How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Malam senyum



Semi masih berada diruangan desainnya, kali ini ia tengah bersantai mengangkat kakinya, tanpa musik, ia hanya menatap langit-langit kosong. Bahkan tidak ada yang ia pikirkan pada saat itu. ia tidak tau apa yang ingin ia lakukan, ia sepertinya masih merasa malas. Ya, seperti yang ia katakana tadi. Ditengah lamunannya seorang muridnya masuk menyerahkan semua tugas yang Semi berikan, itu adalah Hakim. Semi bahkan tidak menyadari suara pintu terbuka dan kehadiran Hakim, ia masih melamun. “M…. Mas Sem ?” Semi tersadar, ia menurunkan kakinya dan melihat seluruh tugas yang Hakim kerjakan.


“Ok, saya liat dulu.”


“Maap, mas, kenapa ngelamun gitu mas. Apa ada pikiran berat ?”


“Nggak, saya Cuma gak tau aja mau ngapain, padahal saya ada disekolah bukan dirumah, tadi kamu liat ya saya nyantai ngangkat kaki ? Ya guru juga manusia. Jadi saya pasti masih ada salahnya. Seharusnya saya berikan contoh yang baik bukan ?”


“Iya mas, ya tapi kita semua pasti ada sikap berontaknya pasti.” Semi hanya tersenyum saja.


“Ok Kim, clear, semuanya udah bagus, nanti pas pelajaran saya kamu langsung tanda tangan aja tanda udah ngumpulin tugas.”


“Ok mas, gak keluar mas buat istirahat ?”


“Lima menit lalu anak kelas XII baru aja keluar, saya masih mau istirahat lah. Nanti saya juga ke kantin.” Hakim hanya mengangguk.


“Ok makasih mas.”


“Yop sama-sama Kim.” Hakim meinggalkan ruangan itu, Semi bersandar, mengumpulkan niat untuk keluar dari tempat nyamanya. Ia melangkahkan kaki, mulai menuju kantin. Ia memesan sebuah ketoprak dengan porsi yang cukup besar. Ia mencari meja yang kosong dimana ia untuk duduk. Hingga matanya menangkap Ardine yang terngah berbincang dengan yang lain, dan Semi pun menghampiri.


“Mas Sem, join mas sini.” Ardine dengan senyum lebar menerima Semi, bahkan mereka sedikit membersihkan meja.


“Lagi ngapain ? Ngobrol kayanya ngakak bangat tadi. Jokes apa ?”


“Wah kita kalo ngejokes, apa aja bahannya jadi mas. Mau isu meresahkan pun kita jadikan jokes juga mas.”


“Kreatif kamu bisa mengelola bahan apapun jadi jokes. Sama kaya temen saya, namanya Adit, saya kalo udah ngejokes, apa aja jadi. Bahkan pernah jokesnya delapan belas keatas, tapi ngakak tetep.”


“Tapi kita kalo disekolah jokes kita yang ada aja mas. Misalkan kita kaya biasa lah mas, ghibahin orang, itu kadang kita jadiin jokes.”


“Ghibah boleh, tapi jangan kelewatan. Semua orang pasti pernah.”


“Gak mesen makan mas Sem ?”


“Udah, ketoprak rada banyak, saya lagi laper.” tak lama makanan itu pun datang.


“Saya makan duluan ya ?”


“Bareng aja mas, kita juga baru mau mulai ini.”


“Oh ayo, Din Bi pimpin do’a Bi.”


“Ok mas.” mereka berdoa bersama, setelah itu mereka mulai menyantab hidangan masing-masing. Semi ingin memulai pembicaraan ini. “Ayo main lagi ke rumah saya.”


Ardine tersedak, ia meminum jeruk perasnya, mungkin pertama kali Semi mengajaknya itu karena ada seseuatu yang special, ternyata kali ini Semi mengajak mereka lagi. “Lagi mas ? Beneran emang ngajak kita malmingan atau kemaren ada hal special mas ?”


“Nnggak saya beneran ngajakin malmingan buat besok. Kita ngobrol lagi, mabar lagi kita. Biar kita semakin kenal lebih dalem lagi lah.”


“Ok, mas, bisa. Tapi nanti kita kabarin kelas dulu sih mas, siapa aja yang mau ikutan mas.”


“Ok, nanti kaya biasa kalo udah waktunya jam saya, langsung aja ke lab. Nah karena kalian itu udah selesai ngerjain tugasnya, jadi saya akan liat sedikit hasil kerja kalian. Nah abis itu kita desain kaya biasa. Buat nunggu waktu abis. Ok ?”


“Ok mas, mantul.” Semi mengangguk, lalu mereka melanjutkan menyantap hidangan mereka.


-


“Ok, tugas kalian udah selesai, nah berarti Selasa besok kita mulai belajar main AI karena kalian udah banyak yang minta, jadi saya kasih apa yang saya minta. Udah pada tanda tangan juga, jadi kita kembali lagi mengurus bisnis kita. Yuk apa ada laporan baru ?”


“Mas usul, jaket gimana ?”


“Diterima, pasti itu Linara. Jadi kalian mau ambil jaket juga ?”


“Yoi mas.”


“Ok silahkan. Apa ada yang lain ?”


“Sweater mas ?”


“Pasti Kim, yang lain ?”


“Crew neck mas.”


“Ok, silahkan kalian beli apa yang kalian inginkan. Apakah ada kemajuan dari dari bisnis kalian ?”


“Oh jelas mas. Kemaren kalo gak salah saya nambahin desain satu mas, terus langsung dibeli couple mas. Emang saya desainnya couple.”


“Nice, keren kamu Ren.”


“Oh ya mas, banyak yang mau desain karikatur mas. Kita hampir keteteran mas.”


“Berapa banyak yang belom dikerjain emang Bi ?”


“Ada tujuh lagi apa kalo gak salah.”


“Lalu bagaimana yang buat kasih ke surprise ke pacar ?”


“Sukses mas. Pacarnya sampe kaya mau nangis terhura mas.”


“Ok mantab Fina. Nah jadi kalian silahkan mendesain, apa kalian mau jaket silahkan desain itu, yang mau crew neck silakan desain itu dan seterusnya. Ok ?”


“Masih ngerasa males juga mas ?”


“Masih Kim, gak tau napa rasanya males aja saya. Kesurupan kali saya, jadi tiba-tiba males.”


“Kan lab ini bekas tanah kuburan mas.”


“Alah, mulai deh. Iya aja sih saya, kan kita bekas penjajahan Belanda sama Jepang, jadi kita mana tau sekolah ini bekas tanah apa.”


“Au lu Kim, masih aja mau bahas gituan, lau kira masih SD, hal kaya gitu dibahas.”


“Nggak nape si Din, seru aja bahas gituan. Jadiin jokes sekalian.”


“Oh iya bener juga, setan di Indonesia udah gak ada harga diri anjay. Kesian gw.” Semi hanya tersenyum saja mendengar itu, negara ini memang unik. Hantu di permalukan, polisi ditantantang, alangkah uniknya negeri ini.


Waktu pulang, pun datang. Waktu yang sanga dinantikan Semi, karena setelah melakukan ibadah Jum’atnya ia ingin tidur sampai sore nanti, mungkin sampai malam bila bisa, entah kenapa rasanya ia malas saja. Semua orang pasti pernah mengatakan malas, tetapi ketika ditanyakan apa alasannya, maka hal itu akan muncul lagi. Maka hal itu tengah berada dalam diri Semi.


Ia baru saja kembali dari ibadahnya, ia segera menuju ranjangnya, ia segera melepaskan pakaiannya, ia hanya tidur dengan menggunakan celana pendek, ia tidak menggunakan baju dalam tidurnya. Entah berapa lama Semi akan tidur siang, mungkin saja ia akan terbangun malam nanti, atau mungkin saja sore. Tidak ada yang mengetahui itu juga kecuali dirinya.


Pukul 17.30 sore, ia hampir saja melupakan ibadah sorenya, ia segera bangkit dari ranjangnya lalu melakukan ibadahnya. Setelah itu ia makan, karena sebenarnya disaat ia pulang ibadah Jum’atnya ia kelaparan, tetapi ia tidak ingin makan siang saat itu, jadi ia merasa kelaparan pada sore hari ini. Ia merebus kentang dan ubi unruk ia makan. Iya Semi hanya makan itu saja ia sudah cukup lama tidak makan nasi. Karena ia sudah memiliki rumah sendiri jadi ia bisa memilih apa asupannya.


“Halo Man. Man gw hari ini gak bisa ke café Man, lu bisa kan ngawasin café ? Wildan juga lagi ngurusin tanah buat buat buka cabang baru. Gw juga mau ke restoran gw. Bisa kan Man ?”


“Ok makasih ye Man.” Sulaiman, temannya dulu semasa SMK, ia mempekerjakan dirinya sebagai manager karena disaat itu keadaan ekonomi keluarganya cukup memperihatinkan, melihat itu Semi segera turun tangan. Semi masuk ke kamarnya mengganti bajunya, ia mengenakan baju lengan panjang biru dan juga celana panjang hitam. Ia menggunakan mobilnya, mobil Fortuner, salah satu mobil impiannya, kini ia bisa memilikinya. Ia sebenanrya memiliki angka yang panjang didalam rekeningnya, tetapi ia tidak ingin membeli mobil mahal, ia lebih memilih investasi, karena itu akan lebih panjang berlakunya.


Semi datang, ia terkesan tidak seperti pemilik dari restoran itu, ia segera mengambil tempat duduk dekat jendela, lalu ia bertemu dengan manager. “Sem, gw udah buat laporan hari ini Sem.”


“Mana Fir ?” FIrti, managernya yang sangat ia percaya. Ia sudah bekerja dengan Semi kurang lebih empat tahun.


“Sayur bulan ini kita boros juga. bukannya dua minggu lalu baur dateng sayur sekitar berapa puluh kilo lupa gw.”


“Lima belas apa dua puluh gitu…. Dua puluh lima. Iya Sem boros kita minggu ini sayur.”


“Menu apa yang sering di masak ?”


“Cap cay, beuh laku bat sekarang itu menu.”


“Bagus lah. Yang buat itu anak tata boga yang baru lulus beberapa bulan lalu ya ?”


“Iya, mantab emang.”


“Ok, keren. Kalo yang lainnya kayanya masih aman si. Tapi daging kayanya udah mau abis juga, hari ini deh Fir beli lagi daging, sekitar…. Eh… Sekitar…. Empat puluh kilo dah. Pesen sekarang Fir, kalo misalkan besok abis kan gak enak bangat, masa iya pelanggan mesen daging malah abis.” Semi hening, sepertinya ada yang tidak benar. Semi meninggalkan meja itu, Firti mengikuitnya.


Ia melihat.seorang kepala chef tengah memarahi chef yang lain. Semi turun tangan. “Jangan dibuang! Berapa banyak orang diluar sana menghrapkan makanan gak enak ini. Gw yang makan. Inget pesan itu Do.” Rivaldo memang sudah lama bekerja disitu, bahkan lebih lama dari Firti.


“Sorry Sem. Cuma gw gak mau aja pelanggan komen.”


“Tenang aja, nanti gw yang nganterin langsung.”


“Yasmin, kamu buat lagi aja, kalo udah selesai saya yang anterin itu.”


“Ok mas Sem.”


“Maap Sem.”


“Gak masalah Do, Cuma jangan ulangin aja, itu.”


“Ok, sorry Sem.” Semi meninggalkan ruangan itu, ia membawa makanan yang akan di buang awalnya. “Fir udah makan sore Fir ?


“Belom Sem.”


“Yaudeh, makan sama gw.” Semi mengambil dua piring untuk mereka makan bersama. Mereka kembali duduk ditempat yang sama. “Emang Rivaldo itu udah sering kaya gitu ?”


“Nggak, baru kayanya. Terakhir gw liat kaya gitu, mungkin sekitar setahun ada kali.”


“Oh, berarti emanglagi naik darah aja dia. Gak masalah.”


“Lu yakin mau ngasih ke pelanggan sendiri ?”


“Iya, sebagai permintaan maaf gw. Gak masalah walau gw owner restoran ini.”


“Ok, lanjut lagi… Jadi kopi dari daerah juga udah mau abis Sem. Terutama teh kopi yang dari padang itu.”


“Wah ribet ini, pesen sekarang deh Fir, dari padang masalahnya. Kira-kita masih bisa buat berapa gelas lagi ini ?”


“Mungkin bisa sekitar tiga puluh gelas bisa.”


“Nah, lumayan lah masih aman, tapi sedia payung sebelum ujan.”


“Ok gampang.”


“Ada lagi kah ?”


“Buat bahan baku kebab si Sem.”


“Nanti gw pesen dari telpon restoran aja lah gampang itu.”


Semi terus berbincang dengan Firti sambil makan bersama, mereka membincangkan banyak hal hingga malam datang. Sudah pukul 20.00 malam. Ia sudah membeli persediaan untuk pesanan kebab, ia sendiri yang meluncur untuk membelinya, karena bila menunggu mereka untuk mengantar akan memakan waktu lama.


Ponselnya bordering, ibundanya menelfon. “Halo nak ?”


“Halo bu kenapa nelpon ?”


“Cuma mau tau kondisi kamu aja nak. Dimana kamu nak ?”


“Direstoran bu. Ibu udah makan bu ? Apa mau makanan kesukaan ibu dari restoran aku bu ?”


“Iya boleh nak. Ibu belom makan nak sama bapak. Kapan kamu nak mau main ke rumah nak ?”


“Besok bu, mungkin pagi aku ke sana bu. Pulang sore.”


“Yaudah nak, jaga kesehatan nak, pandemi belum selesai, jadi jaga kesehatan kamu selalu nak.”


“Iya bu pasti.”


“Yaudah Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam bu.” Entah kapan terakhir kali Semi pergi ke rumah orangtuanya, yang jelas ia masih menjalin hubungan baik dengan kedua orangtuanya.  Ia pindah ke dapur, melihat bagaimana kesibukan dapur itu, dimana para robot alami bekerja tanpa henti, keringat hujan deras dari tubuh mereka, entah mereka sudah makan atau belum. Semi melihat itu menunduk, ia bisa senang karena penghasilan dair restorannya, tetapi belum tentu dengan mereka. Semi mengangguk.


Pukul 22.30 malam. “Tutup aja ini kita sekarang.”


“Iya juga sih, soalnya pelanggan juga mulai sepi.”


“Yaudah, Rag, kalo udah sepi langsung tutup aja.”


“Ok Sem.”


Akhirnya restoran itu sepi. Mereka sudah tutup, Semi segera menuju dapur. “Eh sorry banget guys. Tapi ada tamu special mau dateng male mini, mereka juga baru mau dateng sekarang. Sorry banget, kalian kasih menu terbaik ok ? Makanan minuman, camilan semuanya yang terbaik ok ? Oh ya, mereka itu ada lima puluh orang, bisa kan ?”


“Bisa Sem tenang, bisa gw manage itu.”


“Ok Do. Ok guys ditunggu ya.”


Semi duduk di meja khusus, meja yang memang khusus untuk pertemuan pribadi atau keluarga. Hingga akhirnya pukul 22.50 malam mereka semua selesai. Semua makanan selesai, lima puluh orang itu pun sudah berkumpul. “Sem dimana tamunya Sem ? Udah mau jam sebelas malem belom dateng juga.


Semi menegakkan tubuhnya, ia tersenyum. “Kalian semua tamu special.” disitu ada pelayannya, security, dan juga para chef. “Kalian semua memasak menu enak setiap hari, tetapi belum tentu kalian bisa merasakan menu itu. Kalian bisa membuat pelanggan kenyang, tetapi kalian belum tentu kenyang. Jadi, kalian silahkan duduk. Apa yang kalian masak, untuk kalian pula lah. Silahkan duduk.”


Semua chef, security, pelayan segera duduk, tak sedikit dari mereka tersentuh karena itu, mereka semua makan dengan lahap, tak sedikit juga dari mereka ada yang menangis. Semi melebihi seorang pemilik restoran, ia memiliki hati yang special, hati yang belum tentu semua manusia miliki. “Walau saya membayar kalian dengan gaji, tetap saja, jasa kalian tak akan bisa saya bayar. Walau setiap dari kalian saya belikan rumah mewah sekalipun. Gaji kalian saya sudah transfer, jumlahnya dua kali lebih besar. Jadi malam ini malam khusu untuk kalian. Jadi saya mohon nikmati seluruh hidangan ini.”


Semi tersenyum puas, ia bisa membuat seluruh pekerjanya senyum. Ia tidak suka melihat sebuah kesedihan dan juga kesusahan, karena ia bisa senyum dan senang setiap hari, ia memutuskan untuk membagikan kebahagiannya. Terlihat wajah dari mereka yang tersenyum, mereka yang bekerja didapur dapat merasakan bagaimana lezatnya menu yang mereka masak setiap hari, para security pun yang mungkin hanya bisa membayangkan hidangan restoran Semi, kini mereka bisa merasakannya juga. Sungguh, malam itu dipenuhi senyuman yang tak akan padam.


“Mulai hari ini, saya akan mengadakan hal ini lagi. Jadi bila nanti kalian ada yang ingin membawa keluarga silahkan. Karena ruangan ini masih sangat kosong, jadi saya dengan senang hati kalian membawa keluarga kalian untuk membagikan kebahagiaan ini.” mereka tersenyum, senyuman yang amat berarti.