How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Jadi... beda gitu



Semi mengerjakan tugas yang Albertus berikan, baru saja selesai satu lembar, belum lagi untuk revisi nanti. Semi mengambil ponslenya, “Tus tolong bilangin gw mau revisi lewat gmeet aja bisa apa kagak.” sebuah voice note agar lebi cepat dalam berkomunikasi.


Semi bangkit dari kursinya, ia melihat anaknya yang sedang mendesain, sesekali kembali melihat inspirasi mereka seperti apa. “Lah, btw desainnya Ardine, sama Wulan, masuk juga tuh, bisa jadi kaya slide.” Semi memperhatikan yang lain, karena mereka sangking fokusnya dalam mendesain tidak sadar bahwa Semi mendekati mereka, lagi juga Semi tidak berkomentar apapun.


“Woh, mantab dah. Bakal keren kalo gini caranya, mantab banget. Nanti Arya pasti doyan pas gw kasih.” Semi kembali ke kursinya, kembali mengerjakan tugasnya. Ponselnya menunjukkan sebuah pesan, dari Albertus.”Santai Sem.” balasan yang amat singkat namun jelas. “Kerja lagi boy.”


Sepertinya majalah kali ini yang Semi kerjakan merupakan majalah edisi khusus, karena ia mendapatkan bahan mentah yang begitu banyak. Walau ia pernah mendapatkan yang lebih banyak lagi bahkan dengan waktu yang lebih singkat, syukurnya itu semua sudah berlalu, dan itu menjadikan Semi orang yang berpengalaman dalam profesinya. Di saat seseorang mendapatkan pekerjaan yang banyak dan memiliki waktu yang singkat, pasti seseorang akan berkomentar, tetapi bila itu sudah lewat maka itu akan menjadikan seseorang menjadi lebih profesional. Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan itu tidak ada bantahan.


Lagu yang mereka putar habis, sebuah lagu dari musisi Pop terkenal negeri Paman Sam, dengan judul Circle. Tidak ada yang memperdulikan bahwa lagu itu terlah habis, mereka hanya terus melanjutkan mendesain. Mungkin bagi mereka ini adalah yang pertama, kali. Tapi lama kelamaan mereka akan terbiasa akan hal ini.


Bel berbunyi. “Ah abis jamnya ?” Semi melihat jam tangannya, karena terlalu focus mendesain ia bahkan tidak sempat memeprhatikan waktu, benda yang amat berharga setelah harta. “Ok guys waktu kita udah abis, jadi kalian save dulu ya, gak mungkin kalians selesia hari ini, karena tadi saya liat kalian itu punya inspirasinya itu rada susah, jadi kalian kerjakan lagi aja di rumah, dan saya tidak memaksakan itu, silahkan istirahat. Terima kasih.”


“Mas, bakal ada tugas kaya gini lagi kan mas ?”


“Oh iya tentu. Belom lagi nanti sesuia keahalian kalian nanti, pasti bakal lebih seru nanti yang saya kasih ke kalian.”


“Jadi lebih seru mas beenran dah ngerjain pake pen tablet begini, serasa kaya main gitu.”


“Emang makanya itu kerjaan kalian jadinya beda kan lebih seru.”


“Yoi mas, beda gitu raanya. Jadi pengen mas nerima tugas terus.”


“Nggak akan terjadi Din, masa iya kalian ma uterus kerja tanpa istirahat sih. Nggak mungkin kan ? Kalian butuh istirahat, ngabisisn waktu sama keluarga. Masa iya kamu abisin cuma buat kerja. Jangan kaya orang Jepang, mereka itu gila kerja tapi keadaan ekonomi mereka sendiri itu memperihatinkan.”


“Bukan rahasia umum lagi mas.”


“Nah karena itu jangan. Mereka itu mau bekerja dua puluh empat jam, bahkan sampe ketiduran pas kerja, itu di Jepang di sebutnya orang rajin. Tapi ia masa orang rajin tinggalnya di warnet sih ? Begitu loh. Di balik gemerlapnya Jepang sisi kelamnya itu nyayat hati banget lo, makanya kalian kerja itu sewajarnya aja. bekerja lah sewajarnya, jangan sampai alam memetrintahkan kamu buat berenti bekerja. Ok guys ? Silahkan istirahat.”


“Ok makasih mas.”


“Sama-sama.” Begitu mereka semua meninggalkan Semi dalam ruangannya sendirian, ia segera membunyikan tulangnya, terdengar bunyinya sepetinya Semi begitu pegal karena hanya duduk dan mendesain saja. “Kalo masuk aristektur gak ada kata nih gw duduk belakang meja kaya gini, sayangnya aja otak gw idiot bukan main.”


Semi meninggalkan runagan desain untuk ke ruang guru. Terlihat bahwa para guru tengah makan siang di situ. “Makan mas.”


“Iya makasih mba Ria.” Semi telrihat bergerak dengan cepat, mengangkat tasnya, mengambil botolnya dan membongkar tasnya untuk mencari hidangan yang ia siapkan.


“Buru-buru sih mas ?”


“Iya bu, saya dari tempat kerja di kasih tanggung jawab buat desian majalah bu, bahan mentahnya ada tiga ratus foto bu.”


“Loh mas, jadi freelance mas ?”


“Ya gitu lah mba. Awalnya saya mau resign dari tempat kerja saya, tapi akrena bos saya gak mau kehilangan orang kaya saya, jadi saya di jadiin freelance, kalo ada tugas bisa kasih ke saya, saya pun boleh kalo mau ke sana bantu buat ngerjain apa.”


“Ooh keren banget sih mas. Dulu saya juga kerjanya sebagai fotografer freelance mas, sekarang karena udah ada kontrak kerja di suatu tempat jadi saya gak bisa kaya dulu.”


“Loh sibuk dong mas berarti ?”


“Nggak mas, saya juga udah bilang ke mereka saya juga guru, jadi kalo saya bilang saya sibuk jadi mereka gak bisa ganggu saya gitu mas.”


“Keren mas Hat, perlu di perbanyak guru yang kaya kit,a biar muridnya itu jadi terangsang buat belajar.”


“Bener tuh mas Sem.” kata bua Aya. “Yaudah bu saya mau balik dulu ke lab, saya mau makan sambil desain.”


“Yaudah mas smeoga sukses ya masa ngerjainnya mas.”


“Ya makasih banyak bu.” Semi meninggalkan ruangan itu dengan cepat.”


“Bener tuh bu, harus banyak guru yang kaya mas Semi sama mas Hat, tapi gimana ya bu, kadang profesi kita suka di pandang sebelah mata.”


“Ya begitu lah pak, kan namanya juga bekerja pak. Bahkan mereka yang beekrja di industry film biru pun pasti ada capenya sama kesulitannya kan pak ?”


“Iya bu, bukti bahwa semua pekerjaan itu tidak mudah ya.”


“Mas Hat, kalo punya temen yang bisa jadi guru bisa mas bawa kesini.”


“Kalo ada pasti saya kasih tau pak.”


Sementara di kelas XI MM III. Mereka kembali melanjutkan desain mereka sambil menyantap hidangan yang mereka bawa dari kantin. “Bodo mau dikata istirahat, gw udah keasikan desian pake Wacom, gas ae terus.”


“Iya Bi, gw juga. karena ada ni Wacom jadi beda gitu. Gw jadi mau ngerjain tugas terus gw. Mau dikasih tugas tujuh kaya gini juga gw hajar.”


“Inget kata mas Sem apa.”


“Iya juga ya.” Walau mereka mengerjakan tugas sambil istirahat terlihat seperti mereka berada di kelas seperti bel sudah berbunyi, padahal belum berbunyi, tetapi karena ini adalah pilihan mereka. Karena memberikan tugas yang terbaik adalah diaman mereka menerima tugas dan mereka merasa tidak terbebani.


Semi membawa hidangan favortinya, sebuah menu makanan Timur Tengah, yaitu sebuah Kebab dan juga roti Khubz, makanan itu seperti memiliki porsi yang kecil namun mampu membuat merasa kenyang dengan sehat, karena ada daging, roti, sayur, bisa juga ditambahkan dengan telur. “Kapan terakhir kali gw harus desain majalah ? Lupa gw.” Ucapnya sambil mengunyah lalu menenggak air.


“Lah Arya ? Ngapain nelpon nih bocah ?”


“Halo Sem ?”


“Halo napa ?”


“Gw ada tugas jadi fotografer di cat walk, nah lu ada gak desain yang udah jadi ?”


“Nah lo, gw mana tau. Berpaa lama lagi emangnya ?”


“Delapan harian lah, tapi H-1 background mereka harus udah siap.”


“Oh nanti gw kabarin lagi dah, gw juga ngasih itu tugas ke anak kelas XII soalnya, nanti gw kasih tau.”


“Ok lah.”


“Kaga tetep jadi, tapi ini bos gw ngirim gw buat bantu temennya.”


“Ok nanti gw kabarin lagi dah.”


“Ada bayarannya Sem buat background yang di pake.”


“iya iya nanti gw kabarin lagi.”


“Ok gw tinggal.” Semi beranjak dari kursinya dan segera pergi ke kelas XII V. Kelas itu tampak masih santai dnegan masih banyak yang beristirahat, hanya ada beberapa anak saja yang ada di kelas itu. “Halo guys.”


“Kenapa mas ?”


“Ah kalian ada yang udah selesai belom desian cat walknya ?”


“Masih setengah mas.”


“Ok, yang udah selesia langsung kirim aja ke saya ya, instruksinya masih sama, soalnya temen saya ada tugas buat jadi fotografer nah mereka itu masih nunggu buat desain backgroundnya. Bayarannya ada loh guys.”


“Wehhh, nanti mas di kabarin lagi mas, seceptnya kita selesain mas.”


“Kalian nerima Wacom gak kemaren ?”


“Nerima mas, yang nganterin Go-Jek.”


“Nah kalian pake ya, itu saya hadiahkan buat kalian semua, kalian tak pelru mengucapkan terima kasih, hanya perlu balas saya dengan desain kalian ok ?” Semi meninggalkan kelas itu untuk kembali ke ruangannya.


“Boy, selesian boy secepetnya boy. Kalo buat cat walk gitu uangnya gak kecil boy, lumayan kan buat kita ? Selesain boy secepetnya.” kata Aris ketua kelas itu.


“Balik laig kita mendesain.” Semi mencaplok makanannya dnegan besar, dan mengunyahnya dengan sedikit kasar. Tampaknya Semi merasa kesal dan juga lelah,  di tambahh laig tugas ini, memang waktunya masih sangat panjang, tetapi Semi mempunyai prinsip kerjakan tugas secepat mungkin, karena siapa tau aka nada pesta mendadak yang tak bisa di tinggalkan.


Setelah mencaplok habis hidangannya Semi kembali mengerjakan tugasnya. Hari itu menjadi hari yang melelahkan untuknya, ia harus tetap mengajar tetapi di satu sisi ia juga harus mengerjakaan tugas yang ia dapatkan dari tempatnya bekerja.


-


Sesampai di rumah Semi seperti seorang crew yang tidak tidur selama satu hari penuh, ia segera tumbang begitu melihat ranjang didepan matanya, padahal ia belum mengganti pakaiannya. Tetapi karena ia lelah ia tidak mempedulikan itu.


Siang menjadi senja, senja menjadi malam. Semi kini sembali mengerjakan tugasnya, tiba-tiba ia dikirimkan sebuah link gmeet oleh Albertus. Semi segera mengenakan pakaiannya, lalu ia membuka link di komputernya. “Semi Fahrian.” sebut seorang pria dnegan tubuh ang sedikit gemuk tetapi tidak gendut. “Pak Imanul. Apa kabar pak ?”


“Baik Sem, gimana kabar kamu nak ?”


“Baik pak.”


“Rasanya saya udah lama gak ketemu sama kamu. Saya gak bakal mau lepasin anak terbaik saya. Makanya kamu saya jadiin freelance.”


“Makasih pak.”


“Nah Semi gimana gimana progress kamu mendesain ?”


“Ah tepat waktu pak, saya juga mau revisi hari ini juga pak, biar saya gak kerja dua kali pak.” Semi membagikan layarnya.


“Giaman pak buat sampulnya apa udah bagus ?”


“Coba deh Sem, kamu pake fontnya yang lain deh kalo saya rasa font yang rada sering gitu, kaya Arial dan sahabatnya.” Semi mengganti fontnya sambil memilih font yang cocok dari sekian banyak font yang ia miliki.


“Sem coba deh berenti.”


“Di mana pak ?”


“Pake Ebrima deh, anatara yang biasa sama yang Bold.” Semi mengganti font itu dan melihat hasilnya


“Nah boleh tuh hasilnya.”


“Pak ini majalah ada berapa lembar pak kalo boleh tau ?”


“Albertus udah ngasih semua bahan mentahannya ?”


“Udah pak, ada sekitar tiga ratus enam belas foto.”


“Mungkin ada sekitar tujuh puluh lembaran Sem, edisi khusu ini.”


“Oh pantes, udah saya duga. Waktunya dua minggu ya pak ?”


“Iya, kalo kamu bisa lebih cepet sih bagus.”


“Semoga kurang dari seminggu selesai deh pak.”


“Ok semoga bisa tepat waktu sesuai target kamu. Katanya kamu mau nikah Sem, kapan ?”


“Seminggu lagi pak, Sabtu akad, pestanya Minggu.”


“Oh ok ok, nanti saya dateng deh, pestanay gak lama ya ? Kan lagi wabah begini, nanti takutnya malah di bubarin lagi.”


“Iya pak cuma dua jam aja pak.”


“Ok, nanti saya dateng deh pasti.”


“Pak, mungkin kalo font yang buat judul majalahnya bisa di ganti pak, pake fontnya majalah Times gitu atau yang lain ?”


“Hmmm, edisi khusus sih ini, mungkin bisa kali di ganti, coba Sem kamu tawarin ke saya fontnya kaya apa.”


“Ok pak.”Semi menghabiskan waktu malamnya hampir larut hanya untuk mengerjakan tugasnya ittu. Lagi juga ia sudah lama tidak mendapatkan tugas seperti ini, agar tidak kehilangan keahliannya maka ia masih butuh mendapatkan tugas seperti ini.