
Mika berjalan ke arah dapur dengan malas. Ketika sudah berada di dapur, Mika menerbitkan senyumannya melihat Tasya-teman barunya yang sedang mencuci piring disana. Dengan langkah mengendap-endap, Mika mengagetkan Tasya membuat Tasya terkejut.
Mika tertawa kecil melihat Tasya terkejut begitu juga Tasya, dia tersenyum melihat Mika masih mengingatnya. Ia pikir Mika akan cepat melupakan karna dirinya hanya seorang pelayan dirumah ini.
"Kamu sedang apa?" tanya Mika, padahal dia tahu bahwa Tasya sedang mencuci piring.
"Mika, apa kamu tidak bisa melihatnya?" Mika tertawa.
"Apa disini gak ada pelayan lain?" tanya Mika sambil menatap sekeliling dapur yang luas ini. Namun matanya menangkap Dion yang terduduk melamun di meja yang ada disana.
Mata Mika memicing. "Kenapa sekretaris itu ada disana?" tanya Mika pada Tasya.
Tasya mengikuti tunjukkan Mika, pipinya langsung memerah melihat Dion disana. Apa dari tadi dia ada disana? Tanya Tasya dalam hati.
Mika menyenggol tangan Tasya. "Apa kamu punya hubungan spesial dengannya?" tanya Mika.
"Ti--tidak Mika. Aku tidak mengenalnya." gugup Tasya.
"Oh, aku kira kamu punya hubungan dengannya." Tasya menggeleng.
"Oiya kamu ada apa kesini, Mika?" tanya Tasya, mengalihkan topik pembicaraan.
Mika menepuk dahinya. "Aku lupa. Kata tuan galak suruh pelayan buatkan 2 spageti." jawab Mika.
Tasya mengangguk. "Yaudah, biar aku aja yang buat. Kamu duduk aja disana aja dulu." ucap Tasya menunjuk meja yang juga diduduki Dion.
Mika mengangguk. Dengan langkah melopat-lompat kecil, Mika mendekati Dion yang sepertinya sedang galau. Dia menepuk bahu Dion membuat Dion sontak terkejut.
Mika duduk di kursi dekat Dion. Dia menyengir kuda karna sudah mengangeti Dion.
Dion mengusap wajahnya gusar lalu menatap Mika. "Nona, seharusnya nona berada dikamar sekarang. Kalau tuan muda mengetahuinya, dia bisa marah, nona." ujar Dion.
"Ihhh, saya kesini karna emang disuruh tuan galak itu, Om." jawab Mika.
Dion manggut-manggut. "Saya kira nona keluyuran saat tuan muda sedang tidur."
"Wah Om, kiraan Anda ternyata salah, ya." kata Mika memasang wajah datar.
"Tasya," panggil Dion. Membuat Mika yang mendengarnya terkejut sekaligus penasaran. Apa sebenernya hubungan mereka berdua.
Tasya yang sedang menyiapkan spageti pesanan tuan muda menoleh sebentar ke Dion dengan kedua alis terangkat. "Ada apa, tuan?" tanya Tasya, menyembunyikan rasa gugupnya sekarang.
"Sebentar-sebentar." kata Mika, menimbal. "Sebenarnya kalian ini siapa si?" Mika mulai penasaran.
Dion mengkerutkan dahinya. "Maksud nona apa ya?" tanyanya.
"Kalian ini pacaran ya?" Mika memicing.
Tasya yang mendengar itu langsung menjatuhkan gunting ditangannya. Dengan cepat dia mengambilnya lagi, mengalihkan pandangan pada spageti yang direbusnya.
"Anda salah nona. Kami bukan sepasang kekasih. Kami saja tidak dekat." jawab Dion.
"Ah, udahlah jangan boongin saya. Saya tau Anda menyukai Tasya kan?"
"Tidak nona, saya sudah mempunyai kekasih." jawab Dion, datar.
Tasya yang mendengar itu hanya terdiam. Dia memfokuskan diri untuk membuat spageti untuk tuan muda dan Mika.
Mika menatap Dion memicing. Dia tidak yakin kalau Dion tidak menyukai Tasya. Wanita cantik dan manis seperti Tasya siapa yang tidak suka melihat Tasya. Wajah cantiknya bisa membuat semua lelaki menyukainya waktu pertama kali bertemu dengannya. Apalagi sifat dan tingkah Tasya yang menurutnya sangat feminim, berbeda dengannya.
Tasya menghampiri Mika dengan kedua piring berisi spageti ditangannya. "Ini Mika. Kamu sepertinya harus kembali ke kamarmu deh. Nanti tuan muda marah, loh!" ucap Tasya dengan penuh harapan Mika segera kembali ke kamarnya agar Mika tidak menanyakan-nanyakan hal yang tidak benar.
Mika mengambil kedua piring itu dari tangan Tasya tapi matanya masih memicing ke arah Dion. Dengan berjalan memundur, Mika menjauh dari mereka berdua.
Kini didapur hanya ada Tasya dan Dion. Tasya ingin beranjak pergi dari sana ketika Mika sudah pergi namun tangan Dion menahannya membuatnya menatap Dion lagi.
"Jangan berharap pada ku, Tasya." ucapnya. "Jangan berharap padaku,"
Tasya tersenyum simpul, dilepaskan genggaman Dion di tangannya. "Saya tau, tuan. Kalau begitu sqaya permisi dulu, saya ingin kembali ke kamar saya." pamitnya kemudian melengang pergi.
"Tuan!" teriak Mika kala masuk kedalam ruangan kerja Raga dengan dua piring ditangannya. "Ini spagetinya." lanjutnya.
Raga berdecak sebal. "Jangan berteriak-teriak!" seru Raga. "Kemari!" titahnya dan Mika mengikutinya.
Mika mendekati Raga kemudian duduk di kursinya yang masih berada disebelah Raga. Menyingkirkan laptop Raga sampai ke ujung meja lalu menaruh kedua piring spageti itu ke tengah-tengah meja.
Raga menoyor kepala Mika ketika melihat laptop nya disingkirkan begitu saja olehnya.
Mika menyengir tidak berdosa. Dia mengaduk-aduk spageti itu agar bumbunya tercampur lalu setelah itu dia melahap spageti itu duluan membuat Raga yang melihatnya kesal.
"Jangan makan duluan! Suapi aku dulu." ucap Raga, mengalihkan pandangannya ke laptopnya.
Mika menelan spagetinya itu dengan kesal lalu dia menyuapi Raga dengan spagetinya. Padahal Raga mempunyai spageti sendiri, mengapa menyuruhnya menyuapi dirinya dengan spageti miliknya?
Raga menyuap suapan Mika tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Tuan, bagaimana berkerja di kantoran?" tanya Mika seraya menyuapi Raga dengan spageti lagi.
"Apa perlu aku jawab?" ketus Raga tanpa menoleh kearah Mika.
"Tuan, mengapa Anda memilih saya dari pada kakak saya? Apa mata Anda bermasalah jadi memilih saya bukan Kak Sekar? Jelas-jelas cantik kan Kak Sekar dari pada saya walaupun saya juga cantik sih. Tapi aneh sekali tuan. Banyak yang bicara pada saya kalo disuruh memilih antara Kak Sekar dan saya, orang-orang akan lebih memilih Kak Sekar. Dan ada apa dengan Anda tuan? Sampai memilih saya dari pada Kak Sekar?" celoteh Mika sambil menyuapi Raga.
Raga mendesah kesal. Ditatap tajamnya Mika yang berceloteh-celoteh tidak jelas. "Bisa diam? Aku sedang fokus disini!" kesal Raga.
Mika menyengir. Dia menyuap spageti itu kemulutnya sendiri.
Setelah sudah menyelesaikan pekerjaannya, Raga menutup laptop itu. Dia langsung menatap Mika yang masih menyantap spageti.
Ingin sekali dia mencubit pipi Mika yang tembam karna terus memasukkan spageti itu kedalam mulutnya. Dan lagi disudut bibirnya terdapat saos sambal membuatnya sangat gemas pada Gadis berumur 23 tahun itu.
Tangan Raga terangkat menyapu sudut bibir Mika membuat Mika terdiam memandangi Raga dengan kedua alis terangkat. Kemudian Raga menatap saos yang dia elap dari sudut bibir Mika dijarinya lalu dia menjilat jarinya sendiri.
Mika yang melihat itu melotot tidak percaya. "Tuan, bagaimana rasanya? Apa manis? Itukan saos sambal dari sudut bibir saya." kata Mika.
Raga mengecap-ngecap bibirnya. "Pait." Mika menatap Raga dengan satu sudut bibir ke atas.
Raga menyender pada senderan sofa. Dia menghela nafas panjang. Pekerjaan hari ini benar-benar membuatnya merasa lelah.
"Tuan," panggil Mika.
"Hmm?"
"Saya dengar Anda mempunyai pacar yang berbeda dengan Anda 5 tahun. Saya pikir Anda itu pedofil." kata Mika membuat Raga menatap tajam kearahnya.
"Apa kamu bilang?" nada bicara Raga meninggi.
"Ya, Anda memilih saya dari pada Kak Sekar yang jelas-jelas umurnya sama dengan Anda tapi kenapa Anda memilih saya? Sudah saya simpulkan, Anda ternyata seorang pedofil ya, tuan."
"Hais, berani sekali kamu!" teriak Raga sambil terus menoyor kepala Mika membuat kepala Mika ke depan-belakang.
"Tuan, saya ingin minum!" teriak Mika.
Raga memberhentikan toyoran nya pada Mika. "Kamu yang ingin minum kenapa berteriak padaku?"
"Hmmm, hehe saya hanya ingin berteriak saja tuan." Mika cengengesan. Raga memutar bola matanya malas.