How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Pusat



“Permisi pak, apa bisa saya bicara sekarang pak ?”


“Oh ya tentu bisa bu. Karena ibu kan sudah buat janji dengan saya.”


Bu Aya masuk ke ruang kepala sekolah bersama dengan pak Afrian, Semi dan juga mba Riana.


“Waha ko rame nih ? bawa barang juga ?”


“Sebaiknya langsung kami mulai saja pak. Sebelumnya terima kasih telah meluangkan waktu bapak untuk kami semua, karena kami ingin membicarakan sesuatu kepada bapak dan ini penting, karena ini juga menyangkut murid kita kedepannya. “


“Ini… Sepertinya berat bu, tapi kenapa tidak ada yang tegang ya ? Saya jadi gagal paham.”


“Pak Sem mungkin bisa dimulai langsung.”


“Sebenarnya ini memang bukan lah hal yang berat pak. Tujuan saya berada disini dengan membawa barang ditangan saya dan pak Afrian bukanlah sebuah barang yang kami bawa tanpa sebab. Karena saya ingin memberitahu bapak bahwa sebenarnya murid yang sebenarnya bapak bilang bermasalah, mereka hanya membutuhkan seorang tenaga pengajar yang tepat. Pak Afrian bisa dibuka bajunya pak ?”


Pak Afrian membuka delapan bungkus baju, dimana baju itu adalah baju dari murid yang bermasalah, Semi segera meletakkan itu didepan pak Adnan. Pak Adnan segera melihat mereka satu persatu. “Ini… Ini baju yang bagus mas Semi.”


“Delapan baju itu adalah hasil karya dari delapan murid yang bersmasalah yang berada dinaungan pak Afrian. Dengan ini saya ingin meyakinkan bapak bahwa sebenanrya mereka yang bermasalah pintar, mereka hanya membutuhkan seorang pengajar yang tepat. Seperti yang bapak telah lihat, itu adalah delapan hasil karya dari mereka yang bermasalah. Lalu kemasan yang saya bawa ini adalah hasil karya murid saya, dimana murid saya lebih banyak yang bermasalah bukan pak Adnan ?”


“Iya, anak pak Sem memang banyak yang bermasalah.”


“Dengan itu saya ingin menepis stempel itu dari murid anak saya. Silahkan bapak lihat secara sekilas.”


Semi memberikan kode semua berjalan dengan lancer, sedangkan yang lain senyum dengan lebar. “Ini hasil kemasan yang bagus juga pak Sem. Memang murid dinaungan pak Afrian ada delapan orang yang bermasalah, mereka sering membuat masalah sejak mereka kelas sepuluh, dan masalah itu bukan lah masalah yang ringan. Sebenarnya saya bisa saja mengeluarkan mereka pada saat itu juga. tetapi karena saya tidak ingin menyesal, akhirnya saya tetap memberikan kesempatana kepada mereka walau mereka terus membuat masalah. Begitu juga dengan anak pak Semi. Banyak dari mereka telribat tawuran pelajar, dan mereka tertangkap membawa senjata tajam. Tak hanya itu saja pak, mereka juga tidak hormat kepada guru, bukan hanya perintah saja, bahkan mereka seperti tidak menghargai gutu tersebut.”


“Saya mendapatkan keluhan dari murid saya bahwa tenaga yang mengajar mereka mengajar tidak benar. Mereka mengatakan “mengajar seenak jidat” bila benar mereka tidak menghargai guru, tetapi mereka sangat menghargai saya. Mereka sangat menganggap saya, dan cara saya mengajar sangat mencuri hati mereka. Mengajar memanglah hal yang tidak mudah pak Adnan. Karena untuk mengubah seseorang bukan lah perkara yang mudah, ini sangat membutuhkan waktu, proses, tenaga dan juga berbagai cara.”


Pak Afrian, ibu Ayana, dan mba Riana yang berawal tersenyum lebar menjadi sangat serius dalam mendengarkan Semi, mungkin sembari mereka mendengar mereka tak percaya bahwa Semi bisa berkata seperti itu kepada kepala sekolah. Dimana cara Semi berbicara sangat menyentuh hati secara lembut.


“Kunci mengajar adalah, jangan terapkan cara seperti biasa seseornag mengajar. Tetapi ambil hati mereka terlebih dahulu, pahami mereka. Bila seorang pengajar telah melakukan itu murid cepat atau lambat akan merasa nyaman. Dari rasa nyaman itu akan menimbulkan sebuah sifat menghormati, menghargai. Cara saya mengajar bukan lah menggunakan cara saya, tetapi saya mengajar dengan cara yang mereka sukai. Bila mereka menyukai belajar dengan santai, maka saya akan mengajar dengan santai. Dengan begitu mereka antusias dalam mengikuti pelajaran.”


“Saya mengerti pak Semi, tetapi bagaimana dengan mereka yang telah membuat masalah diluar sekolah sana ? Bahkan saya sudah sering dipanggil polisi karena ulah mereka. Saya terus menahan keinginan saya untuk mengeluarkan mereka. Tetapi karena saya mengerti bagaimana psikologi seorang anak remaja, saya tetap memberikan mereka kesempatan, hingga saya sendiri menyesal memberikan mereka kesempatan.”


“Masalah yang mereka sebabkan diluar sekolah memanglah masalah serius, tetapi apapun yang mereka perbuat diluar sana, tingkah laku mereka diluar sana, semua itu pasti memiliki sebab dari dalam. Bapak berkata mereka terlibat dalam tawuran pelajar, mungkin saja mereka tinggal dilingkungan yang terbiasa dengan kekerasan, apakah orangtua mereka yang tidak harmonis, sehingga bagi mereka kekerasan adalah hal yang amat lumrah. Saya pernah menolong seorang pelajar yang terlibat dalam pengedaran narkotika. Saya tidak menilai ia secara langsung, saya bertanya kepada ia.”


“Beuh… Mas Semi bukan kaleng-kaleng cara ngomongnya guru banget.” lirih mba Riana sangat pelan yang hanya bisa didengar dirinya.


“Ia berkata, ayahnya sudah tidak ada, ibunya berpenghasilan kecil, ia tidak ingin membebani ibunya dengan biaya sekolah. Karena ibunya akan bekerja hingga jatuh sakit. Ditahap ini ia tidak bisa disalahkan. Karena bila menyangkut kebutuhan manusia akan rela melakukan apapun. Bahkan seorang actor sederajat Jackie Chan pernah bermain dalam film porno sebelum ia seperti sekarang, itu semua dengan alasana yang sama. Karena mereka dalam keadaaan mereka membutuhkan uang. Saya mengatakan kepada anak itu, “kamu tidak salah. Apa yang kamu lakukan itu hebat dan benar, hanya cara kamu yang salah. Sebiaknya kamu mencari cara yang lain. karena niat kamu sudah baik, hanya cara kamu saja yang salah. Kamu hebat karena kamu nggak ingin orangtua kamu bekerja terlalu keras”, beberapa saat setelah itu ia bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan.”


“Ok  pak Sem, karena saya telah melihat file yang anda berikan untuk meyakinkan saya, dengan ini saya ingin melihat bagaiman pak Sem dalam menangani mereka. Saya butuh bukti nyata. Apakah pak Semi mampu dalam menangani mereka yang bermasalah ? Bila perlu tunjukkan saya sebuah bukti bahwa mereka mereka layak saya pertahankan dalam dunia pendidikan ini. Apa anda bisa memberikan bukti itu pak Semi ?”


“Saya akan kerahkan seluruh kemampuan saya untuk memberikan bukti itu kepada bapak.”


“Sebaiknya pak Semi benar buktikan hal itu kepada saya.”


“Cepat atau lambat apa yang bapak ingin kan akan saya berikan buktinya.”


“Ibu Ayana apakah ada yang ingin dibicarakan lagi kepada saya ibu ?”


“Sebenarnya pak, hanya pak Semi yang ingin berbicara kepada bapak. Dengan adanya kami disini bapak akan mengetahui itu segera,”


“Saya hanya membutuhkan bukti dari ucapan anda pak Semi, bukan hanya sebuah janji manis!”


“Ini diluar itu pak Adnan. Mohon dengarkan saya.”


“Apa yang ingin anda sampaikan lagi ?”


“Saya sangat setuju akan program pak Semi. Karena SMK akan melahirkan murid yang siap untuk bekerja ketika mereka lulus nanti, dengan adanya praktek kerja lapangan kepada mereka, dimana kita semua akan meluncurkan mereka kepada sebuah miniature dunia kerja. Tetapi ketika saya mendengar program pak Semi dimana ia ingin menyuguhkan sebuah miniature itu terlebih dahulu. Bila mereka berhasil menyelesaikan tugas yang telah diberikan, maka mereka akan mudah untuk menemukan tempat untuk mereka praktek kerja industri. Karena mereka telah diberikan tugas seorang pekerja desain, tempat dimana mereka akan menjalani praktek kerja industri akan yakin akan kemampuan yang mereka miliki, selama waktu yang kita tentukan tentu mereka akan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sehingga, ketika waktu mereka praktek kerja industri puas akan hasil mereka, mereka akan mengambil merka bekerja, setelah mereka lulus. Dengan begitu program ini akan mempermudah murid untuk mendapatkan pekerjaan.”


“Baik, ibu Ayana. Setelah mendengar alasan ibu kenapa ibu menyetujui program pak Semi saya sangat setuju. Karena harapan mereka adalah ketika mereka lulus nanti dapat bekerja sehingga mereka dapat meringankan beban orangtua mereka.”


Semi mengangguk dengan senyum, begitu juga pak Afrian dan mba Riana.”Pak Semi, setelah saya mendengarkan alasan bu Ayana mengapa menyetujui program anda. Itu semua sangat masuk akal. Tujuan anda sangat bagus, dan sejauh saya menjadi kepala sekolah saya belum pernah mendengar sebuah misi yang begitu hebat dari sebuah tenaga pengajar. Saya menyetujui program anda pak Semi. Hanya saja jangan berikan tugas kepada mereka yang terlalu berat. Saya takut mereka tak sanggup sehingga memksakan diri mereka dan membrikan hasil yang buruk. Untuk pak Afrian dan ibu Riana apakah anda memiliki pendapat senidri tentang program pak Semi ?”


“Kami sangat mendukung program pak Semi pak Adnan. Saya sangat menyetujui program pak Semi dan alasan kami kurang lebih sama seperti ibu Ayana.”


“Ok, terima kasih pak Afrian.”


“Silahkan bapak melihat semua karya anak pak Afrian, ini merupakan tugas pertama mereka pak.”: pak Afrian meletakkan semua baju itu disamping pak Adnan, dan Semi memberikan semua packaging karya muridnya.


“Saya sangat tertarik akan karya  anak anda pak Afrian, pak Semi.”


“Bapak bisa kabarkan kepada saya dan pak Afrian tentang bagaimana pendapat anda mengenai karya mereka, dan bapak bisa sampaikan pendapat itu dilain hari, karena saya yakin bapak butuh waktu untuk melihat semuanya.”


“Apa ada lagi yang ingin anda sampaika pak Semi kepada saya ?”


“Untuk hari ini, hanya itu yang ingin saya sampaikan kepada pak Adnan.”


“Baik pak Semi, saya akan mengabarkan kepada anda pendapat saya nanti. Terima kasih telah memberitahu saya misi anda yang sangat luar biasa. Saya sudah memiliki angan yang begitu bagus tentang program ini. Masalah cara pak Sem menangani mereka yang bermasalah, kerahkan saja seluruh kemampuan anda pak Sem. Saya sangat mendukung program anda seratus persen, dan saya yakin program ini akan berhasil.”


“Terima kasih pak telah mendengarkan program saya.” Semi dan yang lainnya berjabat tangan kepada kepala sekolah sebagai tanda bahwa mereka saling mendukung.


“Terima kasih telah meluangkan waktunya pak Adnan, saya sangt menghargai waktu yang telah anda berikan kepada kami semua.”


“Oh justru saya yang berterima kasih kepada anda pak Sem, karena waktu yang telah saya luangkan waktu menjadi sebuah waktu yang sangat hebat.”


“Terima kasih pak sekali lagi.”


“Sama-sama pak Sem. Semoga anda sukses dengan program anda.”


“Terima kasih pa katas dukungannya dan juga do’anya. Saya sangat amat menghargai itu semua. Terima kasih pak.” lalu mereka meninggalkan ruangan kepala sekilah dan kembali keruang guru jurusan.


Semi yang kehausan segera duduk dan menenggak habis botol minumnya, begitu juga dengan guru yang lainnya. “Woooh mas Sem gokil! Masih muda tapi cara ngomongnya ekslusif banget.”


“Ia mas Sem, cara mas Sem ngomong itu bener-bener keren banget mas. Saya aja sampe gak nyangka, itu sangat menunjukkan sebuah kecerdasan!”


“Mas Sem lulusan mana si mas ? Keren banget mas cara ngomongnya. Kita yang udah ada disini sebelom mas Sem aja belom tentu bisa ngomong kaya gitu mas, beuh itu mantap jiwa mas!”


"Terima kasih pujiannya mba Riana, bu Aya dan pak Afrian. Sebelumnya saya telah mengatakan kepada bapak dari mana saya lulus. Saya ada rencana untuk melanjutkan pendidikan saya S2 nanti.”


“Oh iya saya lupa, lulusan psikologi gak bisa dikecewakan, hasilnya sangat waw, kalo ada guru kaya mas Sem tiga lagi aja, sekolah ini bakal jadi sekolah favorit mas saya yakin.”


“Mba Riana, suka berlebihan. Sebenernya yang kaya saya masih ada diluar sana, tetapi yang benar seperti saya sedikit.”


“Kita beruntung bu Aya bisa guru kaya mas Sem gini, pemikirannya canggih. Sangat keren.”


“Mas Sem bener-bener hebat dah. Saya aja bingung mau ngomong apa buat mengekspresikannya saking impressnya saya.”


“Terima kasih bu, gak usah berlebihan, saya juga ada kekurangannya, saya hanya mencoba jadi yang terbaik aja, semuanya memiliki kekurangan dan juga kelebihan.”


“Mas Sem lebih banyak kelebihannya dibandingkan kekurangannya.”


Diruang guru mereka semua saling melemparkan pujian kepada Semi tak henti-hentinya. Sedangkan Semi ingin menghentikan pujian itu, tetapi pujian itu tetap datang kepada dirinya.