
Siang ini Mika memutuskan pergi ke kantor pusat Antareja Groups. Dia sengaja datang kekantor untuk membawakan makan siang untuk Raga dan tentunya tujuan utamanya datang ke sana untuk melihat-lihat gedung kantor milik suaminya itu.
Mika berjalan dilorong lantai tiga bersama Dion yang berdiri dibelakang Mika. Dion ditelfon Mika saat Mika sudah berada didepan kantor Antareja Groups, dan begitu dia ditelfon Mika dia langsung bergegas menghampiri Mika.
Mika mengayunkan tas berisi makanan siang Raga. Dia berjalan tanpa mempedulikan semua karyawan wanita menatap Mika dengan tatapan tidak suka dan cemburu.
Baru kali ini ada seorang Gadis asing yang ditemani langsung dengan Sekretaris Dion. Mereka curiga Gadis yang berjalan dengan Sekretaris Dion mempunyai hubungan antara tuan muda Raga dan Sekretaris Dion.
Dion menatap tajam karyawan-karyawan wanita itu, berani sekali mereka memelototi Istri tuan muda. Dan semua karyawan Wanita langsung menundukkan kepalanya.
"Sekretaris Dion, dimana ruangan Gaga?" tanya Mika tanpa menoleh kearah Dion.
"Berhenti nona," ucap Dion memberhentikan langkah Mika.
Mika membalik badannya, dia menatap Dion bingung. "Kenapa?" tanya Mika dengan kedua alis terangkat.
Dion membukakan pintu yang Mika tidak tahu ruangan apa itu. "Silahkan masuk, nona," persilakan Dion.
"Ini ruangan siapa?" tanya Mika.
"Masuk saja kalo nona mau tahu." Mika mengangguk. Dia berjalan memasuki ruangan itu.
Dion menutup kembali pintu ruangan itu dari depan. Dia berjalan menjauh dari ruangan itu.
Mika menatap Pria yang duduk menyender dikursi kerjanya, seketika senyumannya mengembang.
"Mau apa kamu kekantor ku?" ucap Raga yang duduk bersantai dikursi kerjanya.
Mika berjalan mendekati Raga. Dia mengangkat tinggi-tinggi tas berisi makan siang pada Raga. "Saya bawa ini, Ga," kata Mika dengan senyuman mengembang.
"Apa itu?" Raga mengangkat kedua alisnya.
"Makan siang dong!" seru Mika.
Raga tersenyum miring. "Bagaimana kamu tau ruanganku, hmm?" tanya Raga, menarik Mika kepangkuannya.
Ini sudah kedua kalinya Raga memangku Mika namun masih saja Mika terkejut.
"Hei! Aku bertanya?!" bentak Raga.
"Diberi tau Sekretaris Dion." jawab Mika.
"Kamu menelponnya?" tanya Raga lagi.
Mika mengangguk. "Iya, saya nelpon Sekretaris Dion pas sampai kesini. Dan hebatnya sekretaris Dion langsung datang, hahaha saya berasa menjadi tuan putri," celoteh Mika.
"Mana ada tuan putri sejelek dirimu?"
Mika berdecak. "Bisa tidak mengiyakan ucapan saya, Ga?"
"Siapa kamu?" Mika menatap datar Raga.
Mika menatap sekeliling ruangan Raga. "Apa disini ada kamar, Ga?" tanya Mika.
Raga memutar bola matanya malas. Tangannya menoyor kepala Mika. "Cih, dasar tukang tidur!" cibir Raga. Mika menyengir kuda.
"Ga, apa anda mau makan sekarang? Saya lapar soalnya, hehe," Mika cengengesan.
"Itu makananku! Jadi itu punyaku!" ketus Raga.
Mika memanyunkan bibirnya. "Tapi kan saya juga lapar.."
"Tidak peduli!"
"Dasar pelit!"
"Apa kamu bilang?!"
"Anda pelit! Sangat pelit!"
"Berani sekali kamu ya?!"
"Tidak peduli!" Mika mengikuti cara bicara Raga.
Kedua sudut bibir Raga mengkedut menahan tawanya.
"Kalo anda tidak memperbolehkan saya makan, saya tidak jadi memberi makanan ini!" ancam Mika.
"Hei?! Sudah memberi tidak boleh diambil kembali!" teriak Raga.
"Biarin!"
"Ck, kamu ini?!" Raga berdecak kesal.
"Makan berdua ya?"
"Tidak!"
Mika berdecak. Dia memberi tas ditangannya pada Raga. "Yaudah deh, saya tidak usah makan."
"Apa kamu merajuk?" Raga mengangkat satu alisnya.
Mika menggeleng. "Tidak," jawabnya.
Raga tersenyum miring. Dia tahu istrinya itu sedang merajuk sekarang, terdengar dari nada bicaranya.
"Ga, nonton film yuk!" ajak Mika tiba-tiba.
Raga menaruh tas berisi makanan itu ke atas meja disebelah laptop miliknya. "Aku sibuk!"
"Bukan nonton bioskop, nonton film di laptop kan juga bisa."
"Seterah!"