
“Ok guys udah hampir larut jam sebelas sekarang, thank you ya udah mau ada di gmeet malem ini. Nanti selebihnya kita bicarakan disekolah aja ok ? Walau kalian gak cape say yakin pasti kalian ingin melakukan hal yang lain bukan ?”
“Pasti mas.”
“Ok saya selesaikan deh sampe sini aja. Selamat malam semua.”
“Ok thank you mas.”
“Ok good night.”
Semi berbaring dikasurnya, ia berbaring menatap langit-langit tanpa tujuan untuk beberapa lama. Sedangkan komputernya masih menyala menunggu untuk dimatikan oleh Semi. Ditengah lamunannya ponselnya bordering, calon istrinya kalau bukan siapa lagi.
“Halo ?”
“Halo Sem, besok aku kerumah kamu lagi ya jam delapan ? Soalnya mamah sama papah ada perlu buat jadi ngajak Laras juga.”
“Mua nginep kamu ?”
“Iya gitu deh.”
“Yaudah kamu bawa baju jangan lupa.”
“Ok, simulasi berumah tangga ya besok kita, soalnya mamah papah perginya lumayan empat hari.”
“Simulasi berumah tangga ? Bisa aja kita lakukan itu tapi kamu gak akan bisa tidur sama aku sebelum ada hubungan yang sah.”
“Uhh… Gitu deh pasti. Aku udah gak sabar mau sekasur sama kamu. Semalem aja ya ?”
“Kamu kalo kecelkaan aku gak mau tanggung jawab ya ?”
“Ya jangan juga sih. Yudah deh aku tidur dikamar yang satunya aja. Kamu mau tidur ya apa mau ngapain sekarang ? Aku lagi gabut.”
“Ya gitu lah. Baru selesai gmeet sama murid, aku ngasih mereka tugas lagi, solanya tugas yang aku kasih nanti aku kasih tau ke kepala sekolah juga.”
“Owh ok, yaudah aku mau ngabarin itu aja, good night baby.”
“Good night…. Pasti aja kalo ke sini maunya tidur barung sama gw, padahal sah juga belom. Main tidur sekamar aja.” Semi bangkit mematikan computer yang ada didepannya, ia beranjak ke dapur untuk membuat sebuah makanan kecil.
Kebab, makanan yang berasal dari Timur Tengah itu memang favoritnya sekali, bahkan ia pernah mengabiskan uang empat ratus ribu hanya untuk merasakan perbedaan disetiap tempat yang ia ketahui. Kini ia tengah memanggang daging dan tortillanya. Ia selalu sedia bahan makanan itu, karena bila ia malas makan nasi atau lainnya ia akan makan kebab sebagai pengganti nasi dan juga kentang.
“Njay ngapa gw jadi laper banget hah ? Padahal buat kebab Cuma buat snack ngapa gw jadi laper gini ? Yaudah lah buat dua aja.”
Setelah beberapa menit akhirnya ia selesai membuat makanannya dan menyantapnya dikamar. Sebelum ia tidur ia sedikit membakar kalori yang baru saja ia konsumsi, ia melakukan push up, plank, sit up, dan olahraga kalisteknik didalam kamarnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
-
Pagi, para murid sudah berkumpul dikelas mereka masing-masing sambil menunggu guru akan datang dan mengajar dikelas mereka. Anak Semi dengan cepat segera berjalan ke lab desain grafis untuk melanjutkan apa yang kemarin ia kerjakan semalam. Semua murid sudah memasuki lab, disana terdapat Semi yang sedang santai sambil headbang dikursinya, tak lupa ia juga menaruh kaki diatas meja. Ia seperti berada dipantai.
“Woops sorry.” lalu Semi bangkit dan duduk dimeja yang terdapat ditengah lab dan duduk bersama.
“Ok jadi semalem kan gak smeuanya bisa mengutarakan dimana mau ngeptrint atau sablon kan ? Sekarang waktunya buat kalian yang gak kebagian kemaren buat speak up.”
“Saya mas.”
“Iya Vira.”
“Di deket rumah saya kalo pake tiga warna, kaos sendiri itu juga semuanya rapih totalnnya itu delapan puluh ribu mas.”
“Oh iya lupa ngasih tau, kita pake tiga warna aja, kalo kebanyakan nanti malah bengkak lagi harganya, kalian bisa bantu riset harga mungkin di tokopedia atau di ig yang jual kaos ya. Biar kita pikirin nanti kalian mau jual kaosnya berapa.”
“Ok mas, dilaksanakan.” jawab Ghifari.
“Oh ya Ghif, kamu bawa gitar kan ?”
“Ayo mas kita nyanyi kaya kemaren lagi mas.”
“Ya liat dulu, kalo milsanya padet ya gak bisa juga lah.”
“No prob mas, saya selalu bawa gitar mas, kalo mau ngaso ke kelas aja mas gampang.”
“Pasti itu, Vira mungkin kamu bisa lanjutin lagi.”
“Nah terus kalo kaosnya dari dia itu… Walah mahal juga ya ? Kaos dari dia itu udah makan uang lumayan, terus ditambah berapa warna sama penyelasaian akhir.”
“Berapa emang totalnya Vir ?”
“Bisa nyampe Sembilan lima mas.”
“Belom nanti dijualnya, kalo bengkak harganya yang beli ada juga kaga “
“Emang dirumah saya rada mahal mas kalo kaos dari dia langsung.”
“Ok yang mau speak up ngomong sekarang.”
Mereka mengabiskan waktu hampir satu jam untuk membicarakan harga, termasuk harga yang akan dipasang untuk dipasarkan nanti. “Ok, kita udah puas ngomongin harga sekarang waktunya kalian selesaikan desain kalian, saya tunggu sampe jamnya abis. Nanti asaya accnya dari tempat saya aja, kana da team viewer jadinya gampang.”
“Abi, kamu selesain, desainnya ya, kalo menurut saya desain kamu bisa keren itu.”
“Pasti mas kelar hari ini.”
“Kalian bebas, mau tulisan aja silahkan, atau mau pake ilustrasi atau gambar lainnya no prob, inget tiga warna ya ?”
“Ok mas.”
Semi kembali duduk dimejanya dan membuka kamus slang Inggris. Baginya buku adalah media yang sangat bagus untuk mengisi kekosongngan waktu, apalagi ia membaca buku yang membutuhkan durasi lama samapai benar habis, atau bahkan buku yang duari membanya tak akan pernah habis. Seperti KBBI dan juga kamus slang Inggris.
“Lagu silahkan, tapi jangan keras-keras. Inget itu selalu ya sama saya.”
“Udah nempel mas peraturannya dipikiran.”
“Peraturannya yang nempel atau sayanya yang nempel dipikiran kamu hah ?”
“Keduanya mas.”
“Berenti halu, sekolah yang bener, kuliah. Sukur-sukur ada yang mau nikahin kamu sebelum lulus kuliah nanti.”
“Amin mas, pengen cepet-cepet.”
“Pengen ngegendong anak kamu ya ?”
“Ya gitu lah mas.”
“Udah ah, lanjutin aja sampe kelar.”
Semi berada dibalik mejanya dengan cermat memperhatikan para muridnya mengerjakan karya mereka. Sesuai dengan ucapannya, Abi membuat sebuah desain yang bagus, percampuran antara kaligrafi dan juga ilustrasi. Semi tersenyum sendiri melihat desain Abi, ia berniat bila nanti kaos itu sudah diprint ia akan segera membeli kaos itu.
Ia kembali memperhatikan yang lain, Vira, Diana dan juga Meriana, hasil mereka cukup menggiurkan, mereka membuat desain yang sama seperti murid pak Afrian, dimana diantara mereka membuat tulisan dengan warna ala club malam. Warnanya tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap. Sedangkan Mariana membuat sebuah ilustrasi dan juga kaligrafi bertema street art. Ia membuat ilustrasi seekor serigala hitam putih sebagai karakter pengganti manusia.
Sepertinya ia sadar, bahwa mereka semua telah menerapakan mindset yang Semi perintahkan, desain mereka begitu bagus. Itu pasti mereka mempersembahkan yang rerbaik untuk kepala sekolah, dan juga dirinya.
“Ahh.. Kalian langsung nerapin mindset yang saya perintahin ya ? Buat tugas untuk kepala sekolah yak an ?”
“Pasti mas. Siapa yang gak mau diapresiasi sama kepala sekolah.”
“Good Vira, bagus kalian menerapkan mindset itu, kalian jangan lupa buat selalu update desain baju. Siapa tau kalian ada yang coba buat bisnis clothingan kan ? Who knows, n then kalo kalian ada yang mau coba buat bisnis itu bisa kalian biacarakan sama saya, saya bantu kalian membuat desain juga.”
“Wah kalo udah menyangkut uang harus dipikirkan secepat mungkin itu mas.”
“Pikirin itu entar aja, yang penting kalian selesain aja dulu sekarang.”
Sesekali ia berjalan untuk melihat karya para muridnya walau ia bisa melihat itu melalui layar monitornya, tetapi tujuannya yang utama bukan lah itu, ia ingin melihat ekspresi wajah mereka, tidaka da yang menyadari bahwa Semi memrperhatikan ekspresi wajah mereka ketika mengerjakan desain mereka.
Semi senang melihat bahwa sebagian besar dari muridnya terlihat senang dan tidak merasa ada sebuah paksaan. Semi kembali kemejanya, kembli duduk dan membuka kamus yang ia letakkan disamping monitornya.
“Kalo kalian udah pada selesai bilang ya, soalnya ada yang mau saya omongin sama kalian.”
“Ok mas.”
“Lanjutkan!”
Lembar demi lembar KBBI telah ia baca, banyak kata-kata dalam buku itu yang ia gairs bawahi dengan spidol, kata-kata yang garis bawahi adalah yang belum pernah ia dnegar sebelumnya, ternyata dalam bahasa persatuan bangsa ini memiliki banyak kata-kata yang indah dan keren. Semi adalah tipe orang yang menghamburkan uang dengan cara yang sedikittak biasa. Ia suka menghamburkan uang dengan membeli buku. Itu adalah impiannya sejak ia remaja juga, sampai akhirnya ia bisa mewujudkan itu, dirumhanya terdapat perpustakaan dengan isi kurang lebih lima ratus buku.
Baginya menghamburkan uang untuk ilmu merupakan hal yang bagus, karena semakin banyak ilmu seseorang maka dalam pekerjaan ia akan mendapatkan bayaran yang semakin tinggi. Itu sebabnya ia suka menghamburkan uang dengan membeli buku, karena baginya itu sama saja menghamburkan uang tetapi kau memungutnya lagi, bahkan bisa lebih banyak dari yang kau hamburkan.
“Mas selesai mas.”
“Semua ?”
“Kelar mas semua. Liat aja.”
Semi beberapa lama melihat karya mereka di team viewer. “Ok semuanya udah saya acc, dan ini waktunya untuk mengatakan apa yang ingin saya katakana kepada kalian.”
Semi duduk dimeja tengah ruangan. “Dalam waktu cepat tugas sesuai keahlian buat kalian akan saya berikan!”
“Beneran mas ? Gak sabar banget mas demi apapun dah.”
“Bener Kim ?”
“Bener mas.”
“Ok, jadi setelah tugas ini kan saya bakal kasih kalian tugas lagi corporate identity terus poster tuh, nah setelah itu kalian baru saya kasih tugas sesuia dengan keahlian kalian.”
“Oh ok gak sabar mas nunggunya beneran.”
“Yaudah berarti nanti kalian pulang sekolah langsung sablon atau print kaos kalian nah setelah itu saya nilai terus tugas corporate n then tugas poster setelah itu baru deh kalian dapet tugas sesuai keahlian kalian, bisa kalian kerjakan nanti setelah pulang sekolah ?”
“Bisa mas.”
“Ok…. Masih ada setengah jam, kita ngobrol aja, tersrah mau ngobrol apa sama saya.”