
Semi terbangun dari tidur siangnya, Pukul 16.30, ia terbangun dengan malasnya. Bersandar pada sandaran ranjangnya, sesekali matanya kembali tertutup, tetapi ia memutuskan untuk bangkit. Ia melaksankan kewajiban sore harinya, setelah itu ia pergi ke cafenya.
Cafenya terlihat cukup ramai, ia seperti biasa duduk di tempat favoritnya, di luar dan tempat yang paling memiliki ruang yang paling besar, dan hanya boleh ia seorang saja yang bisa menggunakan tempat itu, bila ada yang ingin menggunakan tempat itu maka mereka harus membayar sewa per jam.
Semi bersandar dengan menguap, salah satu orang yang berpkaian yang sangat berbeda terlihat jalan mendekatinya. Ia menepuk Semi pelan. “Wildan.”
“Weh, Sem. Tumben ke sini Sem. Gw liat muka lau kayanya rada males gitu.”
“Iye, rada males gw. Gimana café buat bulan ini ?”
“Mantab men. Kopi daerah peminatnya banyak banget. Terus kita kue juga banyak yang minat. Keren cuy anak lulusan SMK tata boga.”
“Nah ambil mereka lebih banyak kalo gitu, lau buat postingan di ig café kalo nyari lulusan anak tata boga. Sukur lau bilang.”
“Tapi men, kita paling butuh lima orang lagi atau paling banyak delapan lah.”
“Nah yaudah ambil delapan.”
“Gimana kalo ada yang minat itu lima puluh orang ?”
“Kita buka cabang baru.”
“Keren, jadi di daerah Jakarta selatan ada tuh tanah kosong, kebeneran kayanya orang yang jual tanahnya itu mengharapkan banget supaya tanahnya ke jual.”
“Tau dari mana ?”
“Pernah nanya sama yang jual langsung.”
“Nah eksekusi dah. Sekarang bisa nggak lu ?”
“Nggak bisa, paling hari ini bisa nanya doang, nomor udah ada gw.”
“Yaudah tanya aja dulu, kalo lu udah ke sana bilang keg w nanti langsung beli aja, btw itu tanah berapa men ?”
“Sembilan ratus dua puluh empat.”
“Gas lah nyet, beli harga yang penuh.”
“Lah serius lau ?”
“Iya, beberapa bulan belakangangan ini café ini dapet keuntungan banyak banget. Dari pada ditumpuk, mending digunakan lah.”
“Ada emang danan nanti pas bangunnya nanti ?”
“Ada, kan salah restoran gw di Jaksel itu lagi laku banget, omset gile gak kekontrol, banyak banget pendapatan. Jadi cukup pasti.”
“Ok gw telpon dulu dah.”
“Wait, lau belom nerima gaji ya ?”
“Belom.”
“Ok, nanti gw ambil uang dulu dah, gw kasih gaji lu malem ini.”
-
Malam, Semi masih berada di cafenya, duduk sendirian sambil menatap langit, segelas air putih dingin dengan penuh menemaninya. Tidak ada camilan, hanya air saja. Ia menenggak air itu setengah. Ia meregangkan tubuhnya, terdegar bahwa tulangnya berbunyi. Wildan duduk di sampingnya. “Fix men besok bisa kesana gw.”
“Ok. Manager ke dua ada ?”
“Ada Sulaiman, udah gw bilangin ke dia kalo besok gw mau pergi.jadi besok bakal aman sih. Btw lau gak balik udah mau jam sebelas, kan lau harus ngajar besok.”
Semi mengangguk pelan, lalu lehernya jatuh kebelakang seperti boneka. “Rada males gw Wil, demi alek dah. Rasanya gw rada males men.”
“Males buat besok ?”
“Gak tau, rasanya gw males aja, males aja gw dari bangun tidur sore tadi.”
“Udah.”
“Ok, gw udah gak ada beban lagi. Gw balik ye, jaga kesehatan buat besok Wil.”
“Yoi makasih men.” Semi meninggalkan cafenya, ia mengendarai motor trailnya, karena lebih cepat dalam bergerak. Semi mengebut agar lebih cepat hingga sampai rumhanya.
Ia telah kembali, ia mengganti pakainnya lalu ia kembali bermain game, kali ini ia memainkan game Dying light, salah satu game kesukaannya, ia memainkan game itu hingga pukul 00.00 malam. Karena ia merasa tidak tahu ingin melakukan apa jadi ia bermain game hingga hari berganti.
Malam berganti pagi, bulan berganti menjadi sang surya, Semi bangun sedikit terlambat, ia bangun pukul 06.00 pagi, biasnaya ia sudah bangun beberapa menit sebelmunya. Ia segera mandi dan ia membuat sebuah sarapan yang sangat sederhana, salah satu makanan Timur tengah, ia membuatnya sebanyak tiga buah, dan memakannya saat itu juga. setelah itu ia segera berangkat ke sekolah. Kali ini dengan motor trail, tidak dengan motor Ryan Reynols.
Ia sampai tepat waktu, ia sampai saat bel masuk berbunyi. Ia segera ke lab untuk menunggu murid kelas XII karena mereka memiliki tugas yang harus diselesaikan hari ini. Ia segera masuk ke dalam labnya sambil menunggu mereka semua. Sambil menunggu Semi bersatai sambil mengangkat kakinya, menyalakan sebuah lagu yang berasal dari album The Cleasing, album dari SUICIDE SILENCE, album pertama mereka yang membuat mereka terkenal hingga saat ini. Album yang laris terjual tujuh ratus ribu copy dalam seminggu perilisan.
Semi memejamkan matanya sambil menikmati lagu itu. lagu yang sangat keras sekali pada jamannya. Bahkan hingga saat ini lagu itu tidak ada yang bisa menggantikan, pada jaman itu Deathcore tidak sekeras SUCIDE SILENCE, pada jaman itu Deathcore yang cukup keras adalah Bring Me The Horixon, dengan judul yang ikonik adalah Pray For Plagues, dan sekarang lagu itu terjawab. Terdapat wabah di dunia ini.
Lagu yang terkutuk. Mata Semi tebruka, ia segera menurunkan kakinya, mematikan lagunya. Mereka sudah datang. Mereka segera duduk. “Ok apakah semuanya udah selesai ?” Semi bertanya dengan nada yang kurang bersemangat.
“Nanya kaya gitu, kaya gak niat mas.”
“Iya emang, saya lagi rada males. Gk tau napa, udah dari kemaren ini. Kalian udah pada selesai ?”
“Udah mas.”
“Ok, kirim ke saya biar cepet, satu orang mewakilkan semuanya.”
“Mas tadi kayanya saya liat lagi nyantai mas, ngangkat kaki gitu.”
“Iya, kalo lab kosong gitu saya. Dengerin lagu aja tadi keras banget. Gitu lah saya kalo lab kosong.” Ponselnya bordering karena berisi pesan yang merupakan hasil karya dari mereka. Semi tersenyum melihatnya, ia melihat ada beberapa dari mereka yang terbaik.
“Enam orang terbaik, Kevin, Arman, Arian, Lucky, Fatimah dan terakhir ada Ajeng Rinanda. Karena kalian terbaik, temen saya ada yang minta di buatin karikatur sama kalian, nanti saya kirimin ke kalian. Cantik semuanya jadi kalian cuci mata sekaligus. So, apakah kalian ada bisnis yang ingin kalian jalankan bersama ? Nanti saya bakal kasih tugas sesuai keahlian, kalian udah tau kan misi saya ? Jadi saya menyiapkan kalian untuk siap di dunia pekerjaan. Jadi apakah ada bisnis yang ingin kalian jalankan bersama ? Karena anak saya dan pak Afrian sudah. Silahkan jawab perwakilan satu orang.”
Lucky mengangkat tangan. “Kita mau jalanin bisnis penyedia desain aja mas. Jadi kita buat desain, nah nanti yang mau sama desain kita nanti mereka beli, setelah itu bebas mereka mau apain desain kita, yang penting mereka udah… Istilhanya kaya udah beli copyright lah.”
“Nice, karena anak saya sama pak Afrian biasa buka clothingan. Saya yakin pasti kalian ada yang pengen demikian bukan ?”
“Pasti lah mas. Anak desain paling deket kan larinya ke clothingan. Boleh mas kita buka clothingan juga ?”
“Jangan double sih. Nanti kalian malah riber ngaturnya. Jadi kalian lebih baik pilih salah satu aja begitu, bagaimana ?” Semi membawa bangkunya dan duduk menghadap mereka.
Semi ikut memikirkan apa yang mereka ucapkan, jadi mereka smeua hening, Semi tengah mencoba mencerna apa yang ingin mereka jalankan. Secara bisnis mereka lebih sederhana, mereka hanya perlu membuat desain dan mereka semua akan bekerja belakang meja. Hanya semudah itu saja. “Ok, jika kalian ingin menjalankan itu silahkan. Jadi sekarang kalian silahkan mendesain. Kalian punya tiga jam kan sama saya ? Jadi lakukan lah. Wujudkan apa yang kalian impikan.”
“Ok mas.”
“Nanti saya juga mau post desain saya, buat membantu nyari peminat supaya kalian ada yang mau langsung, kan keren baru buat bisnis terus udah ada yang mau.”
“Bisa jadi bisnis besar ni kalo dikelola serius.”
“Pasti Ki, bisa banget. Kalo kalian mengelola bisnis ini serius pasti kalian bisa jadi besar. Bisa aja nanti kalian buat tempat sendiri, ya kalian mempekerjakan orang Cuma buat desain aja, nanti kalo ada yang minat disitu lah uang kalian datangnya. Jadi kalian harus serius menjalaninya. Pasti bisa sukses kalo kalian beneran serius sama niat.”
“Mau nyumbang kita berapa desain mas ?”
“Nggak tau, tapi yang pasti saya bakal ngasih desain yang bukan kaleng-kaleng lah. Masa iya saya kasih ke kalian yang kaleng-kalen. Btw kalian itu memilih bisnis yang pinter lo. Secara kalian itu cuma perlu ada di belakang meja aja, tapi uang ngalir. Keren sih pilihan kalian.”
“Siapa dulu, Lucky.”
“Jadi selain ada lemak dibadan kamu ada tumpukan ide brilian juga ya ?”
“Oh iya pasti mas. Tumpukan pikiran Einstein juga ada mas di lemak saya.”
“Mantab, nanti keluarkan tumpukan ide brilian kamu yang lain ok Lucky ?”
“Jangan khawatir mas. Kapanpun butuh ide, saya bisa ngasih kapan aja mas.”
“Ok, saya percaya kamu.”