How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Bisnis gak serius



“Bisnis apa nih ?”


“Jadi gini mba Riana, jadi anak saya ini punya bisnis clothingan di ig, namanya Gaskeun.Cloth. Nah hari ini udah selesai cetak bajunya terus udah ada yang mau beli dua sekaligus.”


“Nah mantab, saya follow dulu ya.” mba Riana segera mengakses ponselnya dan segera membuka Instagramnya.


“Wih… Bukang kaleng-kaleng desainnya ini. Apa lagi desain yang  ke dua dari atas.”


“Itu desainnya mas Sem mba.”


“Bener mas ?”


“Bener mba, itu desain saya mba. Tertarik kah ?”


“Oh tentu.”


“Hakim, kamu nanti kasih ke mba Riana ya ?”


“Siap mas.”


“Udah siap Kim ?”


“Udah lah mba, udah siap kirim ini mba.”


“Saya mau satu lah, ukuran L aja.”


“Pas mba, emang baru satu mba, ukuranya L pula. Yaudah mba nanti siag saya kirimin mba, tulis aja alamtnya, nah setelah itu jangan lupa testinya mba, biar bisnis kita bisa berkembang cepet.”


“Tenang aja. Weh mas Sem, menjalankan misinya nih dari sekarang ya ?”


“Ya gitu lah mba.”


“Mas emang salah satu misinya buat bikin kita menjadi wirausahawan mas ?”


“Iya, karena sekarang dunia kan masih pandemi, jadi semuanya lagi serba susah. Saya itu menjadikan kalian seperti ini supaya kalian nanti membuka banyak lapangan kerja. Karena nanti dimasa depan kan semua itu udah lebih banyak robot dibandingkan manusia. Nah saya melakukan ini supaya kalian bisa menghasilkan uang sendiri. Kaya gini contohnya. Kan salah satu bisnis yang gak akan padam adalah kuliner dan juga fashion. Fashion apa aja, formal, informal, jadi saya membuat kalian supaya bisa membuka lapangan kerja dan bisa membantu banyak orang, begitu.”


“Asal kalian tau yah, waktu mas Sem mengatakan apa yang dia ingin katakana didepan kepala sekolah, basahanya….. Beuh udah kaya guru S3. Beneran, bahasanya teratur banget. Kaya pendidikan S3. Saya gak bo’ong.”


“Bener mas ? Baru juga lulus S1 psikologi ya kan mas ?”


“Ya bener apa yang mba Riana bilang. Coba kalian liat saya, kalian juga akan mengatakan yang sama mungkin.”


“Baru dua puluh satu postingan tapi keren semuanya sih. Manteb banget! Saya share ya ke temen saya. Temen saya pada doyan kalo beli online begini.”


“Makasih mba.” Tiba-tiba pintu terbuka yang menunjukkan pak Afrian dan juga bu Aya.


“Mba Riana tolong ke sini dong mba.”


“Nah mantab, kalo udah dishare bisa cepet maju bisnisnya ni mas Sem ?”


“Bisnis ? Siapa nih yang berbisnis ?”


“Kenapa kita gak dikasih tau ?” senyum pak Afrian dan juga bu Aya, mereka duduk dimeja ruang desain grafis bersama yang lain.


“Siapa nih yang berbisnis ?”


“Yah bu Aya telat taunya. Jadi mas Sem udah melaksanakan misinya bu, menjadikan anaknya wirausahawan.”


“Mas Sem ? Bener tuh ? Kenapa saya tidak di kasih tau bila anda sudah melaksanakan itu ?”


“Ya maaf bu, saya lupa.”


“Ini bu baru sedikit postingannya tapi ini desainnya keren semua bu.”


“Weh, mantab. Ini postingan terbarunya mantab banget ini.”


“Desain saya itu pak.”


“Rendra ? Desain kamu ? Mantab kamu desainnya,.. Beneran loh. Saya ambil itu.”


“Ukurannya apa pak ?”


“XL Kim.”


“Pas pak, baru diproduksi satu ukurannya XL pula.”


“Masalah bahan jangan ditanya pak, saya udah minta yang terbaik sama orang sablonnya pak, sablonnya tahan lama. Semuanya udah saya setting terbaik lah.”


“Iya jadi, mereka baru dua hari ini menjalani bisnis yang isinya desain mereka pak, nah sepuluh desain pertama itu isinya punya saya buat menarik peminat, nah pagi ini semua baju yang ada di postingan udah di cetak semua, jadi siap di pasarkan.”


“Saya mau!”


“Yang mana bu ? Nanti biar saya kirimin.”


“Yang nomor dua dari bawah.”


“Nah mantab ibu pilihannya, itu desainnya mas Sem bu.” Semi tersenyum kikuk.


“Mas Sem udah kompeten bukan main, desainnya ini semuanya bagus loh mas. Gak salah pak Adnan terima mas Sem disini.”


“Pak Afrian biaaa deh, suka berlebihan.”


“Saya nggak berlebihan tapi emang itu faktanya mas Sem. Udah sertifikasi profesi mas ?”


“Udah pak, beberapa bulan lalu.”


“Nah karena mas Semi sudah menjalankan misinya di satu kelas, mas Sem mau gak menjalankan itu ke kelas lain ?”


“Dengan senang hati bu.”


“Nah nanti saya kabarin ke kepala sekolah, tentang berita ini.”


“Ntar aja bu, tunggu saya terrapin ke semua kelas, pas mereka udah ada hasilnya baru kasih tau bu kepala sekolah.”


“Ok deh mas Sem. Hakim jangan lupa kamu kirimin apa yang saya mau.”


“Siap bu.”


“Saya juga ya Kim.”


“Siap mba Ria, pak Afrian nanti saya kirimin. Jangan lupa testimoninya biar bisnis kita bisa berkembang lagi.”


“Tenang aja Kim, apa yang nggak sama saya, minta sama saya buat pasarin apartemen juga dalem waktu dua hari pasti kejual.”


“Mulai deh bapak mau ngelawak lagi. Ngelawak lagi dong pak kaya tahun kemaren, pecah pak.”


“Oh yaudah nanti ya pas pensi, nanti saya stand up, kamu ikutan juga boleh.”


“Ok pak siap pak kalo masalah stand up pak.”


“Gimana tugas anaknya mas Sem ? Apakah udah mau selesai ?”


“Rata-rata sekarang lagi desain corporatenya sih bu, mungkin akhir pekan ini pada selesai. Gimana kalian ?”


“Kita udah sedikit lagi bu mau sleesai, akhir pekan ini kita paling selesai.”


“Ok, saya pegang ya omongan kalian. Ok mas Sem, seneng rasanya sudah menjalankan misinya, saya menunggu kelanjutannya ya di kelas yang lain.”


“Siap bu.”


“Mba Ria tolong ikut sama kita dulu.”


“Ok bu.” lalu mereka meinggalkan Semi beserta anaknya.


“Anjay cok, dapet lagi boyyyyy. Hari ni berarti kita bakal dapet empat testi boy, beuhhhh gak sabar gw ngeliat bisnis ini berkembang coy. Makasih mas, kaloa gak karena mas Sem kita gak akan kaya gini mas. Ini sebuah metode pengajaran diluar kurikulum ya gak Kim ?”


“Nah iya banget mas. Biasanya paling kan kalo bisnis kaya gini kan paling Cuma kegabutan bersama, tapi kalo guru yang nyuruh sama campu aduk ini sih udah beda banget mas. Mau pake kurikulum dua ribu enam atau pake kurtilas gak bakal ada mas metode pengajaran kaya gini, ini beyond genius.”


“Alah bisa aja kamu, saya cuma melakukan program saya aja, kalian kerjain lagi tugas kalian.” Mereka kembali ke computer mereka untuk menyelesaikan corporate. “Ada yang mau saya koreksi desainnya ?”


“Saya mas.”


“Ok Lukman.”


“Kamu buat apa ?”


“Developer game mas.”


“Coba cari inspirasi background, kaya kurang match aja gitu. Sama coba cari font lagi deh, soalnya masalah kecil kaya gini emang rada susah serius.”


“Ok mas, berarti ada kemungkinan saya revisi berkali-kali ?”


“Iya, tapi jangan pernah bosen sama Revisi, tanpa revisi kalian gak akan tau dimana kalian salah.”


“Ok mas siap.”


“Oh iya lupa gw buat ngasihin buku buat anak gw.” gumamnya sendiri yang aritnya hanya dirinya sendiri yang mendengar. Ia kembali ke mejanya mengambil buku yang sudah ia tumpuk, lalu memberikan kepada mereka.


“Nih buku yang kalian minta dari saya, silahkan pelajari ya, semoga bisnis kalian juga cepet berkembang karena buku saya.” Semi meletakkannya dimeja, mereka yang tengah mengerjakan tugas mereka berhenti, untuk melihat buku yang semi berikan.


“Makasih mas, ini bener-bener mengajarkan tahap lanjut banget mas.” kata Afina.


“Nah Corelnya keren nih mas, ngajarin hal yang belom pernah saya dapetin sebelomnya mas.” kata Ardine.


“Sama nih, flashdisk isinya video saya ngajarin kalian AI durasinya tiga jam. Bisa kalian copy nanti, saya juga mau buat lagi videonya, karena saya kan mau menepati janji saya.”


“Ok makasih banget mas. Simpan aja dulu mas flashdisknya, pas dikelas aja nanti kita copynya.”


“Ok, kalian lanjut lagi, sama rawat buku itu.”


“Pasti mas,”


Semi kembali ke mejanya, kali ini ia tidak membaca buku horrornya yang ia bawa. Tetapi ia kembali membuat sebuah desain yang baru untuk bisnis anaknya. Ya, sebuah kegabutan yang sangat bermakna, membuat sebuah karya. Sebuah kegabutan yang sangat membutuhkan keahlian dan pengalaman yang cukup untuk melakukannya.


Berbicara tentang bisnis rasanya jarang sekali ada guru yang seperti Semi, yang berawal hanya mengajarkan desain grafis, hingga kini ia membuat muridnya untuk berbisnis dan memproduksi uang sendiri. Tenaga pengajar yang sangat langka sekali, ia juga membantu dalam memajukan bisnis muridnya, ya pasti, karena ia memiliki keahlian dalam mendesain, ia menyumbangkan karyanya dan ia tidak mengambil keuntungan dari hasilnya. Karena ia sudah memiliki café yang maju jadi ia tidak perlu mengambil keunutngan dair muridnya. Pasti penghasilan perhari cafenya saja sudah lebih dari cukup, jadi untuk apa ia mangambil keuntungan dari muridnya.


“Kaya biasa yah, silahkan pake lagu.” untuk menambah mood mereka dalam mengerjakan tugas.


Banyak guru berkata untuk berkonsentrasi maka jangan belajar menggunakan music. Itu tidak sepenuhnya salah, tetapi itu semua bergantung pada muridnya. Bila muridnya bisa dengan keadaan demikian, jadi tidak bermasalah, tetapi  bila muridnya tidak bisa dengan adanya music artinya tidak bisa. Bahkan ada yang bisa mengerjakan tugas sembari mendengarkan music keras, ya dengan aliran yang keras, seperti Deathcore, Deathmetal. Tetapi mereka bisa mengerjakan tugas, bahkan itu sama sekali tidak mempengaruhi pikirannya. Orang itu salah satunya Semi.


Bila dilihar Semi mendesain dengan santai sambil memasang earphone, ia terlihat begitu tenang sekali, padahal apa yang ia dengarkan adalah teriakan iblis yang tiada henti. Mengapa bisa demikian ? Itu karena memang ia sangat menyukai aliran itu, dan orang yang menyukai aliran itu cerdas. Bukan cerdas dalam akademik tetapi emosional, mereka tidak peduli bahwa idola dan musik mereka diejek. Mereka diam saja. Kefanatikan mereka juga tidak membahyakan, kecuali mereka yang fanatic berlebihan.


Bila ingin melihat sebuah contoh kefanatikan seperitnya tidak seharusnya music itu disebutkan, karena kalian sendiri sudah tau. Ya kalian pasti sudah tau pastinya, jadi tak perlu lagi dijabarkan.


Apakah ada bukti sebuah kefanatikan yang berlebihan dari music keras ? Tentu ada. Band Slipknot pernah disalahkan atas pembunuhan di Afrika, karena sang pelaku mengoleksi topeng mereka. Yang lain bagaimana ? Pasti ada banyak diluar sana, tetapi tidak terunggah saja.


Walau Slipknot identic dengan music kerasnya, tetapi kalian bisa mencoba dengarkan laug mereka yang bejudul Snuff dan juga Vermillion pt 2. Coba saja, bahwa kalian akan mendapatkan sisi lain dari band Metal. Bila ingin yang lain dengarkan juga lagu dari band Whitechape berjudul Hickory creek dengan versi akustik. Band itu adalah beraliran Deathcore, tetapi mereka membuat lagu dengan sangat lembut. Bila kalian ingin merasakan senasi Deathcore yang sesungguhnya silahkan dengarkan SUICIDE SILENCE terutama album The Cleansing. Album Deathcore terbaik, dengan vokalis yang tidak akan tergantikan.