
Senin pagi, Semi sudah berada dimana ia seharusnya, Ia kini menunggu anak pak Afrian datang dan akan melanjuti tugas mereka. Sedangkan dikelas Semi ada pelajaran Bahasa Indonesia dan akan dilanjuti oleh IPA. Semi tengah membaca buku Divergent yang belum seiesai ia baca, walau film dari buku itu sudah ada, sepertinya tidak ada salahnya untuk mengetahui bagaimana cerita itu dari buku. Karena sebuah film adaptasi biasanya tidak amat mirip sekali. Karena bila ingin membuat sangat mirip maka akan melewati batas, seperti melewati batas normal, biasanya tiga jam bisa saja menjadi empat jam, dan membutuhkan dana yang amat besar.
Biasanya seperti itu, film adaptasi ada yang berbeda dari yang kalian ketahui, seperti sebuah film adaptasi game, seperti contohnya adalah film The Warriors pada tahun 1979, tidak asing bukan ? Dalam film mereka hanya berhadapan dengan Baseball Furies.The Rogues, mereka adalah lawan terakhir pada film dan video game. Setelah itu The Orphans, The Lizzies, dimana mereka dijebak oleh sekelompok wanita, The Punks, dimana mereka bertarung di toilet stasiun. Itu yang mereka hadapi dalam film, bisa kalian bayangkan betapa singkatnya bila apa yang ada di dalam film mereka terapkan juga ? Akan terlalu cepat membosankan bukan ?
Maka dari itu adaptasi terkadang tidak terlalu sama, contohnya diatas, pada video game kalian melawan banyak gang, namun pada film sebenarnya kalian tidak melawan seperti yang kalian bayangkan pada video game. Contoh kecil lagi adalah The Last Aribender, itu merupakan adaptasi tebruruk, karena bila seseorang ingin melakukan adaptasi mereka seharusnya membuat semirip mungkin, tetap buktinya itu adalah sebuah film adaptasi terburuk yang pernah ada.
Semua muridnya sudah berkumpul. “Ok lanjutin lagi yah, kan kalian udah sampe gambar ya ?”
“Iya mas, kita udah sampe ngegambar.”
“Nah lanjutin aja. Kalo anak saya bahkan udah tahap akhir ini, mereka udah mulai tracing, abis itu buat corporatenya, setelah itu mereka mulai ngeprint. Mereka juga udah saya kasih tugas buat kaos.”
“Mas mau lagi dong mas kita buat kaos mas.”
“Yaudah silahkan, kalian buat aja, saya tidak menjadikan tugas pasti yang harus kalian kumpulkan kepada saya, jadi ini tugas bebas. Karena gak ada deadline nya. Dijual ya kaosnya, kalian mau nyari uang bukan ?”
“Ko tau sih mas ? Emang lagi kanker ini mas.”
“Yaudeh Man, buat yang bagus ya Man, biar banyak yang mesen. Ok Arman ?”
“Pasti mas.”
“Ok, silahkan lanjutkan ya, tar dulu apakah ada yang belom ngeprint inspirasi gambar ?”
“Udah semua mas.”
“Ok, yaudah kalian semua gambar setiap nama itu tujuh sesuai dengan inspirasi kalian, saya sampe jam istirahat kan ? Nah kalian manfaat kan deh itu sebaik mungkin. Musik silahkan nyalakan tapi dengan peraturan biasa.”
“Ok mas aman.”
“Gaskeun boy.”
Sedangkan dikelas Semi.
“Ada yang pernah denger klimaks ?”
“Pernah bu.”
“Nah Abi ini anaknya diem-diem pinter. Klimaks adalah tingkatan semakin tinggi sedangkan antiklimaks adalah tingkatan semakin rendah. Seperti contoh kalimatnya “protocol kesehatan wajib dilakukan mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, begitu juga dengan majas antiklimaks. Mengerti ?”
“Ngerti bu.”
“Bu majas itu ada berapa banyak sih bu ?”
“Kalo majas itu kamu cari di google lebih banyak dari yang ibu tulis. Ini ibu kan cuma mentuliskan dua puluh, sedangkan di google itu ada lebih banyak lagi dari ini, bukannya majas udah dapet dari kelas tuuh bukan ?”
“Pernah bu, tapi gak banyak.”
“Nah beberapa yang ibu tulis itu merefresh waktu kalian kelas tujuh dulu, inget ?”
“Lupa-lupa inget bu.”
“Ah lagu lama, nah bila kalian sudah nulis semuanya nanti kalian kerjakan yang ada dibuku cetak ya, nanti sekretaris tolong tulis di papan, saya ini ada urusan lain jadi saya harus tinggalin ini. Ibu tinggal dulu ya, nanti istirahat dikumpulin dimeja ibu.”
“Ok aman bu.”
Mereka meregangkan tubuh sebentar, membunyikan tulang pada jari, leher dan juga tulang belakang. Rendra berjalan mendekati Abi dan Hakim. “Boy kemaren gw liat di distro deket rumah gw desainnya lumayan keren men, boleh nih jadi acuan desain kita.” sambil menunjukkan foto diponselnya.
“Eh leh uga tuh coba kasih tau Nara coba.”
Rendra segera berjalan segera ke meja para perempuan. “Nar gw ada inspirasi desain nih, gw liat di distro deket rumah gw.”
“Mana sini coba gw liat.”
“Gimana Nar ?”
“Bagus Ren bisa tuh lu kasih tau yang lain.”
“Yang bisa AI siapa ?” ia menujukan itu kepada para siswi.
“Gw Ren, gw udah lumayan berpengalaman sama AI.”
“Nah gini nih Afina desainnya, kira-kira lu bisa gak buat desain yang setidaknya jadikan ciri khas punya kita ?”
“Justru makin beda makin bagus Fin, lu masukin aja konsep desain lu apa, tema dsainnya juga. lu tuangin aja dah apa yang ada dipikiran lu. Ini acuannya.”
“Oh ok bisa Ren, kirimin gw fotonya nanti ya ?”
“Siap Fin thanks ya.”
“Yoi sama-sama.” lalu ia kembali ke barisan para siswa, ia duduk dimejanya.
“Mas, saya kemaren minggu sore liat desain di distro deket rumah saya mas, kira-kira kalo mas Sem buat versi ciri khas kita gimana mas ?” pesannya kepada Semi secara pribadi.
Semi menerima pesan itu disaat ia tengah memperhatikan pada muridnya yang tenga menggambar, ia duduk dimeja. “Oh mantab tu Ren, bisa sih saya buat ciri khas saya sendiri, nanti saya kirimin hasil akhirnya, kerja bagus Ren.”
“Gw udah bilang ke Afina kaanya dia bisa buat yang kaya gw tunjukin tapi hasilnya bisa beda banget.”
“Bagus dong, Afina emang jago *** kalo main AI.”
“Gw suruh aja dia supaya tumpahin idenya dia ke desain yang bakal dikerjain nanti, jadinya gw gak ngasih pakem ke dia.”
Dering pada ponsel Renda membuat mereka terputus. “Mantab, gw baru kirimin foto yang tadi ke mas Sem, dia bakal desain terus nanti bakal ngirimin hasilnya.”
“Mantab Ren, gw yakin kalo mas Sem desain pasti bakal sadis hasilnya.”
Kembali lagi di lab desain grafis. Terlihat para murid semuanya menggambar, walau beberapa mereka diselingi bermain ponsel tetapi mereka tetap mengerjakan kewajiban mereka. Gambar, hapus, gambar, hapus, lalu buat lagi nama yang sama namun dengan bentuk yang beda.
“Yang udah selesai bisa langsung kasih ke saya ya, biar bisa di acc biar kalian bisa ke langkah selanjutnya biar bisa cepet selesai tugas kalian. Ada yang bisa main AI ?”
“Gak banyak mas.”
“Nah nanti kalo tugas ini udah selesai keseluruhan nanti saya ajarin AI. Solanya kalo kalian bisa main AI auto kaya kalian, percaya sama saya. Apalagi kalo kalian mau kerja dibidang yang kaya saya jalanin, kalian bisa cepet kaya beneran. Kalian bisa AI, bisa Corel kaya kalian beneran.”
“Ajarin dong mas, jangan cuma nyebar omong kosong aja.”
“Nah gitu dong bilang kalo mau. Nanti saya ajarin tenang aja. Saya itu mau ngasih tau gimana rasanya jadi kaya cuma modal desain. Tapi jadinya tugas sesuai keahlian kalian sedikit mundur nih, gimana ? Tapi saya bakal ajarin kalian Corel sama AI tetep.”
“Gak masalah lah mas. Kan selesai PKL kan banyak waktu mas, bisa mas kasih kita tugas sesuai keahlian kita.”
“Ok saya turutin bila kalian mau demikian, nanti saya ajarin kalian. Soalnya bidang yang saya geluti itu bisa photoshop itu kaya kurang diliat begitu, kan photoshop itu lebih ke foto, nah kalo emang buat desain ya kalian mainnya itu di AI sama Corel. Nah cuma kalian yang bisa photohsop, kalian harus tau banyak teknik warna, kaya color grading, color retouch, membuat warna menjadi lebih dramatis, itu biasanya kalo buat foto model. Kalian masih bisa kepake lah, cuma kalo mau lebih kepake lagi kalian mainnya lightroom. Lightroom pasti kalian bisa belajar sendiri di YouTube. Adakah yang udah selesai ?”
“Saya mas.”
“Ok Liana, ke meja saya.”
Sepertinya baru Liana saja yang menghadap Semi, yang lain masih sibuk menggambar. “Liana, kamu mau tracing font apa tracing pake pen tool ?”
“Tracing AI mas.”
“Mantab, kamu ini desainnya ini kaya kaligrafi bagus. Ini semuanya bagus, tetapi saya harus memilih satu, adeuh pr banget.”
Semi memilih satu gambar dari tujuh gambar yang sudah Liana gambar, matanya menyorot gambar dengan tajam, bahkan Liana menatap matanya dan Semi tidak menyadarinya. Semi memutarkan pulpen ditangan kirinya. Ia memutar pulpennya dengan trick thumb around, lalu mulai ke trick yang mulai lebih sulit lagi. Liana yang menyaksikan pulpen itu berputar memusatkan matanya pada tangan Semi.
“Nah, nih yang saya tanda in ya.” dengan cepat ia .kembali focus dan memberik contreng pada gambar Liana.
“Makasih mas.”
“Yo, lanjut Liana.”
Semi mulai mendesain di komputernya, ia memindahkan foto yang Rendra kirimkan ke computer itu, lalu ia mulai membuka AI untuk memulai karyanya. Ia melakukan ini karena murnia untuk menjadikan muridnya menjadi pebisnis. Karena ditengah pandemi ini, amat susah untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka yang kreatif maka mereka akan menciptakan pekerjaan untuk mereka sendiri, seperti contohnya mereka berdagang.
Ia mendesain ikhlas untuk merangsang muridnya untuk semangat mendesain agar mereka memiliki penghasilan sebelum umur mereka dua puluh. Karena seseorang akan merasakan bahwa beban sebenarnya yang mereka akan hadapi adalah mencari uang. Itu juga yang sempat ia alami disaat usianya dua puluh. Pada usia akhir dua puluhan Semi mulai bekerja sebagai desainer, berawal freelance kini ia benar-benar menjadi pekerja freelance yang berpangkat.
“Ok, yang Rendra kirimin itu konsep desainnya lebih ke kaligrafi ya berarti… Ok bagaimana bila gw kombinasikan kaligrafi, ilustrasi dan juga… Ah… Sama background. Ok, mungkin gw akan buat konsep desainnya itu urban kaligrafi dan juga ilustrasi. Ok, itu aja.”
Semi mulai beraksi, jemarinya mulai memencet banyak shortcut untuk memudahkan pekerjaanya dalam mendesain, ia juga tak lupa untuk memperhatikan muridnya yang tengah bekerja, ia juga pasti akan menghentikan pekejaanya bila ada muridnya ada yang meminta untuk di acc gambarnya. Untuk saat ini belum ada, jadi Semi bisa bekerja untuk desain yang ia inginkan.
Photoshop, AI, dan Corel draw. Diantara ketiga itu mana yang memiliki gaji tertinggi ? Jawabannya adalah AI, karena AI adalah sebuah software yang memang dikhususkan untuk mendesain, tak hanya mendesain saja, seorang animator harus menguasai AI. Karena AI sangat berbeda dengan photoshop, berbeda juga dengan Corel draw. AI memiliki banyak tool untuk memudahkan bekerja, namun bila Corel draw maka seseorang harus menyiapkan ruanga yang cukup diotaknya untuk mereka menghafal banyak shortcut. Corel draw, hanya memiliki sedikit tool, namun untuk bekerja jari lah yang bekerja.
Karena untuk bekerja shortcut adalah segalanya di Corel draw. Tetapi apabila seseorang bisa menguasai Corel draw maka ia sangat hebat. Karena software itu memiliki banyak shortcut. Bagaiman dengan mereka yang menguasai photoshop ?
Sebenarnya photoshop juga sebuah skill yang sangat berharga. Tetapi karena sepertinya software itu terlihat terlalu mudah untuk para desainer, jadi mereka sedikit menyampingkan mereka yang bisa menguasai itu. Tetapi bila seseorang bisa menjadi seorang photo editor seperti banyak manipulasi itu akan sangat berharga terutama dalam media seperti itu, bila ia berada didunia modelling maka ia sangat begruna, terlebih lagi ia memainkan Lightroom, ia akan sangat berguna sekali.