How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Sakral



“Udeh jam dua belas malem ni boy. Balik ye ?” kata Albertus sambil membakar rokoknya. “Lah iya, gak berasa dong.” kata Arya.


“Yaudah nyet, balik dah kita ya. Lau kan juga besok akad tuh, lau istirahat dah, biar malemnya bisa memberikan yang terbaik. Biar punya anak cepet.”


“Iye, iye gw dengerin saran lau.”


“Yadeh belik ye Sem kita.” mereka saling memberikan salam lalu meninggalkan rumah Semi. “Ok, kelar. Besok kita akad. Hari yang Najwa tunggu pasti.”:


Semi masuk ke dalam rumahnya, membesihkan dirinya sebelum tidur, lalu lelap dalam alam mimpinya.  Begitu bangun ia akan mempersunitng Najwa menjadi miliknya resmi. Hari yang ditunggu setiap orang. Pernikahan pasti selalu indah, namun fakta sebenarnya banyak yang di sembunyikan. Bagaimana cara mempertahanakan rasa cinta itu, bagaimana cara mengatur emosi, bagaimana cara saling mempercayai, harus mau mengalah, saling mengerti, dan juga ada saja yang menggoda di saat walau sudah menikah sekali pun. Ya, itu fakta sebenarnya dalam pernikahan yang banyak di sembunyikan, karena bila tidak di sembunyikan, banyak orang yang tidak akan siap untuk melakukan hal itu.


Pagi, Semi segera bangun dari tidurnya. Segera mandi, mempersiapkan pakaiannya untuk akad hari ini, setelah itu ia sarapan dengan porsi yang cukup banyak, tetapi tidak terlalu banyak juga. Ia membuat sebauh Dagwood dengan roti yang lebar, beberapa potongan tebal daging dan juga sayuran yang berlimpah. Setelah itu ia mencaploknya hanya sebanyak empat kali saja, karena mulutnya yang lebar seperti gua zaman pra sejarah membuatnya cepat dalam mengkonsumsi Dagwood itu.


Setelah itu ia segera ke rumah Najwa untuk menjemput kedua orangtuanya. “Ok, semuanya udah siap, baju buat aka dada di belakang, pake kaos polos celana panjang aja lah gak masalah. Abis itu jemput orangtua mertua gw, setelah itu menunggu waktu buat akad dan resmi sudah hubungan gw. Hubungan yang sebenernya gw sendiri gak mau pake tahap pacaran, karena masih nahan. Gak seru, mendingan nikah aja langsung, biar gak ada kata nahan.” Semi menyalakan mobilnya lalu memacunya ke rumah Najwa.


Begitu sampai, orangtua Najwa sudah menunggu dengan senyum lebar. Semi keluar dari mobilnya dengan senyum. “Bapak, ibu.” Semi memeluk keduanya. “Akhirnya, ibu bisa liat kalian berdua bersama, semoga kalian bersama hingga waktu memisahkan.”


“Ammmiiiiin bu, aku juga berharap begitu.”


“Yaudah, ayo langsung ke lokasi aja, begitu sampe nanti bapak mau jemput Najwa.”


“Iya ayo pak.” Semi melakukan pernikahan seperti semestinya, dimana ia tidak akan melihat Najwa sampai akad telah sah, setelah itu ia baru bisa melihat Najwa yang sudah sah dan resmi.


“Abang-abangmu bisa dateng Sem ?”


“Bisa pak, udah ngabarin.”


“Kerjanya abangmu apa ?”


“Wirausahawan pak keduanya.”


“Oh, hebat. Tapi kamu sendiri malah guru ya ? Kenapa Sem ? Kan kamu itu udah punya café sama restoran, kamu itu kan udah enak. Kenapa masih mau jadi guru juga Sem ?”


“Saya suka benerin orang yang katanya udah rusak pak. Saya udah nolong banyak orang yang ada di jalnaan jadi bener lagi pak. Karena itu saya mau jadi guru pak. Lagi juga saya kan punya ilmu desain grafis sayang pak kalo gak di bagi pak. Lagi juga kan ilmu yang saya kasih nanti kan gak akan putus sampai saya meninggal pak bila murid saya terus mengamalkan dan membaginya.”


“Jawaban kamu jenius. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna, dan kamu sudah memilih untuk menjadi orang yang mulia dan berguna. Karena porfesi sebagai guru begitu mulia, dan kamu melakoni itu. Semoga apa yang kamu lakukan, membawakan kebahagiaan kamu, terutama kepada Najwa nanti.”


“Amiiinn pak. Ini belom akad aja udah di do’a in.”


“Iya lah Sem. Soalnya Najwa itu milih banget kalo mau nikah. Ini aja ibu seneng banget dia mau sama kamu, dia langsung nurut sama apa yang kamu perintahin. Udah kaya kucing angora.”


“Lagi juga saya sebenernya males bu pacaran, tapi karena minta anaknya ibu, ya saya jalanin aja. Sampe akhirnya bisa kaya sekarang bu.” Mereka berbincang yang berisikan harapan, do’a dan banyak lagi. Hubungan yang harmonis.


Begitu sampai Semi segera mengambil pakaiannya yang berada di seat belakang, lalu memberikan mobil itu kepada ayah Najwa untuk segera menjemput anaknya. Semi segera ke ruangan yang di sediakan untuk mengenakan pakaiannya. Setelah itu ia hanya menunggu waktu untuk hari sakral ini. Semi sedang menunggu mertuanya di halaman Masjid, lalu datang kedua abangnya. “Sem.” Panggil abang pertamanya bernama Rizki. Semi segera menghampiri mereka.


“Gak nyangka Sem, akhirnya lu nikah juga.”


“Iya mas, lagian Najwa gak mau langsung nikah, jadinya malah kaya gini, aku sendiri ogah pacaran, kan tau sendiri aku itu gak pernah punya pacar, sekalinya punya ya ini, udah mau nikah sekarang.”


“Papah, mau main sama kucing om Sem.” Anak dari abang keduanya bernama Roby


“Iya nanti ya.”


“Sem, nitip anak gw ya nanti, selesai akad bawa aja kerumah lu, dia mau main sama kucing lu.”


“Roby mau main sama macan ?”


“Mau mau, om Sem. Kapan ?”


“Nanti ya setelah ini.”


“Yeyy, main sama macan!” Semi tersenyum.


“Sem, kalo udah nikah jangan ngadi-ngadi lu.”


“Ya ilah mas, aku itu udah lama mendidik diri itu supaya gak ngadi-ngadi mas. Jadi tenang lah.”


“Yak an masalahnya gw kan gak pernah liat lu pacaran, sekalinya pacaran udah mau nikah. Jadi ya jangan ngadi-ngadi aja. Gw kan gak tau sifat lu sama perempaun kaya gimana.”


“Iya mas Fatur.” dari kejauhan Semi melihat bahwa ayah Nawa sudah sampai, ia turun bersama Najwa, tetapi Semi tidak melihat wajahnya. “Calon gw udah dateng, tinggal tunggu penghulu aja.” Semi dan abangnya segera masuk ke dalam Masjid untuk menunggu kedatangannya.


Masjid sudah ramai, sudah ada keluarga Semi, temannya yang kemarin juga ada, termasuk Wildan, Sulaiman, bahkan ada juga Riva di sana, sebagai saksi akad Semi. Entah ia akan menjadi istri keduanya atau tidak.


Dalam keheningan, penghulu datang, tak lama setelah kedatangan penghulu, akad segera di mulai. Jantungnya berdetak tak menentu, ini adalah momen yang paling mendebarkan dalam hidup. Semi menjabat tangan penghulu, mendengarkan kata-katanya dan mengulangi kata itu. Sebuah kotak merah yang cukup besar berisikan perhiasan di persiapkan sebagai mas kawin, dengan berat kotak satu kilogram lebih.


Semi berhasil mengucapkan kata-kata itu. Kini hubungan mereka sudah sah, tidak ada penghalang di antara mereka berdua. Kini mereka sudah sah untuk membangun keluarga bahagia. Do;a yang banyak menyertai akad itu, di sertai tangis dari kedua orangtua Semi dan juga Najwa. Pada saat berdo’a Najwa sudah berada di samping Semi, melantunkan do’a bersama, untuk keberlangsungan masa depan.


Setelah akad dan berdo’a bersama selesai. Acara pada hari ini sudah selesai artinya, tetapi Semi dan Najwa memilih untuk berbincang bersama temannya terlebih dahulu. Semi berkumpul dengan teman kantornya, pak Imanul pun datang juga, tak lupa juga Wildan beserta Sulaiman datang. Mereka hanya menghadiri akad saja, karena mereka masih memiliki banyak pekerjaan di café, begitu juga pak Imanul, hanya menghadiri akad, karena ingin menghabiskan waktu dengan keluarga.


Semi tengah berkumpul, abangnya menghampirinya. “Sem, selamat Sem, selamat menempuh hidup baru.” kata abagnya Fatur. “Iya makasih mas.”


“Gak nyangka, ade gw yang bocah sekarang udah nikah. Selamat menempuh hidup baru Sem.” Kata abang kedua nya.


“Iya makasih mas.”


“Yaudah Robi papah tinggal ya, kan nanti mau main sama macan om Semi.”


“Iya pah.”


“Yaudah papah duluan ya.”


“Iya pah. Dadah.” Abangya hanya tersenyum dan menitipkan Robi kepada Semi, begitu juga abangya yang pertama, sudah memiliki dua anak, putra dan putri, istrinya pun datang,  begitu juga abang keduanya. “Semi Kiki mana ?”


“Udah ke mobil kak Bel.”


“Oh, Roby ayo pulang.”


“Ah dia mau main sama kucing aku kak Bel, nanti aku anterin ke rumah.”


“Oh yaudah, aku duluan ya. Selamat menempuh hidup baru ya Sem.” lalu meninggalkan Semi. “Yo kumpul sama temen om Sem dulu.” Roby mengangguk lalu mencari dimana Albertus dkk.


Semi berjalan cukup jauh dari Masjid untuk berkumpul dengan temannya, terlihat dari jauh mereka tengah berkumpul. “Nah itu Semi, sama sapa tuh, bawa bocah dia.” Semi berjalan cepat menemui mereka.


“Weh, baru selesai akad udah langsung punya anak dia. Cepet bukan main.”


“Bodo amat, anak abang gw ini.”


“Dede namanya siapa ?”


“Roby.”


“Ngapa anak abang lau ada sama lu ?”


“Mau main sama kucing gw.”


“Oh. Iya sih, lucu banget kucing lu.” hening, diam dan bingung, begitu Riva datang kepada Semi. “Hi Sem. Selamat menempuh hidup baru ya, semoga rumah tangga kalian nanti lancar.”


“Iya makasih Riv. Dateng sendiri ?”


“Iya, lagi gak ada kegiatan, makanya gw dateng. Kabarin ya kalo udah punya anak.” Semi mengangguk, Riva mendekati Semi… Sebuah kecupan mendarat di pipinya, dimana itu membuat bingung semuanya termasuk Semi. “Yaudah gw balik ya, temen gw ngajakin pergi. Good bye.”


“Gooo… Ooo… Good bye.” ketika sudah jauh Riva berbalik melambaikan tangannya dengan senyuman.” Albertus dan yang lain memandang bingung. “Buset miss Indonesia nyasar, sokap dah ?”


“Temen SMP gw, dulu gw emang suka, sampe sekarang pun masih.”


“Cantik banget, pake dress serba item. Jadinya anggun.” kata Albertus.


“Gakesun lah jadiin istri kedua.” kata Adit, Semi manggakat bahunya.


-


Semi sudah mengantarkan pulang Najwa beserta orangtuanya, kini Semi bersama Roby, membaanya kerumah untuk membiarkannya bermain dengan kedua macan Semi. Semi sebelum pulang, ia sempat berhenti di sebuah mini market, untuk membelikan coklat kepada Roby, lalu mereka kembali lanjut perjalanan lagi.


Sampai, Semi melihat kedua macanya berada di halaman rumahnya, dia bingung kenapa bisa kedua kucingnya keluar dari rumah. “ Macan! Macan, macannya ada di luar. Om Sem, aku mau keluar.”


“Yaudah langsung aja.” Semi membukakan pintu mobil dan Roby segera mengejar kedua macan itu. Semi meletakan mobilnya di halaman, tidak langsung ke dalam garasi. Ia duduk di kursi santainya. “Riva… apa dia beneran serius ? Tapi itu udah berani banget kaya gitu di depan temen gw. Mungkin udah serius itu.” batinnya.


“Tapi bila dia beneran serius gimana caranya gw kasih tau ke Najwa ? Pasti setiap istri gak mau di dua kan. Jadi…. Apa gw harus menunggu gw selesai sama Najwa ? Kayanya itu bakal lama banget. Ya gw harap dia bakal nemuin orang yang pas buat di nikahin.” sambung batinnya.


Pukul 12.20 siang. Semi sudah menyelesaikan ibadahnya, kini ia akan mengantarkan Roby pulang. “Roby, pamit dulu sama macannya ya ?” Roby memeluk kedua macan itu. “Macan, aku pulang dulu ya, nanti kita main lagi ya .”


“Yuk, papah kamu udah nunggu pasti.” Semi membawa Roby untuk mencuci tangannya terlebih dahulu, lalu ia mengantarnya dengan mobil. Setelah ini ia akan istirahat, lalu sore hari nanti ia akan membawa Najwa kerumahnya. Tinggal bersama dan memulai hidup baru.


-


“Ok… Bangun. “ Semi menyandarkan dirinya, menunggu nyawa bersatu. Matanya masih sayup dan terkadang kembali tertidur. Butuh beberapa lama untuk benar-benar bangun dan bisa beraktivitas.


“Ok udah kelar, udah Ashar, udah kasih makan kucing. Tinggal jemput Najwa aja. Alias boneka gw. Lagian manja banget. Udah nikah juga.” ia segera menuju garasinya, kali ini menjempu Najwa dengan menggunakan fortuner. Semi sebenanrya mau saja membeli sports car, tetapi itu hanya kendaraan saja, dan dengan membeli kendaraan mahal orang dikatakan kaya, mengapa harus membeli kendaraan mahal ? Padahal di saat kau membelinya kau tak akan bisa mendapatkan keuntungan kembali.


Lebih baik membeli sebuah apartemen atau hotel. Maka apa yang kau keluarkan tidak akan sia-sia. Mengeluarkan uang milyaran, dan akan mendapatkan untung triliunan. Maka membeli tempat investasi adalah pilihan yang tepat di bandinkan membeli kendaraan mewah.


Semi masuk ke dalam rumah Najwa bersama sang ayah. “Najwa, suamimu dateng nih, buat bawa kamu ke rumahnya. Ayo gak usah malu-malu udah nikah kalian.”


Ibu Najwa segera menghampiri Semi. “Ibu, Najwa mana bu ?”


“Ada itu di kamar. Nyengir gak jelas.”


“Oh wajah bu, ketularan saya, saya orangnya juga suka kaya gitu bu. Awalnya saya nyengir gak jelas, udah gitu ketawa sendiri bu.”


“Oalah. Ternyata anak ibu ketularan kamu toh.” Ibu Najwa menepuk bahu Semi bercanda. “Pantesan! Anak ibu kadang suka ketawa sendiri. Ternyata udah ketularan suaminya. Kamu kasih apa Najwa hah ?”


“Ah gak saya kasih apa-apa bu. Dianya aja yang suka niru kelakuan saya.”


“Ini anak mana sih, di jemput suaminya juga malah dekem aja di kamar.”


“Sem, coba deh kamu samperin siapa tau dia mau langsung gerak.” Semi segera menuju kamar Najwa bersama ayahnya.


“Najwa, suamimu dateng nih. Ayo temuin dong.” Semi mengetuk pintunya. “Najwa, apa aku harus masuk ?”


“Iya masuk aja coba.” Semi membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat Najwa yang duduk membelakangi pintu. Semi mendekatinya perlahan, lalu memeluknya dari belakang.


“Manja emang ya kamu itu harus aku yang masuk.” Najwa terkejut, wajahnya sedikit memerah. “Ayo dong kerumah aku, kia bangun keluarga kita sendiri yah.”


Najwa berbalik dan segera memeluk Semi erat. “Ampun deh beneran kaya anak kecil, meluknya erat banget.”


“Siapa yang nggak, orang suamiku kamu. Ganteng, badan kamu bagus, siapa yang gak mau.”


“Udah ayo bawa barang kamu, kamar aku menanti kamu. Sekarang kita resmi membangun keluarga kita sendiri. Gak ada yang bisa menganggu kita lagi.” Semi mengecup kening Najwa spontan, itu memberikan efek kejutan kepada Najwa.


“Ayo.” Najwa belum bisa berkata-kata.


Semi dan Najwa keluar dari kamar. “Pak, ya ampun pak, Najwa manja banget pak, ampun deh.” kata Semi sambil membawa tas Najwa, Najwa memeluk Semi erat sehingga menyulitkan Semi untuk berjalan.


“Ya ampun Najwa.”


“Eh Najwa, itu suamimu kesusaha buat jalan kamu peluk gitu ih.” Najwa hanya tersneyum lebar. “Pak, pamit ya pak.”


“Ya sudah. Karena kamu udah ambil anak bapak, kamu harus ganti anak bapak nanti.”


“Iya deh pak, mau berapa pak ? Dua atau tiga pak ?”


“Ya, tergantung kamu bisa ngasih Najwa berapa banyak.” Semi mencium tangan ayah Najwa dan memeluknya. “Ibu. Do’a in aku bahagia ya bu.”


“Do’a ibu pasti mengiringi rumah tangga kalian. Kamu ini kan menikah dengan pilihan kamu. Kamu pasti akan bahagia nak.” Najwa dan ibunya tersenyum, setelah itu Semi melakukan hal yang sama.


“Ibu, aku izin bawa Najwa ke rumah aku ya bu. Nanti aku ganti sama cucu yang sama imutnya kaya aku nanti.”


“Harus! Harus kamu kasih gantinya Najwa. Sekarang rumah ibu sepi.”


“Ibu mau berapa bu ?”


“Ibu mau tiga, biar rame.” Semi tersenyum bersama dengan Najwa.


“Do’a kan ya bu, semoga kita cepet punya anak ya bu.”


“Ammiiiinnn.” Semi memeluk ibu Najwa, lalu mereka menuju mobil yang Semi bawa.


Semi dan Najwa memasuki mobil, dari luar orangtua Najwa masih memperhatikan mereka. “Selamat menempuh hidup baru ya nak.” Najwa tersenyum, begitu juga Semi.


“Ibu, bapak kita pamit.”


“Hati-hati ya Sem. Masih pengantin baru jangan ugal-ugalan.”


“Nggak dong bu, masa ugal-ugalan saya. Ibu, bapak saya pamit. Asslamualaikum.”


“Walaikumsalam.” jawab meeka berdua.


Semi mengendarai mobil dengan kecepatan yang tak terlalu cepat dan terlalu lama juga, sekarang mereka resmi, resmi untuk melakukan apapun. Tak ada yang bisa menganggu mereka mulai dari hari ini.


Semi membuka pintu rumahnya. Segera menuju ke kamarnya, lalu meletakkan tas Najwa di kasurnya, Najwa tersenyum, lalu Semi memeluknya. “Perjalanan kita dimulai dari sekarang.”


-


Malam, mereka kini tengah berada di warung makan padang yang pernah mereka kunjungi, mereka melakukan hal yang sama, bahkan sekarang membeli dengan porsi yang lebih banyak. Setelah memindahkan seluruh makanan, mereka segera mengendarai untuk menuju lokasi yang mereka inginkan. “Sesuai keinginan kita kan ? Setelah kita nikah kita melakukan hal ini lagi ?”


“Iya.”


“Kamu kalo pake hijab lebih cantik say. Dibandingkan gak sama sekali.”


“Kan ini perintah kamu. Jadi aku turutin lah.”


“Walau itu aku yang minta, kamu keberatan gak ? Karena ada baiknya seorang suami memberikan saran kepada istrinya, tetepi bila kamu terpaksa mlakukannya, ya jangan kamu laksanakan. Kamu ambil waktu dulu, baru lakukan.”


“Nggak Sem, ini emang kewajiban juga, aku pikir ini udah waktunya aku berubah, karena aku udah gak tinggal sama orangtuaku juga, sekarang aku udah nikah, aku harus berubah dong. Masa enggak.” Semi tersenyum.


Mereka berhenti di tempat yang mereka inginkan, Semi membuka bagasi mobil, Najwa mulai membuka setiap kantong plastik dan Semi mulai memberikan kepada seseorang. Setelah ia memberikan itu Semi mengajak warga yang berada di sekitar, lalu mereka membanjiri Semi dan Najwa.


Kurang lebih hampi setengah jam makanan mereka habis, Semi dan Najwa telrihat sangat puas sekali, senyuman di wajah mereka seakan tak bisa padam. “Akhirnya, bisa ngeliat orang lain tersenyum puas.”


“Aku juga rasanya seneng banget.”


“Kita mau lakukan ini setiap minggu apa sebulan dua kali aja ?”


“Setiap minggu dong. Kan kamu punya penghasilan menumpuk.”


“Oh iya, bener juga. Ok setiap minggu ya, jadikan.” Semi menghela nafas. “Balik yuk ?” Najwa mengangguk.


Sesampai di rumah mereka bermain game bersama hingga jam menunjukkan pukul 23.30 malam. Setelah itu mereka bersiap untuk tidur. Semi duduk diranjang mengenakan celana pendek tanpa pakaian. Najwa masuk membawa segelas air. “Najwa sini lah.” Najwa berdiri di depan kamar sambil mengigit bibir bawahnya. “Aku…. A…. Aku… Gerogi jadinya.”


“Haih, selom nikah udah pernah sekamar sama aku, sekarang udah sah kenapa kamu jadi gerogi ?” Najwa berjalan perlahan mendekati Semi, meletakkan gelasnya dekat dengan ranjang. Semi merangkulnya.


“Seneng sekarang ?”


“Banget.”


“Setelah kamu nikah sama aku. Kamu mau punya berapa anak ? Aku berusaha ngasih ke kamu.”


“Emang kamu yakin bisa ?”


“Coba aja dulu. Kamu mau berapa emang ?”


“Lima bisa ?”


“Challenge accepted.” Najwa tersenyum. Jam menunjukkan pukul 23.35 malam. “Udah larut aja. istirahat lah buat besok.”


“Masa gitu aja sih male mini, garing dong.”


“Oh… Gitu. Kuterima tantanganmu.”


“Kamu mau berusaha mulai dari sekarang ?”


“Ayo. Kamu mau punya anak kembar ?”


“Keluarga kamu emang ada yang kembar ?”


“Keponakan dari keluarga ibu aku ada yang kembar.  Kamu mau kembar dua apa tiga ? Biar gak dua tiga kali kerja.”


“Gimana kalo kembar empat ?”


“Ya kita coba aja dulu.” Semi menenggak air yang ia bawa.