How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
GG masssss



“Ok guys, saya rasa cukup buat meet ini. Karena udah malem juga, so peace out!”


“Makasih mas.”


“Mas saya masih tenrgiang mas sama gombalannya mas.”


“Ya terserah lah, andai kamu mabuk kepayang juga, itu kan bukan salah saya.”


“Sering-sering lah mas kaya gitu, itung-itung hiburan mas.”


“Bagi kamu hiburan lah saya udah mau nikah.”


“Oh iya juga ya. Yaudah maksih ya mas, good night.”


“Ok good night all.” Semi menutup pertemuan itu, ia mulai mematikan komputernya, ia mempersiapkan dirinya untuk istirahat. Sepertinya asik melakukan gombalan seperti itu, walau sepertinya di zaman ini gombalan sudah tidak berlaku lagi. Karena gombalan lebih seperti sebuah bualan semata. Sedangkan wanita ingin bukti nyata, bukan hanya tebar janji.


-


Rabu pagi, dimana dalam seminggu anak Semi memiliki pelajrannya tiga kali dalam smeinggu, karena direvolusi industry ini menuntut anak SMK untuk bisa segera mamasuki dunia pekerjaan, jadi pelajaran yang lain dihilangkan, lebih diperbanyak lagi jadwal untuk keahlian masing-masing.


Semi terlihat tersenyum sambil mengenakan pakaiannya, karena dimana ia bertemu dengan anaknya pasti aka nada saja sebuah hal menyenangkan yang tidak terduga datang. Baignya itu adalah hiburan diprofesi yang amat sulit ini. Ya profesi guru adalah profesi yang amat sulit. Seorang guru harus bersabar, dimana tidak semua manusia memiliki sifat itu, setelah itu ia harus mengerti muridnya, dimana orang pengertiannya juga tidak banyak. Sifat pantang menyerah pun juga harus tertanam dalam seorang guru, dimana sifat itu hanya sedikit yang memilikinya.


Semi membawa gitarnya untuk menghibur dirinya bila suatu saat ia merasa bosan, dan ia akan memainkan gitar itu. Gitar dengan merk Schecter itu terlihat begitu keren, dengan warna hitam bergaris putih. Gitar dari personil band Avenged Sevenfold itu sangat banyak yang berharap agar bisa memilikinya, salah satunya Semi, ia memiliki akustiknya, dan juga elektriknya. Bukan hanya elektrik yang biasa, tetapi juga dengan tujuh senar dan juga delapan senar. Mengingat Semi seorang Metalhead dengan aliran Deathcore. Tak heran ia memiliki gitar dengan tujuh senar.


Perjalanan sangat mulus, tidak ada kemacetan, hanya ada penumpukan lalu lintas saja, itu pun tidak lama, sehingga Semi bisa cepat datang ke sekolah. Baginya setiap perjalanan ke sekolah adalah sebuah hiburan, karena ia selalu menggunakan motor favoritnya, ya motor Eropa itu, Semi sangat menyukai motor Eropa itu, selain biayanya yang tidak terlalu mahal dalam membelinya, dan juga tidak banyak yang memiliki motor Eropa. Kebanyakan orang lebih memilih motor Jepang karena sparepartnya ada dimana saja, tetapi tidak dengan motor Eropa.


Sampai, Semi segera memarkirkan motornya dilahan parkir lalu ia segera menuju kelas anaknya. Tampak kelas itu ramai, dan belum semuanya juga hadir dikelas itu. “Cuk semalem ada yang beli kaos kita, yang kaos dicetak paling banyak itu.”


“Oh yang desain paling baru mas Sem ?”


“Nah iya, itu kan dicetak berapa ? Dua belas apa sepuluh ?”


“Dua belas.”


“Nah iya, dia ambil satu.”


“Anjay kayanya kita majunya cepet dah.”


“Halo.” Semi menyapa, suaranya yang tidak begitu keras membuat seluruh aktivitas kelas berhenti.


“Nanti kalo udah jam saya nanti langsung aja ya, jangan pake lama. Kita omongin yang –“


“Biasa lah.” sahut Ardine dengan cengiran.


“Nah iya, kita akan membicarakan yang biasalah. Ok ?”


“Ok mas. Ada hal yang mantab yang mau kita omongin mas.”


“Nah mantab, nanti aja ya.” Semi berjalan ke lab desain grafis, muridnya tidak menyadari bahwa Semi menenteng sebuah gitar juga. Semi segera memasuki ruang guru yang dimana semua guru sudah datang, dan disitu ada seorang guru yang ia tidak kenal.


“Weh mas Sem, bawa gitar nih sekarang ? Buat apa mas ? Kayanya bakal gabut banget nih.”


“Ya, pengen aja mba saya nyanyi, saya kan juga pernah nyanyi sama anak saya. Saya juga pengen nyanyi sendiri.”


“Guru baru ya mas ? Baru ngeliat saya. Saya Hattara mas. Guru fotografi.”


“Oh pantes, kayanya ada yang kurang ternyata mas Hatta, saya Semi Fahrian mas, bisa panggil Semi, Rian ataupun Fahri. Saya guru desain grafis.”


“Saya baru bisa masuk sekarang karena saya ngikutin sertivkasi mas. Biasa, sertifikat saya udah kadaluarsa tahun kemaren.”


“Oh, saya baru aja selesai sertifikasi sekitar tiga bulan lalu, desain grafis.”


“Oh mantab deh mas, ngajar jam keberapa mas ?”


“Oh nanti kalo anak saya nanti jam kedua, tapi sekarang saya ada jam di kelas XII. Kalo mas Hatta sendiri ?”


“Kalo saya sekrang kelas X sih mas.” Mereka saling berbicara untuk mengenal satu sama lain. Dimana beberapa lama ini mba Riana dan Semi saling membantu dalam menghandle pelajaran fotografi. Mereka saling berbicara bersama hingga jam masing-masing datang.


Semi berjalan ke labnya untuk menunggu murid kelas XII. Dilabnya ia sambil iseng memetik gitarnya. Ternyata bukan petikan asal, sebuah lagu dari band rock yang terkenal, yaitu Pearl Jam, dimana salah satu lagu mereka menjadi game The Last of Us Part II itu semakin indah. Yaitu dengan judul Future Days. Semi hanya memetik gitar itu tanpa benyanyi, ia membiarkan gitar itu bernyanyi, membiarkan gitar itu menjadi mulut kedua Semi. Ditengah nikmatnya ia memetik gitar, murid kelas XII datang, Semi meletakkan gitarnya dan menyapa mereka.


“Ok semuanya langsung aja ya saya kasih tau kalian harus apa, kalian tau karikatur kan ?”


“Tau mas.” jawab Reka ketua kelas itu.


“Ok, jadi kalian buat karikatur itu, kalian pake wajah kalian, jadi kalian selfie, lalu kalian vectorin di AI. Gak masalah hasil kalian masih jelek, setelah itu nanti disebelahnya kalian tuliskan tentang diri kalian. Tar dulu saya kasih contoh.” Semi menyalakan komputernya, karena tadi ia datang segera duduk dan memetik gitarnya.


“Nah saya kasih kalian tugas ini bukan tanpa sebab, kalian bisa dapet uang cuma karena hal simple ini. Saya aja pernah iseng buat karikatur buat temen saya namanya Wulandari, saya kasih ke dia, dia ngasih saya tiga ratus. Mantab kan ? Cuma hal simple kaya gitu aja bisa dapet uang yang lumayan.”


“Kalo gitu ajarin dong mas Vector.” Vector, sebuah seni digital dimana mengubah foto seseorang menjadi sepeti cartun, seni ini sangat banyak peminatnya, banyak juga yang ingin bisa menguasa teknik ini. Karena teknik ini terbilang sulit. Semakin mirip Vector itu seperti wajah orang aslinya, maka akan semakin sulit pula pengerjaan dari seni itu.


“Ok gak masalah tenang aja. Kaian bilang aja apa yang kalian mau nanti saya ajarin.” monitor sudah menyala. Semi segera menunjukkan contoh itu. “Nah ini dia.”


“Oh.” kata-kata itu mengisi ruangan itu, karena sebagian besar mereka mengucapkan itu.


“Bisa kan kalian ? Bisa lah pasti.”


“Bisa mas gampang.”


“Ok kalo begitu kalian pasti bisa, jadi silahkan bekerja. Musik silahkan dengan kebiasaan yang kita setujui.”


“Ok mas.”


Semi kembali duduk, ia membuat karikatur untuk contoh muridnya, memang jam mereka hanya satu jam saja, pasti mereka tidak akan selesai, maka itu nanti akan menjadi tugas mereka. “Ok karena murid gw lagi buat karikatur jadi gw kasih contoh, gw juga buat karikatur lalu…. Gimana kalo karikaturnya itu gw masukin ke desain baju gw ? Pasti bakal banyak tuh yang mau, jadi karikaturnya itu dari yang minat, jadi baju itu terpajang wajah mereka. Nah ide mantab banget itu Sem, ngapa gak dari tahun kemaren kaya gitu.”


Semi menemukan sebuah ide yang brilliant, dimana akan banyak yang ingin membeli baju muridnya bila ia menggunakan cara ini. Pasti bisnis kaos muridnya bisa maju dengan cepat. Ya, ide yang sangat pandai, kebanyakan yang akan membeli baju itu kemungkinan adalah para wanita, atau mungkin mereka yang berpasangan untuk memberikannya kepada mereka sebagai hadia ualng tahunnya.


“Ardine, saya ada ide mantab jiwa Din, jadi pas udah waktunya kalian langsung aja ke ruangan ok ?” Semi mengirimkan voice not itu kepada Ardine, dan Semi yakin itu akan disambut sangat baik oleh anaknya.


-


Tak terasa, waktu mereka sudah habis, Semi sudah selesai membuat karkatur itu, semua muridnya bisa melihat karya Semi diruangan itu. “Ok semuanya, karena waktu udah abis, jadi kalian save dulu, nanti kalian kerjakan dirumah nanti dicetak. Nah nanti akan ada saat dimana kalian akan mendapatkan order karikatur, tunggu aja, pasti kalian bakal dapet uang dari itu.”


“Bener mas ?”


“Makasih mas.”


“Yop jangan lupa dikerjain, Kamis besok kan dikumpulin.” ruangan sudah kosong, Semi bisa merasakan bahwa anaknya akan datang dalam waktu singkat. Ia kembali duduk dan mengambil gitarnya lagi. Ia bersiap akan menyanyikan sebuah lagu.


“It’s so hard to let go. You can hear me but I'm invisible but if you dig out your eyes, maybe pain will subside the worst that could happen is you never see me again. But the worst is yet to come, my friend. This path I walk is comforting but now I'm left to sing this song alone. I'm fading faster now.”


Mereka sudah datang, belum sampai reff Semi bernyanyi ia berhenti untuk berhadapan dengan anaknya. “Langsung aja mas kita omongin.” Ardine segera duduk dimeja semi pun segera duduk di meja untuk menyampaikan idenya juga.


“Jadi mas, kemaren itu beuh manis banget mas. Rekening bisnis kita udah nyentuh satu koma lima mas, semalem ada yang order satu desian mas Sem yang paling baru mas. Sekarang udah nyetuh satu koma enam mas. Mantab mas, bisnis kita berkembangnya cepet.”


“Kabar bagus, nah saya juga mau ngusulin ide keren ini, saya yakin pasti ini bakal banyak yang suka.” Fina, dan Linara mendekati Semi. “Jadi ide saya itu, kalian buat karikatur, nah nanti kaian masukin wajah yang minat. Misal kan ada yang minat nah, muka dia dikarikaturin, nah pas udah selesai cetak dah. Gimana ?”


“Mantab di jiwa mas.”


“GG mas.”


“Mantab kan ? Fina kamu bisa bantu kan ?”


“Tenang mas, udah pernah saya buat karikatur. Gimana Dine ?”


“Beuh gile mas itu bakal banyak banget mas yang mau pasti.”


“Mantab kan Kim ? Nah saya juga mau kita jangan Cuma di baju aja, dikaos juga, sekalian aja kita jual jaket juga ya nggk ? Kan cloth. Berarti jaket juga lah. Gimana ?”


“Why not.co sih mas.”


“Ok Lukman setuju, gimana dengan yang lain ?”


“Pasti setuju lah mas, mana mungkin nggak itu ie cemerlang banget mas. Kebeneran bentar lagi ada tiga temen saya mas yang mau ulang tahun mas, nah saya bisa saranin pacarnya buat beli di situ.”


“Mantab Linara. Kamu ada kontak dia ?”


“Ig mas ada, ada banyak bangat selfienya mas, selfie terus dia kaya orang gangguan jiwa.”


“Keren kamu Nara. Ardine gimana Din bisa gak kamu keriannya Din ?”


“Semoga aja mas. Soalnya baru dua kali mas buat karikatur. Sekarang yang kedua kalinya mas.”


“Yang lain kan ada Din, kaya cuma lau aja desainer dibisnis ini.”


“Nah iya, gw lupa, ok lah mas. Siap, Fin kirimin sekarang ye fin itu temen lau, masih jaraknya berapa lama ulang tahun mereka ?”


“Sepuluh hari semuanya.”


“Mantab, lu kasih tau pacarnya Fin sekarang juga.”


“Siap Din.”


“Nah mas, karikaturnya emang udah ada mas ?”


“Itu didepan, itu karikatur temen kerja saya, namanya Wulandari. Nanti saya bakal posting kaos itu, nanti lanjutkan selebihnya.”


“Ok mas, siap. Ini siap berkembang pesat ini mas, seakan-akan kita pake pesugihan ini mas.”


“Pesugihan apa Din ?”


“Sate gagak mas.”


“Pernah nyoba ?”


“Pernah mas nemenin temen saya yang iseng coba, yang dateng korban pembunuhan penjajahan Jepang mas.” Semi tertawa. “Kabur dong ?”


“Kabur mas, pas udah keluar dari hutan sandal saya ilang sepasang, padahal baru beli itu, sandal saya sempet ilang diwarnet.” pernyataan itu memancing gelak tawa sebagian besar.


“Emang temen kamu mau uang berapa banyak ?”


“Dia bilang butuh dua puluh milyar mas. Jadinya ada dua puluh tusuk sate gagak. Dia bilang dia mau nikahin mantannya, dia juga mau banyak lagi dah mas. Emang kacau dia mas, itu juga kacaunya dalem tanda kutip itu mas.”


“Nah makan tu setan. Karena niatnya jelek makanya gak bisa. Akhirnya kapok ?”


“Kapok mas gak berani lagi dia abis itu sawan mas seminggu. Saya ketawain aja lagian mau nyoba begituan, nerima kan akibatnya.”


“Temen kamu kelewat pinter itu demi apapun. Hadeuh Din Din, btw itu cerita kamu jadi pembuka yang mantab buat kelas ini. Jadi gimana mau nggak saya post ?”


“Oh mau dong mas.”


“Hakim denger uang aja cepet banget.”


“Eh iya maap mas, saya mau liat aja gimana mereka puas nanti sama kaosnya mas.”


“Saya paham kalo kalian semua butuh uang dipandemi ini. Jadi gak masalah, nanti kalo ada yang laku kalian silakan nikmati uang itu. Ok saya post dulu ya, nah kalian bisa buat desian atau mulai ngerjain karikaturnya.” Semi menyimpan kariktur itu, lalu memindahkannya dalam sebuah desain kaos hitam polos. Menyimpannya lalu mempostingnya di akun bisnis muridnya.


“Kalo ada yang mau sama kaos itu harus gerak cepet lo kalian, jadi istilahnya kalian kalo dapet pesenan ini antara hidup dan mati ini.”


“Nah iya, gak kepikiran tu mas.” ucap Abi yang sedang membuat desain.


“Fina, kamu bantu ya kalo ada pesenan mendadak gitu ok ?”


“Tenang mas. Saya bisa bantu pastinya.”


“GG banget lah mas idenya, gak kebayang nanti bisnis kita bisa berkembang kaya apa.”


“Kalian jadi punya bisnis deh, kalian punya penghasilan sebelum usia dua puluh, itu yang terpenting.”


“Nah iya itu mas yang terpenting. Mas Sem emang pahlawan kita mas.”


“Alah lebay. Jangan ikutan pesugihan lagi kamu.”


“Ya nggak lah mas. Ya kali buat apaan.” tak lama ia tertawa karena mengingat temannya yang sawan sampai seminggu lamanya.