
Raga baru pulang dari kantornya, berhubung jam segini dia yakin Mika ada didapur bersama tasya. Raga memutuskan kedapur dahulu sebelum kembali ke kamarnya.
Raga berjalan sendirian ke arah dapur dengan jasnya yang ia gantungkan dilengan kanannya.
Dion, sekretaris itu yang biasanya berada disamping Raga sudah diperintah untuk pulang kerumahnya. Jadi, dia berjalan sendirian sekarang. Pelayan-pelayan juga sepertinya sudah beristirahat dirumah belakang.
Saat dia berada didapur Raga tidak menemukan Tasya dan Mika. Namun dia melihat kulkas yang tidak ditutup rapat. Dia mendengus kesal, pasti pelayan-pelayan itu tidak becus berkerja sampai kulkas pun tidak mereka tutup dengan benar.
Raga berjalan ke kulkas. Matanya membulat terkejut seketika saat menemukan Mika yang tertidur dilantai didepan kulkas dengan pulasnya.
Apakah Gadis itu sudah lama tertidur disana? Tanya Raga dalam hati.
Raga tertawa kecil melihat Mika yang tertidur dengan bibir terbuka, disamping Gadis itu terdapat air putih tumbah dan Snack keripik. Sudah Raga tebak Gadis itu memakan cemilan disini sendirian sambil menunggunya pulang sampai Gadis itu tertidur pulas disini.
Raga berjongkok dihadapan Mika. Melihat wajah Mika langsung yang tidur itu. Dipipi kiri Gadis itu sudah basah karena air liurnya. Raga menjadi gemas dengan wajah lucu Mika saat tertidur dengan air liur yang membasahi pipinya.
"Cih, dasar jorok!" cibir Raga namun tidak bisa menutupi rasa gemasnya pada Mika.
Merasa tidak tega melihat Mika tertidur dilantai akhirnya Raga menggendong tubuh Mika dengan hati-hati, takut Gadis itu terbangun. Raga mengangkat sedikit tubuh Mika lalu berjalan keluar dari dapur menuju kamarnya.
Raga menaiki tangga dengan menggendong Mika dengan hati-hati. Matanya tak lepas dari wajah Mika yang tertidur itu. Bibir Mika yang terbuka membuat Raga sedikit tergoda.
Sesampai dikamar, Raga menidurkan tubuh Mika diking size namun saat menidurkannya tubuh Mika, Raga malah ikut mendekat dengan tubuh Mika. Hanya sesenti saja jarak diantara mereka berdua saat ini. Bahkan Raga bisa merasakan deru nafas Mika yang lembut.
Raga terdiam menatap wajah Mika yang masih tertidur. Untuk sekian kalinya Raga merasa tenang melihat wajah seseorang saat ini walaupun banyak Gadis cantik-cantik yang ada diluar sana namun wajah Mika benar-benar membuat hatinya merasa tenang.
Mika menggerakkan tubuhnya, menarik Raga dalam pelukannya. Ia mengira kalau Raga adalah sebuah guling dan itu membuat wajah Raga menempel pada leher jenjangnya.
Raga mencoba menahan nafas agar nafasnya tidak membangunkan Gadis itu. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Mika namun hasilnya nihil, karna Mika memeluknya erat.
Kaki Mika bergerak terangkat keatas tubuh Raga. Saat ini Raga benar-benar seperti sebuah guling yang dipeluk Mika dengan erat.
"Emm, kenapa gulingnya sepeti wangi tubuh Gaga?" gumam Mika.
"Ini memang aku!" teriak Raga, dia sudah tidak tahan lagi. Leher jenjang Mika membuatnya tergoda.
Mika membuka matanya perlahan, dia menatap guling yang ia peluk dan dia melotot seketika melihat bukan guling yang ia peluk melainkan Raga.
Dengan segera Mika melepaskan pelukannya, dia terbangun terduduk. "Kenapa Anda saya peluk?" tanya Mika.
Raga merentangkan otot-ototnya yang pegal karna pelukan Mika itu. "Kamu bertanya padaku kenapa kamu memelukku? Pikir sendiri!"
Mika merasa bingung namun rasa kantuk membuatnya malas untuk berpikir. "Yaudah, besok aja saya pikirinnya. Saya lanjut tidur dulu, ya." kata Mika.
"Eh! Jangan tidur dulu! Siapkan air hangat untuk ku mandi!" perintah Raga.
Mika mendesah kesal. "Sudah malam, besok aja mandinya, Ga. Saya mengantuk banget ini." keluh Mika.
"Ah, baiklah aku biarkan kamu membantah perintah ku hari ini."
"Terimakasih, terimakasih." gumam Mika, dia merebahkan tubuhnya lagi.
Raga menatap Mika yang mulai tertidur itu. Dia membuka kemeja yang melekat ditubuhnya. Dia juga sebenarnya malas untuk mandi apalagi menganti baju jadi dia memutuskan untuk tertidur dengan celana bahannya.
Raga merebahkan tubuhnya disebelah Mika. "Cepat sekali kamu tertidur." katanya menatap wajah Mika yang sudah tertidur pulas.