How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Sama



“Ok deh Sem, karena udah larut juga, lanjutin kapan-kapan lagi aja, kamu juga udah banyak yang bener, gak banyak banget yang harus revisi, itu pun andai banyak gak vital.”


“Ok pak, saya juga harus ngajar besok.”


“Ok deh Sem, terima kash ya Sem, selamat malem Sem.”


“Sama-sama, malem pak.” Semi segera memtikan komputernya lalu menuju toilet untuk mempersiapkan dirinya untuk tidur. Ia segera berbaring di ranjangnya, mematikan lampu dan terlelap hingga pagi.


-


“Ok, kali ini buat tugas anaknya pak Afrian apa ya ? Apa gw pukul rata aja kali ya ? Tapi…. Perlu juga si. Ok lah gw pukul rata aja.” Semi bangkit dari ranjangnya, ia sudah rapih dan sudah siap untuk pergi mengajar, ia membawa tasnya dan mengenakan jaketnya. Sebelum berangkat ia memasukan hidangannya untuk makan siang nanti, sepertinya sama seperti kemarin, tetapi porsinya lebih banyak lagi, dan juga ia terlihat membawa termos, sepertinya berisi kopi. “Najwa ?”


“Sem kamu mau berangkat ya ?” calon istrinya berada didepan pintu rumhanya persis


“Ya iya lah.”


“Kamu niat aja ke sini pagi-pagi.”


“Aku gabut dirumah, jadinya aku ke sini, sekalian membiasakan diri aku di sini, biar aku gak kaku lagi kalo udah nikah.” katanya dengan senyum.


“Hmm, ok .”


“Kamu susah banget sih buat senyum, senyum dong say, masa iya sama calon kamu sendiri kamu gak senyum juga ?”


“Karena aku emang begini orangnya, tapi sebenrnya aku penyayang.” Semi memeluk Najwa. “Ya udah aku berangkat ya, apa masih kurang pembuktian bahwa aku penyayang ?”


“Gitu dong senyum, kamu jadi lebih ganteng, karena banyak temen aku yang kepincut kamu karena kamu itu senyum.”


“Ya udah, aku berangkat ya, tolong jagain rumahku, kucing aku udah makan, tinggal main aja dah sama kamu.”


“Ok babe.”


“Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Semi mengambil motor kesayangannya, motor Ryan Reynolds, lalu berkendara dengan cepat tetapi tidak ugal-ugalan.


Sementara di kelas. “Boy lau udah kelar ?”


“Belom Din, gw masih banyak men yang belom. Kalo andaikan gw niat mungkin ini tiga hari lagi baru selesai.”


“Buset, niat juga lu kalo mau ngerjain selama itu.”


“Pasti lah Din, inget ini buat cat walk men, jadi kita harus kerja professional. Ini kita belom pkl lo, bayangkan kalo udah pkl tapi kita udah terbiasa pkl, bisa cepet di terima kerja yang ada.”


“Iya juga ya, lu ngegingetin gw sama mas Sem.” mereka kembali bekerja. Di sisi yang lain Afina dan yang lain juga bekerja hal yang sama. “Fin, lu masih lama kah ngerjiannya ? Udah bagus itu, udah selesai itu lah Fin.”


“Belom lah Lin, gw maunya ngerjainnya total. Ini belom selesai, gw masih harus ngerjain dua hari lagi mungkin.”


“Cat walk sih ya, jadi beda, ngerjainnya juga harus total.”


“Lin, ada yang nanya tuh mau beli kaos kita, coba liat dah ig.”


“Ntar paling Kim, ini lebih berharga cuy dibandingkan bisnis kita.” benar, karena bila desain mereka digunakan untuk background cat walk maka mereka akan mendapatkan pujian, karena mereka masih berada di kelas XI SMK. Tentu membuat background cat walk bukan merupakan pekerjaan mudah.


Semi sudah sampai, ia segera berjalan ke ruang guru, meletakkan tasnya, membawa kopinya, kembali lagi ke lab desain, dan kembali mengerjakan tugasnya dair pak Imanul. Banyak yang berkata bahwa manusia itu adalah zombie, karena mereka melakukan hal yang sama setiap harinya, mungkin benar mungkin tidak, ya begitu lah kehidupan, seperti roda, kadang menyenangkan kada ng membosankan.


Ia mendengarkan musik yang tenang, tentu saja tenang untuknya tidak tenang untuk yang lain. Ya, lagu itu,  Deathcore. Bahkan ia sama sekali tidak terganggu mendenagarkan lagu sekeras itu di saa mengerjakan tugas.


“You’re worthless you plague humanity. Be nothing without me, your curses try to get back to me, but still there is no time.” lagu itu sepertinya menjadi salah satu lagu yang paling keras pada saat tahun 2007, bagaimana tidak, karena pada tahun itu musik Deathcore tidak extreme seperti itu. Dengan hadirnya Mitch Lucker industry musik Deathcore berubah hingga masa ini.


 Anak pak Afrian datang, ramai dan segera menempati kursi mereka masing-masing, lagu itu sudah habis, selain lagu itu keras, durasinya tidak terlalu lama. “Halo semuanya langsung duduk aja, kali ini saya mau kasih kalian tugas, tugas dari simulasi sesuai keahlian.”


“Apa mas ?”


“Desain background cat walk, soalnya ini sama semua saya pukul rata, anak saya tugasnya begitu, anak kelas XII juga begitu. Jadi andai kan desain kalian ke pake, kalian ada imbalannya lo, gak kecil lagi. Di dunia desain yang professional desainer itu kaya lo. Bagaimana ?”


“Bila itu menghantarkan kita pada kesejahteraan ekonomi kita ambil dah mas.”


“Basahanya kamu kaya berada di ekonomi yang terpuruk aja Luck.”


“Kalian silahkan cari inspirasinya kaya apa, lalu kalian buat versi kalian sendiri. Oh ya btw ada yang punya pen tablet gak ?”


“Gak banyak mas, cuma empat orang doang.”


“Saya cuma kasih saran aja, bila kalian punya uang hasil dair bisnis kalian, boleh lah kalian beli, karena pake pen tablet itu membuat desainer itu jadi lebih keren, keliatannya lebih ada wibawanya, bagaimana bisnis kalian ?”


“Baik mas, lumayan lah setiap minggu ada tiga sampe empat orang yang beli baju kita.”


“Nice, nanti deh ya saya kirimin desain saya lagi kalo saya sempet, saya juga ada tugas soalnya, saya di suruh desain majalah, tujuh puluh lembar, waktu dikasih dua minggu. Bahan mentahnya ada tiga ratus enam belas foto. Nanti kalian kalo udah kaya saya pangkatnya, jangan kaget, di kasih kerjaan lumayan berat, di kasih waktu cuma bentar. Jangan ngedumel tapi, karena kalo kalian berhasil itu membuat kalian selangkah demi selangkah buat jadi professional, saya udah pernah mendapatkan itu, walau nggak enak nikmatin aja.”


“Ok mas.”


“Kalo mau lagu langsung nyalain aja, gak perlu nanya lagi kalian udah tau peraturannya.” tak ada balasan.


Semi kembali duduk, membuka termosnya dan menuangkannya perlahan, bau kopi itu menganggu beberapa murid di situ, beberapa dari mereka mencari dari mana sumber bau itu dari mana. “Weh enak tu mas kopinya.”


“Lebih murah mas dari satu porsi gado-gado.”


“Pinter, emang, karena ini banyak peminatnya.” kembali hening, ponslenya bordering “Halo Tus ada apa ?”


“Udah revisi semalem ?”


“Udah, gw juga udah ngedesain enam belas lembar, itu juga udah direvisi semua sama pak Iman.” Semi menelfon dengan suara yang pelan sehingga ia tidak perlu keluar ruangan untuk menjawab.


“Ok dah, udah ada kesepakatan lagi kah buat revisi ?”


“Belom tau, baru semalem, mungkin gw kali yang ngabarin pak Iman nanti.”


“Ok lah, mantab Sem.”


“Tus, btw apa ada tugas kaya desain gitu di sana ?”


“Lagi nggak sih. Lu ngasih tugas murid lu desian apaan emang ?”


“Desain cat walk men. Biasa.”


“Oh boleh juga tuh, nanti boleh dah gw minta salah satu desain anak lu buat cover majalah, kayanya keren juga.”


“Ok ok thanks ya.”


“Ok gw cabs.” tidak sia-sia dirinya memberikan tugas itu.


Semi meminum kopinya perlahan, dan mulai menggerakan mousenya untuk bekerja. Sekarang ini tengah marak quotes yang berawalan “berhentilah dan mulailah melakukan bersamaku” bila desainer membuat quotes ini maka akan berbunyi “berhentilah membuang waktu dan mulai lah mendesain bersamaku”. Sebuah quotes yang muncul dari mereka para pekerja bangunan. Walau mereka melakukan pekrjaan yang berat dan melelahkan tampaknya mereka tidak malu, dan terksesan bangga akan pekerjaan itu. “Berhenti lah mengkhayal akan wanita, ambilah cangkulmu dan mulai lah mengaduk semen bersamaku”, mulai dari itu mulai lah bertebaran quotes serupa dengan bunyi yang berbeda.


Di tempat Semi bekerja, tampak beberapa dari para desainer di panggil oleh pak Iman. “Pagi Arya, Albertus, Yasmin, dan Aldi. Saya mempunyai niat khusus mengumpulkan kalian di sini.”


“Tampaknya serius pak, apa ada kerjaann yang berat ?”


“Nggak sih, cuma beberapa hari kedepan, CEO kita itu punya acara dari kantor kita, kalo di kata kan berat apa nggak sih, ya lumayan sebenernya. Kita butuh fotografer sama sama bagian dokumentasi, acaranya lumayan lama. Karena ini emang cukup krusial juga, jadi buat menjalin kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sama seperti kita. Acara mulai dari jam delapan pagi, sampai jam 10 malem.”


“Duh.” spontan Albertus. “Wah pak, jujur aja pak di divisi saya sendiri saya ada kerjaan yang gak bisa saya tinggalin pak.”


“Arya bagaimana ?”


“Wah pak, saya juga banyak tugas dokumentasi pak, minggu ini aja ada delapan aau Sembilan gitu pak, dari Sembilan itu yang harus saya edit vidoenya itu ada lima pak, waktu pengerjaan juga gak lama pak.”


“Aldi dan Yasmin ?”


“Saya ada tugas buat desain majalah edisi khusus pak, lebih banyak dari Semi pak bahkan, pengerjaannya juga gak lama."


“Anfal ?”


“Saya juga ada tugas pak, divisi saya kena tugas ke luar kota pak, jadi sekarang ini divisi saya sibuk briefing pak buat beberapa lama"


"Oh iya kan kamu itu ketua divisinya emang kantor cabang kita di luar kota, saya juga lupa Yasmin kalo kamu itu nolongin cabang kita desain majalah itu kan ?”


“Iya pak.”


“Hmmm, gimana ya ?”


“Mungkin bisa pak Riza sebagai bagian dokumenatasi, karena dia beberapa hari ini lagi kosong pak.”


“Oh iya bisa tuh, coba kamu tanyain bisa apa nggak dia. Terus buat bagian foto, bisa kali ya Semi ?”


“Mungkin bisa pak, kan dia juga da tugas dari bapak.”


“Mungkin bisa lah buat dia meluangkan waktunya satu hari aja.”


“Kapan pak ini ?”


“Kamis besok.”


“Nanti saya kabarin Semi pak segera, supaya dia bisa siap-siap.”


“Ok Arya. Saya rasa itu, kenapa saya mengumpulkan kalian, kan kalian smeua itu dair divisi yang beda-beda jadi siapa tau kalian bisa membantu saya. Ok maaf menggangu waktunya, terima kasih.”


“Sama-sama pak.” lalu mereka meninggalkan ruangan bersama. “Semi yang freelance sekarang harus kembali mengerjakan tugas yang kantoran banget sifatnya. Gw harap dia gak kehilangan skillnya kaya dulu. Dulu aja ada orang Amerika apa yang mau sama dia, cuma karena ke totalan dia kerja.”


“Iya inget banget tuh gw, waktu itu gw bagian dokumentasi, gw nguping aja kalo tu perempuan suka banget sama Semi.” mereka masuk ke dalam lift yang sama. “Tapi gw rasa Najwa udah yang terbaik buat dia. Kalo perempuan Amrik susah men buat setia, ganteng dikit, kaya dikit pindah cuy.”


“Gw rasa Semi bukan tipe orang yang bisa di mainin kaya gitu, karena gw udah pernah liat di marah kaya apa, n itu gak ngeri sih. Cuma dia bisa kaya setan aja kalo ngamuk.”


“Kalo dia ngamuk preman bawa celurit juga mati di tempat kali. Gak liat badannya udah jadi kaya gitu, dia juga beladirinya jago men.”


“Lengkap cuy dia, badan jadi, ganteng, kerja total. Kurang apa lagi dia, kurang nikah sama punya anak aja dia.”


“Lau juga kan.”


“Gw masih banyak persiapan buat nikah nanti Tus, gw bentar lagi nyusul.”


“Semoga lancar men.”