Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Menghabiskan Uang?



Mika terbangun dari tidurnya. Dia merasa sesuatu melingkar memeluk perutnya erat. Mika melihat benda tersebut dan matanya seketika membulat, bukan barang atau benda yang melingkar diperutnya melainkan sebuah tangan kekar yang memeluknya.


Mika yakin pemilik tangan itu adalah Raga, kalau bukan Raga siapa lagi? Hanya Raga dan Mika yang tidur di atas king size ini.


Pipi Mika tiba-tiba memerah. Dia baru menyadari kalau tubuh Raga menempel pada punggungnya. Punggungnya terasa menghangat karna keadaan Raga sekarang tidak memakai baju.


"Apa dari tadi malam Gaga memeluk ku?" tanya Mika pada dirinya sendiri.


Mika mencoba menyingkirkan tangan Raga namun bukannya menyingkir Raga malah mempererat pelukannya pada perut rata Mika.


Raga menggerang, dia menyembunyikan kepalanya di leher Mika.


Mika merasa aneh sendiri. Posisi seperti ini membuatnya berdebar tidak karuan apalagi bibir Raga yang menempel dilehernya.


"Aduh, jantungku rasanya mau meledak! Oh tidak!" celoteh Mika lalu tertawa sendiri menyadari dirinya seperti orang kurang waras.


Mika menepuk-nepuk tangan Raga yang berada diperutnya. "Gaga, bangun saya mau mandi!" teriak Mika walau dia membelakangi Raga tetap saja suaranya bisa memecahkan telinga Raga.


Raga akhirnya terbangun karna teriakan Mika yang menggelegar itu.  Raga melepaskan pelukannya segera, dia menjauh dari Mika. "Kamu menganggu tidurku!" lirih Raga namun terdengar tajam.


Mika membalikkan badannya. "Udah siang loh! Anda emang tidak ke kantor?" tanya Mika.


Raga berdecak. "Tidak!" jawabanya singkat, dia membawa Mika kepelukannya membuat Mika sontak terkejut. Raga menggelamkan wajahnya didada Mika.


"Bangunkan aku setengah jam lagi." kata Raga.


Setengah jam kemudian, Mika mulai membangunkan Raga dengan menepuk-nepuk pipi Raga.


Wajah Raga bersembunyi didadanya. Dia dari tadi takut kalau Raga tidak nyaman dengan dadanya yang bisa dibilang berukuran kecil namun saat dia melihat Raga tertidur dengan nyenyak didadanya membuat Mika merasa kalau dirinya sangat nyaman untuk Raga.


Mika menepuk-nepuk pipi mulus Raga berkali-kali sampai Raga mengerang. "Bangun Ga, ini sudah setengah jam." kata Mika terus menepuk pipi Raga.


Raga menggerakkan badannya menjauh dari Mika. Dia membuka matanya menatap Mika. "Jam berapa sekarang?" tanyanya.


"Jam 10," jawab Mika.


Raga menatap Mika yang menatapnya dengan mata pupilnya. "Apa?" Raga mengangkat kedua alisnya.


"Tidak, hari ini kita dikamar aja ya," ucap Mika dengan wajah imutnya.


Mika berdecak. "Cuma tiduran, nonton TV, makan cemilan dan--" Mika menggantung kata-kata terakhirnya.


Raga mengkerutkan dahinya. "Dan apa?"


Mika tersenyum-senyum. "Kita main petak umpat." Mika menaik-turunkan alisnya.


Raga tersenyum miring. Sesederhana itu kah keinginan Gadisnya itu? "Kenapa tidak belanja-belanja keluar, menghabiskan uangku?"


Mika menggeleng. "Tidak, saya tidak membutuhkan apa-apa."


Raga memasang wajah datar namun dihatinya dia tersenyum, dia mengetahui bahwa Mika bukan seperti wanita-wanita diluar sana yang hanya menginginkan hartanya.


"Benarkah?" tanya Raga.


Mika mengangguk kencang. "Saya tidak suka berbelanja-belanja, Ga, tapi kalo dipasar, saya suka hehe," Mika cengengesan.


"Kamu mau kepasar? Sama siapa?" tanya Raga.


"Sama siapa aja yang ngajakin saya."


"Kapan terakhir kali kamu ke pasar?" tanya Raga.


Tiba-tiba ekspresi wajah Mika berubah seketika. Wajahnya sekarang terlihat sedih.


Melihat Mika berubah seperti itu membuatnya merasa bingung. Ada apa sebenarnya pada Gadis itu?


"Sebelum saya bertemu dengan anda, tepatnya sebelum ibu saya meninggal." ucap Mika pelan.


Mika menghebus nafasnya, dia bangun terduduk ditepi king size. "Saya mau mandi dulu ya, Ga, biar tidak bau asem," Mika berdiri setelah berbicara itu. Dia berjalan kearah kamar mandi.


Raga bangun, terduduk menyender. Apa dia salah berbicara sampai Gadis itu sedih? Dan apa katanya sebelum Gadis itu menikah dengannya, jadi dia tidak mengenal Raga dimasa lalu?


Raga menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Entah mengapa melihat Mika sedih seperti itu membuatnya merasa sakit.


Raga mengangkat kepalanya keatas langit-langit kamar, dia menghebus nafasnya gusar.