
Semi berjalan meninggalkan ruang kepala sekolah dan berjalan ke kelas XI MM II dengan santai, wajahnya tersenyum karena ia tak sabar untuk melihat hasilnya bagaimana ketika mereka mendapatkan uang langsung dari kepala sekolah. Semi mengetuk pintu kelas.
“Hello ?”
“Kenapa mas ?”
“Salma sama Oktavia ada ?”
“Ada mas kenapa ?” Semi segera menghampiri mereka berdua dan memberikan amplop yang Semi pegang.
“Buka aja.” mereka membuka amplop itu dengan cepat karena mereka penasaran.
“Uang pego isinya!”
“Sama gw juga, tapi ada foro kepala sekolah.”
“Iya gw juga ni.”
“Mas pak Adnan beli baju kita ya mas ?”
“Iya, pak Adnan beli baju kalian, didalemnya ada surat ungkapan bahwa dia suka banget sama baju kalian, baca aja.” mereka segera membuka surat itu, mereka membaca surat itu dengan cepat dan mereka tersenyum.
“Terima kasih mas.”
“Iya sama-sama, jadi sekarang mindset kalian kalo buat tugas, kasihnya ke kepala sekolah. Pasti kalian langsung bakal mikirnya buat berikan yang terbaik bukan ?”
“Pasti mas, kalo tau begitu kita bisa kaya mas dari kepala sekolah kita.”
“Bisa jadi. Sekarang gitu ya mindset kalian ya ? Kalian buat tugas bukan buat saya, tapi buat kepala sekolah. Salma, Okta kalian tingkatkan ya. Kalian juga jadikan kedua temen kalian ini motivasi kalian ok ? Kalo motivasinya uang pasti semangat kan ? Apa motivasinya perlu perempuan ? Ada kah yang jomblo ?”
“Banyak mas, saya aja jomblo mas.”
“Gak apa-apa. Saya aja jomblo dua puluh lima tahun lo, sekarang udah mau nikah. Jangan insecure kalo kamu jomblo. Kamu bisa sombongin bahwa kamu jomblo tapi bebas, tajir. Ya bilang aja begitu walau sebenernya nggak ok Rahdan ?”
“Ok lah mas kalau begitu.”
“Ok saya tinggal ya terima kasih,”
“Yo terima kasih mas.”
Semi segera pindah ke kelasnya untuk mengatakn sebuah tugas kepada anaknya. Begitu dekat dengan kelasnya ia segera masuk tanpa permisi dan tanpa ketukan.
“Mas Semi mas Semi.” kaget Abi karena melihat Semi yang masuk tanpa persmisi dan segera duduk didepan mereka.
“Santai aja jangan panic saya nggak mau negur kalian. Saya mau ngasih kalian tugas yang sama kaya anak XI MM II. Kalian harus desain kaos nanti di sablon atau diprint, nanti malem kita gmeet. Kalian desain aja dulu. Atau kalo kalian belom bisa desain kita riset pasar aja si, berapa harga kaos sablon dipasaran, harga sablon kaos sama print kaos berapa. Gitu aja sih sama lima dari karya packaging kalian dipajang sama pak Adnan diruangannya. Itu punya Vira, Hakim, Ghifari, Albertus, terus sama Diana. Selamat ya kalian diakui sama kepala sekolah bahwa kalian itu pinter. Good job.”
“Beneran mas itu ?”
“Iya, ada diruangannya pak Adanan, dia sendiri yang bilang. Kalian tingkatkan lagi ya, jadi sekarang mindset kalian adalah kalian mengerjakan tugas untuk pak Adnan bukan buat saya. Buat sebagus mungkin, karena kalo bagus pak Adnan mau beli kaos kalian lo. Gak menutup kemungkinan saya juga mau beli kaos kalian. Bahkan guru profuktif juga, bu Ayana juga mau beli kaos kalian nanti. Jadi kalian berikan yang terbaik ok ? Motivasinya udah ada tuh uang. Bisa nanti malem ?”
“Bisa mas gak masalah.”
“Ok kalo nanti malem kalian gak kelar riset harga sama desainnya bisa dilanjutin besok, kan besok pelajaran saya jam pertama kan ? Nah disitu nanti kalian lanjutin deh, kan jam saya sampe kalian istirahat nanti bisa kah guys ?”
“Bisa mas.”
“Ok saya tinggal ya.”
“Ok makasih mas.”
“Yop sama-sama.”
Semi kembali ke ruangan pak Adnan untuk mengambil kaos yang diproduksi anak pak Afrian, tak lupa juga ia mengambil pacakaging karya anaknya. Lalu ia kembali ke ruang guru jurusan untuk bertemu dengan pak Afrian, bu Ayana dan mba Riana. Semi segea duduk dimejanya dengan wajah senang.
“Nih pak, bu sama mba. Kaosnya udah diliat sama kepala sekolah, jadi bisa dibeli hari ini juga bu. Saya mau ngisi nilai buat mereka dulu nih, lumayan ada sejam.”
“Nah gitu dong mas Sem kan kita bisa beli baju baru tanpa harus ke mall. Ya kan bu Aya ?”
“Yoi lah mba Ria. Bisa nih saya pake atau buat anak saya nanti.”
“Pak Afrian maruk nih, saya juga mau pak sisaain buat saya sama bu Aya pak.”
“Ya kan saya liat aja belom mba Ria, gimana saya bisa borong ? Mas Sem udah ada yang dibeli mas Sem ?”
“Udah ada pak, satu. Saya beli pego pak. Saya bayar didepan kelas keanaknya.”
“Mantab mas Sem. Kalo gini caranya tinggal tunggu aja ni siapa tau mereka jadi wirausahawan.”
“Saya juga berharapnya juga gitu pak.”
Semi mengisi nilai untuk murid pak Afrian sampai bel berbunyi tanda pulang. Ia segera pulang kerumahnya untuk beristirahat sebentar. Tetapi yang ia dapatkan adalah calon istrinya ada dirumahnya. “Najwa ? Ko kamu dirumah aku sih ?”
“Oh suamiku udah pulang.” Najwa segera memeluknya erat, sedangkan Semi tidak membalasnya karena tahu belum menikah, lalu Najwa melepas pelukannya.
“Cape ya ? Sini kubawain tas kamu.” Semi masuk ke rumahnya sambil menunggu pertanyaan calon istrinya.
“Say, jawab pertanyaanku.”
“Kan aku punya kunci cadangan rumah ini. Kadang kamu suka lupa sama kunci rumah kamu sendiri.”
“Yaudah, yang penting kamu gak salah gunain aja.”
“Masa iya aku salah gunakan rumah suamiku sih. Kan aku mau jadi istri kamu sebentar lagi.” dengan tatapan manja kepada Semi.
“Yaudah, aku mau tidur sampe sore nanti ya, tolong jagain rumahku.”
“Paling bentar lagi aku juga tidur, semalem bangun jam tiga karena gak bisa tidur. Aku tidur sama kamu ya ?”
“Gak usah ngadi-ngadi!”
Semi segera masuk ke dalam kamarnya dan segera tidur siang hingga sore nanti.
-
Sudah sore, pukul 17.00 sore. Semi bila tidur siang ia mampu tidur hingga lima bahkan enam jam. Ia bangun sendiri, terkadang kucingnya yang membangunkannya. Atau Nawa yang membangunkannya, terkadang Najwa juga heran bagaiamana Semi bisa tidur selama itu padahal bukanlah tidur malam.
“Say aku pulang ya ?”
“Yaudah hati-hati ya.”
Najwa meninggalkan Semi begitu saja, Semi masih terkantuk-kantuk disofa coklat panjangnya. Tak jauh dari situ ada kedua kucingnya yang tengah saling mengejar satu sama lain. mungkin mereka akan kawin. Tak lama Semi bangkit, ia ke toilet karena ia belum melaksanakan kewajibannya.
Setelah ia selesai melaksanakan kewajibannya ia makan dengan porsi yang cukup banyak, biasanya ia tidak makan sebanyak itu. Mungkin ia sangat lapar. Ia tak makan terlalu banyak karena menjaga tubuhnya, tubuhnya yang sudah ia bentuk susah payah dan memakan waktu yang sangat lama. Tak mungkin ia mengkhianati usahanya sendiri. Mungkin untuk sore ini ia sangat lapar.
Jam demi jam lewat. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Kini ia tengah duduk dikomputernya untuk memulai panggilan video bersama muridnya. Setelah ia memulai panggilan itu tak lama banyak muridnya yang sudah bergabung. “Malam guys, apakah kita bisa melihat desain kalian ? Atau kalian mau riset harga dulu ? Senernya tugas ini udah beberapa lama saya kasih ke kelas sebelah, baru kalian. Jadi ada yang bisa kita liat kah desainnya ?”
“Liat aja ya mas, nanti benerinnya disekolah ?”
“Ok silahkan Abi.”
“Udah keliatan mas ?”
“Udah ni. Ok jadi kalo saya liat ini masih sketsa ya ? Pasri kalian cape yak arena saya kasih tugasnya mendadak ? Sorry ya guys gak bermaksud begitu. Karena besaok saya mau kasih kalian kejutan.”
“Ya gitu sih mas, rada cape. Tadi aja baru bangun jam setengah enam.”
“Ok sorry ya Abi iba saya jadinya.”
“Gak masalah mas.”
“Jadi ini masih sketsa ya ? Ok nanti panjang lebarnya disekolah aja ya, by the way desainnya bebas ya, apa kalian mau pake tulisan aja atau mau pake gambar. Lalu siapa aja yang udah desain dan siapa yang belom, saya gak bakal marahin kalian.”
Rata-rata mengangkat tangan mereka pada gmeet. “Oh jadi mayoritas kalian belom desain, ok gak masalah. Jadi kita sekarang riset harga pasar aja dulu deh. Supaya kalian gak insecrute sama yang udah ngedesain.”
“Ok makasih mas.”
“Yop, ok yang mau ngasih tau harga pertama ? Kita ngomong sambil santai aja. Kaya saya bilang, kita sersan, serius tapi santai.”