How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Penilaian pusat



Rabu pagi, semua murid sudah berkumpul dikelas mereka masing-masing untuk menunggu pelajaran dimulai. Bagi kelas XI MM III setiap ada pelajaran Semi bagi mereka bahwa hari itu akan sangat menyenangkan, wajah mereka tampak berseri, walau beberapa ada yang masih menguap karena kekurangan tidur atau tanda munculnya sebuah penyakit. Menguap juga bisa menunjukkan sebuah penyakit, menguap bukan hanya reaksi tubuh simpati. Bila orang lain menguap dan bila seseorang melihatnya maka ia akan menguap juga sebagai tanda tubuh simpati. Salah satu ciri seorang psikopat adalah ia tidak menguap saat melihat orang lain menguap. Tetapi itu tidak selalu benar.


“Kim, udah gw cobain itu kaos, pas gw liat dikaca jadinya anjay banget gitu. Lu tau kan gimana rasanya pake baju merek clothingan mahal ?”


“Tau lah Vir.”


“Ya gitu lah, rasanya seperti anda menjadi Iron Man.”


“Gw juga nyobain, ih anjay lah serasa kaya baju mahal gitu loh. Gw sendiri kaya gak percaya lo ini desain gw yang dibantu tangannya mas Sem.”


Ditengah perbincangan itu Semi masuk ke kelas dengan senyuman diwajahnya, sambil membawa sebotol kopi dingin. “Hola buenos dias amor.”


“Sweet banget mas nyapanya."


“Ngerti kamu Silvi ?”


“Ngerti lah mas.”


“Apa artinya emang ?”


“Selamat pagi sayang.”


Silvia tersenyum sambil disoraki yang lain, sedangkan Semi hanya tersenyum sambil menghela nafas. “Ya itu bener, kalian semua saya sayangin. Bahkan saya menganggap kalian itu kaya anak saya sendiri.”


Semi duduk dimeja yang tersedia untuk pengajar. “Ok, jadi mana karya kalian wahai anakku ?”


Musik kelas berganti menjadi suara sleting dan plastik, mereka semua segera mengumpulkan karya mereka kepada Semi secara langsung. Lalu mereka kembali ke meja mereka masing-masing sambil tersenyum puas. Semi menatap mereka kembali dnean senyuman juga, untuk beberapa lama kelas menjadi sunyi lagi, menyajikan pemandangan saling senyum dan menatap.


“Ok, saya liat ya, siap-siap karena hari ini ada yang kena rejeki nomplok. Gak Cuma dari saya, tapi dari pak Adnan, pak Afrian, bu Aya sama mba Ria. Ok saya liat satu per satu. Lumayan karya kalian bisa saya kasih ke calon istri saya kan mantab. Dia nanya beli dimana saya jawab beli dari anak didikku. Lalu kalian menjadi wirausaha bukan ?”


Mereka mengangguk sambil tersenyum. “Sia sia gak kalian ngerjain tugas ini ?”


“Nggak sama sekali mas.” jawab mereka ramai.        


“Setelah tugas ini saya jamin kalian akan mau ada tugas kaya begini terus, saya jamin itu. Ok kita mulai dari tumpukan paling kanan n paling atas.”


Rata-rata mereka menggunakan kaos berwarna hitam, memang warna hitam warna yang sangat disukai banyak orang. Tetapi anehnya warna ini banyak orang yang merasiskannya. Padahal rasisme adalah tanda dari sebuah kemunafikan. Seperti diluar sana, mereka rasis akan yang berwarna hitam, tetapi tetap saja mereka akan mengencani wanita yang berwarna hitam bila cantik dan memancing gairah.


Tiga tumpukan pertama, itu adalah Hakim, Abi dan Silvia. Semi memisahkan mereka lalu membuka dompetnya langsung, dan mengambil tiga lempar kertas merah dan biru. Ia akan memberikan kepada tiga muridnya kertas merah dan biru itu. Semi beranjak dair duduknya dan berjalan ke Hakim.


“Hakim.”


“Lah ben…. Bener…. Beneran mas ini ?”


“Ngapain saya bohong.”


“Makasih mas.”


“Liat, kalian gak akan nyesel kalian dapet tugas kaya gini, baru aja liat buktinya didepan mata kalian.” Semi berjalan lagi ke arah Hasbi.


“Abimana Aryasatya.”


“Makasih mas!” Abi menerima uang itu sambil menunduk layaknya orang Jepang, Semi hanya mengelu kepalanya. Lalu berjalan lagi kepada Silvia.


“Makasih banyak mas.”


“Tingkat kan lagi kemampuan kamu ya.” Semi hanya mengusap pundaknya beberapa kali.


“Ada yang menyesal ? Angkat tangan!” ucapan itu hanyalah candaan, bahkan Semi mengucapkan itu sambil tersenyum lebar.


“Tidak ada ? Gimana kalo saya kasih tugas lagi ?”


“Gaskeun mas!”


“Beuh kenceng, sekelas lagi. Santai  masih pagi jangan marah dulu, laper yang ada nanti kalian. Yaudah sesuai keinginan kalian ya, kalian silahkan mendesain lagi dilab, nanti hasilnya kalian jual! Inget tuh, kalian jual itu kaos!”


“Mas diacc dulu kan pasti ?”


“Pasti dong Silvi.”


“Jadikan mas.”


“Yaudah kelian ke lab sekarang, desain sampe nanti waktunya abis, saya mau bawa ini ke kepala sekolah ini, sesuai dnegan apa yang saya ucapkan kepada kalian.”


“Ok mas.”


“Ok, selamat berusaha, para calon wirausahawan dan orang kaya.”


“Amiiiiinnnnnn mas.”


“Yaudah saya tinggal.”


Dari luar terlihat pak Adnan tengah santai sambil menulis sesuatu disebuah kertas. Lalu Semi mengetuk pintunya. “Silahkan.”


Semi masuk, dengan cepat pak Adnan tersenyum. “Pak Semi ada apa bertemu saya pagi-pagi sekali pak ?”


“Murid saya baru saja selesai membuat kaos pak. Dengan itu saya ingin menunjukkan ini kepada bapak.”


“Oh silahkan! Silahkan pak Semi, bawa semuanya kedalam. Saya selalu antusias dalam melihat karya murid saya.”


Semi membawa masuk kaos itu dan meletakkan itu dekat dengan pak Adnan. “Silahkan pak dilihat karya dari anak saya.”


“Wah, uang saya meronta minta dikeluarin ini.”


“Pak Adnan bisa aja, dilihat pak silahkan.”


“Jangan salahkan saya bila saya membeli banyak kaos ini pak Semi.”


“Saya juga tidak bermasalah pak Adnan.”


Pak Adnan mulai melihat kaos itu satu persatu, senyum diwajahnya tak pernah pudar. Ia tak bisa menyembunyikan bahwa diirnya sangat senang melihat ini semua. Pak Adnan dan Semi brbincang juga tentang kaos yang telah muridnya produksi, semuanya adalah pujian untuk murid Semi, bila dilihat-lihat, pak Adnan menjadi semakin sering membuka tutup dompetnya, ia juga menjadi semakin sering menulis dalama secarik kertas yang Semi yakini itu adalah sebuah sanjungan kepada muridnya. Tak lupa juga pak Adnan mengambil foto selfie dirinya yang mengenakan kaos karya anak Semi.


“Pak Semi, saya ingin mengucapkan rasa yang amat puas melihat semua ini, saya juga membeli lima yang menurut saya sangat bagus dan sangat menarik. Bila begini, saya tak akan bermasalah bila anda memberikan tugas kepada mereka tentang ini, saya tidak bermasalah!”


“Saya juga baru saja memberikan tugas yang sama kepada mereka pak, tapi kali ini mereka harus menjualnya.”


“Ide cemerlang, dengan itu akan mendorong mereka untuk berwirausaha, terutama sekarang sudah revolusi industry dan juga pandemic, itu memberikan mereka sebuah ide untuk mereka bertahan hidup dan menghasilkan uang, bila setelah prakerin, saya akan membebaskan anda bila anda ingin memberikan mereka tugas untuk membuat kaos seperti ini.”


“Menarik sekali pak.”


“Pak Semi boleh membawa kembali kaos ini, saya merasa sangat senang dengan apa yang saya lihat dan yang saya beli. Untuk penyerahan uang, saya akan berikan itu nanti, karena saya juga ingin memberikan mereka foto saya menyukai kaos ini.”


“Baik pak, saya akan menunggu. Selamat pagi pak.”


“Selamat pagi pak Semi.”


Semi kembali ke ruang guru jurusan sambil membawa kaos itu, begitu ia sampai ia menemukan bahwa ruangan itu kosong. Ia segera duduk dan memasukan nilai delapan muridnya. Setelah itu ia menelfon calon istrinya. “Halo Sem ada apa nelfon aku pagi-pagi gini vc lagi.”


“Nih liat, aku beli kaos dari muridku, mau pilh yang mana ?” Semi sambil membuka ketiga kaos yang telah ia beli.


“Ih semuanya bagus-bagus banget! Aku mau yang tengah sama kanan, buat aku sama Laras.”


“Ok, nanti ya aku kasih ke kamu kalo aku udah pulang.”


“Ok… Tunggu, itu ko masih banyak banget ?”


“Oh iya ini kan tugas murid aku.”


“Ih boleh dong aku liat yang lain, aku berminat nih, aku juga pengen beli kaos, tapi mager keluar.”


“Ok.” Semi membuka kaos demi kaso untuk ditawarkan kepada calon istrinya, hinga hampir semua kaos ia buka hanya untuk calon istrinya.


“Ok udah itu aja ?”


“Ok udah itu aja, berapa tadi ? Lima ya ? Berarti tujuh setengah ya ?”


“Kamu hargai satunya pego ?”


“Iya, lagi juga kan biaya mereka buat bikin kaos itu gak nyampe segitu, jadi aku kasih harga satunya segitu deh.”


“Oh good. Yaudah nanti lagi ya, aku mau lanjut ngasih nilai buat mereka ni, bye-bye.”


“Bye-bye my baby.”


Semi harus merapihkan kaos yang telah ia buka, tetapi itu tak harus ia lakukan, karena tiba-tiba pak Afrian masuk. “Loh mas Sem ? Ini kaos hasil muridnya mas Sem iki ?”


“Oh iya pak, silahkan pak diliat, siapa tau mau borong.”


“Wooh, aku wes borong semua iki.”


Semi hanya tersenyum saja mendengar pak Afrian yang mengucapkan bahasa Jawa, baginya pak Afrian menjadi lebih lucu dari yang ia kira. Tak hanya itu saja, mba Riana dan bu Aya pun datang. “Weleh-weleh, ada yang baru nyablon kaos nih.”


“Ayo mba, sebelom abis mba Ria, bagus-bagus banget ini, karyanya anak mas Sem.”


“Oh ya ? Weh saya juga mau.”


“Ini karya anak anda Semi ?”


“Iya bu Aya, jangan salahin saya ya kalo saya beli semua!” wajah garagnya terlihat tak serius mengatakan itu, untuk beberapa lama diruang guru hanya berisikan aktvitas memilah baju saja, sedangkan Semi memasukkan nilai yang harus ia masukkan. Semi merasa senang bukan main, karena karya anaknya menuai pujian yang lebih dari yang sebelumnya, sebelumnya murid pak Afrian, kini ia juga mendapatkan pujian yang bagus akan tugas yang sama. Semi hanya menulis nilai dalam senyuman yang tak akan bisa ia padamkan, bahkan kepada guru lain sekalipun.