
"Tidak apa-apa, cuma bertanya." jawab Mika. Raga memutar bola matanya malas.
"Nona, apa anda akan menemani tuan muda sampai pulang disini?" tanya Dion.
Mika menatap Dion. "Iya kayaknya," jawab Mika.
"Kamu mau menemaniku atau mau mengganggu pekerjaanku?" sindir Raga.
"Kenapa anda selalu berburuk sangka, Ga? Saya kan orang baik, jadi mana mungkin menganggu orang apalagi suami sendiri."
Dion tersenyum geli mendengar Mika mengucapkan kata suami pada Raga.
"Lihatlah Dion, sekarang dia baru mengakui ku sebagai suaminya, benar-benar durhaka ya." ucap Raga pada Dion.
"Durhaka apanya? Saya kan tidak pernah melawan anda," kata Mika, membela diri.
"Tidak pernah? Mau aku putarkan rekaman dimana kamu selalu membantah ku dan melawanku, hmm?"
Mika gelagapan. Dia menggaruk tekuknya yang tidak gatal. "Aduhh, cuaca hari ini panas ya?" ujar Mika mengalihkan topik.
Dion tersenyum, menahan tawanya disana.
"Sepertinya AC diruangan ini menyala, nona," goda Dion.
Mika menatap Dion kesal yang ditatap malah memasang senyuman jahil.
"Apa ada lagi yang kamu bicarakan padaku, Dion?" tanya Raga.
"Tidak ada tuan muda, kalau begitu saya keluar,"
Dion melenggang pergi dari ruangan Raga. Tidak lupa dia menutup kembali pintunya.
Seperginya Dion dari ruangannya, Raga menatap Mika yang sedang memainkan ponselnya.
Raga langsung merampas ponselnya dari tangan Mika. Dia melihat apa yang sedang dimainkan Mika di ponselnya itu. Dan betapa terkejutnya dia melihat layar ponselnya menampilkan fotonya sendiri yang memakai emoji marah diwajahnya.
Raga menatap tajam Mika. "Kamu memotrerku, hmm?" tanya Raga, dingin.
Mika menyengir. "Iya hehehe, tapi fotonya baguskan, Ga?" tanya Mika tidak berdosa.
"Apanya yang bagus, hah?! Lihat wajahku yang tampan ini kamu ganti dengan emoji marah seperti ini?!" bentak Raga, menendang kaki Mika.
"Tapi cute tau," Mika memonyongkan mulutnya.
--------------------------
Malam hari..
Raga sudah menyelesaikan semua pekerjaannya di hari ini. Dia bangun dari kursinya, berjalan kearah sofa dimana Mika tertidur dengan nyenyak disana.
Raga berjongkok dihadapan Mika. Dia tersenyum gemas melihat Istri bodohnya yang tertiduran diruangannya. Wajah Istrinya yang tertidur benar-benar membuatnya gemas. Benar-benar gemas.
"Tuan muda," ucap Dion yang entah dari kapan sudah ada dibelakang Raga.
"Lihatlah Yon, wajahnya benar-benar jelek saat tertidur." kata Raga pada Dion tanpa menoleh padanya.
Dion tersenyum. "Sangat imut, tuan," ucap Dion membuat Raga langsung menatapnya tajam.
"Jangan memujinya begitu?!" kesal Raga.
Dion terkekeh. "Baik-baik tuan,"
Raga berdiri lalu dia mengendong tubuh Mika ala brydal style.
"Tuan, apa sebaiknya saya saja yang menggendong nona?"
Raga mengangkat satu alisnya keatas. "Aku suaminya disini, jadi biarkan aku yang membawa istriku." tegas Raga.
Dion mengangguk mengerti. Dia berjalan dibelakang Raga ketika Raga melangkahkan kakinya.
Saat keluar dari lift, banyak para karyawan yang menatap Mika iri. Bagaimana tidak? Seorang Presdir yang tampan nan dingin seperti Raga menggendong Gadis yang wajahnya biasa saja.
Dion yang mengetahui tatapan mereka langsung berdeham kencang membuat semuanya menundukkan kepala.
Raga tidak mempedulikan tatapan-tatapan mereka, dia hanya fokus menggendong Istri bodohnya yang sekarang tengah tertidur itu.
"Andai aku yang menjadi Istri tuan muda," kata karyawan wanita satu.
"Jangan bermimpi! Belum tentu Gadis itu Istri tuan muda kan?" balas karyawan wanita dua.
"Hais, aku benar-benar iri dengan Gadis itu yang beruntung digendong tuan muda.." kata karyawan wanita tiga.
Raga tidak mempedulikan ucapan-ucapan itu. Dia terus jalan keluar dari kantornya.