
"Ga, kenapa Anda tidak ke kantor hari ini?" tanya Mika pada Raga yang duduk menyender di king size.
Kaki sebelahnya ia dilonjorkan dan kedua tangannya ia lipat di dada. Ratap tajam diberikan pada Mika yang ditatap tajam seperti itu malah menyengir tidak jelas padanya.
"Apa kamu tidak suka aku ada dirumah, hah?!"
Mika mengangguk pelan dengan mengigit bibir bawahnya, kedua telunjuknya menyatu.
Raga yang melihat itu gemas sekaligus kesal. Dia gemas karna wajah Mika yang sangat lucu itu dan dia kesal karna jawaban Mika.
"Istri macam apa kamu? Suami ada dirumah bukannya senang malah tidak suka?!" bentak Raga. Kakinya yang melonjor ia gunakan untuk menendang kaki Mika. Mika yang mendapat tendangan dari Raga hanya cengengesan.
"Abisnya kalo Anda dirumah saya tidak bisa berduaan dengan Tasya." protes Mika.
"Cih, siapa suami yang harus kamu layani?" decih Raga.
"Anda sih, tapi saya malas aja berduaan dengan Anda. Lebih baik saya berduaan dengan Tasya," jawab Mika tidak berdosa.
Raga benar-benar dibuat kesal oleh Mika. Ditendangnya sekali lagi kaki Mika. "Kalo begitu menikah sana dengan Tasya!" bentak Raga.
Kedua sudut bibir Mika melengkung kebawah. "Tapikan dalam agama tidak diperbolehkan menikah dengan sesama jenis,"
"Seterah! Tidak peduli!" ketus Raga.
Mika menghebus nafasnya. Dia ikut menyender di sebelah Raga. Dia mengikuti cara duduk Raga. "Huaaa, kaki Anda panjang juga ya, lihat kaki saya cuma sampai betis Anda!" seru Mika.
Raga menatap kaki Mika yang menempel dikakinya. Ahh sial, baru saja dia dibuat kesal oleh gadis itu dan sekarang Gadis itu membuatnya gemas lagi.
Raga menendang kaki Mika menjauh dari kakinya. "Jangan menyentuh kakiku dengan kaki mu itu!"
Mika menatap Raga yang tampaknya sedang marah padanya. Mika mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Raga. Dengan beraninya, Mika menyenderkan kepalanya dibahu Raga.
Raga yang menyadari itu langsung terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Mika itu. Jantungnya berdegup kencang seperti ingin putus dari porosnya.
"Kata Tasya, kalo Pria sedang marah itu kita harus menenangkannya." kata Mika.
"Kamu bertanya-tanya hal itu pada Tasya?" Mika mengangguk.
"Iya, saya juga bertanya cara menenangkan hati pria jika dia benar-benar marah."
"Seperti apa?" tanya Raga penasaran.
"Apa Anda benar-benar sangat marah sekarang?" bukannya menjawab Mika malah bertanya balik.
"Ya, aku marah! Sangat marah, dan itu semua salahmu!"
"Apa Anda mau tahu caranya menenangkan Orang yang sedang marah?"
Mika mendekatkan wajahnya pada wajah Raga, bibirnya mendarat di pipi Raga disebelah kanan.
Kecupan hangat yang diberikan Mika membuat Raga membeku seketika. Benar, cara itu bisa menenangkan hatinya dalam sekejap.
Mika menjauhkan wajahnya, dia kembali bersender pada bahu Raga. "Bagaimana apa sudah tenang hati Anda, Ga?" tanya Mika.
"Tidak berefek apa-apa! Bahkan aku masih marah padamu!"
"Oh, berarti cara itu tidak mujarab ya."
"Lakukan itu sekali lagi!" titah Raga membuat Mika menatapnya bingung.
"Tapi kan Anda bilang tidak ber efek apa-apa."
"Aku bilang lakukan itu sekali lagi!" ulang Raga.
Mika menurut, dia mendekatkan wajahnya lagi pada wajah Raga dan memberi kecupan lagi dipipi sebelah kiri Raga setelah itu dia menjauhkan wajahnya lagi.
Tangan Raga menyentuh pipi kirinya yang masih menghangat bekas kecupan Mika.
"Bagaimana apa kecupan kedua itu membuat Anda merasa lebih tenang?" tanya Mika dengan senyum yang mengembang.
Raga menoleh ke Mika yang sepertinya menunggu jawaban darinya. "Tidak sama sekali! Itu malah membuatku makin tambah kesal padamu." bohong Raga.
Senyum Mika seketika menghilang. "Berarti ucapan Tasya tidak benar dong." gumam Mika namun masih bisa didengar Raga.
"Hei, bukan Tasya yang salah tapi kamu yang salah mempraktekkannya!"
"Berarti saya harus banyak belajar lagi, ya."
"Iya! Kamu harus banyak belajar lagi!"
Mika menghebus nafasnya. "Apa saya boleh kursus belajar berciuman, Ga?" tanya Mika dengan mata pupilnya.
"Untuk apa?"
"Tidak buat apa-apa sih. Tidak jadi deh kalo gitu."
Raga merosotkan tubuhnya, merebahkan tubuhnya. "Tidurlah, sekarang sudah malam." Raga menyuruh Mika tertidur.
Mika mengangguk. Dia ikut merebahkan tubuhnya disebelah Raga. Manarik selimut sampai ke lehernya.
Raga mematikan lampu tidur dinangkas yang kebetulan disebelahnya lalu dia membalik tubuhnya menghadap ke Mika yang sudah memejamkan matanya.
Ditatapnya wajah Mika yang sudah tertidur. Wajah yang bisa menenangkan hati dan pikirannya. Senyum tipis tercetak dibibirnya, Raga mencoba memejamkan matanya. Tidak perlu waktu lama, Raga sudah berada dialam mimpinya, menyusul Mika.