
Beberapa minggu kemudian.
Semi membawa muridnya ke lab desain grafis untuk mengajar, para muridnya begitu antusia setiap bertemu dengan dirinya. Karena mereka sudah merasakan bagaimana baiknya diri seorang Semi yang sebenarnya, Semi bisa menjadi guru dan juga teman untuk mereka. Hal itu lah yang membuat setiap muridnya bertemu dengannya Semi selalu ceria.
“Ok, setelah beberapa minggu saya ajarkan kalian akhirnya saya bisa kasih kalian tugas pertama!”
“Tugas apa itu mas ?”
“Weh semangat banget, entar tugas berdasarkan keahlian nanti masih lama, ya ampun kalian semangat banget. Sekarang kalian buat desain packaging. Makanan ringan aja ya, kaya coklat, permen dkk ok. Kalian buat desain kasarnya sekarang, lalu…. Kamis bisa selesai gak ni ? Kan ketemu lagi Kamis bisa nggak ?”
“Bisa mas.”
“Yakin ?”
“Yakin mas bisa pasti.”
“Ok saya percaya kalian. Nanti kalo kalian print pake kertas art carton 210 g gak usah di laminating glossy. Kalian bisa ambil semua material kalian dari google, bel bunyi selesai ok ?”
“Ok mas.”
“Saya heran kenapa kepala sekolah bilang kalian bersamalah padahal kalian nurut begini sama saya.”
“Mungkin kepala sekolah belom tau kita yang sebenernya kali mas.”
“Itu gak penting lah, nanti kalian tunjukan kepada kepala sekolah melalui hasil karya kalian nanti, tugas yang berdasarkan keahlian kalian, sekarang kalian kerjain dulu desain kasarnya.”’
Ditengah muridnya yang sedang mengerjakan tugas darinya, ia menelfon ibunya. Ia menggunakan earphone agar tidak menganggu para muridnya. “Assalamualaikum bu.”
“Semi!”
“Ibu udah sarapan belom bu ?”
“Udah nak kamu ngapain sekarang ?”
“Sekarang lagi ngajar bu, barusan ngasih tugas buat mereka.”
“Gimana pekerjaan kamu nak ?”
“Semuanya baik-baik aja bu alhamdulilah.murid pada suka sama aku, mereka gak ada yang ngelunjak semuanya bisa diatur bu. Guru-guru disini juga baik semuanya sama aku bu.”
“Oh baguslah kalo begitu ibu seneng kalo kamu nyaman sama pekerjaan kamu. Kamu jangan terlalu cape ya, kan kurang lebih dua minggu lagi kamu kan mau nikah sama calon kamu.”
“Iya aku nggak lupa lah bu, hari bahagiaku masa aku nggak inget si.”
“Ya ibu kan Cuma ngasih tau aja nak, siapa tau kamu sibuk sama pekerjaan kamu, kamu lupa.”
“Nggak bu, aku nggak akan lupa. Giaman bapak bu ?”
“Ada itu lagi dikebon. Biasa ngurus hidroponiknya.”
“Apa aja yang panen bu ?”
“Baru pokcai aja nak.”
“Kalo tauge bu ?”
“Oh udah panen. Banyak nak. Nanti ibu kerumah kamu ya.”
“Nggak usah bu, nanti aku yang kesana aja. Ada banyak bu ?”
“Wualah nak banyak banget disini, kamu ambil yang banyak ya, nanti kalo disimpan aja malah basi lagi yang ada.”
“Yaudah nanti sore aku kesana bu. Ibu ada yang mau dibeli nggak bu ? Biar sekalian bu.”
“Kayanya beras sih nak, minyak, sabun mandi.”
“Ibu nanti chat aku aja ya bu biar aku beliin sekalian. Yaudah bu, aku mau lanjut ngajar lagi, jaga kesehatan ya bu. Yaudah Assalamualaikum bu.”
“Walaikumsalam.”
“Berarti nanti sore, setelah ngajar, gw bakal ke Carefour dulu buat beliin ibu yang butuhkan, setelah itu baru gw kesana.” monolognya dalam hati.
“Ok gimana desain kasarnya ? Bisa saya liat ?”
“Bisa banget mas.”
“Kalo kalian bukan makanan ringan, missal bungkus obat gak masalah, ada kah yang buat ?”
“Saya mas.”
“Vira kamu buat bungkus obat ?”
“Iya mas.”
“Saya liat ya.”
Semi berjalan mendekati Vira yang tengah mengerjakan desain kasar dari packagingnya. “Ini obat buat anak-anak ya ?”
“Ok namanya obat anti amnesia ?” Semi sedikit tertawa mendengarnya.
“Terserah kalian lah, temn saya aja buat packaging obat batuk namanya OMG nelco. Ya sekeretif kalian lah. Vir, mungkin kamu bisa cari font yang lain, kurang match aja sama desain kamu, coba cari lagi. Total desain kasar kamu udah ok sih. Itu aja neng yang kurang.”
“Ok mas.”
“Abimana bagaimana ?”
“Udah setengah mas.” Semi memperhatkan desain muridnya.
“Coklat api. Beuh boleh juga nih, desain kamu udah bagus, tapi fontnya deh coba, kamu buat apinya udah bagus, coloring udah bagus juga, fontnya aja. Coba ganti pake font ghost rider. Kan itu fontnya berapi-api gitu coba deh pake.”
“Download dulu mas.”
“Download ada di Dafont, namanya Ghost rider. Nanti kalo udah kamu liat sendiri kaya gimana. Ok Abimana.”
“Hasbi mas nama saya.”
“Iya Abi iya, kan kalo kamu beneran jadi actor gimana ? Sungkem sama saya ya ?”
“Amin mas kalo bener jadi actor.”
Semi melihat jam dinding, masih sangat lama iya yakin muridnya bisa menyelesaikan desain kasar mereka sebelum pelajaran ini habis. “Jangan lupa kalian pindahin ke flashdisk ya, lumayan desain kasar kalo kalian bawa pulang, dirumah kan jadinya gak cape buat dari awal lagi.”
“Mas Semi.”
“Mas saya pake font apa mas kalo coklat kaya gini mas ?”
“Ini kaya coklat buat momen romance ya ?”
“Iya mas,”
“Coba deh kamu cari diantara script. Coba pake font Yananeska script atau nggak Vegan style. Opsi lain kamu bisa cari di Dafont, karena koleksi font saya dari situ semua rata-rata.”
“Ok mas.”
“Catatan buat kalian semua, kalian seengaknya punya koleksi font. Karena pasti dari font yang kalian simpan itu pasti kan sesuai selera kalian. Terus kalian coba masukin ke dalam desain kalian. Siapa tau hasilnya kan bagus. Siapa tau juga itu bagus dimata saya. Ok ?”
“Ok mas.”
“Atau nanti saya share koleksi font saya, nanti saya kirim email, tunggu aja, paling malem saya tunggu. Masih lama nih waktunya, kalian pasti bisa sebelum waktunya abis.”
“Mas sambil dengerin lagu ya mas ? Biar mood booster.”
“Jangan keras-keras.”
“Siap mas.”
“Meri gimana hasilnya sudah kan gerangan ?”
“Udah ni mas. Bagus hasilnya.”
“Nah bagus ni, bagus ini beneran.”
“Tapi sebenernya saya ada pilihan lain si mas, ini kan Vegan style, saya bingun mau pake Vegan, Signatra atau Trademark mas.”
“Coba deh saya preview.” Meriana mengganti font itu perlahan dan menunggu reaksi Semi.
“Kalo saya pribadi sih saya pilih Vegan, karena buat konsep romance script itu kan kaya font yang romantic gitu, bagi saya Vegan sih ok, kalo kamu pribadi gimana ? Beragumen aja kita.”
“Kalo saya sih Trademark mas, karena bagi saya font ini bisa melambangkan rasa tulus sama sayang mas.”
“Ok juga yaudah kamu pilih aja. Kalo kamu punya argument begitu itu bagus.”
“Emang kalo mas sendiri kenapa pilih Signatra mas ?”
“Kalo saya sendiri sih itu saya rasa font itu intim. Jadi kalo missal mau dikasih ke pacar coklat yang fontnya kaya gitu, nanti ada rasa yang mengebu lagi.”
“Iya juga sih.”
“Yaudah kamu pilih itu aja.” Merian meggunakan font yang Semi perintahkan, dan hasilnya memang bagus.
“Apa ada yang dipertanyakan ?”
“Mas kalo saya buat tempat buku yang berseri mas, kaya buku Assassins Creed gitu gimana mas ?”
“Hmm, gak masalah, tapi kamu buat angan-angannya nyampe gak ?” sang kickboxer itu terdiam dan berpikir.
“Andai kamu gak nyampe ya gak usah, kamu buat packaging snack atau nggak kemasan lainnya, jangan yang complicated.”
“Ok mas, ternyata angan saya gak nyampe.”
“Nah kan. Yang mudah aja lah, semudah fight di kickboxing.” ia hanya tersenyum.
“Sparring mau gak kamu ? Penasaran seusia kamu udah ngajar kaya apa jadinya.”
“Boleh tu mas. Bisa kapan mas ?”
“Akhir pecan mau ?”
“Deal mas.”
“Ok, siapkan jurus mautmu ya.”
“Pasti mas.”
Semi memperhatikan muridnya satu per satu sambil mengkoreksi mereka. Semi benar-benar merasa telah mengubah mereka dari yang menyebalkan diawal menjadi penurut seperti sekarang. Memang triknya bekerja dengan baik. Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak becus dalam mengajar. Bila guru disenangi murid, murid yang bodoh sekali pun bisa pandai karenanya.
Semi ikut membuat sebuah desain packaging untuk muridnya, beserta hal-hal kecilnya. Barcode, komposisi, nilai gizi, logo halal, dan synopsis produk. “Nanti kalo desain kasar kalian udah jadi, jangan lupa sertakan yang saya bilang ya, bisa liat didepan ya. Jangan lupa.”
“Ok mas.”
Setelah membuat contoh untuk muridnya ia kembali melihat para muridnya untuk mengkoreksi mereka. Agar mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus. Semi sama sekali tidak meninggalkan lab bila bukan hal yang penting, ia sendiri pun jarang duduk untuk mengkoreksi mereka dan untuk menunjukkan bahwa ia peduli pada muridnya, dan juga agar lebih dalama lagi menyentuh para murid.
-
“Ok jam selesai kawan-kawan, silahkan disave simpan diflashdisk jangan lupa Kamis dikumpulkan ok semuanya ?”
“Ok mas.”
“Istirahat ya, jangan kabur mentang-mentang istirahat.”
“Kaga mas paling ada diwarkop mas.”
“Ketangkep saya botakin kamu nanti.” Semua ucapan itu hanya candaan, muridnya pun hanya merespon dengan tawa.
Semi duduk dilabnya sendirian. “Lah ko nelfon sih ?”
“Halo say.”
“Ngapain nelfon Najwa ?”
“Aku mau tau aja kamu lagi ngapain”
“Ya aku baru aja selesai ngajar.”
“Oh calon suamiku baru selesai ngajar ya, yaudah istirahat dulu ya biar bisa ngajar lagi, terus supaya bisa ngajarin anak kita nanti.”
“Ah apasih kamu, ini bukan waktunya Najwa.”
“Iya sorry ya baby, kamu istirahat ya, makan yang banyak, jaga kesehatan, inget sebentar lagi kita mau nikah.”
“Iya iya aku pasti perhatiin kesehatanku, kamu juga orangtuamu juga.”
“Yaudah bye bye babe.”