
"Tasya, apa kamu tahu, tuan Raga mencium aku tadi malam." cerita Mika pada Tasya sambil menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri, matanya yang melotot.
Tasya yang mendengarnya tersenyum. "Bukan itu yang kamu mau? Dicium Pria tampan?" goda Tasya.
"Tapikan dia gak terlalu tampan," ucap Mika pelan.
Tasya tertawa kecil. "Mika, semua pelayan disini, semua wanita di dunia ini juga tahu kalo tuan muda Raga sangat tampan, siapa yang gak mau sama dia apalagi bisa dicium sama dia. Beruntung kamu, Mik,"
Mika mengambil es cream dari kantong plastik putih yang ditaruh dipangkuannya lalu membuka bungkus es cream itu. "Emang kalo kamu juga mau diperlakukan kayak gitu dengan tuan Raga?" tanya Mika, dia memakan es creamnya.
"Mungkin, kalo aku gak punya orang yang disuka." jawab Tasya tangannya mengambil keripik singkong ditangannya lalu memasukannya ke mulutnya.
"Emang siapa sih orang yang kamu suka?" tanya Mika.
Pertanyaan Mika membuat Tasya memberhentikan aktivitasnya. Dia menatap Mika yang menatapnya dengan kedua alis terangkat.
"Bukan siapa-siapa kok, aku lagi gak suka siapapun sekarang." jawab Tasya sembari mengalihkan pandangannya ke rumput-rumput taman belakang.
Mika memicingkan matanya. "Benarkah? Tapi kenapa kalo setiap ada sekretaris Dion kamu malu?" goda Mika, menunjuk-nunjuk pipi mulus Tasya.
Tasya mendengus kesal. Dia memukul bahu Mika pelan dan itu membuat Mika tertawa sambil menggoda Tasya dengan wajahnya yang dibuat-buat.
"Nona, ternyata Anda ada disini?" suara bariton seseorang yang tidak asing ditelinga mereka berdua. Dengan bersamaan Mika dan Tasya sontak menoleh kebelakang.
Terlihat Dion berdiri dibelakang mereka dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya, terlihat sangat cool dimata Tasya.
Mika mengangkat tangannya keudara. "Hallo, sekretaris Dion!" teriak Mika.
Dion berjalan mendekati mereka berdua. "Nona, apa Anda tidak menemani tuan muda dikamar?"
"Buat apa?" tanya Mika.
"Anda kan bisa menemani tuan Raga. Berhubung Anda punya hubungan spesial dengannya." ucap Mika dengan wajah polosnya.
"Maksud kamu apa, Mika?" Tasya ikut menimbrung.
Tatapan Mika teralih pada Tasya. "Iya, sekretaris Dion dan tuan Raga itu punya hubungan yang seperti sepasang kekasih gitu, loh!"
Tasya mendengarnya melongo tidak percaya. Ditatapnya Dion yang sepertinya menepuk dahinya.
"Nona, jangan berbicara seperti itu lagi. Saya dan tuan muda masih normal, nona!" ucap Dion, dengan wajah datar.
"Kalo normal Anda pasti akan menyukai Tasya."
Pipi Tasya memerah seketika dengan ucapan Mika barusan. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Dion yang menatapnya sekarang.
"Sebaiknya nona kekamar sekarang, jangan sampai membuat tuan muda marah karna Anda yang akan kena hukumannya." kata Dion terdengar seperti ancaman.
Mika mengangkat sedikit sudut bibirnya keatas. "Apa Anda mengancam saya? Saya tidak akan takut dengan ancaman Anda." ejek Mika.
"Baiklah kalo begitu, saya akan memberitahu tuan muda." Dion mengambil ponselnya yang ada disaku jasnya, dia mengetik sesuatu di ponselnya.
Melihat itu, Mika langsung berdiri yang sebelumnya duduk di kursi halaman belakang. Dia berlari menghampiri Dion. "Iya-iya saya akan menemani tuan Raga dikamar." Mika menatap Dion tajam namun bukannya menyeramkan malah terlihat menggemaskan.
Dion menatap Mika yang berlalu meninggalkannya. Dia menghebus nafasnya gusar. Dia salut pada tuan mudanya yang tahan dengan kecerewetan Mika yang selalu bertanya-tanya tidak jelas.
Seperginya Mika, Tasya berdiri. Dia membersihkan seragam pelayannya yang sedikit kotor dengan bumbu keripik singkong tadi lalu Tasya berjalan menghampiri Dion yang masih berdiri ditempat yang sama.
Tasya masih menundukkan kepalanya. Dia menatap ke bawah lantai, tidak berani menatap Dion. "Maaf tuan, karna tadi Mika berbicara seperti itu." kata Tasya meminta maaf pada Dion. "Kalo begitu saya permisi," Tasya beranjak pergi, melewati Dion yang tidak bergeming disana.
Dion mengangkat wajahnya keatas, menatap langit yang cerah. "Amera," lirihnya sambil memejamkan matanya kemudian membukanya lagi.