How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Pertemuan



“Ok acara pertama udah kelar, tapi… Eh sekarang udah acara kedua ya lupa gw. Sekarang kan udah jam dua belas. Dzuhur dulu dah, abis itu gw makan siang, abis itu bisa next ke tempat selanjutnya.” Semi duduk sambil merapihkan kameranya, lalu menenggak sebotol air.


Seorang pria tampak paruh baya mendekatinya. “Semi kan kamu ?”


“Iya pak bener, saya Semi.” Semi tersenyum lalu bangkit.


“Saya pak Anto. Ahmad Rahmanto. Saya temen deket pak Imanul. Pak Imanul udah berkata tentang kamu. Katanya kamu itu hebat semasa kamu masih bekerjsa bersama pak Iman, lalu kamu sekarang menjadi guru SMK apa bener ?”


“Ah iya pak, saya guru SMK sekarang. Masalah seberapa hebat saya, pak Imanul suka berlebihan pak. Dalam pekejaan saya hanya melakukan yang terbaik saja, itu saja pak.”


“Pak Imanul sudah memberikan biodata kamu, beserta pengalam yang pernah kamu alami semasa bekerja dengan pak Iman. Kamu sudah tau kan bila pak Iman mempromosikan kamu kepada saya ?”


“Sudah pak.”


“Kalau begitu, mungkin dalam waktu beberapa bulan kedepan saya aka nada pekerjaan, mungkin kamu bisa ikut serta dalam perusahaan saya. Kamu beserta untuk tidak mengikut juga, saya hanya menawarkan saja.”


“Baik pak, bila harinya sudah dekat saya akan mempertimbangkan akan hal itu. Sebelumnya terima kasih pak, saya sangat menghargai itu.”


“Sama-sama, saya tinggal ya.”


“Terima kasih pak.” Semi meninggalkan tempatnya untuk beribadah.


-


“Eh kenyang juga… Ok lima menit lagi. Gaskeun.” Semi segera bergegas menuju ruangan selanjutnya, begitu sampai ia segera duduk untuk memulai acara selanjutnya. Ia melihat jam tangannya.


“Harusnya gw balik nih.” batinnya. Semi menghembuskan nafasnya.


Kembali bekerja lagi, terlihat bahwa Semi bekerja dnegan fokus, ia maju ke depan belakang untuk mengambil gambar, sedangkan kameranya hanya ia letakkan saja, dengan memiliki resoluis 4k, pasti semuanya bisa telrihat dengan jelas.


Acara ketiga selesai. Diakhiri dengan sesi berfoto bersama, setelah itu para peserta acara meninggalkan ruangan, Semi duduk di salah satu meja. “Sem di ambil aja Sem kopinya gak apa-apa.”


“Iya makasih pak.” Semi segera mengambil kopi itu. “Kuenya sekalian Sem. Makannya rada banyak ya, soalnya nanti acara selanjutnya kita tiga jam gak berenti, jadi dua acara digabung jadi satu. Jadinya makan sekarang aja Sem. Saya juga mau istirahat dulu di sini.” Semi mengambil beberapa kue berisikan daging, dan juga dua gelas kopi untuk mmebuat matanya terus terbuka. “Kopinya enak pak ini.”


“Oh iya. Saya juga doyan banget ini.”


“Kalo boleh tau namanya apa pak ?”


“Nanti saya kasih tau ya. Kamu mau taro dirumah buat stock ?”


“Saya punya café pak.”


“Oh, pantesan, kamu mau urusin infestasi kamu ya, makanya kamu minta resign tapi gak dikasih.”


“Iya pak..”


“Anak muda harus begitu emang, kerja jadi jongos pengusaha dulu, dapetin dulu ilmunya, abis itu berenti buat kerajaan sendiri. Nanti saya main deh ke café kamu.”


“Saya kasih penawaran terbaik pak di café saya nanti.” lalu mereka istirahat bersama diruangan itu.


Setelah istirahat beberapa lam, akhirnya mereka pindah lagi. Keruangan yang lebih bessar, tersedia pula snack yang lebih banyak untuk para tamu. “Sem liat Sem, kenyang kita Sem, snacknya lebih banyak Sem.”


“Iya pak. Liatnya aja saya udah kenyang duluan.”


“Lima menit lagi Sem, siapin dulu.” Semi segera mempersiapkan kameranya, lalu ponslenya bordering. “Halo ?”


“Halo mas Sem, ini kumpulin dimana ini mas ?”


“Oh halo Din, nanti kumpulin aja di satu folder kirimin ke email saya, perwakilan saut yang ngirimin.”


“Ok mas.”


“Btw kalian ngerjainnnya gimana, susah kah ?”


“Ya susah-susah gampang mas, tapi seru. Ada senesasi yang berbeda gitu.”


“Ok lah, mantab.”


“Nanti say mau liat dulu hasil kalian kaya apa. Soalnya saya ada misi rahasia.”


“Ok mas, nanti aja mas ngasih taunya hari Rabu.”


“Ok Din saya balik kerja dulu ya, thanks Din.”


“Yo sama-sama mas.”


Para peserta datang dan memenuhi ruangan. “Silahkan duduk bapak dan ibu sekalian, kita langsung saja memulai acara kita hari ini.” Semi mulai merekam, belum mengambil foto.


-


Semi menghapus keringatnya, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Ia duduk di kursi ruangan terakhir, acara belum mulai, ia mulai menguap, terlihat matanya sudah menunjukkan retakan merah. Ia sudah mulai lelah. Ia pergi meninggalkan ruangan yang ia duduki dan ke toilet untuk membenahi wajahnya, setelah itu ia kembali dan mengambil satu buah jeruk, mengupas dan lalu memakannya langsung. Wajahnya, menunjukkan ekspresi masam, tetapi ia menikmati itu. Karena membuat matanya makin terbelalak. Sehingga ia bisa kembali bekronsentrasi untuk bekerja.


Ia kembali duduk. “Ko manis lama-lama rasanya ? Lidah gw mati rasa kali ya gegara gw ngantuk ?” Semi melahap sisa jeruk itu tanpa membuang bijinya, ia menelan semuanya.


“Ayo Sem terakhir nih.”


“Iya pak, udah mulai ngantuk ini.”


“Sama saya juga, saya juga hampir jatoh beberapa kali. Makanya ini saya minum C1000.”


“Kalo mau lebih melek lagi gigit buah lemon langsung pak.”


“Oh iya mantab itu Sem. Pernah saya lagi lesu gigit buah lemon, wuhh, langsung saya gak bisa diem.” Semi tersenyum, menenggak segelas air yang penuh hingga tets terakhir. “Ah dateng juga akhirnya anjay.” apa yang ia inginkan datang, para peserta datang akhirnya.


Tanpa menunggu lama acara berlangsung dengan cepat. Acara terakhir sekaligus acara yang paling melelahkan untuknya. Jam pulangnya bahkan lewat. Hingga akhirnya acara itu selesai. “Sekarang…. Jam setengah sebelas cuy.” Semi segera meninggalkan ruangan dan membawa tasnya berisi kamera. Ia segera menuju parkiran mobil untuk mengambil mobilnya dan mengendarainya ke rumah.


“Halo ?” ponselnya berdering ketika baru saja jalan sebentar.


“Udah selesai babe ?”


“Udah. Ini aku lagi jalan say.” nadanya begitu lelah.


“Uhh, suaranya aja kamu kayanya cape banget. Kamu mau mandi gak nanti pas pulang ?”


“Gak usah lah, sekali aja. Aku mandi sekali aja sehari, kalo ada yang penting baru dua kali, kalo gak ada yang penting gak mandi seharian.”


“Jorok.”


“Alah, nanti kamu kalo udah nikah juga bakal nunjukin sifat asli kamu.”


“Iya deh. Yaudah nyetrinya hati-hari ya.”


“Hmmm.” Semi menyalakan audia mobilnya, menyalakan satu lagu lembut favortinya, dimana lembut untuknya tidak lembut untuk orang lain.


Sesampai dirumah ia disambut oleh Najwa dan juga kedua kucingnya. “Aku pulang ya, udah mau jam dua belas, kamu juga jaga kesehatan. Dua hari lagi kan kita mau nikah. Jaga kesehatan kamu ya babe.”


“Apasih manggil kaya gitu alay.”


“Beda emang orang yang nggak pernah pacaran. Sama yang udah pernah pacaran. Tapi walau kamu gak sauka kaya orang lain pacaran, tapi kan sebentar lagi kita bakal jadi keluarga kecil yang bahagia.” Semi tersenyum dan meninggalkan rumah Semi. “Sorry ya aku gak bisa nganterin kamu pulang, kalo kamu mau pake motor aku pake aja.”


“Ini mau pake yang trail.”


“Ya udah hati-hati ya.” Semi segera ke kamarnya, duduk. Sepertinya ia akan mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia segera berwisata ke alam mimpinya.


Jam berbunyi pukul 07.15 pagi. Semi baru saja bangun, ia sengaja bangun terlambat karena pertemuan antara oragntua murid ini akan dimulai pada pukul 08.00 pagi.  Ia segera mandi, sarapan dan setelah itu segera pergi ke sekolah. Sesampai sekolah wajahnya tersenyum bagaikan menyinari sekola itu. Murid kelasnya sudah duduk dibawah terpal. “Eh itu mas Sem.”


Semi segera berjalan untuk menuju ruang guru untuk meletakkan tasnya. “Yah gak kesini dong.”


“Naro tas dulu lah Hakim. Kan bawa tas.”  Semi segera meletakkan tasnya diruang guru, dimana ruang guru itu sudah sepi, hanya terlihat tas para guru jurusan sudah ada diruangan itu. Semi setelah meletakkan tasnya ia segera pindah keluar untuk mempersiapkan dirinya.


“Nah tu mas Sem.” Semi menuruni tangga pelan, ia berjalan kea rah terpal yang sudah disiapkan.


“Mas Sem.”


“Wey, udah pada ngumpul nih.”


“Yoi lah mas. Kalo ada kursi diruangan terbuka ngapain harus dikelas.”


“Gimana mas kerjaanya kemaren, lancar ?”


“Beuh cape Kim, harus foto, udah gitu harus video in juga lagi. Beuh double kaya gitu gak cape sih.”


“Berasa sih mas.”


“Bisa mas. Bentar lagi juga dateng tennang aja mas.” mereka berbincang bersama hingga waktu itu datang. Semua orangtua murid sudah menduduki kursi yang tersedia, peralatan juga sudah siap untuk digunakan.  Pak Adnan segera menaiki panggung untuk membuka acara itu. “Assalamualaikum bapak ibu semuanya.”


“Walaikumsalam.” jawab semuanya. “Sesuai dengan surat edatan kemarin yang sudah kami sebarkan dimana kami ingin para bapak ibu untuk datang ke sekolah ini untuk membicarakan sebuah info yang pentin para bapak ibu sekalian.” Pak Adnan memberikan sedikit kata sambutan dan ucapan terima kasih, lalu segera diserahkan semuanya kepada Semi.


Semi menaiki pangnggug. “Assalamualaikum bapak ibu semuanya.”


“Walaikumsalam.”


“Pertama saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu sekalian untuk meluangkan waktunya untuk mendengarkan saya berbicara pada kesempatan di hari yang mulia ini. Baiklah saya akan segera memulai acara utama ini.” Semi menghela nafas.


“Apa saya boleh mengetahui mengapa bapak ibu menitipkan putra dan putrinya kepada kami ?”


“Supaya cepet kerja mas.” ucap salah satu orangtua murid. “Itu sudah pasti. Dengan adanya saya di sini dan bapak ibu sekalian saya akan membantu mewujudkan itu semua. Dunia ini sudah mengalami revolusi industry, dimana yang bapak ibu ketahui dimana banyak PHK dan pengurangan pekerjaan terutama disaat pandemi ini. Dimana zaman ini walau sudah millennial namun ini adalah masa yang sulit untuk kita semua. SMK adalah sekolah menengah kejuruan, dimana setiap murid yang datang ke sini dilatih untuk mempersiapkan mereka untuk segera terjun untuk bekerja langsung. Dimana saya mempunyai program dna kurikulum yang mungkin belum pernah saya terapkan sebelumnya. Dimana saya akan tetap mengajarkan materi yang sesuai, tetapi saya juga akan mengajarkan mereka materi yang sedang naik daun pada masa ini. Desainer adalah pekerjaan yang tidak akan pernah tergantikan oleh robot bapak ibu semua. Jadi putra bapak dan ibu memiliki tujuan yang benar.”


“Nah waktunya kita liat skill silat lidahnya mas Sem.” kata pak Afrian kepada mas Hatta.


“Seperti apa contoh materi yang sedang naik daun pada masa kini ? Contoh mudahnya saja adalah seperti desain yang berada pada banyak benda seperti ibu bapak melihat, seperti pada sarung bantal. Desain pada termos, pada baju dan banyak lagi. Itu lah yang saya ajarkan kepada mereka semua. Terlebih lagi dimasa yang sulit seperti ini banyak orang yang membanting stir menjadi seorang wirausahawan, dimana pekerjaan itu adalah pekerjaan dimasa depan manusia. Bila pabrik berisikan robot, maka diluar pabrik manusia mendominasi, memiliki outlet baju, restoran, café, dan masih banyak lagi. Bisnis online sudah tidak asing lagi bukan di masa seperti ini, mungkin saja bapak dan ibu melakukan itu. itu pun saya perintahkan kepada putra dan putri bapak ibu. Dimana saya memerintahkan mereka untuk membuat bisnis online dan mereka sudah mendapatkan keuntungannya. Benar itu Ardine ?”


“Bener mas. Alhamdulilah mas, sehari bisa sampe gope mas dapet.”


“Alhamdulilah. Itu adalah salah satu buktinya, dimana para murid kelas XI dan XII sudah melakukan itu. benar itu siswa kelas XII ?”


“Bener mas, sehari bisa dapet gope ampe delapan ratus mas. Sebulan bisa tiga jutaan mas.”


“Itu lah yang saya maksud!”


“Maaf mas saya bertanya.”


“Oh iya silahkan bapak.”


“Mengapa tidak menerapkan itu kepada siswa kelas X dimana anak saya sendiri adalah kelas X.”


“Yah, pertanyaan yang bagus. Karena saya ingin mendidik mereka terlebih dahulu, karena mereka baru saja lulus dari SMP, mereka harus terlebih dahulu pada pelajaran baru mereka. Untuk kelas X saya akan mempersiapkan mereka untuk kelas XI, jadi bukan artinya saya tidak memperbolehkan melakukan itu. tetapi, bagaimana jika, anak bapak membuat banyak desain yang banyak, namun hanya sedikit mendapatkan keuntungan, bukan kah sebuah kesedihan, dimana mendesain bukan lah perkara mudah. Itu yang saya pikirkan bapak. Jadi siapapun mereka di kelas X akan melakukan bisnis online yang akan saya perintahkan nanti. Untuk sekarang saya akan memupuk mereka terlebih dahulu. Apa terjawab bapak ?”


“Terjawab mas.”


“Tak hanya saya memerintahkan kepada putra dan putri bapak untuk melakuakn bisnis online saja, seperti saksi dari anak saya, bahwa ia bisa mendapatkan uang yang sangat menguntungkan diusianya. Disaat mereka nanti akan melakasanakan bisnis online, saya juga akan membantu mereka dalam mendapatkan keuntungan, dimana keuntungan itu akan menjadi milik mereka. Jadi saya bukan hanya membiarkan mereka untuk berkreativitas, tetapi saya juga membantu mereka agar mendapatkan keuntungan lebih cepat. Setelah itu, sesuai dengan ucapan saya dimana saya membantu putra putri dan bapak dalam mencapai pekerjaan ketika nanti lulus, bagaimana ? Dengan saya memberikan mereka tugas sesuai keahlian mereka dari mereka yang bekerja di bidangnya.”


“Mas, apa nanti anak kami tidak merasa kesulitan ? Karena anak kami akan mendapatkan tugas dari mereka yang sudah bekerja.”


“Iya, tentu saja tidak bapak. Karena saya pasti akan memberikan tugas sesuai kemampuan mereka. Jadi tidak ada yang merasa tertekan dalam melakukan tugas ini. Benar begitu Hakim ?”


“Bener mas. Setiap ada tugas seru jadinya. Gak sabar juga mas nunggu tugas itu mas.”


“Itu adalah saksi dari anak saya sendiri. Jadi saya menciptakan sistem pendidikan yang membuat para murid ceria dalam belajar, selama ini kita terjebak dalam sistem pendidikan yang membuat kita mudah merasa malas, tidak ingin adanya tugas. Tetapi dimana, sebernanya tugas itu adalah hal yang penting, karena dari tugas itu, para murid bisa mengukur kemampuan mereka. Namun bila mereka cendernug menghindari itu, itu adalah hal yang buruk. Kelas XII, XI mau ada tugas lagi gak dari saya ?”


“Mau mas!”


“Kapan ?”


“Secepatnya!”


“Ok nanti saya akan kasih kalian tugas ya nanti. Dimana suara mereka adalah suara yang benar, mereka merasa tidak merasa terbebani dalam belajar maupun mengerjakan tugas. Afina, kamu merasa terbebani gak saya kasih tugas ?”


“Nggak mas, seru.”


“Tugas desain majalah udah selesia ?”


“Udah mas, lagi dong mas yang sama.”


“Ok nanti.” para orangtua murid sedikit berbincang dengan satu sama lain. “Wah, ini sih kaya Sarjana hukum ini pak, pinter silat lidah.”


“Ini belum seberapa mas, kita liat aja lebih jauh lagi.”


“Mengapa bisa anak saya mengucapkan itu ? Karena saya tidak memaksa mereka untuk mengerjakan tugas mereka untuk mengerjakan tugas mereka di rumah, dimana rumah adalah untuk istirahat, dan sekolah untuk belajar, dan lagi, saya memberikan mereka tugas yang mengeluarkan uang, tetapi saya membuat uang mereka kembali. Benar begitu Wulan ?” Wulan anak pak Afrian.


“Bener mas.”


“Dimana disaat murid saya ketika mencetak sebuah baju, saya melihat desain mereka yang indah, saya membeli baju mereka, saya membayar mereka didepan mata. Bagaimana tidak murid senang akan hal ini, hal ini tak hanya saya saja yang melakukan, tetapi semua guru disini melakukan itu. Benar pak Adnan ?”


“Oh benar mas Semi. Bajunya bagus-bagus mas.”


“Dimana kepala sekolah saja membeli karya dari para murid. Dimana hal yang saya lakukan bersama pak Adnan adalah sebuah dukungan langsung dan apresiasi langsung. Hal ini yang selalu di inginkan kepada setiap murid. Mohon satu perwakilan untuk menjawab saya.” Arian berdiri. “Ok, Arian, kamu merasa terbebain gak selama saya kasih tugas ?”


“Nggak sama sekali mas.”


“Apa kamu merasakan sebuah sensai sekolah yang berbeda ?”


“Beda mas, karena sistemnya beda, jadi gak monoton.”


“Apakah kamu ingin saya berikan tugas mencetak baju lagi ?”


“Mau mas.”


“Karena saya dan pak Adnan mengapresiasi langsung. Andai saya dan guru lain tidak mengapresiasi, apa kamu mau ?”


“Ogah mas.”


“Karena saya dan guru lain menghargai kalian, kalian bersedia untuk menerima tugas itu lagi ?”


“Berseddia mas.”


“Apakah saya memaksa kamu untuk jujur ?”


“Nggak mas.”


“Yakin ?”


“Yakin mas.


“Yakin ?”


“Seratus persen mas.”


“Yakin ?”


“Yakin sepenuh hati saya.” Para orangtua murid bertepuk tangan.


“Bertanya selama tiga kali adalah cara untuk menanyakan keyakianan dari seseorang. Dimaan murid saya yakin, ia tidak merasa terbebani, merasa sekolah memiliki sensasi yang berbeda, karena sistimmnya beda. Sekolah terbaik adalah, dimana para murid tidak merasa terbebani untuk belajar dan juga menjalankan tugas. Itu adalah sekolah yang baik, dan saya berusaha untuk membawa sensai baru kepada sekolah kita ini. Indonesia terjebak dalam sistem pendidikan yang monoton, membosankan. Mungkin saja bapak dan ibu menyadari itu. Dari sistem pendidikan yang salah itu menentukan bangsa ini kedepannya. Bayangkan Indonesia memiliki sistim pendidikan yang baru, membuat murid senang dalam bersekolah. Saya yakin Indonesia dalam waktu sepuluh sampai dua puluh tahun bisa membaik. Hanya dengan sistim pendidikan. Hanya berawal dari sistim pendidikan itu bisa menentukan nasib orang selanjutnya. Banyaknya juga mereka yang mendapatkan pekerjaan yang tidak layak, terdapat juga sebuah kesalahan sistim pendidikan. Mari kita ambil dari contoh teburuk, kupu-kupu malam adalah profesi terburuk, tetapi sebenarnya mereka juga tidak ingin melakukan itu.”


“Pak saya yakin ini Sarjana hukum ini pak. Silat lidahnya kena pak.”


“Belom mas Hat, liat aja sampe abis baru berpendapat.”


“Bila ada data yang bisa saya kemukakan, saya yakin jumlah yang akan mendominasi mengapa mereka harus melakukan itu adalah karena mereka terkena tuntutan ekonomi.  Lagi juga bekerja sebagai kupu-kupu malam amatlah buruk.  Saya yakin sebenarnya mereka ingin bekerja seperti wanita lainnya. Menjadi wanita karir, memiliki jabatan, martabat. Tetapi mereka tidak bisa mendapatkan itu, salah satu faktornya adalah pendidikan mereka yang tidak cukup. Dari sekian banyak mereka yang menyuaran dari sudut pendidikan, satu dari mereka, saya rasa mereka ada yang mengatakan sistim pendidikan yang membosankan. Terlalu terpaku pada masa lalu. Saya ingin memberitahu kepada bapak ibu, pada industry pornografi sekalipun, tetap ada sebuah kekerasan. Dimana tontonan mereka seharusnya dibuat untuk menjadi hiburan. Itu adalah terkspos. Bagaimana yang tidak ? Saya pernah membaca sebuah berita ada sebuah hotel yang mempekerjakan para wanita muda, tetapi mereka tidak dibayar, mereka dilecehkan juga, bahkan mereka semua dibunuh. Saya tidak berkata bohong, saya pun bisa menunjukkan berita itu. Saya yakin, bila sistim pendidikan Indonesia berubah, maka itu akan mencegah tumbuhnya mereka di jalan, dengan adanya kemampuan yang siswa miliki, saya yakin siswa akan menggunakan keahlian mereka dibandingkan tubuh mereka sendiri.”


“Makin k’cau ini cara mas Sem ngomong. Ini cara dia ngomong membius hati para orangtua murid ini.”


“Bu ko k’cau sih mba ? Kaya McQueen Cars.”


“Iya emang.”


“Wulan, anakku yang cantik mana ?”


“Waduh, kamu dibilang cantik de sama gurumu.” Kata ibu Wulan. “Saya mas.”


“Nah, Wulan, kamu merasa gak kalo salah satu dari tugas saya itu ada yang susah ?”


“Ada mas.”


“Apakah kamu menyerah dan merasa tidak suka dalam mengerjakan itu.”


“Nggak mas. Walau ada yang susah tetep ngerjain, buat nambah ilmu sekaligus pengalaman mas. Walau susah saya tetep enjoy gak merasa terpaksa.”


“Yakin yakin yakin ?”


“Lebih dari kata itu mas.”


“Luar biasa. Salah satu contoh kecil dari sebuah sistim pendidikan yang berbeda, tugas yang sulit pun murid tidak merasa terbebani dan tetap merasakan sebuah kesenangan dalam mengerjakan. Bila murid terbebani, bapak ibu akan simpati kepada putran putri ibu walau bapak ibu tidak mengerti tugas mereka, itu akan berujung kepada orangtua mengeluh kepada guru. Seorang guru tidak akan merasa ada yang salah sampai ada salah satu muridnya mengeluh bersama orangtuanya. Bila guru dan murid sama-sama diuntungkan untuk apa complain ? Ini lah yang tengah saya lakukan di sekolah ini. Tak hanya itu saja, masih ada sistem pendidikan yang menarik dari saya.”