How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Malming beda



Pagi hari, terlihat Semi berada diatas balkon rumahnya tengah bersantai sambil membawa segelas air putih dingin. Terlihat dengan jelas seluruh tubuhnya basah karena ia setelah berolahraga. Terlihat dengan jelas butiran keringat mengalir ditubuhnya yang kekar berotot itu. Perutnya yang sudah berbentuk kotak enam buah terlihat sudah tidak mempan menerima pukulan, begitu juga dadanya yang begitu bidang terlihat sudah tidak mempan terhadap pukulan.


“Ok, kita udah olahraga pagi, istirahat bentar abis itu… Aduh!” tiba-tiba kucing Semi naik ke perutnya secara tiba-tiba.


“Ya ampun Pilo, emang kucing gak ada adab, gw lagi nyantai lompat ke perut gw.” Semi akhirnya meremeas wajah kucing ras Persia angora jantan itu dengan warna bulu hitam putih.


“Oh ya, gw belom cek lagi buat pesta nanti malem, ya udeh cek aja lah sekarang, sekalian ngasih makan nih bocah.”


Semi turun ke bawah untuk memeriksa kebutuhan untuk pesta bersama anaknya nanti malam, ia juga memberi makan Pilo dan juga Zena, kucing betinanya yang memiliki ras Singapore. Sebelum Semi memeriksa kebutuhan untuk berpesta ia memberi makan mereka berdua terlebih dahulu, baru setelah itu ia memeriksa kebutuhan untuk pesta nanti malam.


“Ok, smeuanya siap sih, uler ada, buah ada, malah bejibun, kopi ada, daging sapi, kentang, apel, alpukat semuanya udah lengkap lah buat beberapa bulan kedepan, orang gw tinggal sendirian, sama dua kucing palingan bertiga jadinya. Cukup lah palingan.”


Semi kembali bersantai setelah melihat kebutuhan untuk malam nanti dan untuk kebutuhan dirinya untuk sebulan mungkin dua bulan kedepan sudah tercukupi. Semi masuk ke dalam perpustakaannya, telrihat banyak buku menghiasi ruangan itu, ia juga meletakkan sofa dan kasur diruangan itu. Baginya membeli buku yang banyak adalah seperti menghamburkan uang, lalu kau pungut kembali. Karena buku adalah ilmu, jadi dengan membeli buku bisa memiliki ilmbu baru dan bisa mendongkrak penghasilan seseorang. mengamburkan uang, tetapi memugutnya lagi, kau bisa melakukan itu dengan membeli buku. Walau bukan dalam waktu yang singkat tetapi kau akan memungut uang yang sudah kau hamburkan, bahkan dengan nilai yang lebih banyak lagi.


Ia mengambil buku dengan judul Divergent, buku yang belum sempat i abaca sampai akhir. Film dair buku itu sudah tayang enam tahun lalu kurang lebih. Menceritakan tentang seorang gadis yang bisa memasuki lima faksi, yaitu faksi, Abnegation, Erudite, Dauntless, Candor, dan Amity.


Ia kembali melanjutkan membaca buku itu, karena masih berada dihalaman awal. Film ini memiliki Trilogy, alias, tiga sekuel. Namun buku ini justru memiliki tujuh seri dnegan judul, Divergent, Insurgent, Allegiant dan Four, untuk seri Four sendiri ada empat buah. Sedangkan film ini hanya ada Tirlogy saja. Terakhir Semi memeriksa tentang info film itu, sebenarnya film itu pada seri terakhir ingin dibagi menjadi dua seri, tetapi hingga tahun ini film itu belum kembali muncul.


Banyak orang yang memiliki pemikiran yang hampir sama, yaitu harta, tahta dan wanita. Itu tidak berlaku kepada Semi, ia memiliki pemikiran sendiri, yaitu ilmu, harta, keluarga dan wanita. Ia meletakkan ilmu dipaling atas karena manusia tanpa ilmu entah akan speerti apa dunia ini.


“Oh iya, gw share loc dulu dah ke murid gw, biar gampang kesininya nanti… But gw kasih tau gak a supaya gak usah bawa kendaraan… Malah kesulitan lagi mereka nanti pas pulangnya. Yaudeh gw suruh bawa aja lah gak masalah.”


Setelah mengirim pesan itu muridnya segera menjawab. “Mas gak masalah mas missal kia semua dateng mas sekelas ?”


“Gaskeun lah. Ajakin aja, makin rame makin seru.”


“Serius mas ?”


“Serius, udah ajakin aja semuanya. Kalian pasti bakal betah saya jamin itu. saya juga udah mempersiapkan segalanya buat pesta nanti malem.”


“Jangan repot-repot mas, kita aja yang nyiapin mas.”


“Gak masalah Din, kan saya tuan rumahnya, kan saya mengundang kalian sebagai tamu. Gak masalah lah.”


“Yaudah mas kalo begitu, nanti kita bawa yang kecil-kecil aja mas supaya gak ngerepotin mas Sem.”


“Iya gak masalah.”


“Gak sabar nih mas btw.”


“Abi, kamu itu kalo ada acara di malem minggu pasti orangnya kamu gak sabaran deh. Pasti itu.”


“Pasti mas, gak ada mas guru yang ngajakin kita kaya gini. Mungkin di Jakarta Cuma  satu banding satu triliun kali mas.”


“Nah karena itu saya mau jadi guru yang beda. Makanya saya ajak kalian pesta dirumah saya gitu Abimana.”


“Mas Sem minta foto terbarunya dong mas buat kakak saya mas.” pesan itu dibalas cepat oleh yang lain.


“Riana, cieee masih gak bisa move on ya dari gombalannya mas Sem ?”


“Ngaku deh Rin, percuma juga kalo lu madu ngedeketin, udah mau nikah say.” Balasan Vira yang begitu kesal akan temannya, tak lupa juga Ardine yang selalu meledek.


Akirnya Semi memutuskan untuk mengambil fotonya yang tidak mengenakan pakaian, lalu mengirimnya kepada riana secara pribadi. Lalu balasannya ia terima dengan cepat.


“Makasih ya mas, kakak saya sekarang lagi ngefly mas liatin fotonya mas Sem.”


“Ah udah ah ngaco nih jadinya.” balas Semi ketus.


“Tau ni Riana apaan sih, liatkan jadinya, kalo kita gak jadi pesta dirumah mas Sem gara-gara lug w ceplokin lu ya ? Abis itu lu gw dada setengah mateng pake telor ama kornet, terus gw makan sendiri.”


“Lu pikir pala gw telor apa ?!”


“Ampun Rin, takut diriku akan suara lantangmu.”


Semi hanya tesenyum saja membaca pesan itu, pesan itu bahkan terus berlanjut, tetapi Semi tidak ingin tahu apa yang mereka bicangkan. Yang terpenting baginya ia sudah mengirimkan lokasi untuk mereka datang kan nanti, ia juga sudah memberitahu bahwa mereka dipersilahkan membawa kendaraan sendiri-sendiri.


Pagi berganti siang, Semi masih berada di perpustakaannya masih membaca buku sambil menguap berkali-kali. Tetapi ia masih penasaran dari kelanjutan buku yang ia baca, walau ia sudah menonton film itu sebanyak tiga kali tetapi ia ingin bagaimana cerita film itu pada versi novel, apakah sama atau berbeda. Biasnaya cerita adaptasi memiliki beberapa perbedaan.


Karena ia terus menguap ia memutuskan untuk menghentikan membaca buku itu dan memilih untuk beristirahat diperpustakaannya. Mengingat ia meletakan kasur diruangan ini, akan menjadi sangat sempurna sekali, buku, kasur, dan ruangan yang dingin atau berangin, sebuah potongan kecil dari surga.


Mengingat potongan kecil dari surga, itu mengingatkan sebuah lagu karya dari band Progressive Rock Amerika dengan judul lagu A Little Piece of Heaven. Dimana pada saat itu MTV bahkan tidak mau menayangkan video itu dengan alasan, video music sadis, dan lirik yang terlalu menghayal. Walau begitu banyak yang menyukai lagu itu. Bahkan ada yang menyebut itu adalah lagu Bohemian Rhapsody tetapi versi Avenged Sevenfold.


-


“Jam berapa nih sekarang ? Ngapa gelapa amat dah ?” Semi segera bangun perlahan ketika ia melihat langit semakin gelap.


Ia melihat jam dinding. “Busyeng udah jam lima lewat dua puluh, belom Ashar gw.”


Semi segera keluar dari perpustakaanya untuk melaksanakan ibadahnya pada sore hari, walau sudah lewat tetapi masih bisa. Karena kewajiban itu akan dibebani ketika seseorang tidur hingga ia terbangun. Ia segera menunaikan ibadah itu dengan khusyuk tanpa ada yang menganggu, termasuk kedua kucingnya. Tadi ia melihat mereka tengah terleleap dipepustakaan.


Setelah ia selesai menunaikannya ia tersenyum, selain ia telah mengugurkan kewajiban ia tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya pada nanti malam, ia sangat tidak sabar, terlihat dari lamunannya yang membayangkan ketika mereka datang pada nanti malam.


“Sambil nunggu gw mau makan dulu dah, terakhir gw makan jam sebelas. Sekarang kan udah mau setengah enam. Kita makan satu lapis steak tapi yang tebel dagingnya biar kenyang… Waita kan pake kentang juga, yaudeh kentangnya aja yang gw banyakin berarti.”


Ia segera mengeksekusi perintahnya sendiri. Begitu selesai itu ia segera menyantap hidangannya dengan cepat bagaikan bagaikan mesin vaccum cleaner.


-


Akhrinya, malam yang ditunggu akhirnya datang juga, Semi sudah menunggu mereka digazebo rumahnya.


“Assalamualaikum mas.” akhirnya, apa yang Semi tunggu datang juga.


“Walaikumsalam. Masuk ayo semuanya.” senyuman lebar menghiasi semua wajah pada malam itu.


“Mas, duh gak enak banget nih mas, semuanya udah disiapin gini mas.” keluh Ardine sambil tersenyum.


“Gak masalah, saya traktir kalian, besok kalo mau lagi, kalian bawa yang kalian inginkan ok ?”


“Ok mas. Siap.” Balas Ardine dengan jempol yang mengacung.


Mereka duduk digazebo dan dikarpet pada malam itu, sepertinya diantara mereka ingin bertanya sesuatu. “Mas…. Eh… Gimana ya mas….”


“Tanya aja.”


“Maaf banget nih mas, maaf sedalem-dalemnya mas. Kenapa mau jadi guru mas, kan mas Sem punya investasi sama punya rumah sebesar ini mas.”


“Ok Hakim, kalian denger ya semuanya. Saya itu suka membenarkan hal yang dicap rusak. Apalagi anak kaya kalian, saya paling gak suka. Makanya saya dateng buat benerin kalian semua. Ikhlas saya, gaji yang saya terima aja itu saya amalin. Jadi saya gak nikmatin gaji saya, kan saya punya uang hasil investasi. Ngerti semua.”


Mereka semua mengangguk.


“Ayo lah kita pesta jangan diem-diema aja!”


Mereka segera membuka makanan ringan yang berada didepan mata mereka, Abi membawa speaker Bluetooth untuk mereka gunakan mendengarkan music.


“Boeh mantab boy pake lag Chris Brown. Yeah yeah yeah.” lagi-lagi Ardine. Ia memang selalu menyelutk ketika ada suatu hal.


“Jangan terlalu keras ya, inget kita diluar ruangan, orang banyak yang mau tidur juga.”


“Mas maap ya mas kita ngerokok.”


“Silahkan Ardine.”


Akhirnya mereka berpesta pada malam itu dengan apa yang Semi sudah persiapkan, ada mereka yang bermain game, berfoto bersama, ada juga yang berbicara dengan Semi, rata-rata mereka adalah siswi yang penasaran akan Semi.


Mereka kembali berkumpul. “Disini siapa yang suka minum nih ?”


Rata-rata mereka semua tersenyum. “Nggak napa ngaku aja, saya gak bakalan marahin kalian demi apapun.


“Ada mas beberapa dari kita.”


“Yaudah, saya kan bukan orangtua kalian, jadi saya gak bisa melarang kalian. Saya mau ngasih tau aja ya. Kalian mendingan berenti aja. Karena merugikan juga. Walau alkohol itu ada manfaatnya tapi kerugiannya lebih banyak. Kalian gak mau kan nanti kalo udah nikah punya anak kalian malah dirumah sakit karena kalian menerima batunya. Gak mau kan ? Kalo misalkan istri kalian malah kabur gimana ? Kalian harus berpikir panjang ok, jangan mentingin gaya. Kalo gaya membawa kalian kepada kematian mendingan kalian ketinggalan jamana aja tapi kalian selamat. Itu semua saya kembalikan kepada kalian. Kalian juga kan mau banggain orangtua kalian, bagaimana bila kalian nanti kena batunya sebelum kalian sukses ? Aduh jangan lah sedih banget. Saya ajak kalian mikir juga deh. Kalian harus pikirin ke situ ya, jangan mentingin gaya kalo malah mengorbankan keselamatan. Ok ?”


Dengan cepat mereka semua terdiam sambil berpikir. “Mas Sem.”


“Iya kenapa Vira ?”


“Saya selalu kagum mas sama cara mas berkata-kata. Kayanya beda banget gitu mas sama guru yang lain.”


“Iya mas, saya aja tersentuh langsung mas. Jujur aja mas saya kadang suka minum mas, tapi karena itu… Saya mau berenti aja lah mas. Tersentuh saya mas beneran.”


“Gak napa Din. Kamu masih bisa berenti, mumpung belom terlambat.”


Ardine tersenyum lebar. “Nah saya juga mau ngasih tau lagi nih, saya tekan kan lagi saya cuma nasehatin aja. Kalian kan banyak yang ngerokok kan.”


Mereka tidak ada yang tersenyum, mereka bahkan tampak sangat serius akan mendengar ini. “Rokok kan emang murah, tapi kalian bayangin deh, dua puluh delapan ribu dua hari, lumayan gocap enam ribu. Nah kalo sebulan ? Tiga bulan ? Apa kalian gak banyak uang itu ? Kalian bisa buat banyak baju, uang kalian makin banyak ya kan ? Saya kembalikan lagi kepada kalian. Saya bukan orangtua kalian, jadi bila kalian mendengarkan saya terima kasih, kalo tidak ya gak masalah.”


Anggukkan kembali terjadi, terutama untuk mereka yang merokok. Sepertinya pertanyaan akan datang lagi dan lagi. “Mas Sem ? Gimana cara menghamburkan uang tapi bisa dapet uang lebih banyak lagi mas ?”


“Pertanyaan bagus Silvia. Jawabannya adalah beli buku. Buku itu kan mahal ya, kalo orang yang mandang sebelah mata buku paling bakal bilang buat apaan ya kan ?”


“Bener banget mas. Saya tuh sering banget dibilangin kaya gitu mas sama temen.”


“Nah beli buku mahal keliatannya kaya menghamburkan uang bukan ? Tapi karena buku adalah sumber ilmu, yakinkan lah kalian bisa mungut uang itu lagi cepat atau lambat bahkan lebih banyak dari yang kalian kira, kalian beli aja buku tentang desain AI, Corel sama software desain lainnya. Yakinkan kalian bisa mendapatkan uang kalian lagi, beneran.”


“Oh iya bener juga ya”


"Yang mau nanya lagi silahkan, kita kaya gini sebenernya belajar juga ini, tapi kita lewat lisan. Nggk ada ?”


Sepertinya tidak ada, tetapi mereka terlihat berpikir untuk menanyakan pertanyaan kepada Semi, terlihat sekali mereka smeua berpikir untuk menanyakan hal apa lagi yang ingin mereka tanyakan.


“Mabar kuy ? PUBG gaes ?”


“Kuy lah mas mabar kita!” Abi begitu bersemangat.


Sedangkan siswi mereka berbincang dengan kalangan mereka sendiri, sedangkan yang lain sibuk dengan ponsel mereka. “Mas Sem, sebelom mabar buat story bareng kita dulu mas.”


“Ok Silvia.” Semi berada ditengah diantara enam siswinya. Mereka membuat sotry boomerang, Semi hanya melontarkan senyuman yang menusuk hati.


“Mas Sem sumpah mas senyumannya itu killer banget mas!”


“Lebay kamu ah, lagi gak ?”


“Lagi lah mas.” kali  ini mereka membuat wajah konyol sesuai dengan ciri khas mereka masing-masing. Semi yang menunjukkan wajahnya yang sanga tidak karuan, itu membuat gelak tawa kepada mereka semua, lalu Semi meninggalkan siswinya yang masih tertawa untuk bermain bersama.


“Kuy login siapa yang invite nih gaes ?”


“Saya lah mas.”


“Ok Hakim, ayo Kim, siap-siap kalian semua ya saya kasihin chicken!”


“Mantab mas Sem.”


“Saya itu kalo main di PUBG pc satu lawan lima belas saya bisa menang lo, liat aja nanti ya, saya buktikan saya orangnya no omong kosong!”