
Cahaya sinar matahari menyinari kamar Raga. Raga terusik dengan sinar matahari yang mengenai wajahnya, dia langsung terduduk ditepi king size sambil mengucek-ngucek matanya.
Ketika penglihatannya sudah sangat jelas, Raga mencari-cari keberadaan Gadis bodohnya itu. Dan matanya menangkap Gadis itu sedang tertiduran disofa, menatap keatas langit-langit kamar.
"Oi!" teriak Raga.
Mika yang mendengar teriakan Raga langsung menoleh ke arahnya. Senyumannya mengembang seketika, dia segera bangun dan mendekati Raga yang terduduk ditepi king size.
Mika memiringkan kepalanya, matanya ia sipitkan. "Selamat pagi, tuan." sapa Mika dengan senyuman merekah dibibirnya.
Raga berdecak. "Siapkan air untuk ku." titah Raga.
"Kenapa?" tanya Mika.
"Kamu tanya kenapa? Cepat siapkan air untukku!" ulang Raga.
"Iya iya." jawab Mika.
Dengan langkah malas masuk kedalam kamar mandi. Menyiapkan air mandi untuk Raga di bak mandi. Dia menunggu air itu sampai penuh, dia terduduk di ujung bak mandi sambil bersenandung kecil.
Tak lama kemudian Raga datang dengan hanya memakai handuk yang dililitkan pinggangnya.
Mika yang tadinya melamun sambil bersenandung langsung menyadari kehadiran Raga. Dia turun dari bak mandi dengan mata melotot melihat badan atletis Pria itu yang membuat matanya ternodai. Belum lagi perut kotak-kotak Raga yang membuatnya ingin memengang perut sixpack Raga itu.
Raga mendengus kesal. Dia menendang kaki Mika membuat Mika terpekik sambil memengangi kakinya. "Hais, dasar mesum kamu ya!" dengus Raga, kesal.
Mika memengangi kakinya dengan mulut yang berkomat-kamit mengumpati Raga.
Raga langsung masuk kedalam bak mandi. Dia membuka lilitan handuk di pingangnya, melemparnya ke wajah Mika yang masih berkomat-kamit di sebelah bak mandi.
Raga menyenderkan kepalanya di ujung bak mandi. Dia menghela nafasnya panjang, menikmati air yang menusuk tubuhnya.
"Ambil kan sabun disana." tunjuk Raga tanpa menoleh pada Mika.
Mika mengambil sabun mandi itu dan memberikannya pada Raga. "Ini tuan."
"Sabuni aku."
Mika melotot. "Sudah gila ya? Masa menyabuni diri sendiri tidak bisa?!" teriak Mika.
Raga menoleh ke Mika, menatap Mika tajam. "Jangan membantah!" tekannya.
Mika mendesah pasrah. Dia mendekati bak mandi, duduk ditepi bak mandi. Segera dia menyabuni tubuh depan Raga. Dan Orang yang disabuni hanya menyender santai pada ujung bak mandi.
Mika menyabuni dada bidang Raga lama. Rasanya dia ingin mencubitnya.
Raga berdecak sebal. "Ckk, mesum sekali kamu ya. Sudahlah, sekarang kamu keluar sana! Siapkan roti untukku."
Mika tersenyum senang. Dia bangkit dari tepi bak mandi. "Anda harus mendiri tuan jadi orang." katanya kemudian berlari keluar, takut Raga akan marah lagi karna ucapannya barusan.
Raga tersenyum tipis. Dia segera menyelesaikan mandinya dan ingin menyentil dahi gadis itu karna sudah berani bicara seperti itu padanya.
"Tuan, boleh saya menumpang sampai warung bapak?" tanya Mika, dia berjalan beriringan dengan Raga menuju ke pintu utama.
Raga hanya berdeham. Dia melempar tas dan jas birunya pada Mika. "Bawa itu kalo kamu mau menumpang."
Mika mengangguk. Dia memaikan jas milik Raga ditubuhnya. Wajahnya terlihat senang mengenakannya, dia berangan seperti orang kantoran sekarang.
Raga memberhentikan langkahnya, dia menatap Mika yang berani memakai jasnya pada tubuh Gadis itu. Mika yang melihat Raga berhenti ikut memberhentikan langkahnya, kedua alisnya menyatu.
"Kenapa kamu pakai jasku, hmm?" kata Raga sambil menyentil dahi Mika.
Mika menyengir. Dia memperlihatkan lengan jas Raga yang kepanjangan karna jas milik Raga kebesaran ditubuhnya. "Lihat tuan, apa saya terlihat keren dengan jas ini?" tanya Mika, Memiringkan kepalanya, menunggu jawaban dari Raga.
Raga menjauhkan wajah Mika dengan tangannya. "Jelek, apanya yang keren? Sangat jelek kamu memakai itu!" jawab Raga, ketus.
Mika berdecak sebal. "Kenapa Anda tidak bisa memuji saya sekali aja walau itu tidak benar!" kesal Mika.
"Cih, emang kenyataannya jelek! Tidak pantas!" balas Raga.
Raga tidak menggubris ucapan Mika lagi, dia melanjutkan langkahnya. Sudut bibirnya mengendut, menahan tawanya melihat Mika yang kesal padanya. Itu membuatnya sangat gemas pada Gadisnya itu.
Mika menghentak-hentakan kakinya, kesal. Dia melanjutkan jalan, mengikuti Raga dari belakang.
Namun saat Mika berjalan, Raga memberhentikan langkahnya tiba-tiba membuat wajah Mika bertubrukan dengan punggung Raga.
Mika mendesah kesal. Dia memengangi wajahnya, dia menatap tajam punggung Raga. Ingin sekali dia memukul punggung Raga itu.
Raga tersenyum, dia ingin mempermainkan Mika hari ini. Kemudian Raga melanjutkan langkahnya lagi.
"Selamat pagi, tuan." sapa Dion, Pria itu berdiri di pintu mobil belakang, membukakan pintu untuk tuan muda itu
Seperti biasa, Raga tidak membalas sapaan Dion. Dia langsung masuk kedalam mobil.
Semasuknya Raga kedalam mobil, Dion menaikan kedua alisnya melihat Mika berada dihadapannya dengan jas milik Raga yang melekat pada tubuh mungilnya itu. Mika menampilkan gigi-giginya pada Dion, kepalanya memiring.
"Pagi Om!" sapa Mika setengah berteriak.
Dion tersenyum tipis. "Pagi nona," menyapa balik.
"Saya duduk dimana nih? Saya menumpang sampai ke warung bapak, loh!" Mika memberi tahu pada Dion.
Dion masih tersenyum. "Kenapa menumpang, nona? Saya bisa mengantar nona kemana saja." ucap Dion.
Mika tersenyum mendengarnya. "Terimakasih, loh! Tapi saya cuma ingin menumpang, hehe." Mika cengengesan membuat Dion gemas melihat Istri tuan mudanya itu.
Raga membuka jendela mobil, wajahnya menyembul dari jendela mobil. "Hei! Cepat naik!" teriak Raga.
Mika menatap tajam Raga. Bukannya terlihat menyeramkan, Mika malah terlihat sangat mengemaskan. Mika memutari mobil, membuka pintu sebelah pengemudi.
"Ehhh, kamu ngapain duduk disana? Duduk disebelahku sini!" perintah Raga dan Mika menurut. Dia menutup kembali pintu itu lalu membuka pintu belakang kemudian duduk di sebelah Raga.
Dion masuk kedalam pintu pengemudi. Dia mengenakan sabuk pengaman pada tubuhnya lalu segera menjalankan mobil keluar dari perkarangan Mension Raga.
Diperjalanan Mika terus menatap keluar jendela sambil senandung riang. "Hallo, hallo semuanya. Hari ini Mika berangkat ke warung Bapak dengan tuan galak ini dan juga si tangannya... Mika menumpang hari ini... Apa kah Mika senang? Tentu saja tidak karna Mika duduk disebelah tuan galak ini.." senandung tidak jelas Mika.
Dion yang mendengar senandung Mika hanya menahan tawanya. Bagaimana bisa Gadis itu bernyanyi menjelek-jelekkan suaminya yang jelas-jelas berada disebelahnya.
Sedangkan Raga yang mendengar nyanyian Mika mulai kesal dan geram. Nyanyian Mika mengisi mobilnya. Dan lagi nyanyian ngawur Mika membawa-bawa namanya. Dengan kesal, Raga menjewer telinga Mika membuat Mika terpekik sambil mengaduh kesakitan.
"Aw, sakit sakit sakit!" aduh Mika.
"Berani sekali kamu bernyanyi menjelek-jelekkan aku! Mau aku tendang dari mobil?" ujar Raga seraya melepaskan jewerannya di telinga Mika.
Mika memanyunkan bibirnya. Tangannya mengelus-elus telinga yang memerah. "Saya kan cuma mengisi waktu luang untuk bernyanyi biar suara saya makin bagus, tuan." protes Mika.
"Suaramu jelek bikin orang jadi mau muntah!"
"Ishh, Anda benar-benar sangat menjengkelkan tuan hari ini!"
"Menjengkelkan? Wow, seharusnya aku yang bilang begitu! Kamu sangat menjengkelkan!" balas Raga.
"Saya kan tidak berbuat apa-apa. Saya juga gak nyusahin tuan. Kan dari tadi, tuan yang selalu nyusahin saya. Kata-kata itu seharusnya pantas untuk anda! Menjengkelkan!" seru Mika, tidak terima.
"Apa? Kamu sudah berani membantah ya! Sadar diri! Kamu yang menjengkelkan!" sahut Raga.
"Anda lebih menjengkelkan tuan!"
"Kamu lebih menjengkelkan!"
"Anda!"
"Kamu!"
Mika mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. Dia memalingkan wajahnya ke jendela begitu pun dengan Raga, dia juga memalingkan wajahnya ke jendela. Mereka berdua sekarang saling memalingkan wajahnya.
Dion melihat dari kaca. Dia tersenyum tipis melihat suami istri itu bertengkar seperti itu. Terlihat lucu. Seperti pasangan di novel-novel baginya.