How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Kembali seperti dulu



Semi terbangun dari tidurnya. “Ok, haruskah gw balik kaya waktu masih kerja dulu ? Hmm ? Rasanya perlu gak perlu. Karena gw sekarang itu guru dan seorang desainer freelance, Jum’at gw harus ngmong didepan orangtua murid, Sabtu nikah, dan besoknya pesta. Otw jadi bapak dah kalo gitu caranya.”


Mandi, mempersipakan kameranya, tak hanya satu kamera, tetapi dua kamera, satu kamera untuk foto dan satu lagi kamera untuk merekam. Memang ia bukan bagian dokumentasi video, tetapi ia suka menyimpan video itu sebagai pengalaman. Sebuah kamera camcorder dengan harga empat puluh tujuh juta, dengan resolusi 4K. bukan kamera yang murah untuk dimiliki. Ada yang lebih mahal lagi dari pada itu. Yaitu Red kamera. Dengah harga empat ratus juta rupiah. Karena memiliki resolusi 8K. Kamera yang bagus untuk merekam momen ulang tahun.


Semi mempersiapkan equipment kamera itu dengan lengkap, lalu ia memasukannya ke dalam sebuah tas yang cukup besar. Setelah itu ia mandi untuk segera bersiap. Celana panjang hitam, dan juga sebuah kemeja biru gelap agar terlihat resmi. Ia membawa dua kamera, yaitu kamera untuk foto dan juga kamera video, kamera foto yang ia miliki adalah Sony A9, sebuah kamera yang sangat bagus. Setelah itu ia meninggalkan kamarnya untuk segera sarapan. 


“Najwa ? Sejak kapan kamu udah disini ?”


“Lima menit lalu.” sambil memeluknya. “Udah deh gak usah ngadi-ngadi, bentar lagi resmi nih buat tinggal seatap/”


“Iya sayangku. Nih aku udah buatin sarapan kamu nih. Dagwood kesukaanmu. Karena aku nanti kan akan menjadi istri terbaik untukmu.”


“Alah gombal.”


“Reaksinya gitu banget sih. Kamu bener-bener gak pernah pacaran ya ?” Semi memenggak sebuah teko air yang berisi air dingin menenggak hinggaa akhir. “Nggak.”


“Kamu minumnya banyak banget sih ?”


“Aus say. Udah .ah gak usah banyak gombal. Aku itu udah kebal sama gombalan kaya gitu.”


“Nih kamu makan yah Dagwoodnya, ada lima roti tuh aku buatin, pake daging sapi yang udah aku bakar.”


“Mana bisa sayang kamu bakar daging sapi lima menit.”


“Oh ya, aku udah di sini dua puluh menit lalu.” Semi mengambilnya. “Yaudah aku berangkat ya.”


“Tar dulu ini masih pagi, kamu mau ke sekolah emang ?”


“Nggak justru aku mau ke kantor, ada kerjaan aku, kerjaanya aku bukan di kantor. Jauh dair kantor say, nanti aku pulang jam sepuluh malem nanti. Kalo kamu mau disini aja gak masalah.”


“Oh yaudah, hati-hati ya. Kamu udah bawa minum ?”


“Belom.” Najwa mengambil sebotol besar Pocari Sweat untuknya yang beiris air dingin. “Makasih ya say. Jaga rumahku sama anakku ya.”


“Anak kamu ? Nikah aja belom.”


“Ya kucing aku lah.”


“Ok don’t worry babe.” Semi segera berjalan kearag garasi, mengeluarkan mobil Nissan Jukenya. Lalu berkendara seperti perampok yang tertangkap basah.


Dagwood bukanlah sebuah jenis makanana, melainkan sebuah kata slang dari bahasa Inggris yang  aritnya Sandwich besar. Di mobil Semi berkendara sambil menyantap Sandwichnya. “Beuh enak boy. Pake bumbu Steak kali ya ?” Semi menggigit roti itu dua kali lagi hingga pipinya menggembung layaknya tupai.


Syukurnya hanya makan sambil berkendara, itu sudah biasa bagi dirinya, karena ia tidak berani melakukan hal extreme sambil berkendara. Kecuali mobilnya memiliki fitur auto drive, dimana ia bisa tidur dalam mobil itu, karena mobil itu berkendara dengan sendirinya.


Ia sampai, segera keluar dair mobilnya dan segera masuk ke dalam kantor. “Mas Semi, tumben main ke sini lagi mas ? Ada apa mas ?”


“Pak Rajiman, saya ada tugas pak, padahal saya sekarang guru.”


“Weh kerena mas Sem, freelance desainer malah jadi guru. Kan udah kaya mas kenapa mau jadi guru ?”


“Hobi pak. Saya suka ngajarin orang.”


“Oh sukses selalu ya mas.”


“Makasih pak.” Semi segera bergegas menaiki lift lantai tujuh untuk menghadap pak Imanul. Lantai demi lanti terlewatkan, rasanya tidak ada perubahan pada kantor ini terakhir kali ia meninggalkan tempat ini.


Sampai, ia mengunjungi kantor untuk mengambil ID card untuk menjalan tugas ini. Ia segera menunju ruangan pak Imanul dan segera masuk. “Semi.”


Semi segera menjabat tangan pak Imanul. “Apa kabar pak ?”


“Baik, saya baik-baik aja, kantor ini juga begitu. Kamu mau ambil ID card kamu kan ?”


“Iya pak.”


“Nih, masih lama lumayan tapi perjalanan bisa aja macet.” Semi mengambil ID card itu.  Pintu ruangan itu terbuka, Semi berbalik. “Weh Semi.” Albertus berjalan cepat dan memberikan pelukan sahabat.


“Weh makin keren aja lau gw liat.”


“Ya lau gini-gini aja.”


“Yah pait bener dah. Gimana bentar lagi kan mau nikah ni, udah siap smeuanya ?”


“Gampang, nanti gw bagiin daring aja dah undangannya.”


“Ok siap boy.”


“Albertus, udah siap kita buat kesana ?”


“Sekalian aja pak sama saya. Saya bawa mobil.”


“Oh yaudah ayo deh, saya ada yang mau di omongin sama orang disana.”


Mereka segra meluncur ke lahan parkir untuk ke tempat itu, jarak tempat itu dair kantro semi mungkin sekitar tiga puluh kilometer. Ya memang jauh, makanya ia bangun begitu awal agar ia tidak terlambat.


Begitu sampai Semi segera duduk dan mempersiapkan kedua kameranya, memastikan kameranya ada dalam kondisi prima, tidak ada masalah.


Waktu terus bergulir, pak Imanul Albertus muncul dari suatu tempat entah dari mana. “Semi, semuanya udah saya perbincangkan. Jadi kamu bisa menjalankan tugas kamu disini dengan mudah. Saya juga bilang andaikan perusahaan ini tertarik sama kamu, mereka bisa menggunakan jasa kamu. Saya promosikan kamu sekalian pak.”


“Hah dipromosiin lagi gw kan-…” batinnya. “Terima kasih pak.”


“Yang bener nyet kerjanya.”


“Alah lau aja bisa ngedit video gw yang ajarin, gak usah songong lau sama gw, luntur tu ilmu.”


“Iya ngab maap.”


“Yo Sem, gw balik.”


“Yo hati-hati nyet.” sekarang pukul… dua puluh menit lagi akan mulai. Sepertinya Riza sudah datang. Semi menelfonnya.


“Za, lau dimana gw udah sampe ini, dua puluh menit lagi nyet. Telau yang ada. Belom ambil ID card, jalan lagi kesini.”


“Sorry Sem. Kaki gw keseleo tiba-tiba. Susah jalan gw jadinya.” DEG.


“Yaudah deh, Za. Sorry, gws ya.” Semi terduduk, merasa putus asa. “Ternyata gw dobel kerjanya. Si Japra pake petakilan segala, maleh keseleo kan. Hadeuhhh.” Semi tak memikirkan itu, ia hanya perlu melakukan pekerjaannya saja, cuma kali ini akan sedikit berbelit dan rumit.


Acara dimulai. Kata sambutan, ucapan terima kasih diucapkan oleh boss dari perusahaan itu. Ponslenya berdering. “Ardine ?”


“Mas Sem dimana mas ? Ko belom dateng mas.”


“Saya gak masuk Din hari ini, saya ada kerjaan sampe jam sepuluh malem nanti.”


“Lah, berarti kita ngapai dong mas ? Masa gabut sih mas. Gak ada tugas juga lagi kita mas.”


“Ah… Coba deh kalian minta tugas sama bu Aya atau kalian lanjutin bisnis kalian aja, desain. Saya gak tau harus kasih kalian tugas apa soalnya.”


“Oh ok deh mas.”


“Kalian coba tanya aja coba sama bu Aya kali aja ada jawaban karena bu Aya udah saya kasih tau program saya, jadi setidaknya dia bisa ngasih kalian tugas yang kaya orang kerja gitu.”


“Mas masa kita gabut sih mas hari ini ?”


“Wulan, tenang ya Lan, saya pikirin deh supaya kamu gak gabut ya sayang.”


“Ca elah mas, tau aja mas sama anak sendiri.”


“Saya harap nanti kalo saya punya nak perawakannya kaya Wulan emang.”


“Tersipu diriku mas.” Semi berpikir, apa yang harus ia berikan tugas kepada mereka. Ditengah ramainya ia terus berpikir. “Halo mas belom dimatiin kan ya mas ?”


“Belom Din santai aja.”


“Ok ditunggu mas.” kembali berpikir, berpikir dalam keadaan yang ramai, bahkan lebih ramai dari lagu Unasnwered. “Oh coba kalian buat majalah, asal aja apa yang mau kalian masukin. Apa kalian mau masukin fotonya Dua Lipa, terus kalian mau masukin foto fashionnya Kylie Jenner, terserah lah. Isinya juga berkonsep ya, misal mau fashion ya fashion, fashion musik, apa misal programming sama game. Gitu aja. Di Photoshop aja, secara gak langsung kalian udah dapet tugas sesuai keahlian ini.”


“Ok mantab mas, kapan mas kumpulin ?”


“Ah belom tau, minimal kalian buat desainnya sepuluh lembar ya, kalo kalian mau lebih silahkan saya tidak memaksa. Desain semenarik mungkin karen ini akan jadi portfolio kalian, yang buat kalian jadi makin gampang buat kerja nanti.”


“OK MAS SIAP LAPAN ENAM!!!”


“Ok saya kerja ya, good luck calon orang sukses.” Memsukkan ponslenya dalam tas kecil dan mulai bekerja sebagai fotografer dan juga seorang dokumentaris.


Sepertinya ia tidak kehilangan kehebatannya, foto yang dia mabil terkesan hidup dan bercerita, disaat yang bersamaan ia juga merekam video, ia merekam video dengan gaya sinematik, walau pada akhirnya video itu tidak akan di edit secara sinematik.


Sementara di kelas. “Boy, ini tugas sesuai keahlian boy. Berikan yang terbaik nyet. Portfolio yang keren ini boy jadinya kalo ini karya terbaik kita, bisa cepet kerja kita.” kata Ardine semangat.


“Ini yang gw tunggu-tunggu. Akhirnya dateng juga.” kata Hakim.


“Kim lau buat konsepnya apa ?”


“Gw fighting lah.”


“UFC sama One Pride ya berarti ?”


“Ya intinya baku hantam lah.”


“Nah mantab tuh, kalo gw apa ya ? Musik aja dah. Produk, profil sama penyanyi/band.”


“Din lau konsepnya apa Din ?”


“Kalo gw sih street art.”


“Oh ngerti, gw desain distro aja dah.” mereka mengerjakan tugas dengan semangat, terlihat mereka mengerjakan tugas dengan senyuman, tak terlihat ada sebuah paksaan pada wajah mereka.


Bu Aya masuk. “Hello sudah ada tugas kah ?”


“Udah bu dari mas Sem langsung.”


“Oh, tugas apa tuh ?”


“Desain majalah bu.”


“Mantab, keren banget itu, kalin tunjukin karya kalian, kalian bisa cepet kerja. Yaudah kalin kerjain aja ya, jangan mondar mandir. Udah tau kan kalo mas Sem ada kerjaan jadi gak bisa ke sekolah ?”


“Udah bu.”


“Ok, baik-baik aja ya dikelas.”


“Ok bu.” bu Aya pergi meninggalkan kelas mereka.


Sementara Semi. “Ah lah ribet juga ternyata ya harus rekam sambil foto. Si Japra pake keseloa segala. Hadeuh,” mengeluh tetapi terus menjalani kewajibannya. Walau begitu ia teringat ketika ia dulu ketika di masa SMK dimana ia menjalani prakerin di tempat ayahnya. Dimana ia mendapatkan tugas untuk mendesain, foto, editing, dan juga dokumentasi. Tetapi ia tidak selalu mendapatkan itu semua. Terkadang silih berganti mendapatkan tugas itu. Syukurnya saja ia memiliki pengalaman yang sama, jadi baginya ini adalah makanan ringan yang ia konsumsi setiap hari.


Semi meninggalkan kameranya di suatu tempat, karena ia akan pergi ke tempat yang lain untuk mendapatkan foto yang lebih menarik lagi, karena angle dalam foto sangat berpengaruh sekali.


Semi membuka ponselnya, pak Imanul mengirimkan sebuah foto. Dimana itu adalah breakdown acara selama seharian penuh itu. “Oh anjay, ternyata banyak toh acarannya. Gw kirain cuma sedikit, acara pertama ini sampe jam sepuluh, abis itu ada acara sampe jam dua belas, istirahat setengah jam, abis itu lanjut lagi… Oh ini acara jam setengah satu ini buat menjalin kerja sama banget ini. Acaranya dua setengah jam sendiri. Oh pantes.” Semi membaca runtutan acara itu sampai akhir.


“Oh ternyata sebenernya gw balik itu jam Sembilan, tapi mungkin ada tambahn kali makanya ampe jam sepuluh. Yaudah ikutin aja lah.”


Buat kedepannya belom tau bisa update normal lagi atau belom. So please be pattion for the next episode.