How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Nilai pertama



“Ok, waktunya balik, abis ini kita ke Carefour dulu buat beliin ibu makanan. Bilangnya sih minyak, sabun mandi dkk. Gw yakin pasti sebenernya banyak yang mau dibel. Kan orangtua gitu. Orangtua itu seorang pembohong, ngomong baik-baik aja padahal sebenernya gak baik-baik. Itu sudah menjadi hal yang selalu.” Semi segera meninggalkan ruang guru lalu ke parkiran untuk mengendarai mobilnya ke supermarket untuk membelikan orangruanya makanan.


“Ok, semuanya udah buat ibu, sabun, beras, minyak, gw beliin juga ibu ikan salmon, beuh gede bener ini men. Lalu… Buat ibu bapak kebutuhannya terpenuhi. Lalu kalo buat ge sneidri, gampang lah besok aja, yang penting buat ibu dulu.” Semi setelah mentotalkan belanjaann untuk orangtuanya.


            Harganya cukup menguras dompet, tetapi orangtuanya pasti sudah menguras dompet yang sangat dalam untuk membiayai dirinya hingga menjadi seorang guru seperti ini. Maka itu dalam membantu orangtuanya ia tak pernah ragu dan hitungan. Bila itu untuk orangtuanya maka akan ia penuhi besar atau kecil.


Ia segera berkendara menuju rumah orangtuanya dengan cepat. Belum sampai satu bulan ia kemarin mengunjungi orangtuanya ia sudah rindu dengan mereka berdua. Semenjak Semi sudah memiliki tempat tinggal sendiri, ia menyepatkan dirinya dalam satu bulan untuk mengunjungi orangtuanya. Ia bisanya mengunjungi orangtuanya dua kali dalam sebulan, tetapi bila ia sedang sibuk ia dalam sebulan sekali mengunjungi mereka.


“Ibu.” panggil Semi dari jauh sambil membawa belanjaan untuk mereka.


“Semi, masuk sini nak.”


“Assalamualaikum bu.”


“Walaikumsalam nak ayo masuk sini.” Terlihat senyum diantara mereka berdua yang tak terpadamkan.


“Beli apa aja nak buat ibu.”


“Banyak lah bu. Ada ikan juga,.”


“Eh ibu kan gak minta.”


“Udah lah bu gak usah nutupin kebutuhan ibu, aku kan udah sukses udah punye rumah sendiri penghasilan sendiri. Ngomong aja bu.”


“Ya terima kasih ya nak.”


“Ya sama-sama bu. Mana bapak bu ?”


“Di kebon itu lagi panen.” Semi segera berjalan menuju kebun belakang untuk beretemu dengan ayahnya.


“Bapak.”


“Semi sini nak.”


“Gimana kabarnya pak ?” sambil memeluk ayahnya yang tangannya kotor akan tanah karena setelah memanen tauge.


“Baik-baik aja nak. Nih tauge yang buat kamu udah bapak pisahin.”


“Oh iya makasih pak, ini aku bakal kenyang banget ini aku makan sendirian.”


“Ayo istirahat dulu kamu, bapak mau cuci tangan dulu.”


Tak terasa, malam telah datang, Semi masih berada dirumah orangtuanya. “Gimana kerjaanmu nak ?”


“Baik-baik aja pak. Semuanya berjalan baik.”


“Oh bagus lah, gimana murid-murid kamu ? Bapak denger mereka suka banget sama kamu ya ?”


“Iya pak pake trik yang udah Semi kasih tau itu. Manjur abis pak langsung nurut kaya abis dihipotis.”


“Bagus lah.”


“Aku kenyang banget, mantab bu olah ikan salmonnya. Sampe nambah tiga kali aku.”


“Kamu itu orangnya emang rakus, nanti gendut lagi lo kamu. Ibu kan tau perjuangan kamu ngebentuk badanmu yang sekarang kaya apa.”


“Iya sih emang. Tapi aku lagi mau makan banyak. Nanti paling pas sampe rumah ini tinggal istirahat terus tidur.”


“Ya udah, sekarang udah mau jam Sembilan pulang gih, supaya gak kemaleman, jaga kesehatan bentar lagi kan mau nikah.”


“Ibu kaya Najwa deh, selalu ngingetin itu.”


“Ya itu kan hari bahagia kamu. Ibu kan mau gendong cucu ibu yang ke… Keberapa to pak ?”


“Ah ibu cucu kita kan banyak, bapak aja gak tau.”


“Yaudah lah ya pak, bu aku pulang.”


“Yaudah hati-hati ya nak.”


“Iya bu, assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


-


Kami pagi diruang lab desain grafis.


“Ok mana tugasnya ni guys saya menunggu momen ini.”


Mereka segera mengumpulkan dimeja yang berada ditengah ruangan yang sudah tersedia, mereka membawa bangku yang mereka gunakan untuk duduk didepan computer untuk mendekati meja itu.


“Mantab semuanya ngerjain, waktunya saya koreksi ya, ini baru diliat kasar aja udah bagus, belom mendetail ini.” Semi melihat packaging murid-muridnya yang sudah ia perintahkan dua hari lalu, semuanya mengerjakan. Tampak semua muridnya tersenyum setelah mengumpulkan tugas itu.


“Ok waktunya koreksi nih.yang pertama Meriana. Bagus ni, desain kamu masuk banget sama konsepnya, feelnya juga dapet banget, fontnya juga bagus jadi romancenya lebih berasa lagi. Ini pake font apa ?”


“Signatra mas.”


“Karena setelah saya pikir dirumah tentang argumenya mas Sem bagus juga, jadi yaudah saya pake aja.”


“Good. Bagus nih secara keluruhan. Nilai udah pasti bagus nih. Selanjutnya, Abimana.”


“Udah lah mas, tu coklat api yang desainnya paling nyentrik sendiri.”


“Wih keren, bener kan pake font ghost rider masuk ke desain kamu. Ini coklat kamu eye catching banget. Paling menonjol diantara temen-teman kamu. Keren n mantab Hasbi. Approved kan nasehat saya ?”


“Lebih dari itu mas. Perfecto malah.”


“Ok selanjutnya adalah sang kickboxer, alias Hakim coba kita liat kamu buat apa.”


“Packaging suplemen mas.”


“Rock supplement. Keren nih, kamu sering liat desain suplemen gym gitu ya ? Desain kamu bagus beneran, fontnya ok, masuk sama konsep, semua yang saya katakana kemaren komplit, ok good Hakim.”


“Saya mas.”


“Ok Vira, kamu packagingnya biscuit sejenis good time sama choco mania ya ?”


“Iya mas.”


“Namanya Wakefield cookies. Warnanya bagus, ada foto snacknya, choco chip, terus slogan. Cookies renyah rasa mewah. Ini! Ini bagus, asli bagus ini. Jadi nama penemu biscuit Good time itu seorang ibu namanya Ruth Wakefield, disaat itu dialagi masak buat para tamu yang nginep, jadi dia punya penginapan. Dia itu mau buat biscuit, nah trus coklat dia potong diatas adonan kue dengan harapan itu mencair ternyata nggak. Nah terus disajikan kepada tamunya, dan ternyata tamunya suka. Begitulah ceritanya. Hakim good job ini bagus.” Semi memberikan packaging itu kepada murid yang lainnya untuk melihat karya Hakim.


“Bagus Kim beneran, warnanya soft, warnanya kue banget, menggugah juga. Mantab Kim.” kata Hasbi.


“Nanti pas kelas XII nanti kalian kan saya minta buat packaging sekali lagi, tapi nanti harus ada tag linenya, kaya Hakim tadi. Itu aja sih tambahannya. Oh iya ada lagi kalian persiapkan diri kalian nanti buat kelas XII karena aka nada sertifikasi dari BNSP. Nah jadi kalian itu akan ditest selama beberapa hari, nah yang ditest itu ada desain grafis percetakan, yang kalian kerjain sekarang, nah setelah itu editing video, abis itu animasi. Tapi ada lagi rinciannya.” Semi mengambil nafas sebelum melanjuti.


“Jeda dulu, cape ngomong terus.”


“Rinciannya adalah, kalian harus buat poster, nah kan nanti dikasih tau harus beli produk apa, nanti kalian fotonya disekolah, terus itu dimasukin dalam poster kalian, setelah itu print. Nah setelah itu nanti kalian minta buat diedit videonya. Bahan editingnya kalian bawa dari rumah, soalnya nanti gak ada koneksi nanti. Setelah itu animasi, oh iya hampir lupa. Setelah videonya kalien edit kalian masukin ke dalem kaset trus desain kasetnya kaya apa, covernya juga. Terus animasi kaya biasa aja, dirender terus diliat asesor kelar.”


“Riber mas.”


“Nggak cuma gitu aja, nanti kalian dikasih soal tertulis yang harus diisi dan itu gak sedikit. Jadi siap-siap aja.”


“Takut duluan kita mas yang ada.”


“Saya bukannya nakut-nakutin, karena keponakan saya begitu, dia pulang-pulang setres, marah-marah. Dia itu gak butuh sertifikat itu, karena dia akan kuliah, sedangkan itu nanti sertifitkatnya berlaku cuma tiga tahun, kalo kadaluarsa harus langsung ke BNSPnya sertifikasi sendiri.”


“Mungkin ada yang mau dikasih tau lagi mas, biar kita siap-siap dari sekarang.”


“Oh iya kan disoal tertulisnya nanti ada pilihan kompeten sama belum kompeten, kalian isi kompeten aja walau kalian itu sebenernya nggak kompeten. Karena hal itu aja sertifikat kalian gak akan keluar. Ditambah lagi kita main durasi. Dibatasin, kebanyakan kelemahan orang itu adalah limit. Keponakan saya aja waktu itu pulang jam sebelas malem.”


“Ya Allah.”


“Eh kamu ko responnya cepet Abimana.”


“Yang bener aja mas, pulang dari sekolah jam segitu ?”


“Beneran. Bukannya nakut-nakutin.” mereka semua terlihat tegang. Mereka terlihat kehilangan semangat karena ucapan Semi.


“Jangan dipikiri sekarang, nanti aja. Kita lanjutin ya koreksi packagingnya. Ahmad Hadi Herlan.”


“Iya mas ?”


“Kalo kamu mau cari foto makanan buat background pilih yang sizenya large ok, karena itu gak akan jadi blur, soalnya ini sedikit blur, overall bagus. Itu aja koreksinya.”


“Ok makasih mas.”


“Coba kita cari yang nyentrik biar seru sedikit pagi ini, soalnya kalian udah tegang sama sertifikasi tadi. Coba kita cari…. Eh siapa ni yang nyentrik…. Nah ada nih. Racun tikus, eh bukan racun pengutang. Punya siapa nih ngaco aja.”


“Saya mas.”


“Ya ampun Silvia, cantik-cantik tapi otaknya miring juga. Sinopsisnya obat yang cocok diberikan kepada pengutang yang lebih galak bila ditagih, berikan saja setengah tutup botol, campurkan pada makanan dan minuman tunggu reaksinya, Heh… Ngaco sih kamu.”


“Biar nyentrik dari yang lain mas, biar cair pagi ini.”


“Tapi gak kaya begini sayang. Ini namanya ngebunuh orang. Ya Allah Silvia, punya pacar gak kamu ? Jangan-jangan nanti kalo punya pacar diginiin lagi.”


“Lagi jomblo mas, pacaran terakhir tahun kemaren.”


“Syukur lah, dia selamat dari sweet but psycho kaya kamu.” 


Suasana itu menjadi cairi dari seorang Silvia, ia membuat itu karena mendengar pengalaman dari sang guru, dimana temannya pernah membuat sesuatu yang tak biasa. Mendengar itu membuat Silvia melakukan hal yang sama. Tetapi siapa sangka yang oa buat justru cenderung berlebihan dan bahaya. Ia membuat sebuah racun dimana digunakan untuk menghilangkan nyawa seseorang.


“Silvia, nanti lain kali jangan buat kaya gini lagi, saya potong rambutmu nanti.”


"Gaya apa mas ?”


“Bob, karena saya sering liat perempuan rambut Bob itu cantik.”


“Ow makasih mas.”


“Ge’er, belom tentu kamu begitu.”