. But hold your breath because tonight will be the night that I will fall for you over again don't make me change my mind.” Najwa tersenyum.


“Or I won't live to see another day i swear its true cecause a girl like you is impossible to find you're impossible to find. This is not what I intended i always swore to you I'd never fall apart you always thought that I was stronger i may have failed but I have loved you from the start. Oh, but hold your breath because tonight will be the night that I will fall for you over again don't make me change my mind i won't live to see another day i swear it's true because a girl like you is impossible to find it's impossible to find.” Semi berehenti sejenak, sambil mengecup kening Najwa.


“So breathe in so deep breathe me in i'm yours to keep. and hold onto your words 'cause talk is cheap and remember me tonight when you're asleep. Because tonight will be the night that I will fall for you over again don't make me change my mind or I won't live to see another day i swear its true cecause a girl like you is impossible to find you're impossible to find.” Najwa segera mengcup bibir Semi dengan cepat.


“Gimana ?”


“Luluh aku mas.”


“Riva juga ngomong gitu ke aku. Ada aja emang ujian orang mau nikah. Kamu pasti ada aja ujiannya, apa ?”


“Aku hampir gak bisa tidur, karena ngebanyangin sekamar sama kamu. Aku hampir aja gak tahan.”


“Yah, itu sih emang kamunya aja yang nakal, pikiranmu itu nakal.” Semi meletakkan gitarnya, menarik Najwa pelan. “:Mau kemana ?”


Mereka duduk bersama di depan Piano. “Kamu dengerin aku aja ok ?” Najwa meletakkan ponselnya di depan piano. “Jangan baper ya say ?”


“Iya, andai aku baper tanggung jawab ya ?”


“Kamu mau aku apain ? Cium dimana ? Kening ? Pipi ? Bibir ?” Najwa tersenyum, begitu pun Semi.


Semi memencet piano asal, lalu mulai memainkan sebuah lagu, dengan menggunakan chord A dan C#M. “I’m so tired of being here.”


“Ah lagu kesukaan aku ini.” sambil memeluk lengan Semi. “Supressed by all my childish fear. And if you have to leave, I wish that you would just leave. Because of your presence stil lingers here, and it won’t leave me alone.”


“These wounds won’t seem to heal.”  mereka bernyanyi bersama. “This pain is just too real, there’s just too much that time can not erase. When you’d cried I’d wipe away all of your tears, when you’d scream I’d fight away all of yout fears, and I held your hand through all of these years. But you still have….. All of me.” nada indah piano mengisi momen mereka berdua.


“You use to captivate me by your resonating light, now I’m bound by the life you left behind. Yout face it haunts, my once pleasant dreams. Your face it chase away, all the sanity in me, these wounds won’t seem to heal, this pain is just too real, there’s just too much that time can not erase. When you’d cried I’d wipe away all of your tears, when you’d scream I’d fight away all of yout fears, and I held your hand through all of these years. But you still have….. All of me. I’ve tried so hard to tell my self that you’re gone. But thought your still with me. I’ve been alone all along.” Semi memainkan instrument pada bagian dimana seharusnya diisi oleh band.


“When you’d cried I’d wipe away all of your tears, when you’d scream I’d fight away all of yout fears, and I held your hand through all of these years. But you still have….. All of me.”


“Itu lagu kesukaan aku!” Semi menghentikan ponsel Najwa yang merekam. “Kamu baper gak ?”


“Pasti! Apa lagi kamu ganteng! Perfect banget!”


“Kamu tau Dasha Taran ?”


“Tau.”


“Keponakan aku suka banget. Dia bilang mau nikahin dia. Aku juga mau."


“Nanti ya, kalo aku ijinin baru kamu boleh nikah lagi."


“Siap dong harus di perlakukan adil ?”


“Nggak. Jadi kamu gak usah punya istri kedua, karena aku gak mau rasa sayang kamu di bagi dua.”