How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Check out



“Wah anjay bagus- bagus juga ternyata. Bukan kaleng-kaleng mas Hatta.” Semi diam. “ pak kita ada ruangan gak pak buat naro kamera yang banyak pak ?”


“Di studio masih lumayan banyak space mas.” mas Hatta tersenyum, mengirimkan lebih banyak link lagi, Semi mengetahui itu. “Kalo kita buat ngeprint tugas murid gimana pak ?”


“Ya paling mereka suruh ke ruangan kita aja mas, jadi printnya gentian.”


“Kalo kita buat satu ruangan buat mereka nyetak gimana pak ?”


“Oh boleh tuh mas. Biar lebih cepet kan ?”


“Iya lah pak. Kalo kaya gini kan mereka takutnya malah kelamaan karena ngantri… Oh iya artinya kita butuh lebih banyak computer lagi ya.”


“Belom lama sekolah beli computer mas, ada delapan apa sebelas gitu. Bisa tuh mas buat di ruangan itu.”


“Ok, saya nanya dulu ke pak Adnan.” Semi segera bangkit dair duduknya segera menuju runagan pak Adnan.


Diruangan pak Adnan tengah membaca sesuatu, lalu Semi mengetuk pintu. “Silahkan.”


“Permisi pak menganggu waktunya menjelang jam pulang.”


“Oh tidak masalah, ada apa pak Semi ? Sepertinya ada yang penting sampai ingin bertemu langsung dengan saya.”


“Saya meminta izin pak. Apakah boleh andaikan saya meminta menggunakan satu ruangan yang tidak terpakai di sekolah ini untuk menjadikan tempat dimana murid untuk mencetak tugasnya pak. Karena diruang guru adalah dimana mereka mencetak tugas mereka. Dimana itu pasti akan membuat antrian. Jadi ini untuk mempermudah mereka pak.”


“Ohhh unit porduksi.”


“Ah iya benar pak. Unit produksi. Saya ingin meminta izin langsung kepada pak Adnan apakah memperbolehkan.”


“Oh silahkan, memang, ada satu ruangan yang memang tidak terpakai, pak Semi bisa menggunakan itu untuk unit produksi itu.”


“Terima kasih pak, karena saya dulu waktu sekolah pernah tugas saya tidak terima hanya kerena mengantri dalam mencetak tugas.”


“Ah, pantas saja. Luka masa lalu membawa sebuah keinginan. Silahkan pak Semi.”


“Terima kasih pak.” Semi menunduk dan segera meninggalkan ruangan pak Adnan, segera menuju ruang guru lagi, selama ia berjalan ponselnya berdering entah karena apa, ia tidak menghiraukan itu, di saat sudah sampai ia memundukan beberapa langkahnya ke studio foto, lalu masuk ke dalam ruangan itu.


Semi memperhatikan ruangan studio, ada satu lemari besar lalu ia membukanya. “Cuma sedikit keisinya ya.” Semi membuka ponslenya ada apa.


“Hah ? Tiga puluh pesan ?” Semi membukanya. “Oh link lagi dari mas Hatta, ok ntar dah gw eksekusi, lalu intinya ruangan ini bisa nih buat kamera. Ok mantab.” Semi kembali lagi keruangan.


“Boleh pak. Bisa kita buka unit produksi itu.”


“Ok mas, mantab.”


“Kita adanya apa aja nih pak ? Printer inkjet, terus bisa print kaset juga…. Giaman kalo kita tambahin printer ukuran A3 sama A2 pak ?”


“Buat apa mas ?”


“Tugas mereka nanti pak. Bapak akan liat nanti itu buat apa.”


“Nah kalo udah kaya gini saya yakin pasti berguna nih. Silahkan lah mas… Tapi kita gak minta sekolah ngeluarin dana kan mas ?”


“Tenang pak ini saya yang tanggung.”


“Beuh guru yang mengabdi sama murid emang beda.”


“Bukan mba, saya Cuma orang kaya yang mau menggunakan hartnya dengan bijak aja.”


“Kasih tau dong mas, kaya karena apa nih ?”


“Saya punya café sama restoran bu, sekarang café saya mau buka cabang.”


“Oh…. Berarti ini bukan pekerjaan utama dong mas ?”


“Nggak bu. Gaji saya aja selalu saya amalin. Jadi saya punya penghasilan dari kedua itu. Karena itu saya mau membeli apa yang saya katakan tadi bu.” Semi membuka ponselnya mengirimkan alamat café dan restorannya ke semuanya.


Semuanya membuka ponsel mereka. “Ok mantab mas, nanti kapan-kapan saya main ya mas.”


“Silahkan bu.” Semi kembali duduk di kursinya sambil menunggu waktu pulang.


-


Waktu pulang sudah datang. Semi dengan segera menancap gas trailnya agar cepat sampai rumahnya untuk melakukan check out yang ada di ponselnya. Rasanya sangat menyenangkan bila memiliki banyak uang, untuk hal itu akan terkesan ringan dan tak seberapa. Tetapi banyak orang yang sudah kaya menghamburkan hartanya, dan mereka tidak bisa mengambil uang itu lagi.


Maka cara yang benar menghambur harta adalah dengan membelikannya kepada hal yang bermanfaat, apalagi bila hal itu di sumbangkan. Niscaya harta itu akan kembali dengan jumlah yang lebih besar lagi. Bila ragu maka hamburkan harta pada ilmu, dengan ilmu kau akan mendapatkan kehormatana, jabatan dan jua harta, tak menutup kemungkinan wanita akan datang juga.


Ada satu cara untuk menghamburkan harta tetapi ini adalah hobi yang sangat amat mahal. Kau tahu itu apa ? Beramal. Mengapa demikian ? Bukan kah itu adalah hal yang mudah, sederhana bahkan tak terkesan mahal ? Justru membeli mobil mewah, keliling lautan dengan kapal pesiar itu adalah hobi mahal ? Tidak kau salah besar. Justru itu itu amat murah, beramal adalah hobi yang amat mahal. Tak percaya ? Sekarang apakah kau mau mengeluarkan lima puluh ribu untuk tiga potong ayam goreng dan berikan itu kepada pengemis ? Tentu tidak bukan ? Sudah terbukti, ini adalah hobi yang amat mahal. Bila beramal itu mudah, mengapa hanya segelintir orang yang mau melakukan itu ?


Karena mereka terlalu mencintai harta mereka, merasa mendapatkan dengan susah, tak rela membagikannya begitu saja. Padahal Tuhan berjanji menggantinya ratusan lipat kali dari itu. Bila kau tak mampu mengeluarkan dalam nilai besar, keluarkan saja cukup seribu untuk mereka, seribu bagi mereka adalah sebuah detakan jantung untuk kembali hidup lagi. Cukup seribu saja maka Tuhan akan menggantinya menjadi seratus ribu, bahkan satu juta, bahkan ia menganntinya dengan tercapainya cita-citamu. Bukankah itu lebih besar dari uang seribu ?


Kau ingin menjadi sangat kaya ? Melewati crazy rich ? Caranya adalah dengan beribadah, beramal, dan niat yang murni, tak percaya ? Coba saja kau memberikan satu botol air minum kepada pengemis. Maka malaikat akan melemparkan sebatang emas kepadamu. Tuhan berjanji barangsiapa yang melakukan kejahatan sekecil debu maka ia akan mendapatkan balasannya hari itu juga, dan barangsiapa yang melakukan kebaikan sekecil debu maka ia akan menerima balasannya hari itu juga.


Mengapa beribadah itu penting ? Kewajiban ? Untuk Tuhanmu ? Mungkin kewajiban ia, tetapi itu tidak berpengaruh untuk Tuhanmu. Karena ibadaha adalah untuk pribadi, Tuhan bahkan tidak bermasalah bila satu dunia ini tidak mempercayainya. Itu tidak akan mengurangi kehebatannya. Bila waktu, uang, dan wanita mengatakan “dekati aku tinggalkan semuanya” maka Tuhan mengatakan “dekati aku maka kuberikan semuanya” dekati ia, maka kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Bahkan wanita sekalipun.


Semi sampai di rumahnya, ia segera di sambut oleh Najwa, tampak perutnya sudah sedikit menonjol. “Hi babe.” Semi memeluknya dengan erat dan senyuman, ditambah satu kecupan di kening. “Kamu udah makan belom ?”


“Emang kamu mau masakin aku ? Kamu lagi hamil juga. Gak usah deh aku itu bisa sendiri.”


“Tapi aku bisa masakin kamu.”


“Kamu sama anakku lebih penting. Lebih baik kamu istirahat memikirkan anak kita, jangan terlalu cape. Perhatikan juga asupan kamu.” Najwa tersipu malu mendengar itu, wajahny menjadi merah.


“Aku suka kalo kamu merah gitu. Rasanya mau aku terkam bibir kamu.”


“Ihh! Udah ah gak usah ungkit itu lagi. Aku gak bisa lupa tau. Solanya itu enak banget.” wajahnya makin memerah.


Semi berbaring di kamarnya. “Say, kamu udah Dzuhur ?”


“Ah, udah. Mau tidur dulu aku. Kamu istirahat lah.” sambil menepuk kasur. Najwa berjalan kea rah kasur dan berbaring. “Kamu sweet banget ngomong kaya gitu di depan pintu.”


“Belom aja say, itu belom seberapa. Aku bisa mengatakan hal yang lebih manis dari itu.”


“Apa itu ?”


“Kamu tau gak sebenernya malaikat itu ada di bumi dan kita itu sebenrnya liat setiap hari ?”


“Gimana cara liatnya ? Mereka kan gaib.”


“Kamu. Kamu itu malaikat, hanya seorang wanita yang rela mengandung Sembilan bulan lamanya, lalu melahirkan dengan sakit luar biasa, lalu menyusui dan merawat. Kamu itu malaikat. Kamu itu malaikat tak bersayap. Setelah itu surge akan ada di bawah telapak kakimu nanti.” Najwa terharu, menahan untuk tidak menangis.


 “Jangan nangis dong say, please lah.”


“Itu… Itu….-“ terkesan seperti kata untuk para budah cinta, tetapi itu adalah hal yang nyata. Bila orang banyak berkata wanita adalah malaikat, ya benar. Karena mereka rela melakukan itu semua. Tanpa meminta balasan. Sebab itu adalah setiap seorang ibu adalah malaikat, malaikat tak bersayap dan malaikat yang menyamar menjadi manusia.


Kembali hidup, kembali hidup dari sebuah aktivitas mati suri. Semi terlihat tengah memproses semua pesanananya. Ya, semua link yang mas Hatta kirimkan ia proses hari itu juga, dengan pilihan proses pengiriman instan. Najwa melihat itu. “Sem, buat apa itu semua ? Kamera kamu itu udah punya banyak diruangan kamu, masa mau beli lagi sih ?”


“Itu buat di sekolahku say. Ini setiap kamera yang aku beli kan ada kegunaan khususnya masing-masing.”


“Gini nih jadinya kalo punya suami S7 pendidikan.”


“Alah masa sih ? Aku justru ngerasa setengah gila ?”


“Masa ?”


“Kamu gak sadar aku yang mempengaruhi kamu sampe kamu itu rada singit ? Siapa yang makan buah pake piso ? Siapa yang doyan lempar-lempar piso ? Siapa yang kadangs suka ngakak sendiri ? Itu semua aku. Kamu pun ngikutin itu semua.” Najwa sedikit tertawa.


“Iya, kamu emang mempengaruhi aku. Kalo bapaknya begini gimana nanti anaknya ?”


“Ya anaknya nanti jadi komika lah.”


“Enak bangat jeplaknya jadi komika.” Semi hanya tersenyum saja mendengar itu, ia meletakkan ponselnya lalu mengambil sebuah piring cukup besar. “Apa itu say ?”


“Roti Timur Tengah ini.”


“Apa namanya ?”


“Roti Khubz, ini isinya daging sapi yang udah aku bumbuin terus cincang.”


“Beh mantab dong.”


“Pasti lah, tunggu. Kamu udah minum minyak ikan ?”


“Belom.”


“Iyap.”


“Kamu udah baca riddle yang aku tulis ?”


“Udah baca tiga. Tunggu deh, kenapa kamu perintahin itu semua ke aku ? Itu sejak hari pertama hamil sampe sekarang lo say. Kenapa ?”


“Itu adalah cara orang Yahudi mendidik anak mereka. Mereka itu mendidiknya sejak dalam kandungan, itu lah yang mereka lakukan. Aku terapkan itu kepada kamu. Kenapa aku nyuruh kamu buat baca riddle aku setiap hari ? Karena itu mengajak juga janin untuk berpikir. Manfaat dari minyak ikan itu bagus banget buat janin lo. Itu kenapa Yahudi bisa menguasai dunia ini, karena mereka itu sejak kandungan udah di didik.”


“Oush, begitu ternyata. Gak nyangka kamu bakal kaya gitu saking kamu perhatiannya sama aku.”


“Kenapa juga aku suruh kamu buat melakukan hal yang menambah kecerdasan kamu, karena lima puluh sampai enam puluh persen kecerdasan itu dari ibu. Selebihnya dari ayah yang mendidiknya nanti.”


“Kalo ayahnya kaya kamu yang ada nanti anak kita jadi professor lagi.”


“Ya aminnn, buat kembangin T-Virus.”


“Ngaco, emagn kamu Chris Redfield.”


“Bukan, tapi badanku kaya dia.” Semi mengambil roti itu dan mencaploknya, lalu di ikuti oleh Najwa. “Busyeng, kenapa kamu gak ngasih tau ke aku kalo enaknya kaya gini ?”


“Ya, aku aja baru buat sekarang, gimana aku bisa ngasih tau. Aku juga lupa lagi.”


“Menurut kamu ini satu atau dua ?”


“Kembar.”


“Sotoy, baru juga tiga bulan, emang kamu udah yakin.”


“Yakin lah, aku kan pengen banget punya anak kembar.”


“Gimana nanti kalo anak kamu perempuan semua ?”


“Lah itu malah jadi wibawa buat aku. Looknya malah bener-bener pria sejati. Buktinya anaknya pada cantik.”


“Iya kamunya punya wibawa, aku yang ketar ketir jagain kamu. Emang kamu pikir kamu punya anak perempuan di luar sana gak mau gitu ? Justru banyak yang mau lagi.”


“Ya ampun, Najwa, buat apa aku harus mau sama yang lain kalo aku udah punya kamu ?”


“Halah kan laki-laki itu omongannya gak bisa di percaya.”


“Lalu kenapa wanita selalu mengatakan hal yang palsu di saat dia melakukan sesuatu yang nyata ? Padahal lagi jalan sama mantan bilang lagi di rumah ? Bisa anda jawab malaikatku ?” Najwa kembali mencaplok roti itu.


“Skakmat!”


Mereka makan roti itu cukup banyak, setelah itu mereka saling berbincang satu sama lain, entah tentang masa depan anak mereka nanti, atau mereka semua saling share pengetahuan masing-masing.


Malam, Semi tengah berada di gazebonya menunggu barang yang akan datang, ia juga sudah menyiapkan tiga lembar kertas merah untuk memberikan setiap dari mereka sebagai upah. “Mana nih gw dah nungguin dari tadi.” Semi hanya scrolling ponselnya saja, sampai datang akhirnya mereka. “Paket!”


“Nah.” Semi dengan senyuma membuka pintu itu, ya memang banyak driver ojek online yang menugantri di rumahnya.”


“Bener dengan Semi ?”


“Iya, bener pak.”


“Barangnya taro di dalem aja pak.” Semi berjalan kea rah gazebonya sambil duduk, Najwa hanya memperhatikan dari jendela. Satu persatu dari driver meletakkan barang yang Semi pesan, setiap mereka menerima tiga lembar kertas merah di tangan mereka, senyuman terukir di wajah para pahlawan pada zaman modern ini. Ya, mereka adalah pahlawan, karena dengan adanya mereka hidup kita menjadi lebih mudah. Tetapi banyak yang mengejek sang pendirinya, seorang boss dari driver online di pilih menjadi seorang mentri.


Mudahnya apakah mereka yang berpendidikan S3 bisa memberikan bmakan setidaknya satu orang saja, sedangkan sang pendiri ojek online itu bisa memberi makan ratusan ribu orang.


Semi mebawa barang itu satu persatu ke dalam, meletakkannya di sofa. “Ya ampun Sem, ini sih… Gile banyak bener. Lau mau ngapain Samsudin ?”


“Yeh udah di bilangin ini buat di sumbangin ke sekolah. Lagi kalo nunggu sekolah yang ngeluarin dana bakal lama lagi, atau mungkin gak akan keluar yang ada dana itu buat beli kamera itu. Ya udah aku aja yang ngeluarin dananya. Semudah itu saja.”


“Kegunaannya apa aja ?”


“Banyak, ini ada yang emang khusus foto, ada yang video, ada yang kamera 4K, ada yang 2K, ada yang megapikselnya besar.”


“Kalo kamera video yang paling besar resolusinya berapa ?”


“Yang kameranya itu lagi bebas di jual itu resolusinya 8K.”


“Beli dong say, itu kan bagus buat rekam momen bersejarah kita.”


“Oh ayo sih.”


“Berapa harganya ?”


“Empat ratus juta.”


“Hah !? Gak usah ngadi-ngadi deh, kamu pasti ngibulin aku ya ?”


“Najwa Alifatul Aisyah S.E siapa yang ngibulin kamu ? Itu emang harganya segitu ?”


“Lah mendingan beli CBR 1000 dong kalo gitu caranya.”


“Lah mendingan Triumph Speed Triple 1050 lah, Cuma tiga ratus tujuh belas.”


“Kamu ngetroll aku ya ?”


“Siapa yang ngetroll sih Najwa ? Coba kamu cari namanya Red kamera. Pukul palaku pake wajan kalo gak percaya.” Najwa segera mencari nama kamera itu. “Eh iya deh. Bener, setara Avanza yang udah di modif kayanya.”


“Kan udah aku bilang.”


“Kamera yang paling mahal di sini apa ?”


“Ah, paling Sony A9.”


“Bih itu mahal juga tuh. Kamu bisa dengan mudahnya check out secara online ?”


“Ya iyalah, harta banyak tuh bukan buat di timbun tapi amalin. Biar bisa punya rumah tujuh real estate lima. Kapal pesiar dua.”


“Kalo kamu udah sekaya itu kamu masih mau sama aku ?”


“Ya ampun. Kamu gak ngerti definisi tulus ya ? Andai kamu itu gak ada satu kaki aku tetep cinta, andai kamu itu gak ada satu tangan aku tetep cinta. Andai kamu itu gak bisa denger aku tetep cinta.”


“Kamu mau nikahin perempuan cacat ?”


“Lah why not. Cinta itu menerima kekurangan satu sama lain lagi.”


“Owh, sweet banget.” Semi kembali membuka semua kamera itu beserta gearnya yang ada.


Pukul 23.30. “Sem kamu masih merhatiin kameranya ?”


“Iya, kamu tidur duluan aja. Nanti aku nyusul.”


“Kamu mau bawa besok ?”


“Iya lah.”


“Pake mobil ? Apa cukup ?”


“Cukup lah say. Masa nggak, kan aku pake Pajero.”


“Owh oke jangan lupa jaga kesehatan, saking smeangatnya didik murid sampe lupa lagi sama diri sendiri.”


“Jenius. Terkadang orang kalo udah semangat lupa mikirin diri sendiri.”


“Karena itu aku ingetin kamu.”


“Ok thanks ya my angel.” Najwa kembali ke kamar. “Nah, greget bener boy kalo gini caranya. Gw yakin murid gw bakal betah buat belajar. Kamera udah ada, baterainya ada banyak, gearnya juga ada, lalu printer juga ada. Nah komplit dah. Jadi smenagat sendiri gw jadinya.”


Semi memasuki kamar. “Kamu udah selesai ?”


“Udah lah.” Najwa tengah membaca sebuah novel. “Kenapa novel Divergent lebih seru dibanginkan filmnya ? Di sini bahkan lebih filmis lagi bahkan di bandingkan filmnya.”


“Namanya juga adaptasi say.”


“Emang kenapa kalo adaptasi ?”


“Nanti deh ya aku kasih tau, sekarang aku udah mau pingsan. Bentar lagi aku ngomong ngalor ngidul kalo kamu ajakin terus.”


“Ok, ok.”