How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Ngobrol lagi boy



Mereka sudah selesia menyantap hidangan lezat yang setiap hari mereka lihat, security pun sudah hafal apa yang para koki masak melalui baunya saja. Mereka tetap terududuk karena merasa kekenyangan, ia pergi ke ruangan khususnya, mengambil sebuah kamera dan juga tripod untuk berfoto bersama. “Nah sebelum kalian pulang, ayo kita bareng. Karena ini adalah malem special untuk kalian semua.”


Mereka berbaris, ada yang duduk ada yang berdiri, Semi berada di posisi tengah, lima jepretan kamera merekam momen bahagia mereka. “Ok, kalian silahkan pulang, piring besok aja dicucinya. Kalian pasti udah pada cape banget, besok aja, besok kita buka jam 10.00 pagi. Ok, terima kasih kalian telah meluangkan waktunya, semoga selamat sampai tujuan.” mereka beramai-ramai mengucapkan terima kasih kepada Semi.


Terlihat dari balik jendela restoran mereka semua pulang dengan sangat bahagia, beberapa dari mereka membungkus hidangan yang disajikan tadi, suara tawa mereka menembus kaca, Semi bisa membayangkan bagaimana bahagianya diri mereka. Semi melepas bajunya, meletakkannya disalah satu kursi, terlihat tubuh kekarnya sangat menggoda untuk kamu hawa. Semi meletakkan piring itu satu persatu ke dapur. “Kesian gw bebanin yang cuci piring, masa iya pas mereka dateng udah dibebanin cucian yang numpuk. Jangan lah.” Semi mengenakan sarung tangan, ia mulai mencuci tumpukan piring itu satu per satu. Walau ada sbeuah mesin cuci piring, tetapi ia ingin merasakan bagaimana lelahnya mereka yang bekerja untuk mimpinya, setiap hari.


“You make me so hot, make me wanna drop, so ridiculous, I can barely stop. I can hardly breathe you make me wanna scream you’re so faboulous you’re so good to me baby, baby. You’re so good to me baby, baby. You’re so good….” terdengar bahwa ia menyanyi dalam melakukan pekerjaan itu, ia berhenti sejenak, karena tangannya tidak basah ia mengeluarkan ponselnya, ia memutar playlist lagu metalnya, dimana lagu itu akan membuatnya headbang, atau menganggukkan kepalanya.


Lagu pertama dimulai, Pray For Plagues, karya dari band Bring Me The Horizon, dimana lagu itu dimasanya pasti sangat popular, namun mereka tergeserkan dengan adanya SUICIDE SILENCE pada saat itu. Bila lagu itu tidak tercipta, mungkin saja tidak aka nada pandemi seperti ini.


“Ah…Ah… Beuh pegel boy ternyata. Bukan main pengorbanan mereka. Seharusnya gw gaji mereka empat kali dari nomilan biasanya, kalo mereka gw gaji tiga juta, sehaurnys mereka gw gaji dua belas kali. Tenaga gak akan terbayar sama uang men. Gile pegel, udah jam… Hampir jam dua belas cok. Mantab, kali-kali tuker nasib, gak ada salahnya owner ngerasin jadi jongos.” Semi sudah selesai meletakkan piring itu di tempatnya, ia segera meninggalkan restoran itu dengan tubuhnya yang penuh keringat, ia mematikan lampu dan mengunci restoran. Ia memasuki mobilnya dan menyalakan pendingin udara agar keringatnya hilang, ia gunakan bajunya untuk mengelap keringatnya yang bercucuran.


“Ok, dah waktunya balik, tidur. Pagi langsung ke rumah orangtua gw. Sampe sore aja lah, siang tidur di sana. Ok, tarik sis!” ia segera mengeluarkan mobilnya perlahan, dan menutup gerbang restoran itu sendiri, lalu mengendarai mobilnya kembali ke rumah.


Semi sudah sampai, terlihat ia berjalan dengan sedikit tidak niat, karena ia sedikit menempel dengan tembok. Ia segera mengganti celana panjangnya dengan celana pendek, lalu segera membersihkan dirinya untuk tidur, dan ia pun akan tewas sampai pagi nanti.


-


“Hm…Mmmmm…. Ahhhhh.” ia mengigau, pukul 06.30 pagi, ia membuka matanya perlahan. “Euhh rasanya tulang belakang gw masih pegel anjay, gw aja cape apa lagi mereka. Hebat, pahlawan dengan tangan berbusa.” Ia mulai membangkitkan tubuhnya, mengumpulkan ruhnya untuk pergi ke rumah otangtuanya. 


Tanpa sarapan ia segera ke garasi rumhanya, terlihat ada beberapa buah mobil didalam rumahnya, Toyota Camry tahun kemarin, Nissan Juke tahun kemarin, Mazda 2 dan  Fortuner, dan juga Pajero Sport pada tahun ini. Ia bisa mendapatkan semua itu karena ia suka beramal, setiap mobilnya pernah ia gunakan untuk membagikan hidangan secara gratis, ia suka melakukan itu setiap bulan, ia membagikan itu dijalanan, siapapun boleh mengambil. Tidak heran bahwa ia memiliki mobil itu.


Ia menggunakan Mazda untuk berjalan ke rumah orangtuanya, Semi juga sudah menanamkan beberapa fitur modern pada rumhanya, jadi ia tidak begitu lelah dalam menutup garasi dan juga pagar rumahnya.


Terlihat, bahwa ibunya tegah menyapu halaman rumah, Semi yang meliha titu segera turun dari mobilnya dan memeluk ibunya. “Ibu!”


“Semi!” terlihat Semi memeluk ibunya seperti ia tak bertemu berbulan-bulan. “Parkirin dulu nak mobilmu.” Semi masuk ke dalam mobilnya, rumah orangtuanya adalah rumah ibu dari bapaknya, jadi ini adalah rumah neneknya yang orangtua Semi tinggali. Setelah itu Semi segera bertemu dengan bapaknya yang berada di dalam rumah tengah sarapan.


“Bapak!”


“Oh Semi!” Semi memeluk bapaknya yang tengah sarapan, kedua wajah itu seperti sudah lama tidak bertemu. “Udah sarapan kamu ?”


“Belom pak.”  Semi segera duduk disamping bapaknya, menyantap tumis kangkung kesukaannya.


“Gimana nak pekerjaan kamu ? Semuanya baik-baik aja pak. Gak ada hambatan, murid yang katanya banyak masalah, sama aku aku jinakin saya kucing angora.


“Jaga kesehatan, minggu depan kan kamu nikah. Jaga kesehatan kamu, Sabtu besok kan hari bahagia kamu, Sabtu akad, pestanya Minggu. Durasi pesta kamu itu kan cuma dua jam aja, jadi jaga kesehatan.”


“Pasti pak, jangan khawatir lah.”


“Gimana Najwa ?”


“Yah ampun pak.” baru saja satu sendok kangkung ke mulutnya, ayah Semi menanyakan bagaimana calon istrinya. “Makin hari makin manja pak. Yang ada aku kaya abangnya pak. Dia itu makin deket ke hari nikah makin manja lo, males aku jadinya.”


“Yah berarti begitu lah kurang lebih kalo jadi istrimu, manja. Tapi kan nggak manja banget, Cuma bercanda aja kan ?”


“Adeuh pak,becandanya beneran kaya anak kacil pak. Masa iya dia minta aku gendong sampe keluar juga, kalo orang bilang romantis aku sih ogah pak. Dia itu lumayan lagi beratnya.”


“Kan kamu punya otot, gak masalah dong.”


“Justru itu bapakku tersayang. Karena dia tau aku berotot jadi dia minta aku gendong dia. Begitu ayahku tercinta.” ayah Semi hanya cengengesan mendengar itu. ibunya pun bergabung dengan untuk sarapan. Sarapan mereka penuh dengan canda tawa, benar-benar keluarga yang harmonis. Semi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, abangnya pertama Fathur, sudah menjadi pengusaha kuliner, dengan cabang yang cukup banyak. Abangnya kedua, sukses menjalani bisnis pakaian, lalu ia, sudah sukses menjadi seorang desainer dan memiliki investasi, dan seorang guru.


Pukul 08.00 pagi. “Gimana nak jadi guru enak nggak ?”


“Ya aku sih enak bu. Seru, karena anakku semuanya bisa diatur. Padahal awalnya mereka itu anak bermasalah, aku udah baca berkas mereka. Tapi mereka itu gak separah sama mereka yang aku tolong dijalanan, mereka itu biasa aja bu.”


“:Hebat kamu kalo bisa mengendalikan mereka, karena sedikit ada guru yang bisa kaya kamu nak.”


“Bisa dong bu, kan aku sedekah sama mereka. Jadi pas hari kedua, mereka kan sebangku duduk dua orang, nah setiap sebangku aku kasih gocap bu. Langsung deh nurut kaya kucing angora.”’


“Ohh iya bisa juga, syukur kamu dilimpahi rezeki yang banyak jadi kamu bisa beramal dengan mudah. Gimana apa bulan ini kamu udah berbagi makanan gratis dijalanan ?”


“Besok bu paling. Malem aja, kan banyak tuh mereka yang baru pulang kerja nah disitulah aku beraksi bu.”


“Yaudah, ibu harap aksi kamu itu berjalan mulus gak ada hambatan.”


“Amin bu. Gimana bu makanan semalem enak gak bu ? Kan langsung dari restoran aku tuh.”


‘Wuh, pasti dan selalu. Enak banget, kamu pinter milih pekerja kamu nak. Apa kamu udah gaji mereka ?”


“Udah bu, udah aku gaji dua kali lebih besar bahkan.”


“Bagus, dengan begitu mereka merasa dihormati oleh kamu. Pertahankan nak kelakuanmu itu.”


“Pasti dong bu, masa iya aku berenti sih. Mereka udah rela korbanin tenaga demi mimpi aku masa mereka aku khiaanatin.” ibu Semi tersenyum, lalu datang ayahnya, mereka kembali berbincang lebih banyak dan sangat lebar. Mereka membicarakan tentang keluarga, karir, dan banyak lagi untuk dibahas. Saking panjangnya, mereka baru berhenti berbincang ketika Adzan,  mereka berhenti lalu bersiap untuk beribadah. Dikarena kan Semi yang masih lelah, setelah beribadah di Masjid, ia tidur dikamarnya yang dulu, kamar dimana banyak kenangan lahir.


-


Ia bangun, pukul 15.30 sore. Ia segera beribadah lalu membawa ibu dan bapaknya ke restorannya, ia mentraktir orangtuanya rutin bila ia bertemu dengan kedua orangtuanya. Semi makan diruangan dimana ruangan yang kemarin Semi mentraktir para pekerjanya, diruangan itu sudah terpajang foto dengan ukuran yang cukup besar. “Foto itu bu, aku ambil kemaren malem. Pas mereka mau pulang, aku susurh mereka buat masak lagi lima puluh porsi makanan, semua yang ternenak, makanan sama minuman. Itu semua buat mereka bu. Aku traktir mereka semua. Karena mereka bisa menyajikan makanan enak kepada pelanggan, tetapi mereka belum tentu bisa merasakan menu yang mereka rasakan. Semuanya bu, satpam, chef, pelayan semuanya aku traktir. Kemaren gaji mereka aku bayar dua kali lipat dari normalnya.”


“Pinter kamu nak, dengan begitu siap-siap mereka akan menjadi sangat setia kepada kamu nak, rezeki kamu juga akan nambah gak lama setelah itu.”


“Lalu bila aku merasa aku mendapatkan rezeki itu sangat banyak, maka akan kubagi lah pak. Pasti itu.”


“Nah, jangan lupa itu juga, ibu bilang nanti malem kamu mau bagi-bagi makanan ya ?”


“Iya pak nanti malem, menunya yang dicintai sejuta umat aja lah pak. Nasi padang pak.”


“Isinya apa aja tu nak ?”


“Yang sebungkus dua puluh lima ribu pak. Biar mereka pada kenyang! Kan liat mereka seneng begitu kan, rasanya pasti seneng bukan main pak, bukan aku doang yang seneng, tapi malaikat juga pak.”


“Terus kan aksimu nak, turunkan sifat itu kepada anakmu nanti.”


“Pak, bu aku pulang ya. Nanti aku ke sini lagi.”


“Ya udah, jaga kesehatan selalu ya nak.”


“Pasti bu.”


“Inget seminggu lagi kamu mau nikah, jadi jaga kesehatan kamu.”


“Iya pak.” Semi memeluk dan menciuem mereka lalu ia mengendarai mobilnya pulang.


“Ok, main ke rumah orangtua udah, nah sekarang sisa nunggu anak gw nyamoe aja dah. Pecah sih malem ini nanti, ok semuanya sudah terkendali, mantab dah.” Semi mengendarai mobilnya cukup cepat di daerah yang cukup ramai, sekalian ia ingin mencari lokasi baru dimana ia bisa membagikan makanan gratis esok.


Begitu sampai ia menjalankan ibadahnya, setelah itu ia kembali bersantai di perpustakaannya, ia berbaring sambil membawa buku The Exorcist, buku Divergent saja belum selesai i abaca, tetapi ia sudah berpaling dengan buku yang lain. sebenarnya masih banyak lagi buku yang belum ia baca, Semi memang suka menumpuk buku untuk dijadikan daftar bacaan, ia tidak suka dengan E-book karena membuat mata sakit.


“Ok sekarang udah jam… Weh udah pada mau dateng boy!” Semi segera bangun dari santainya ia membaca buku, ia segera berlari kea rah gazebonya menunggu para muridnya untuk datang.


“Saya udah ada di depan.” Kirim voice note Semi kepada muridnya. Tak lama setelah itu mereka datang.


“Mas Sem!” panggil Ardine dari jauh. Semi segera bergegas membuka pagarnya, dan terlihat berapa banyak yang datang, tidak seramai pertama kali ternyata, lalu mereka segera masuk dan duduk di gazebo bersama Semi, Semi juga sudah menyediakan karpet untuk mereka yang duduk di tanah.


“Gak serame pertama kali ya ?”


“Banyak yang mau malmingan sama temennya mas. Kalo kita sih sama mas Sem aja lah. Saya udah anggap mas Sem kaya abang saya sendiri mas demi alek mas.”


“Sama mas.”


“Saya juga mas, udah kaya abang kandung mas, Cuma beda tempat tinggal aja.”


“Bisa aja Ardine, Hakim Abi, pasti jawaban kalian sama.”


‘Iya lah mas pasti.”


“Nah… Kita mau ngobrol apa nih ?”


“Mas mau denger percintaan lagi dong mas.”


“Ok Wulan, penting juga sih masalah percintaan. Apa yang mau kamu bicarakan ?”


“Gimana kalo perselingkuhan mas ?”


“Ok, itu adalah hal yang sangat saya benci. Jadi kalian yang wanita, kalian bayangkan apa hal yang paling menyeramkan dari pacar kalian, bayangin dulu, rasain, nah misalkan kalian lagi selingkuh, ketauan, apa yang kalian rasakan ?”


Devi batuk karena tersedak air minumnya. “Devi kenapa Dev ? Ko batuk sampe keselek bahkan.”


“Asli mas serem banget. Soalnya pacar saya suka nonton film gore mas. Saya mikir mungkin itu hal yang selalu dia umpetin dari saya, dan mungkin itu akan terjadi kepada saya bila saya selingkuh mas.”


“Nah langsung dapet. Tapi itu extreme banget. Jadi tanamkan mindset itu, tanamkan aja, karena hal itu akan mensugesti otak kalian dan membuat kalian takut buat selingkuh. Tapi itu extreme banget sih. Vira misal nih kamu pacar saya, saya mau kasih kamu skincare SK-II, nah karena kamu selingkuh, saya banting itu didepan mata kamu. Nangis gak kamu ?”


“Pasti mas. Kejam banget itu mas. Sakit tak berdarah, harganya dua juta mas. Ya ampun tega banget.”


“Sesmiple itu, yang pertama kan terlalu extreme, yang kedua ini bisa kalian tanamkan dan ini lebih aman. Jadi kalian bayangkan aja pacar kalian itu mau memberikan kalian itu hadiah yang amat tak terduga, tanamkan itu aja, walau itu tak terjadi tapi itu akan mensugesti otak. Walau itu gak terjadi tapi itu akan memprogram otak. Lagi juga kalo kalian selingkuh itu membawa derita pada diri sendiri, beneran.”


“Tapi mas, kenapa ada yang doyan selingkuh ya mas ? Entah yang laki-laki ataupun yang perempuan.”


“Nah kalo itu gak bisa asal judge. Bisa aja itu berdasarkan psikologis, beneran itu bisa memicu itu semua lo. Misal ada perempuan yang punya selingkuhan sampe tujuh, harus ditanya kenapa. Bisa aja sebenernya dia itu punya pacar, tapi udah meninggal, dia gak bisa lupain, dia gak mau sendiri. Jadi setiap pacarnya pergi dia ke selingkuhannya supaya ada yang nemenin. Bisa, jadi kita gak bisa asal judge aja. kalo udah kaya gitu pacarnya yang ada harus mengerti dia. Begitu.”


“Baru tau sih mas beneran.”


“Nah bagus juga kalo kalian baru tau, banyak lo hal yang berlatarkan psikologis memicu kelakuan kita, saya bahas male mini panjang lebar. Balik lagi, tapi kalo kalian punya pacar yang baik, dll kalian selingkuh, itu bodoh lo, beneran. Apa lagi kalian sampe hamil. Itu amat bodoh, gak ada untungnya di kalian, pacar kalian ninggalin kalian, selingkuhan gak mau tanggung jawab, kalian harus tanggung derita itu sendirian seumur hidup. Bayangkan, kalian menghabiskan waktu setengah jam buat selingkuh, tapi kalian menderitanya sampe kalian mati nanti. Ada yang mau nggak saya tanya ?”


“Mendingan pacaran sampe putus mas abis itu nyari yang baru. Nggak banget mas amit-amit jabang bayi mas.”


“Bagus, berarti itu masuk ke pikiran kalian. Apalagi kalian udah nikah, kalian selingkuh sampe begitu juga, itu sangat amat bodoh. Kalian udah dapet suami baik, kalian khianatin begitu aja, kalian hamil emang selingkuhan kalian mau tanggung jawab ? Saya rasa tidak, andaikan mereka mau taunya dia punya yang lain. Sudah ditinggal suami, ditinggal selingkuhan pula, setelah itu mengurus anak sendirian.”


“MASUK PAK EKO! Biarin aja mas, perempuan gak tau diuntung itu mas, kalo saya punya istri kaya gitu saya pulangin ke orangtuanya mas. Abis itu saya share nama ignya sebagai tukang selingkuh.”


“Mungkin saya akan melakuakn demikian, tapi itu gak kalah sadis lo apa yang Ardine lakukan. Lan sadisan mana, perempuan udah nikah sama laki-laki baik tapi malah selingkuh paling parah, nah menurut kamu itu apa yang dilakukan Ardine itu sadis gak ?”


“Gak terlalu sih mas. Kalo bagi saya, kalo perlu bales sesadis mungkin sampe dia nyesel seumur hidup mas.”


“Nah kita udah diwakilkan sama kaum hawa. Jadi bayangkan itu aja, udah di tinggal pacar, di tinggal selingkuhan malah nanggung derita seumur hidup enak kan ?”


“Sadis tapi logis mas. Jadi ya…. Ngerti tapi rada ngeri gitu lo mas.”


“Berarti apa yang saya sampaikan itu kalian terima dengan baik, begiut Vir. Jadi encamkan itu, cinta itu emang bukan segalanya, tapi kalian kalo nikah pacaran itu kan cinta, seharusnya percaya satu sama lain, saya rasa kalian bisa paham intinya.”


Semi menarik nafasnya. “Saya udah lama ngubah sifat saya, karena saya itu punya sifat yang sadis, asli. Saya aja gak mau kasih tau kalian sesadis apa. Saya udah berubah si gak kaya dulu. Terutama bila hal kaya gitu, waduh… Saya jadi kaya Jason, tau kan maksudnya siapa.”


“Semua orang punya sifat gelap masing-masing mas.”


“Pasti, tapi sisi gelap saya itu kelewat gelap, beneran. Mungkin saya perlu kasih tau kalian, mungkin nggak. Kayanya nggak dah. Itu gak baik buat remaja kaya kalian.” Semi terdiam dan meneguk air didalam botolnya. “Jadi simplenya kalo kalian itu selingkuh, yang ada sudah jatuh tertimpa tangga pula, abis teritmpa tangga saat kalian berdiri terpeleset pula. Komplit gak tu ? Komplit nggak Din ?”


“Beuh itu lewat dari paket komplit mas, istilahnya apa ya.. Kaya nginep dihotel semuanya itu udah serba dilayanin mas.”


“PUBG ki, abis ini kita ngomongin masalah psikologis.”


“Ayo mas Sem, ini yang ditunggu-tunggu.”


‘Nah keren tuh mas, kita tunggu tuh mas.”


“Ok.”