
Larut malam, Semi tengah berada dikamarnya belum tidur, ia dikamanya dengan kucing peliharaanya. Bito, seekor kucing Brazilian shorthair, ia mengadopsinya dari suatu tempat penangkaran kucing. Ia memiliki sepasang kucing yaitu jantan dan betina, untuk kucing betina seekor kucing Persia yang ia beli, bernama Bonita. Semi belum tidur padahal waktu sudah menunjukkan waktu pukul 01.00 dini hari. Ia tengah mendengarkan music dan melihat sosial medianya. Sedangkan Bito sudah terlelap satu jam lalu.
“Hah udah jam satu pagi ini ? Masa si kayanya gw rasa tadi masih jam sebelas dah.” Semi segera mematikan ponselnya, membersihkan dirinya sebelum tidur, lalu ia tidur bersama kucingnya.
Pagi datang, Semi belum bangun, karena ia baru saja tidur pukul 01.00 dini hari tadi, hari minggu pukul 06.00 pagi, diluar sana tampak masih sepi juga, karena merupakan hari libur dimana mereka bisa tidur selama yang mereka inginkan, dan ada juga yang memilih untuk berjalan-jalan dengan keluarga mereka. Sedangkan Semi memilih untuk dirumah saja beristirahat, walau beberapa minggu menjadi guru rasanya lelah juga mengajar.
Entah ia akan berjalan-jalan dengan calon istrinya atau tidak. karena ia sudah berjanji akan hal itu, mungkin siang hari nanti, jadi Semi bisa menghabiskan waktunya beberapa jam untuk tidur. Kucingnya sudah bangun satu jam lalu, karena ia terkurung dalam kamar Semi Bito hanya membersihkan dirinya saja, menjilati seluruh tubuhnya sambil menunggu Semi bangun dan membuka pintu dan memberikannya makan nanti.
Pukul 09.00 pagi, Semi baru membuka matanya, ia sudah disambut oleh kibasan ekor Bito yang bosan menunggu dalam kamarnya, syukurnya Bito sudah Semi ajarkan untuk buang air ditoilet, jadi tak perlu khawatir akan hal itu. Kibasan ekor Bito semaking cepat mengenai batang hidung Semi. Semi segera bangun perlahan dan menggendong Bito membawanya keluar dari kamar. Ia mengambil piring kecil untuk wadah makanannya, lalu Semi kembali berbaring disofanya sambil menunggu nyawanya kumpul.
Tetapi lebih tepatnya ia kembali terlelap disofanya. Sifat malasnya kembali lagi, malas untuk bangun pagi dan beraktivitas. Bahkan cara ia tidur seperti seorang pekerja bangunan yang bekerja sehari semalam. Disamping Semi tidur, Bito dan Bonita bermain bersama, mereka saling mengerjar satu sama lain, bahkan mereka bermain disofa dimana Semi tidur, Bito dan Bonita melintasi tubuh Semi dengan sering, bahkan Semi tidak tersadar akan hal itu, padahal kedua kucing itu sudah berusia dua tahun dan sudah terbilang memiliki bobot yang berat.
“Ehh… Hmm…” Semi perlahan membuka matanya, nayawanya sudah berkumpul, matanya sudah terbuka seperti orang yang terkejut.
“Jam berapa sekarang ?” ia melirik jam dinding yang terpampang.
“Jam sembilan lewat lima. Jam berapa tadi gw bangun ya ? Gak inget gw.” ia segera bangkit dari sofanya dank e toilet untuk membenahi penampilannya, setelah itu ia kedapur untuk memasak sarapannya, ia juga melihat kedua kucingnya yang berbaring didapur karena kelelahan setelah saling mengejar.
“Ah iya gw bilang kemaren sama Najwa buat jalan-jalan sama dia, enggak ah mager gw.”
Ia memanggang sebuah daging steak untuk sarapannya, kedua kucingnya saling bersandar ditubuh masing-masing. Sepertinya Bito dan Bonita menunggu steak itu matang. Karena Semi suka memberi mereka makan daging steak dan banyak lagi. Daging yang paling ia sering berikan kepada kucingnya adalah salmon.
Setelah beberapa lam akhirnya steak itu matang juga. ia segera mengangkatnya lalu siap untuk menghidangkan itu untuk dirinya. Semi duduk dikursi, dan kedua kucingnya menagih bagian untuk mereka. Semi segera memotong bagian untuk mereka berdua, lalu mereka makan dengan lahap. Begitu juga dengan Semi yang menyantap steaknya dengan hikmat dirumahnya yang sunyi dan nyaman.
Ya, rumahnya yang kini ia ditinggali begitu besar, untuk seorang guru ini merupakan sangat mewah, mungkin bisa dicurigai guru yang memakan uang yang bukan miliknya. Tetapi sebenarnya adalah Semi memiliki sebuah café yang selalu ramai akan pengunjung. Rumhanya yang besar ini ia tinggali sendirian, selagi ia belum membina rumah tangga, ia sangat puas sekali setiap harinya hanya sendirian, sebenarnya bertiga, dengan sepasang kucingnya.
Setelah sarapan Semi berolahraga dibalkon rumahnya, terlihat beberapa alat olahraga yang ia pajang. Ia memulai olahraga paginya dengan push up, kemanapun Semi pergi, kucingnya selalu menemani. Setelah olaharga ia lanjut dengan pull up, ia mampu melakukan pull up dengan banyak variasi, mulai dari yang biasa saja hingga pull up handstand, dan juga push up disaat yang bersamaan. Bentuk tubuhnya yang sekarang ia miliki sudah ia bentuk sejak ia berusia empat belas tahun, namun ia sempat berhenti selama dua tahun, lalu ia kembali membentuk lagi tubuhnya hingga sekarang.
Olahraga paginya selesai, keringat mentes dari kepala hingga sekujur tubuhnya. Walau dihari mengajar pun ia masih sempat untuk berolahraga, walau tak lama. Ada yang memencet bel pintu rumahnya, ia segera berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
“Sem!” calon istrinya, ia segera memluk Sem hingga melompat, ia memeluk Sem seperti anak kecil.
“Najwa kamu kenapa gak ngomong mau kesini ?”
“Gak apa-apa. Soalnya aku kangen sama calon suamiku. Aku mau nginep ya ? Aku mau tidur dikamar kamu.”
“Nggak ah. Gak usah ngadi-ngadi deh.” Semi berjalan sambil mengeluh dan menggendong calonnya, lalu menurukannya disofa. Dimana terdapat Bito dan Boni yang tengah bersantai.
“Bito, Boni.”
“Nyari temen tu dia kayanya. Ngikutin aku terus dari tadi.” Bito dan Boni dengan cepat manja dengan Najwa, Bito berkali-kali menggesekkan kepalanya kepada Najwa sebagai tanda ingin dimanja. Semi berbaring disofanya.
“Kamu emang mau jalan-jalan kemana ?”
“Ke malang.”
“Setelah kita nikah nanti aja ya ? Kalo sekarang kamu mau kemana ?”
“Kurang tau sih, yaudah sambil nunggu kita mau kemana, aku searching tempat dulu ya.”
Semi berharap hari ini mereka tidak akan pergi kemana-mana. Karena Semi sedang tidak ingin bepergian, hanya ingin dirumah saja bersitirahat. Semi bangkit, mengambil gitar akustik elekrtiknya. Sebuah gitar yang sangat bagus dengan mereka yang digunakan seorang gitaris yang terkenal. Gitar akustik elektrik Schecter yang digunakan oleh gitari Synyster Gates.
“I’m waking up of my summer dreams again. Try to thinking if you were alright. Then I’m shattered by the shadows of your eyes. Knowing you’re still here by my side.”
“Terusin dong yang.”
“Emang kamu udah nemuin destinasi yang mau kita datengin ?”
“Belom nih, masih nyari.”
“Kamu udah makan belom ?”
“Belom.”
“Yakin lah, soalnya aku mau jalan-jalan. Makanya sekarang nyari tempat yang bagus dimana .
Semi menunjukkan wajahnya yang tak mau untuk melakukan keinginan calonnya. “Gak usah nemu lah. Lagi mager gw.” lirihnya pelan.
Pukul 10.00 pagi, masih belum menemukan lokasi yang ingin Najwa kunjungi. Semi sambil menunggu calonnya menemukan lokasi, ia bermain game favoritnya, sebuah game survival, yaitu The Last Of Us Part II. Najwa pun tak mempermasalahkan itu, selagi mencari destinasi, maka mereka semua akan akur, tidak ada yang saling menganggu.
Pukul 13.00 siang. Masih juga belum menemukan lokasinya, kini Semi berganti permainan yaitu sebuah game jadul tetapi yang dibuat menjadi lebih bagus lagi. Yakuza, sebuah game jadul tahun 2005, game fighting yang sangat membuatnya senang disaat pertama kali memainkannya. Karena Semi seorang action maniac. Entah film maupun game, karena kesukaanya itu, ia mempelajari beladiri agar ia bisa seperti mereka. Ia menguasai lima beladiri, yaitu Silat, Kickboxing, Jiu-Jitsu, Judo, dan juga Brazilian Jiu-Jitsu.
“Udah dapet lokasinya ?”
“Belom nih, belom dapet juga. tapi kita masih punya waktu sampe nanti sore.”
“Gak usah lah, mager gw demi apapun.” harapannya dalam hati.
Tidak kunjung menemukan lokasi juga, waktu sudah sore. Sudah pukul 16.00 sore. Semi terus bermain game, kali ini ia memainkan game God of War Ascension. Sekalinya ia bermain game, ia bisa menghabiskan setengah hari hanya untuk bermain game. Tetapi sekarang ia tidak seperti itu lagi, paling ia hanya bermain sampai tiga jam, itu pun hanya untuk istirahat dan memfilter dirinya.
Matahari sudah terbenam, Semi terlihat senang, karena pada hari ini ia tidak pergi kemanapun, melainkan hanya berdiam diri saja dirumah. Calon istrinya terlihat kebosanan, karena ia tidak pergi kemanapun, Semi yang tersenyum itu pun senyuamnnya bukan karena dia tidak pergi kemanapun. Ia juga usai membuat dua buah lukisan. Sebuah lukisan yang dibuat dengan menggunakan cat semprot. Cat semprot biasa diguankan untuk vandalisme, tetapi tidak ditangannya. Ditangannya bisa menjadi sebuah lukisan indah dan bernilai ekonomi tinggi.
“Haduh… Gak jadi deh pergi.”
“Tapi kamu kan seharian sama aku.”
“Iya, jadinya aku gak begitu bosen.” katanya dengan senyuman.
“Kamu mau pulang jam berapa ?”
“Jam sepuluh mungkin.”
“Ok. Jam sepuluh.”
Semi menyalakn televisi untuk menonton sebuah film pilihan yang ada disuatu channel. Mereka menonton bersama hingga waktu menunjukkan waktu dimana Najwa harus pulang.
“Aku anterin kamu.”
“Sem, aku mau nginep. Kan bentar lagi kita tinggal satu atap.”
“Najwa, gak usah ngadi-ngadi ya.”
“Please sayang.”
“Gak usah pake jurus matu kaya gitu, gak ngaruh sama aku.”
“Ya udah anterin aku yah ?”
“Iya, kamu ini mau nikah tapi kelakuannya masih kaya anak kecil.”
“Aku bukannya kaya anak kecil, tapi aku itu manja. Kamu sendiri kan yang bilang kalo kamu itu suka sama yang manja, tapi yang gak terlalu manja. Aku manjanya kan biasa aja.”
“Sampe kamu manja berlebihan aku pecat kamu jadi calon aku.”
“Kamu pikir calon istri itu kerjaan apa bisa pecat seenaknya.”
“Andaikan itu ia mungkin akan melakukan demikian.”
“Kejam kamu, udah mau nikah bentar lagi masa dibatalin. Kamu gak kesian sama perasaanku ?”
“Ah ayo nanti kemaleman nanti.”
“Ayo.” lagi, Najwa melompat kepada Semi, Semi malayaninya seperti ia menggendong anak kecil.