
"Sekarang jelaskan kenapa kamu bisa ada disana?" Raga meminta penjelasan pada Mika yang hanya menatapnya, melamun.
Raga menyentil dahi Mika pelan membuat Mika sontak membuyarkan lamunannya. Dia tersentak mengubah posisi duduknya ditepi king size milik Raga menjadi memiring, menghadap langsung Raga yang terduduk menyender di king size.
Raga menunggu penjelasan dari Mika, dia melonjorkan kakinya sampai sedikit menendang Mika.
"Itu tuan, saya kesana karna--" Mika berpikir dahulu sebelum menjelaskan lebih jelas pada Raga kenapa dia bisa berada di karaoke itu.
"Kesana karna apa?" Raga mulai geram pada Mika yang hanya berbicara seperti itu sedari tadi.
"Saya bosan, tuan. Saya denger-denger disana tempatnya sangat seru jadi saya kesana saja." jelas Mika dengan kuping memerah bertanda dia berbohong.
Raga tersenyum smirk. Dia mendekati Mika, menjewer kuping Gadis itu membuat Mika mengaduh kesakitan. "Apa ini? Kenapa kupingmu memerah?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Akhhh, sakit tuan." Mika mengaduh kesakitan.
Akhirnya Raga melepaskan jewerannya, kembali pada posisi duduknya, menyender pada senderan king size-nya. "Jelaskan yang jelas!" teriak Raga.
Mika mengusap-usap telinganya yang sehabis dijewer oleh Raga itu. Dia menatap Raga jengkel dengan sudut bibir melengkung kebawah.
"Hei! Jangan memolotiku! Cepat jelaskan!" bentak Raga sambil menendang tubuh Mika pelan.
Mika mendengus kesal. "Saya kesana karna saya ingin mencari jodoh saya. Kan kalo Anda menceraikan saya nantinya, saya sudah ada gantinya." jelasnya, mengada-ngada.
Raga menyeringai. "Owhh, jadi kamu kesana mau mencari pria lain, begitu?" tanyanya.
Mika mengangguk dengan wajah kesal. "Iya!" teriaknya, yakin.
"Yaudah kalo gitu. Berkerja sana disana selamanya, aku tidak peduli!" ketus Raga.
Mika menantang Raga dengan menunjukkan wajah konyolnya. "Hah? Jadi Anda mengijinkan saya untuk berkerja disana, tuan? Suami macam apa Anda ini, tuan." cibir Mika.
"Suami? Jadi sekarang kamu mengakui aku sebagai suamimu? Cih, bahkan kamu belum melakukan apa-apa yang harus dilakukan seorang istri."
"Emangnya Anda juga mengakui saya Sebagai istri anda, tuan?"
"Tidak." singkat Raga membuat Mika geram setengah mati. Dia bangun dari duduknya, mengepalkan tangannya kesal, ditatapnya wajah Raga yang tidak berdosa itu.
"Anda benar-benar menjengkelkan ya tuan." kata Mika bernada kesal.
"Hah?"
"Ishh!" dengus Mika kesal. Dia berjalan ke kamar mandi dengan menghentak-hentak kakinya, kesal pada Raga itu. Meningglkan Raga yang masih terduduk diatas king size-nya dengan sudut bibir terangkat keatas.
Raga mengacak-ngacak rambutnya. Apa itu kenapa dia bisa gemas begitu pada Gadis itu? Benar-benar susah dijelaskan bagaimana perasaan Raga saat ini.
Tak lama kemudian, Mika keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berubah. Wajahnya kembali seperti semula setelah berdebat dengan Raga barusan, Mika mengunek-unek Raga didalam kamar mandi. Dia mengeluarkan semuanya didalam sana dan saat dia keluar dari kamar mandi hatinya menjadi senang, gembira.
Entahlah Mika memang mempunyai sifat yang unik. Semenit yang lalu dia marah lalu semenit kemudian dia kembali tersenyum.
Raga menyatukan kedua alisnya ketika Mika keluar dari kamar mandi dengan senyuman mengembang dibibirnya.
Mika berjalan mendekati king size, merebahkan dirinya diatas king size tepatnya di sebelah Raga.
Memang Mika sudah tidur seranjang sejak kemarin karna Raga menyuruhnya untuk tidur disebelahnya karna Mika merengek pada Raga untuk tidur diatas king size dengan alasan tubuhnya sangat sakit karna tertidur di kasur tipis. Dan tanpa Raga menyetujuhinya, Mika tertidur disebelah Raga. Alhasil Raga mengalah dan membiarkan Mika tidur disebelahnya.
"Tuan, apa Anda pernah tidur dengan wanita lain?" tanya Mika, mengubah posisi tidurnya menjadi memiring agar bisa menatap langsung Raga yang masih terduduk.
"Kenapa? Apa kamu mau aku tiduri? Cih, jangan harap!"
Mika mencemberutkan bibirnya. "Tapi tuan, saya pernah melihat Anda dengan seorang wanita lain sedang bermesraan loh!" seru Mika.
"Kapan? Dimana?" tanya Raga. Sebenarnya dia malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Gadis itu namun kalo dia tidak menjawabnya pasti Gadis itu akan berceloteh-celoteh tidak jelas.
"Di---" Mika mengantungkan kata-katanya. "Di karaoke Anda mencium seorang Gadis cantik didekat toilet." lanjutnya membuat Raga sontak melototkan matanya.
"Jangan terbawa perasaan kamu! Aku hanya mau membantu kamu saat itu."
Mika tersenyum menggoda. "Sayakan tidak bilang kalo Gadis cantik itu saya, tuan." goda Mika.
Raga memutar bola matanya malas. Dia merosotkan tubuhnya untuk berbaring disebelah Mika. "Jangan GR kamu!" dingin Raga.
"Tuan, apa saya boleh kerja di kantor Anda? Sepertinya seru bekerja di kantoran." kata Mika dengan antusias.
"Kalo kamu berkerja di kantoran kamu pasti akan membuat masalah!" jawab Raga.
Mika mencemberutkan bibirnya.
"Tuan, apa saya boleh mengganti nama panggilan Anda? Saya merasa seperti bawahan Anda saja. Kata Tasya saya harus mengubah sebutan panggilan anda." kata Mika dengan wajah dibuat-buat.
Shit! rasanya aku ingin tertawa.
"Terserah! Asal jangan sayang! Karna kamu tidak pantas memanggilku dengan sebutan itu."
"Ah iya-iya. Saya panggil Anda Oppa aja gimana?" tanya Mika dengan mata berbinar-binar.
"Ku bunuh kamu kalo berani!" Raga melototi Mika.
"Ahhh, trus saya memanggil Anda apa?" tanyanya sendiri.
"Panggil aku Lendra, Raga atau Galen. Itu terserah kamu!"
"Orang-orang tersayang Anda kalo memanggil Anda dengan sebutan apa?" tanya Mika lagi.
"Gaga." singkat Raga.
"Baik kalo gitu, saya akan panggil Anda Gaga." Mika berantusias. "Gaga semoga mimpi buruk.. Ahh maksud saya mimpi indah, hehe." Mika cengengesan, melihat Raga yang memalingkan wajahnya, Mika mengubah posisinya membelakangi Raga.
Raga yang mendengar Mika memanggil nama kesayangannya tersenyum. Dia juga mengubah posisi tidurnya membelakangi Mika.
Saat ini pasangan suami-istri itu saling membelakangi satu sama lain. Namun salah satu dari mereka tersenyum-senyum tidak jelas.
 --------------
Jangan lupa like, komen dan VOTE ya!
terimakasih😘