
“Sem, kamu udah mau berangkat ?”
“Iya, ini aku tinggal jalan aja, kamu kapan mau pulang ?”
“Kamu mau jalan, aku pulang.”
“Aku anter sekalian.”
“Jangan say, nanti kamu telat gimana ?”
“Kamu pengertian juga ternyata.” Semi membawa tasnya. “Aku mau jalan sekarang.” Najwa keluar bersamaan dengan Semi. “Ya udah bye bye.”
“Eh… Bentar lagi inget.”
“Oh… Iya aku hampir lupa.” hampir saja, Najwa ingin melayangkan kecupan kepada Semi, namun Semi mencegah itu, karena sebentar lagi mereka akan bebas melakukan apapun nantinya.
Semi menaiki motornya, lalu melaju dengan cepat. “Kalo kamu bisa buat anak lain pinter, berarti kamu bisa buat anak kita pinter juga dong Sem ?” monolog Najwa memperhatikan Semi.
Di sekolah, tampak sudah banyak murid yang berdatangan dan juga berada di lapangan, karena sebentar lagi akan diadakan upacara bendera. Jadi banyak yang sudah berada di bawah, ada petugas, guru dan juga peserta. Semi setelah sampai segera pergi ke ruang guru untuk meletakkan tasnya dan berkumpul dengan guru yang lainnya.
Upacara di mulai dnegan hikmat, semuanya mengikuti upacara tanpa ada hambatan. Ketika selesai pun semuanya berjalan lancar, tidak ada juga yang menghambat ketika selesai. Karena biasanya ketika upacara sudah selesai ada saja basirsan yang tidak di boleh kan untuk bubar, dan di situ lah jantung mereka berdebar.
Semi segera memasuki ruangannya, menunggu anak pak Arian untuk datang menemuinya, Semi kembali melakukan Shadownya, dimana ia mengangkat kakinya sambil menikmati musiknya, seleranya yang sepeti biasa. Keras dan tidak bisa dinikmati oleh orang biasa. Sesekali ia mengikti liriknya walau ia tidak bisa melakukan scream, padahal ia sangat berharap bisa melakukan itu. Rasanya aneh bila menyukai Metal tetapi tidak bisa memainkan gitar dan tak bisa melakukan scream. Setidaknya ia bisa memainkan gitar.
Pintu terbuka, mereka datang, syukurnya Semi sedang tidak mengangkat kakinya, ia sedang duduk seperti biasa, lalu mereka segera duduk di tempat mereka. “Ok, selamat pagi kalian para calon orang kaya.”
“Weh aminnn mas do’a di Senin pagi ini.”
“Bagaimana dengan bisnis kalian ? Ayo sini ngumpul tengah dong, kita saya itu mengangap kalian itu seperti sahabat. Jadi deketan dong.” mereka mengerubungi Semi dengan tetap menjaga jarak. “Bagaimana bisnis kalian ?”
“Mantab mas, kita udah ada lima desain yang di beli, udah gitu kita pasang harga segitu juga gak ada yang nego mas. Langsung di telen bulet-bulet harganya.”
“Harganya berapa emang ?”
“Kita pasang harga sekitar pego lah mas. Kita juga udah riset harga itu mas.”
“Beuh mantab dong kalo mereka mau nelen harga segitu tanpa nego. Itu desainnya siapa aja ?”
“Itu ada desainnya Lucky, ada Arian, ada Bintang, punya saya juga ada, terakhir desainnya mas Sem. Desainnya mas Sem yang kita taro harga paling tinggi, dua setengah mas. Laku mas.”
“Keren, kalian emang berbakat di bidang kalian ini. Kalia tau gak kenapa saya suruh kalian buat berbisnis kaya gini ?”
“Revolusi industry mas, di mana tenaga manusia di kurangin mas, jadi kita harus bisa berwirausaha, supaya kita gak gigit jari.”
“Mantab Lucky.”
“Ini juga misinya mas Sem, menyiapkan supaya kita menjadi pebisnis muda.”
“Itu yang ingin saya bicarakan pada pagi ini. Apa yang kamu sebutin tadi itu bener semua Luck, tapi ini semuanya ada maksud pribadi saya, dan ini cukup dalem.” mereka terdiam menunggu Semi untuk berbicara. “Saya suruh kalian buat berbisnis itu supaya kalian bisa merasakan bagaimana rasanya kalian bisa mempunyai uang banyak dengan jeri payah kalian sendiri. Karena dulu saya waktu umur dua puluhan, saya itu pengen banget punya uang bnayak, ada keinignan bergaya kaya orang di tiktok.”
Semi membunyikan jarinya. “Di saat itu saya cuma bisa bergaya seadanya, make baju paling dari abang, beli kaos polos sekitar tiga limaan. Saya punya uang di ATM cuma ada dua juta, kalo saya pake buat bergaya pasti abis sehari, jadi milih buat saya tabung. Dari situ saya mulai buat kerja freelance, membuat desain, saya kirim cerpen, dari situ saya mulai bangkit, sampe saya lulus kuliah, saya sangat bersyukur saya punya uang yang cukup banyak dan murni uang sendiri, yaitu delapan juta. Saya tabung. Saya segera cari kerjaan, saya di terima di tempat yang memang bergerak di dunia desain, awalnya saya kerja lumayan lah gajinya, sekitar tiga jutaan. Karena saya semakin meningkat kemampuan saya, saya mendapatkan kenaikan upah, saya juga di berikan tugas desain yang lebih berat dan saya berhasil, terus menerus sampai akhirnya saya bisa buat infest sendiri. Intinya, saya gak mau kalian merasakan ingin bergaya seperti orang di sosmed tapi kalian gak bisa. Itu sakit.”
Lucky mengangguk, di ikuti oleh Angel juga. “ Jadi saya punya program ini supaya saya bisa membantu kalian semua, supaya kalian semua bisa langsung kerja, kaian bisa bantu orangtua kalian. Tapi saya tambahkan juga program khusus, dimana saya meminta kalian untuk berbisnis. Kebayang gak misal kalian nanti udah kerja, gaji gede, terus punya sampingan yang juga hasilnya gede. Terus misal kalian cape sama kerjaan kalian. Kalian tinggal duduk depan laptop, desain uang dateng. Enak gak ?”
“Pasti mas.”
“Mau gayaan orang kaya di tiktok bisa. Jiwa remaja, ingin show off. Kalian bisa, itu pasti seneng, ditambah itu adalah jeri payah kalian sendiri. Kalian berhak untuk sombong, tapi inget juga untuk berbagi, niscaya akan menjadi kaya dalam waktu lebih cepat. Nanti kalian pacaran bisa kaya orang di tiktok, makan di restoran, bisa punya mobil mewah. Rumah mewah, nikah. Kalian pasti mau kan ? Apa lagi yang udah ada rencana yang mau nikah muda, kalian bisa wujudkan itu langsung. Itu tujuan program saya. Saya ingin kalian merasakan nikmatnya uang hasil jeri payah sendiri. Karena rasanya itu bangga banget, apa lagi udah sampe punya rumah. Beuh, tak tergambar kan nikmatnya kaya apa.”
Muridnya tersenyum hangat mendengarkan tujuan sebenarnya program ini. “Jadi, kalian jangan pernah putus asa buat bangun bisnis ini. Tidak ada juara tanpa luka berarti padanya, jadi apapun rintangannya hadapi aja. Karena bola basket buat mantul tinggi harus di banting keras banget. Silahkan mencetak uang lagi kalian semua. Kalahin Sisca Cohl, kesel gak si liat orang kaya karena orangtuanya ? Bila ia maka mulai lah kalian mendesain. Lewati mereka semua. Buktikan kalian bisa lebih kaya dari mereka.”
“Status hari ini boy.”
“Jadiin story ig Luck ?”
“Yoi mas.”
“Mantab. Silahkan kerjakan, tanamkan motivasi itu di kepala kalian.”
“Kuy desain boy! Kalahin bocak tiktok gak jelas itu. buktikan kita bisa lebih kaya dari mereka boy!”
“Kurang lebih uang murni kita ada satu jutaan mas. Itu pun ada uang yang saya sebutin tadi mas.”
“Awal yang baik satu juta. Desain lagi biar kalian bisa menambahkan dua angka di ATM kalian, saya bantu pasti.” Semi pindah ke kursinya, membuka AI dan mulai membantu muridnya. Sepertinya efektif dengan memberikan motivasi berdasarkan pengalaman pribadi. Wajah mereka terlihat serius dalam mendesain, sepertinya mereka menanamkan motivasi tadi di kepala mereka, sehingga mereka sangat semangat.
Semi mengirimkan lima foto kepada lima muridnya, itu adalah tugas dimana mereka harus menjadikan mereka karikatur, teman Semi yang cantik pastinya. Akan ada imbalan juga untuk tugas mereka.
Semi menyalakan lagu yang terhubung kepada speaker yang berada di lab itu, tak terlalu keras volumenya, Semi memutar sebuah video dari lagu The Script dengan judul Hall of Fame. “Anjay mas, lagunya buat motivasi banget ini mas.”
Semi tersenyum, dan mulai bekerja. Musik dengan pesan penuh motivasi itu membuat mereka semakin semangat. Karena di jaman seperti ini musik menjadi mood booster, sehingga seseorang bisa menjadi lebih semangat dalam bekeja, mereka juga.
Semi menggunakan Adobe Illustrator untuk membuat sebuah font script yang indah, mengapa harus Illustrator ? Karena dengan menggunakan Illustrator seseorang bisa menciptakan sebuah font, ya jadi mereka bisa menciptakan font yang mereka inginkan, dan mereka tentu saja bisa menjual font itu, tetapi Semi membagikan karyanya dengan cuma-cuma. Selain itu mereka yang bisa menggunakan Illustrator mereka adalah desainer yang sangat hebat, karena banyak sekali perbedaan software itu dengan Photoshop dan juga Corel Draw. Corel Draw juga terbilang sulit, karena hanya terpampang beberapa tool saja, selebihnya jari yang bermain.
Font yang setengah jadi itu menjadi sebuah perhatian untuk anak pak Afrian, mereka mulai mengambil ponslenya dan merekam momen itu untuk di jadikan story. “Liat boy, guru gw bukan kaleng-kaleng, buat desain pake font script aja keren banget.” rekam Lucky.
“Guru gw ganteng, udah gitu jago desain lagi.” tulis story Angel dan ditambahkan bahasa Korea yang artinya adalah I love you.
Mereka hanya merekam momen itu untuk story sosial media mereka, mereka tidak riuh, bagus. Karena itu membuat Semi tetap fokus dalam pekerjaannya. Mereka mengangumi karya Semi dalam diam, mereka hanya berbisik memuja bagaimana bagusnya desain Semi.
“Cuk ini desain walau flat tapi estetikanya dapet banget asli dah. Kan istilahnya tulisan tangan kalo udah bagus rasanya betah kan ya liatinnya ? Nah ini tuh kaya tulisan tangan yang indah begitu lu tau kan gimana ?”
“Tau gw Luck. Wah ini auto banyak si yang bakal beli yakin gw.”
“Gw juga ngerasa gitu Yan, kata gw sih paling banyak perempuan, paling sepantaran kita. Menurut lu dua ratus ok gak ?”
“Ok sih, bagi gw terjangkau men. Karena ini kan seharusnya mahal ya. Kalo ini jadi font dari A sampe Z ini di jual bisa lima puluh Dollaran lo.”
“Wah iya si, keren pemikiran lu Yan.” bincang Arian dan Lucky.
“Gw itu sumpah dah cinta banget sama font script. Ini bagus banget demi alek dah. Pinter banget mas Sem.”
“Sama gw juga.”
“Menurur lu Mel, ini kalo dua setengah worth it gak ?”
“Gw aja penrah liat font di jual sekitar lima puluh delapan Dollar.”
“Anjay mahal aja. Worth it lah ya dua setengah ?”
“Worth it lah Angel.” Angel mengangguk dan kembali menatap desain Semi.
“Bagaimana sudah jadi kah satu desain kalian ?”
“Masih ngerjain mas.”
“Cukup waktu kalian buat satu atau dua desain sih. Ayo mana semangatnya ? Kan udah saya tanamkan movitasi kepada kalian.”
“Bakal selesai ini mas satu desain.” jawab Lucky dengan cukup keras.
:”Nah itu baru semangat. Suka saya kalo kalian terangsang sama motivasi kalian. Inget kalian ini membuat desain untuk memuaskan diir kalian. Buktikan bahwa kalian bisa ngalahin gaya anak tiktok.”
“Motivasi banget mas!”
“Nah Angel terangsang tuh, yang lain mana semnagatnya ? Apa harus saya rangsang lagi pake yang lebih memotvasik kalian ?”
“Gak usah mas, ini udah terangsang mas.”
“Bagus Arian. Berhenti berbicara, dan mulailah mendesain bersamaku.”
“Anjay quotes kuli versi anak desian ya mas.”
“Yoi lah. Kuli aja bangga punya quotes begitu, masa kalian kalah sama kuli yang semnagatnya kaya gitu. Buktikan kepada mereka, bahwa kalian yang remaja bisa bergaya seperti anak tiktok! Bahkan kalian lebih dari itu, kalian berhak sombong karena apa yang kalian beli itu dengan jeri payah kalian sendiri. Dah biar singkatnya motviasi kalian adalah supaya bisa ngalahin gaya anak tiktok ok, motivasi Senin pagi ini ok ?”
“Ok mas.”
“MANTAB!” Semi mengacungkan jempolnya kepada ponsel Lucky, Lucky menuliskan nama akun Semi agar banyak temannya yang melihat ini dan mengunjungi profl Semi.