
Mika keluar dari warung makan Pak Rusdi ketika sudah membersihkan warung, Mika memutuskan untuk pulang. Pak Rusdi sudah pulang duluan, membiarkan Mika menyapu dan membersihkan warung semau Mika dan sekarang tinggallah Mika sendirian didepan warung, menunggu jemputan dari sekretaris Dion.
Malam semakin larut namun belum ada tanda-tanda dari mobil Dion yang menjemputnya disini.
Mika menggerakkan-gerakan kakinya, matanya menatap kearah kanan dan kiri, dia sangat bosan menunggu disini. Dan lagi sekarang dia cuma sendirian disana.
Samartha menghebus nafasnya berulang kali. Kenapa sekretaris itu tidak kunjung datang menjemputnya juga sih! Gerutu Mika dalam hati.
Setelah lama menunggu Dion datang, Mika seketika terkejut dengan motor besar yang tiba-tiba berhenti tepat dihadapannya, Mika menyengitkan dahi menatap orang yang memakai helm hitam itu.
Saat orang itu membuka helmnya, Mika langsung tersenyum lebar, meihat siapa yang menaiki motor itu.
"Gemma," ucap Mika dengan nada bahagia.
Gemma tersenyum pada Mika. "Hay, kamu lagi nunggu siapa disini?" tanya Gemma, belum turun dari motor besarnya.
"Lagi nunggu jemputan, kamu ngapain kesini? Kan warung udah tutup atau jangan-jangan kamu tahu ya aku sendirian disini mangkanya kamu datang kesini," kata Mika dengan kepercayaan diri diatas rata-rata.
"Gak sih, kebetulan aja aku lewat sini." jawab Gemma membuat Mika mendatarkan wajahnya. "Eh iya, kamu tahu dimana Sekar?" tanya Gemma.
Mika menggeleng. "Gak tahu, Akhir-akhir ini aku tidak ketemu sama Kak Sekar." jawab Mika. "Emangnya kenapa?"
"Gak ada apa-apa, cuma aku khawatir aja sama dia seminggu ini dia gak nemuin aku,"
"Tunggu-tunggu, kamu punya hubungan apa sih sama Kak Sekar? Kenapa kamu khawatirin dia?" Mika mengkerutkan dahinya.
"Aku teman dia, teman SMA, aku dekat sama dia bahkan aku sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama dia."
Mika terkejut, jadi nama yang selalu disebutkan Sekar dibuku hariannya adalah Gemma? Kenapa dia tidak menyadarinya sih!
Oiya, kenapa Mika bisa tahu isi buku harian milik Sekar karna Mika melihatnya diam-diam saat Sekar sedang keluar. Perlu kalian tahu, bukan hanya sifat norak dan kepercayaan diri saja yang ada dimiliki Mika, juga sifat kepo terhadap orang-orang disekelilingnya.
Mika menggaruk-garuk rambutnya. "Jadi, kamu udah berteman lama sama Kak Sekar?" tanya Mika dan diangguki Gemma. "Kenapa gak cerita dari awal sih! Aku kan bisa jadi Mak comblang buat kamu sama Kak Sekar," Mika geram sendiri.
"Mak comblang?" beo Gemma.
"Iya Mak comblang, jadi aku bisa deketin kamu sama kak Sekar!" seru Mika.
"Yah buat jadi kekasih lah!"
Gemma tersenyum mendengarnya. "Aku gak ngerti apa maksud kamu,"
"Gak usah pura-pura gak ngerti, aku tau kamu suka kan sama kak Sekar?" Mika memojoki Gemma.
"Tidak," elak Gemma.
"Udah lah, jangan bohong! Kamu pikir aku gampang dibohongin,"
"Emang bener kamu gampang dibohongin." Mika terdiam sebentar. Benar juga sih kata Gemma bahwa Mika mudah sekali dibohongi.
"Sekarang kamu mau ngapain? Mau nyariin kak Sekar atau gimana?" tanya Mika, mengalihkan pembicaraan.
"Gak tau, aku bingung,"
"Kenapa harus bingung? Kamu kan temannya dan aku adiknya,"
"Apa urusannya?"
"Bener juga sih, gak ada urusannya, tapi kamu harus cari kak Sekar. Nanti kalo dia diculik pedofil gimana kan kamu juga yang nyesel," ucap Mika dengan hidung kempas-kempis.
Gemma terkekeh kecil. "Iya-iya aku cari, tapi kamu mau aku antar dulu ke rumahmu? Biar sekalian."
"Gimana, ya?"
"Mau gak?"
"Yaudah deh, dari pada aku disini sendirian. Hehe," Mika cengengesan.
"Yaudah cepat naik!"
Mika mengangguk. Mika langsung menaiki motor Gemma dijok belakang. Walau kesulitan naik ke atas jok motor Gemma, Mika tetap mencobanya sampai bokongnya benar-benar menempel dijok belakang motor Gemma.
Saat Mika sudah naik kejok motor, Gemma menyalahkan mesin motornya dan menarik gas motornya membela jalanan kota Jakarta.