
Semi berada diperpustakaan membaca buku sambil memakan sebuah kentang goreng yang sudah ia taburi bumbu, bumbunya telrihat begitu jelas, rasanya bila seseorang mengambil kentang itu dan jatuh, bumbu akan menyebar, dan itu akan menjadi obat flu yang mujarap. Ya bisa mengakibatkan mereka bersin.
“Ternyata banyak juga yeh anjay yang gak ada di film Divegent kalo gw baca, apa yang ada dinovel banyak gak ada loh di film. Lagi juga kalo mau buat semirip buku mau buang uang berapa juta Dollar. Itu aja pasti udah gede biayanya. Namanya juga adaptasi, banyak yang gak ada lah.” ponselnya bergetar.
“Telfon grup ? Hakim, Renra, Nara, Afina sama Abi ?” ia mengangkatnya.
“Assalamualaikum mas.”
“Walaukumsalam, ada apa telfon saya malem-malem ?”
“Kita udah eksekusi mas, tinggal tunggu hasilnya aja besok pagi mas.”
“Udah semuanya beenran terus selesainya besok pagi ? Cepet banget itu, aku terkejut.”
“Bener mas, tempatnya Hakim bukan kaleng-kaleng mas.”
“Saya jadi gak sabar buat liatnya.”
“Kita juga begitu mas, kita semua gak sabar mas mau liat hasil akhirnya kaya apaan.”
“Pagi sih ya, besok kan kita sekolah.”
“Tenang mas, nanti bisa saya telpon. Saya ada nomornya.”
“Ok mantab Kim, oh iya udah liat belom desain baju yang saya kirimin ke kalian ? Banyak emang, karena buat ngasih kalian inspirasi terutama yang sebagai desainer, oh iya Ren, terus ya Ren kamu riset pasar. Kalo perlu kamu kalo ada waktu senggang kamu riset pasar ya Ren.”
“Pasti mas, male mini aja saya udah kunjungin dua distro mas. Luamyan mas dapet desain baru.”
“Besok aja ya kamu kasih tau ke saya. Jangan malem kaya gini.”
“Lagi ngapain mas ?”
“Lagi baca buku Fin diperpustakaan saya.”
“Mas kalo ada buku buat belajar AI boleh dong mas dibawa.”
“Oh iya bener kamu, kalo gak salah saya sempet beli buku buat AI itu ada tiga biji apa, saya aja kaget, sampe tiga biji, nanti saya kasih ke kalian.”
“Asik makasih mas.”
“Corel mas kalo ada juga.”
“Oh iya sukur bilang kamu Bi, saya Corel juga ada, ada dua buku apa. Atau nanti saya bongkar lagi deh peprus saya, saya itu ternyata suka nimbun buku, jadi buku yang udah saya punya saya beli lagi, saya aja kaget loh. Nanti saya kasih baut kalian ok, supaya kalian menjadi wirausahawan muda. Saya kasih kalian. Biar kalian punya uang sebelom usia dua puluh.”
“Asik thank you dah mas. Terhura saya mas.”
“Oh iya pastika Ardine besok lemarinya dia itu siap, terus dia juga harus langsung kirimin barang pertama tuh.”
“Oh kalo besok saya mas yang ngirim barangnya.”
“Kamu Kim ? Gak masalah ?”
“No problem mas.”
“Ok, yaudah berarti besok kamu yang ngirim barang ya, Nara tolong kasih tau ke yang beli nanti buat dia nunggu ya, soalnya baru besok bisa dikirim, tanyain juga alamatnya dia, supaya tau bisa berapa lama nanti pengirimannya.”
“Ok mas gampang.”
“Mas, sering-sering ngirimin kita desain mas.” kata Ardine dengan sedikit tawa.
“Lah anjay enak bangat, usaha lah desain sendiri, jangan ngandelin mas Sem doang, manja amat.”
“Iya no problem nanti kalo saya gabut nanti saya kirimin kalian desain saya ok, kan semakin banyak desain yang saya kasih kan artinya semakin banyak uang untuk kalian. Jangan masalahkan saya, saya kan udah punya invest, hasil invest saya kan besar, jadi uang dari desain saya kalian nikmati aja, saya ikhlas.”
“Mas ada kemungkinan mau ajarin InDesign gak mas ?”
“Hmmm. InDesing, itu buat cover majalah. Sebenernya Photohsop bisa sih, tapi, kayanya penting juga. saya bawa deh besok bukunya biar kalian baca, saya punya banyak buku itu.”
“Gak sabar gw Din sama hasilnya nnati kaya apa itu baju.”
“Gw juga Ren.”
“Udah gak ada lagi yang ingin dibicarakan sama saya ?”
“Cukup sih mas. Makasih mas.”
“Ok saya tutup ya,” Semi menghentikan panggilannya. Ia menutup bukunya ia berpikir ingin melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Ia menairh buku trilogy itu kembali bersama kawannya. Ia masuk ke dalam kamar dan duduk di depan computer.
“Gw buat video tutorial AI aja dah buat tuh bocah-bocah. Dari pada gw gabut, lagi juga sekarang baru jam 21.00, mana ngantuk gw jam segini, lumayan bisa buat tiga jam tutorial buat mereka.”
Semi memutuskan untuk membuat video tutorial buat mereka, mengingat buku adalah bukan guru, melainkan teman untuk menemani saja, itu mengapa belajar itu harus bersama guru langsung bukan belajar dari buku. Bila ilmu dasarnya sudah dimiliki maka buku bisa membuat ilmu itu menjadi berkembang, seperti belajar gitar autodidak. Seseorang harus mengetahui bentuk dari chord terlebih dahulu, lalu mempelajari untuk menekan senar, lalu mulai mencoba memainkan lagu, walau dalam memainkan lagu akan banyak jeda, namun pastinya akan bisa bermain gitar disertai nyanyian. Karena Semi belajar gitar dengan autodidak, hingga ia bisa memainkan gitar elektrik hingga kini.
Tutorial yang ia buat di menit awal adalah pengenalan tools pada AI karena apa yang ada didalam Ilustrator sangat berbeda dengan photoshop. Bila master Photoshop, maka ia pandai dalam memanipulasi foto, bila master Ilustrator maka ia sangat ahli dalam mendesain.
Setelah selesai perkenal tools lalu ia mulai untuk membuat tutorial yang lebih serius lagi. Video berduari tiga jam mungkin, lalu ia harus mengedit video itu dan masuk kan dalam kaset atau flashdisk, maka tahap editing akan memakan banyak waktu. Tetapi tidak, syukurnya Semi memiliki sebuah PC rakitan dengan dana yang ia keluarkan tiga ratus juta, kesannya seperti menghabmburkan uang bukan ? Tetapi PC untuk mendesain akan sangat mmebutuhkan tenaga sangat besar lebih besar dari pada hanya untuk bermain game.
Dengan PC iu video durasi lama bisa di edit dalam waktu hitungan menit. Ia juga memasukkan beberapa game yang ia sukai, ia tak lupa dengan aspek kesenangan. Walau ia seorang desainer ia juga tidak lupa akan aspek kesenangan.
Selesai. Ia sudah selesai mengedit dan sudah memasukkan video itu ke dalam sebuah flashdisk. Ukuran video itu cukup besar, sekitar beberapa giga byte. Bila maemasukkan video ke dalam kaset maka kaset bisa saja rusak kapanpun, sedangkan isinya amat penting untuk mereka. Rasanya flashdisk lebih baik, karena musuh dari flashdisk hanyalah virus yang bisa membuatnya korup. Mungkin saja juga air, karena terendam air menjadi korup.
Kalian berpikir media penyimpanan sekarang sudah sangat memdahkan kita bukan ? Tidak sebenanrya penuh, contohnya saja Hard Disk. Ia bisa menampung banyak data, tetapi Hard Disk seperti bayi, tidak boleh jatuh, maka bila jatuh lem biru, lempar beli baru. Bila menyimpan banyak film dalam media itu sepertinya sebuah kesalahan, karena bila jatuh maka kau tidak bisa menyelamatkan apa yang ada di dalamnya. Itu sebabnya kenapa Hard Disk dalam industry film seperti benda yang amat suci.
Beda di zaman dulu, zaman dulu walau teknologi belum maju namun media penyimpanan film sangat aman. Yaitu sebuah celluloid. Bila celluloid jatuh maka tak ada masalah, tetapi jangan sampai kena debu saja, karena debu akan membuat baret dan itu akan tampil pada layar disaat pemutaran nanti.
Pagi, Semi sudah selesai mandi dan akan mengenakan pakiannya. Pakaiannya tidak tampak seperti guru sekali, hanya menggunakan kemeja flannel dan juga celana panjang berwarna gelap, memang tidak seperti guru sekali, yang penting terlihat sopan. Setelah ia selesai ia segera memacu motornya, tetap motor yang sama motor Ryan Reynolds. Motornya adalah motor Eropa yang dimana spare partnya cukup sulit untuk dicari, dan motor Semi lebih murah dibandingkan CBR 1000.
Ya, benar, bila CBR kau harus merogoh kocek hampir satu milyar, sedangkan Triumph speed triple 1050 hanya memakan budget tiga ratus sepuluh juta. Menang banyak bukan ?”
Sampai, Semi sampai disaat masih banyak murid yang bedatangan. Ia segera menuju ruang guru jurusan, meletakkan tasnya lalu ia segera menuju kelas anaknya, karena ia tidak sabar akan hasil yang mereka cetak seperti apa.
“Bang Botak gimana bang udah selesai bang ?”
“Nah pas bangat lau nelpon, nih liat semuanya udah kelar boy, udah kering, tinggal dipacking aja ini. Beuh gile si desain guru lu bukan kaleng-kaleng. Desain temen lu juga keren-keren beneran. Bapak gw aja bilang kalo lu buat desain yang kaya gini n terus berinovasi lu bisa ngalahin distro besar men.”
“Aminnn bang Botak, berarti siap yeh ini ? Siang temen gw mau ambil bang.”
“Siap siang silahkan ambil dah Kim, udah siap banget ini buat dipasarin.”
“Ok bang Bot, thanks ya kabarnya.”
“Yoi, yaudeh gw mau bantu bapak gw dulu ya, biasa dia minta mandiin burung kakak tuanya.”
“Ok deh bang makasih bang.”
“Yo sama-sama.” Hakim pindah dari tempatnya untuk bertemu dnegan Rendra, Fina dan juga Nara.
“Boy udah kelar cuy desainnya. Bagus-bagus ***.”
“Mana ?”
“Nih dia udah ngirimin fotonya. Bukan kaleng-kaleng emans mas Sem kalo desain kacau.”
“Beuh kacau boy, keren sih itu, beneran keren boy semuanya.” ucap Fina
“Gw juga kaget loh desainnya mas Sem pas udah di sablon gila bukan main nyet, keren banget beneran dah.”
“Hai.” Semi menyapa dengan senyuman.
“Mas Sem tepat waktu mas, kabar gembira buat kita semua mas.”
“Kenapa ? Kulit buaya ada ekstraknya ?” itu membuat gelak tawa sebagian besar murid, termasuk Hakim dan juga dirinya.
“Bukan mas, ya ampun korban iklan. Ini mas kaos udah selesai mas, tinggal kirim doang mas.”
“Ok lah mas. Tapi liat dulu mas minimal satu lah.”
“Nanti aja pas di lab, biar jadi kejutan buat saya.” ia berjalan beberapa langkah dan kembali lagi.
“Oh ya yang desainer saya udah bawa buku yang kalian minta ok ? Nanti di lab langsung saya kasih. Kalo udah jam nanti langsung aja ke lab ok ?”
“Ok mas.”
“Ok saya tunggu. Kim jangan lupa tunjukin saya hasilnya kaya apa.”
“Ok siap mas.” Hakim kembali kemana ia berkumpul tadi.
“Lima belas menit lagi nanti kita ke lab. Yaudah kita liat aja bentaran hasil desain kita.” mereka membicaraka karya mereka yang telah selesai. Walau sebelas postingan adalah karya dari Semi tetapi muridnya juga memasukkan karya mereka disitu.
“Eh gw kemare udah masukin satu postingan baru liat aja coba.”
“Oh iya ada nih, keren juga sih Ren. Simple, kayanya bakal banyak nih yang beli, mungkin perempuan mugnkin laki juga.”
“Yoi, gw targetinnya anak remaja sih. Terutama kaya anak gembelan istilahnya. Mereka kan kalo gaya beuh, yang punya mobil Alphard aja kadang kalah.”
“Nah manteb tuh target marketing lau.”
“Yoi lah Rendra, gw sih emang pinter kalo masalah desain. Cuma gw aja yang bandelnya kaya napi. Tapi karena ada mas Sem, gw udah terkendali.”
“Cuma dia doang yang bisa jinakin kita, yang lain mana bisa. Fin, masalah lau apa Fin ?”
“Gw suka bolos sama cuekin guru.”
“Gak masalah, masih bisa diperbaiki laig akhlak lu. Kalo gw suka ngajak ribut guru. Tapi cuma mas Sem doang yang paling beda.”
“Sekarang aja kuy kita ke lab ?”
“Kuy lah, orang kita pelajaran pertama sama dia, sampe istirahat, kuy lah.” Ardine, Rendra, Fina dan lainnya bergerak untuk menuju lab desain grafis.
Semi tengah terduduk dikursinya sambil mengangkat kedua kakinya, kali ini ia membaca novel The Exorcist. Sebuah buku yang menjadi film pada tahun Sembilan belas tujuh puluh tiga, bila tidak salah. Ia membaca dengan sangat serius sehingga ia tidak memperdulikan sekitarnya, sepertinya bila ada sebuah panggilan ia tidak akan menyadarinya.
Muridnya masuk dan mulai mengambil tempat mereka masing-masin. Benar saja, ia bahkan tidak menyadari bahwa muridnya sudah membanjiri tempatnya, Ardine dan Rendra ingin menegur Semi namun mereka sungkan, Semi sangat serius sekali dalam membca, terutama posisinya yang seperti ia berada dirumahnya sendiri.
“Mas Sem ?” panggil Ardine sungkan.
Semi sadar, ia menurunkan kakinya dan tersenyum. “Ok duduk.” membaca memang menjadi salah satu sarana cara untuk tidak memperdulikan lingkungan sekitar, dan itu bekerja dengan baik, contohnya saja Semi.
“Ok kalian silahkan lanjutkan tugas kalian sampe nanti jam istirahat. Bagi yang mau desainnya saya koreksi bilang aja. Nanti saya koreksi punya kalian.” Semi duduk dimeja tengah, begitu juga Hakim, Ardine dan Rendra.
“Mas ini mas hasilnya.”
“Nah mana nih saya penasaran.” Hakim membuka ponselnya dan menunjukkan obrolannya dnegan bang Botak, terdapat beberapa foto dan video yang menunjukkan bahwa baju yang mereka minta sudah selesai dengan baik.
“Beuh gile lu ndro. Itu kerena banget hasilnya.” Afina dan Linara datang bergabung.
“Itu saya udah minta yang terbaik tuh mas, saya minta bahannya cotton, say minta supaya sablonnya tahan lama, yang alus, dan masih banyak detailnya mas.”
“Mantab kamu Nara, gak salah saya tunjuk kamu sebagai manager.”
“Mas saya udah posting satu desain lagi mas di ig.” Afina menunjukkan foto itu.
“Bagus Ren, itu bagus beneran, target kamu anak remaja ya ?”
“Iya mas, lebihnya lagi kaya bocah sama anak gembelan lah mas.”
“Pinter. Kamu nyari targetnya pinter. Itu murni ide sendiri ?”
“Inspirasi pasti ada, tapi saya kelola lagi jadi desain saya sendiri.”
“ATM. Amati, tiru, lalu modifikasi. Misal nanti kuliah kalian dapet tugas terus dosen bilang gak boleh ngopi kalian bisa gunakan ATM itu.”
“Berjalan mas ?”
“Nilai saya C.” Nara dan Fina tertawa sedikit tak tertahan.
“Ya ampun mas sesat juga ngasih contoh ke anak sendiri.”
“Beneran nilai saya C, tapi kamu bisa gunakan itu serius, misal gak boleh ngopi dari google, ya kamu aplikasikan seakan-akan itu pikiran kamu sendiri. Bisa.”
“Nah gitu dong mas, tapi kalo nanti nilai saya D gimana mas ? Ogah ngulang mas saya nanti.”
“Alah ngerasain kuliah aja belom udah gentar duluan.” Ardine, memang banyak sekali tingkah lakunya untuk menghibur orang disekitarnya.
“Nanti siang udah bisa diambil nih mas.”
“Nah Ardine, kamu yang ambil ya, kan kamu ada lemari kosong kan kata kamu ?”
“Siap mas, kosong banget mas kaya hati saya mas.”
“Nah berarti nanti kamu sama Ardine ngambil bareng Kim, kamu ambil yang mau dikirim hari ini, sisanya Ardine yang nyimpan. Din, kamu juga gerak ya kalo ngirim ?”
“Selow mas, saya orangnya petakilan mas, kaya anak kucing kampong kalo main bola.”
“Ok, ig udah bisa diakses banyak orang kan ? Jadi siapapun bisa balesin DM atau komen yang minat.”
“Udah mas, tenang.”
“Ok, mana Kim saya mau liat sekali lagi.” Hakim menunjukkan foto dan videonya lagi.
“Beuh hasilnya bukan kaleng-kaleng sih ini beneran, terutama yang itu urutan ke lima dari kiri.”
“Itu desain mas Sem sendiri.”
“Loh iya kah ? Maklum terkadang saya itu Love the way you lie.”
“Maksudnya mas ?”
“I guess I don’t know my own strength.”
“Oh alah mas.”
“Just gonna standing and watch me burn. That’s alright because I love the way you lie.”
“Anjay Nara, tarik sis!” gumam Semi.
“I love the way you lie.” Ardine bergaya memainkan sebuag gitar dengan mata yang tepejam.
“Anajy manatap dah Ra, lulus dari sini ikut Rising star aja lah Ra, suara lu enak bangat, biking gw ngantuk.”
“Alah ngerayu lu ye ? Udah kebal gw sama rayuan.”
“Tersakiti kamu ya Ra ?”
“Bukan mas, yang deketin fakboy rata-rata. Saya udah tau gimana sifat mereka semua.”
“Ok, berarti nanti kalian jangan lupa urusin barnag kalian buat dapetin uang pertama kalian ok ?”
“Uang pertama ? Kaya ada yang bisnis nih. Boleh tau dong ?”
“Mba Riana. Sini mba. Saya punya kabar gembira mba.”
“Kulit kambing punya ekstraknya ya ?”
“Bukan mba, tikus got sekarang punya ekstrak mba, supaya bisa lari kenceng ngindarin masalah.”
“Ardine ngelawaknya bisa aja deh. Pasti.”