
Raga turun dari mobilnya, dia berjalan memasuki Mension dengan Dion dibelakangnya.
Mata tajam Raga mencari-cari keberadaan Gadis bodohnya namun Gadis itu tidak menunjukkan Batang hidungnya. Raga melangkahkan kakinya ke dapur, dia menduga Mika ada disana bersama Tasya.
Namun saat dia sampai didapur dia mendengar pelayan lain membicarakannya. Bukan, bukan hanya membicarakan dirinya, pelayan-pelayan itu juga membicarakan Mika-istrinya bahkan mereka berani menjelek-jelekkan Mika.
Amarah Raga memuncak mendengar itu semua. Dengan sengaja dia berdeham kencang membuat para pelayan itu yang asik bergosip langsung sontak menengang dengan kehadiran Raga yang tiba-tiba itu.
Raga menatap tajam mereka para pelayan itu yang hanya menundukkan kepalanya kebawah kaki. "Dion, bereskan mereka, beri pelajaran pada mereka terutama dibibirnya itu yang berani menjelek-jelekkan Istriku!" tajam Raga.
"Tuan muda, maafkan kami yang lancang membicarakan nona muda, maafkan kami tuan," lirih salah satu dari mereka.
Raga memutar bola matanya malas. Mengabaikan perkataan pelayan itu. "Dion selesaikan itu!" titahnya pada Dion.
Dion yang berada dibelakang Raga langsung mengangguk. "Baik tuan muda," katanya bersiap melayangkan tamparan pada salah satu pelayan itu.
Para pelayan itu memejamkan matanya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka siap menerima hukuman yang diberikan Dion pada mereka karna itu kesalahan mereka yang menjelek-jelekkan nona muda.
Baru ingin melayangkan tamparan pada pelayan itu, Dion dan Raga mendengar suara tawa Mika dan Tasya yang sepertinya mereka berdua berjalan menuju dapur.
Raga langsung mengisyatkan Dion menunda hukuman pada para pelayan itu dan Dion langsung menurut.
"Wah, lihat siapa yang ada didapur!" seru Mika kala menghampiri Raga dan Dion.
Dion mengisyaratkan para pelayan itu meninggalkan dapur dengan tatapan mematikan miliknya lalu matanya beralih pada Tasya yang menundukkan kepalanya diselebah Mika.
"Darimana aja kamu!" bentak Raga sambil menyentil dahi Mika pelan.
Mika menyengir. "Hehe, saya abis dari kamar Tasya dirumah belakang, Ga." jelas Mika.
Raga mendesah kesal. "Hais, kamu tahu aku mencarimu dan disaat aku pulang kamu tidak ada! Benar-benar kamu ini!" kesal Raga.
Mika menyengir untuk kedua kalinya. "Saya kira Anda belum pulang, Ga, mangkanya saya main dikamar Tasya,"
Raga menatap Tasya sebentar, Wanita itu menundukkan kepalanya lalu tatapan kembali kepada Mika. "Ke kamar!" titah Raga pada Mika, dia berjalan duluan meninggalkan dapur.
Mika menatap Dion dan Tasya pergantian. "Aku duluan kekamar ya, kamu hati-hati sama sekretaris itu." ucap Mika sebelum beranjak pergi dari sana.
Tasya menghela nafasnya, kepergian Mika dan tuan muda membuatnya canggung hanya berduaan dengan Dion disana.
"Tasya, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu, istirahat lah yang cukup." kata Dion pada Tasya.
Tasya yang mendengar ucapan Dion barusan wajahnya langsung memerah. Baru kali ini Dion peduli padanya bukan, ini pertama kalinya Dion peduli padanya. "I--iya, saya permisi dulu, tuan," gugup Tasya beranjak pergi dari sana dengan wajah yang masih memerah.
-------------------
"Ga, Anda tahu kalo Sekretaris Dion menyukai Tasya?" tanya Mika pada Raga yang fokus pada televisi. Sekarang mereka berdua tengah menikmati film yang diputar oleh Raga dikamar mereka.
Mika dan Raga duduk bersampingan disofa yang memadap ke arah televisi. Raga yang mengangkat tangannya ke senderan Sofa membuatnya terlihat seperti memeluk Mika sekarang. Jarak mereka hanya berapa senti saja membuat Mika bisa merasakan bau maskulin dari tubuh Raga.
Mika mendengus. "Kenapa Anda tidak tahu? Kan Anda dengan sekretaris Dion dekat, ohh, atau jangan-jangan Anda sudah mengetahuinya dan Anda cemburu ya!" tuduh Mika, matanya menyipit kearah Raga.
Raga yang mendengar itu mendesah kesal. Dia langsung menatap tajam Mika yang berada disebelah kanannya. "Apa kamu mau aku pukul! Tuduhanmu itu membuat ku benar-benar kesal!"
"Tapikan--" baru ingin berbicara lagi Raga terlebih dahulu menyumpal mulut Mika dengan biskuit.
"Tutup mulutmu! Berhenti bicara yang aneh-aneh!" kata Raga memfokuskan matanya lagi pada film action itu.
Mika mengunyah biskuit yang disumpal Raga itu. Dia menatap kesal Raga yang terlihat sangat fokus pada film itu.
Dia mencoba memfokuskan diri pada film didepannya namun saat matanya menatap kearah televisi mata Mika melotot seketika melihat film itu menampilkan adegan dewasa. Pantas saja Raga menyukai film itu.
Ditatapnya Raga yang tidak bergeming saat menonton adegan itu. Mika tidak mau melihat adegan menjijikan itu, dia menyenderkan kepalanya pada senderan sofa dan kepalanya langsung menyentuh tangan Raga yang kebetulan berada disana.
Raga sontak menatap kearah Mika, dia melihat Mika memejamkan matanya. "Kenapa menutup mata, hmm?" tanya Raga terdengar menggoda.
Mika membuka matanya lagi, menatap kearah Raga yang menampilkan senyuman smirk. "Mata saya masih suci, Ga." jawab Mika.
"Benarkah?" Raga menyeringai.
Mika mengangguk. "Saya serius,"
"Bagaimana kalo kamu melakukan adegan seperti itu?"
Wajah Mika memerah seketika. Dia mengalihkan pandangannya dari Raga.
"Hei, kenapa mengalihkan padanganmu? Tatap aku sekarang!"
"Tidak mau!" bantah Mika.
"Tatap aku sekarang!"
Mika menatap Raga kembali dengan wajah yang masih memerah. Melihat wajah Mika seperti itu membuat Raga gemas melihatnya.
"Kenapa wajahmu memerah seperti kepiting, hmm?!" Raga menyentil dahi Mika.
Mika memengang wajahnya sendiri. "Tidak, disini cuacanya sangat panas."
"Aku tidak merasa kepanasan."
"Tapi saya merasa kepanasan, Ga."
"Oh, kalo begitu buka bajumu biar kamu tidak kepanasan lagi."
Sontak Mika langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "M--mesum!"
Raga tertawa terbahak-bahak melihat Mika seperti itu. Sebenarnya Raga yang merasa kepanasan saat menonton adegan dewasa difilm itu namun saat dia menggoda dan mengejek Mika, rasa panas itu hilang seketika.