How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Trial



Sementara di lab desain grafis.


Mereka masih tampak sangat serius sekali dalam mengerjakan tugas yang Semi perintahkan, Semi dari mejanya memantau mereka yang aamt serius, rasanya ia ingin berkata sepatah kata pun takut akan menganggu konsentrasi mereka.”Yang udah selesai bisa langsung present ya, gak usah nunggu lama.” tak ada reaksi, Semi mengambil buah yang kemarin malam ia petik untuk Najwa, belum ia membuka buah itu seoran anak melakukan present.


“Oh Wulan.” Semi memperhatikan desain Wulan. “Lan, desain kamu saya rasa itu kaya rada kurang aja gitu komposisinya, terus, selain itu kamu coba cari warna yang manis kesannya, kan ini buat kue, ini lebih ke kue ulang tahun dan sejenisnya ?”


“Iya mas.”


“Nah kamu harus cari warna yang lebih relate ke kuenya, cari warna yang mata liat aja kayanya kue itu udah enak.”


“Jujur sih mas. Gak mudah.”


“Yah gimana ya. Sorry sih awalnya bila kalian merasa kesusahan karena saya. Tapi saya melatih kalian supaya siap di dunia pekerjaan nanti. Kan kalo sama saya masih ada pengampunan, kalo kalian di dunia pekerjaan gak ada ampunan. Di dunia pekerjaan kalian itu harus mengeluarkan ide terbaik dari yang terbaik, bahkan kalo perlu menguras otak kalian sampe tandus. Ya begini lah perjalanan seorang desainer. Saya juga merasakan apa yang kalian rasakan. Jadi please jangan nyerah ya, karena kalian semua itu masih untung memiliki keeahlian di desain, bila kalian mau cari yang lebih keras lagi, ada tuh orang kayanya Indonesia, emang Chinese sih. Dia itu awalnya jualan kacang, itu bahkan lebih keras lagi loh say. Hanya sebuah kacang, sekarang dia bisa menjadi orang kayanya Indonesia. So please ya, cintai rasa sulit itu, karena suatu saat kalian akan cinta mati sama namanya rasa sulit. Karena dia kalian jadi hebat, karena dia kalian jadi orang sukses. Kalian akan benci kesuilatn di awal, tapi kalian akan cinta mati pada kesulitan bila di puncak nanti. Ok Wulan ?” Wulan tersenyum.


“Mas mungkin ada mas yang bisa bantu kita gitu, kaya misalkan komposisi warna, komposisi bentuk, typografi dan sebagainya.”


“Saya ada filenya. Tapi buat kali ini saya please memina kalian untuk berjuang dulu ok. Karena di balik kesulian ada kemudahan. Bila kalian merasa stuck, nanti saya bantu. Nah kalo misal di dunia kerja, pas kalian lagi stuck baru muncul ide cemerlang kalian. Jadi begitulah dunia pekerjaan kalian nanti, mereka memainkan otak kalian, memeras sampai tetes terakhir. Tak ada yang lebih kejam dari dunia pekerjaan dan dunia nyata setelah kalian mencari uang sendiri nanti. Walau nanti kehidupan kalian akan semakin sulit jangan coba buat jalan pintas, terutama wanita ok. Karena saya merasa wanita mudah terpengaruh, jangan coba pake jalan pintas ok, iya kalian kaya, banyak uang, tapi dunia melabeli kalian itu pecundang, mencari jalan mudah, tanpa mau bekerja keras. Jangan, walau cuma kalian yang tau lama kelamaan dunia bakal pecundangin kalian secara terang-terangan.”


“Ya andai mau melakukan itu pun bakal mikir juataan kali lah mas.”


“Kalian tau gak sisi gelap dari dunia kaya gitu ? Saya ambil contoh besar dan kalian pasti tau namanya. Dia itu cantik, banyak yang suka, Sasha Grey. Padahal gaji yang melakukan itu besar loh. Bisa nyampe ratusan ribu Dollar setiap penampilan, tergantung kategorinya apa. Kenapa Sasha Grey malah berenti ? Dia bilang dia malah mendapatkan kekerasan saat buat video itu. Seharusnya kalian itu kan enjoy, berfantasi, tapi kalo kalian malah liat kekerasan main gak fantasi kalian ? Pasti nggak kan ? Itu yang terekspos, kebeneran saya baca. Bagaimana yang tidak ? Bayangkan.” hening, tak ada jawaban.


“Lanjut lagi ayo, bila kalian merasa stuck, nanti saya bantu.”


Sementara itu di lapangan.


“Mas, ribet mas, gak dapet hasil yang di inginkan mas. Cape mas beneran.”


“Lukman, setidaknya kamu udah mau berusaha. Kesel gak kamu saya minta berulang-ulang buat dapetin yang sama minta ?”


“Pasti mas, cape.”


“Nah, ini masih trial dunia kerja nih. Programnya mas Sem membawakan dunia pekerjaan ke sekolah, jadi mas Sem mau memberikan kalian miniature dunia pekerjaan sebelum kalian terjun ke miniature itu sendiri. Nanti kalo di dunia kerja, kalian tiga kali gak bener. Ya kalian di tendang. Istilahnya sekarang itu kalian harus mau nerima tabokan saya berulang-ulang. Supaya nanti pas kalian kerja kalian udah terlatih, bahkan kebal sama tabokan kaya gitu. Bila kalian merasakan kesulitan di bidang yang kalian sukain, pasti kalian gak akan nyese nanti, karena itu bakal jadi pengalaman yang bakal jadi self auto teaching, nantinya tiba-tiba kalian udah gak bermasalah lagi kalo dapet masalah yang sama. Secara otomatis pengalaman ngajarin kalian, itu. Masih mau lanjut apa nyerah ?”


“Lanjut lah mas, sampe otak kering bakal saya coba.”


“Good, mental fotografer professional begitu. Makin di kritik makin mau nyoba, makin di bentak makin ngotot nyoba ampe bisa. Man, kalo udah dapet coba ajarin yang lain Man.”


“Ok mas.”


“Yang lain gimana ?”


“Wah udah lima belas foto mas, gak ada yang bener.”


“Coba liat sini Firzan.”


Di ruangan editing.


Pak Afrian terlihat sibuk mengajarkan apa yang ia katakana tadi kepada anaknya, terlihat pak Afrian selalu di panggil oleh anaknya, beberapa sudah masuk dalam tahap editing video yang mereka ambil, tapi beberapa dari mereka terlihat mengambil video ulang, karena apa yang mereka dapatkan tidak bisa menerapkan apa yang pak Afrian bilang. Mereka memang seperti terkesan lelah dan ingin marah karena ini, tetapi mereka tetap melanjutkan itu. Walau lisan mereka mengeluh tapi tubuh tetap mencoba lagi, lagi, lagi dan lagi.


Pak Adnan beranjak dari ruangannya, untuk menghirup udara segar sesaat. “Kelamaan diruangan jadi lupa dunia luar kaya apa bentuknya. hadeuhh.” Pak Adnan melihat murid yang tengah praktek di bawah tangan mas Hatta, karena pak Adnan tertarik pak Adnan segera turun dari tangga.


“Mas Hatta.” mas Hatta segera senyum sebagai ganti dari salim kepada pak Adnan, begitu juga murid yang lain.


“Ada apa pak tumben ada diluar ?”


“Saya niatnya sih Cuma mau hirup udara seger aja. Tapi karena liat mas Hatta lagi rame gini saya penasaran. Lagi apa mas ?”


“Hmm begitu, apakah program dari pak Semi berjalan dengan baik yaitu tugas mereka sesuai dengan keahlian mereka, dimana mereka akan mendapatkan tugas dari mereka yang sudah berada di industry itu, dan memperlakukan para murid layaknya mereka yang sudah bekerja, apa efektif ?”


“Oh efektif pak, bila bapak tidak keberatan mari ikut keruang guru pak, dimana itu sudah terbukti dengan tugas yang saya berikan kepada mereka dan juga, kepuasan teman saya yang memberikan tugas kepada mereka pak.”


“Silahkan, saya ingin mengetahui, karena bagi saya ini adalah sebuah program revolusioner, tetapi saya merasa sangat kasihan kepada murid bila mereka tidak dapat menanguung itu semua.” pak Adnan dan mas Hata berjalan ke runag guru.


Bu Aya tengah mencari sebuah material yang cocok untuk dijadikan tugas kepada mereka, begitu juga dengan mba Riana. Mas Hatta membuka pintu yang membuat mereka kaget karena bersama dengan pak Adnan. ”Pak Adnan, ada apa pak ?”


“Saya ingin melihat bukti yang dari program revolusioner dari pak Semi apakah ini benar efektif atau tidak.”


“Wah efektif pak. Bener-bener efektif pak. Dengan adanya program ini banyak murid yang mendapatkan keahliannya mereka, mereka semakin yakin dan semakin mau terus belajar pak.”


Mas Hatta menunjukkan hasil karya dari para murid. “Silahkan duduk pak, berikut ini karya dari mereka yang pernah saya tugaskan, dan teman saya tugaskan.” pak Adnan duduk.


“Ohhh.” Pak Adnan memuji dalam terkejut seraya menggeser karya yang telah di kerjakan. “Pak Adnan gak tau ya mas setelah ada program ini semuanya jadi berbeda. Kita serasa mendidik calon pekerja professional ya kan mas ?”


“Yoi mba.” bu Aya hanya tersenyum. “Luar biasa, tidak mengecewakan. Program ini sangat tidak sia-sia sekali dimana saya belum pernah melihat peningkatan yang sangat signifikan seperti ini. Dimana yang saya lihat karya dari mereka bisa di sandingkan dnegan mereka yang sudah terjun di dunia tersebut. Saya sangat puas sekali. Bagaimana pada bidang yang lain mas ? Ini dari bidang fotografi, bagaimana dengan desain grafis ?”


“Wah pak kalo masalah desain gak bisa diremehkan pak. Udah kaya siap di terjunkan pak di perusahaan.”


“Ah masa sih, saya itu gak percaya sama ucapan gitu aja. Mana mas Hat ?” mas Hatta menunjukkan karya mereka dengan penuh senyuman. “Silahkan di lihat pak.”


“Ohhh, ohhh, ohhhhh.”


“Kenak mental mas.” Mas Hatta hanya tersenyum dengan acungan jempol.


“Wah mantab in mas, terutama desain majalah, itu seperti majalah professional yang pernah saya liat. Ini sebuah program revoluioner, dan ini ternyata terbukti efektif. Mungkin saya akan mempromosikan program ini. Walau aka nada pro dan kontra dalam menerima program ini nantinya. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba sebuah program ini. Untuk hasil akhir biarkan mereka yang memutuskan.”


Sementara di lab desain grafis. “Bagaimana apakah kalian merasa stuck ?”


“Belom mas, makin banyak salah malah makin penasaran mas. Simpan aja mas filennya buat nanti, kita lagi seru eksplor.”


“Good, itu artinya otak kalian terangsang dan apa yang selama ini saya ucapkan masuk di kepala kalian dengan baik. Bilang ya kalo stuck nanti ?”


“Kayanya nggak deh mas.”


“Good, bila kalian merasakan demikian. Mental kalian mulai terbentuk oleh ucapan saya.”


“Permisi.” Semi segera menoleh, dan segera bangkit menghampiri pak Adnan dan salim. “Ada apa pak Adnan ke ruangan desain grafis ?”


“Saya hanya ingin melihat sebrapa efektif program yang telah pak Semi terapkan. Bolehkah saya melihat karya yang telah murid pak Semi lakukan melalui program ini ?”


“Oh dengan senang hati pak.” Semi membawa pak Adnan ke mejanya, lalu menunjukkan karya yang pernah ia tugaskan.


“ini adalah sebuah karya yang baru saja saya perintahkan kemarin kepada murid saya, yaitu membuat sebuah kemasan untuk kue dan sejenisnya.” pak Adnan melotot segera.


Pak Adnan diam sesaat sambil melihat yang lainnya. “Oh… Ini sangat bagus sekali pak Semi. Menurut saya kemasan ini bisa segera di serahkan kepada pengusaha yang menjalani bidang ini, dan saya rasa ini akan menghasilkan uang lebih cepat dan besar”


“Saya sudah katakana kepada anak saya dan juga anak pak Afrian, bila mereka berani mereka bisa mengajukan desain ini kepada penguasaha dan mereka yang mulai menentukan harga untuk satu lusin.”


“Bagaimana dengan karya yang lainnya pak Semi ?”


“Oh, bahkan masih banyak karya yang ingin saya tunjukkan kepada bapak sebagai bukti efektifnya program yang saya berikan kepada mereka.” Semi menunjukkan lebih banyak karya yang telah muridnya kerjakan.


Psk Adnan hanya bisa tersenyum sambil merasa puas atas apa yang telah Semi lakukan, programnya bukan hanya sekedar wacana saja, tetapi berbuah hasil yang manis. Pak Adnan tidak meragukan itu lagi.