
Raga memasuki kantor pusat Antareja Groups yang terletak di Jakarta Selatan. Dia memasang wajah datarnya melewati para karyawannya kala semua karyawan Wanitanya tersenyum-senyum padanya.
Raga menekan tombol lift lalu dia memasukinya. Tidak lupa Raga selalu memasuki kedua tangannya kedalam saku celana bahannya.
Menunggu lift terbuka, Raga memainkan ponselnya. Dia membuka aplikasi berwarna hijau. Sudut bibirnya terangkat kala melihat siapa yang mengirimnya pesan.
📩Gadis Bodoh!
Tuan, apa saya boleh memakai kartu kredit yang anda berikan untuk membeli gorengan?
Raga tersenyum. Mungkin jika ada seorang wanita atau karyawannya disana dia akan berdebar-debar melihat seorang tuan muda Raga Galendra Mahardika tersenyum-senyum seperti itu.
Raga memasukkan ponselnya. Pesan dari Mika hanya dibaca, dia tidak berniat untuk membalas pesan dari Mika itu.
Setelah lift terbuka, Raga melangkah keluar dari lift. Dia berjalan ke arah ruangannya. Semua karyawan yang melihat Raga, menyapanya namun Raga tetap saja memasang wajah datarnya. Enggan untuk membalas sapaan dari mereka.
Raga memasuki ruangannya. Dia mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Menghebus nafasnya. Dia menyatuhkan kedua tangannya dimeja, mengangkat tangannya sampai ke hidung.
Tok! Tok!
Raga menghebus nafasnya. "Masuk!" teriak Raga dan Orang itu membuka pintu ruangan Raga.
Seorang Wanita cantik, memakai baju seksi masuk kedalam ruangan Raga. Ditangannya terdapat beberapa dokumen yang harus ditanda tangani Raga.
Wanita itu mendekati Raga dengan dada yang sengaja ia busungkan. Cara jalannya ia buat seseksi mungkin agar Raga tergoda olehnya.
Raga mengangkat tangannya keudara kala Wanita itu ingin mendekatinya. "Berhenti!" teriaknya.
Wanita itu tersenyum pada Raga. Diselipi anak rambut ke belakang daun telinganya. "Ini ada beberapa dokumen yang harus Anda tanda tangani, tuan." kata Wanita itu dengan nada menggoda.
Raga menatap dokumen itu sebentar, tanpa bicara lagi Raga langsung menanda tangani dokumen itu. Dia ingin wanita itu cepat-cepat keluar dari ruangannya. Setelah sudah menanda tangani dokumen itu, Raga memberikannya lagi pada Wanita itu.
"Kamu bisa pergi sekarang!" datarnya.
Bukannya keluar dari ruangan Raga seperti perintah Raga, Wanita itu malah makin mendekat pada Raga. Dia berjalan mendekati Raga sambil membuka kancing atas kemeja putihnya sampai dada mulusnya terpampang jelas.
"Saya dengar, Anda sudah menikah tuan. Apa benar?" tanya Wanita itu.
Raga menatap datar Wanita itu yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. "Iya. Tau dari mana kamu?" ketus Raga.
Wanita itu mendesah kesal namun terdengar menggoda. "Anda tau tuan? Saya sangat cemburu mendengarnya. Saya sangat mencintai Anda tuan." kata Wanita itu. "Saya bisa lebih memuaskan Anda lebih dari Istri Anda memuaskan Anda asal Anda tahu," lanjutnya, sensual.
Raga menyeringai. "Oiya? Buktikan!"
Wanita itu dengan berani menaik di pangkuan Raga tangannya dia meraba wajah Raga kemudian tangannya turun ke bibir tipis nan merah muda milik Raga.
Raga hanya terdiam. Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia ingin tahu seberapa beraninya Wanita kotor itu menyentuhnya.
"Kamu tau Raga? Aku selalu ingin memiliki kamu. Aku ingin menjadi pelampiasan nafsu kamu namun kamu tidak pernah menoleh padaku, tidak pernah memandang ke arahku. Kenapa? Apa aku kurang menggoda bagimu?" ucap Wanita itu, terus menyentuh bibir Raga. Tangan satunya membelai dada bidang Raga yang tertutupi dengan kemeja dan jas.
"Benarkah?" tanya Raga.
Wanita itu mengangguk. Matanya yang sayu menatap Raga. Wanita itu makin mendekatkan bibirnya pada bibir Raga.
Namun sebelum bibir mereka bertemu, Raga terlebih dahulu menjatuhkan tubuh Wanita itu ke lantai dengan satu tangannya.
Raga berdiri, dia membenarkan dasinya yang sempat berantakan karna ulah dari Wanita murahan di depannya. Raga tersenyum smirk menatap Wanita itu. "Apa kamu pikir saya akan tergoda dengan tubuhmu? Jalang!" Raga menyeringai seram.
"Apa tadi kamu bilang? Ingin memuaskan lebih dari Istriku memuaskan ku? Wah, ternyata kamu benar-benar menjijikan ya." cibir Raga. "Aku bisa saja memotong tangan kotormu itu yang berani menyentuhku tapi aku masih menghargai orang yang mencintaimu."
Tidak menyerah disitu. Wanita itu bangun. Dia mendekati Raga lagi. Tidak peduli dengan kata-kata dan ancaman Raga padanya. Dia harus menuntaskannya sekarang juga.
Wanita itu memeluk Raga. Kemeja yang ia kenakan kini sudah tergeletak dilantai. Sekarang dia hanya memakai bra saja. Wanita itu dengan tidak malunya mengelus-elus adik kecil Raga dari balik celana bahannya.
Raga yang diperlakukan seperti itu marah. Dengan cepat dia menjorokkan tubuh Wanita itu sampai terjatuh kelantai untuk kedua kalinya. Tangannya mengepal.
"Kenapa kamu tidak pernah membalas perasaan ku, Raga?" ucap Wanita itu, menangis dihadapan Raga.
Raga mengangkat kedua bahunya, tidak peduli. "Emangnya siapa kamu? Yang harus saya balas perasaanmu?"
"Aku mencintaimu, Raga!" teriaknya.
Dion terkejut bukan main. Terlihat tangan Raga ingin melayangkan tamparan pada Wanita itu. Perlahan dia mendekati Raga dan Wanita itu. "Amara? Apa yang kamu lakukan?" kata Dion.
Wanita yang disebut Dion dengan nama Amera itu pun juga terkejut dengan kehadiran Dion secara tiba-tiba itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
Tatapan Dion beralih pada Raga yang saat ini terlihat sangat marah. Dia sudah menduga apa yang Amera lakukan pada tuan muda itu. "Tuan, Anda tidak perlu mengotori tangan Anda untuk Wanita ini, tuan." ucap Dion, terdengar menyeramkan. Tatapan Dion beralih pada Amera yang terduduk kaku disana. "Menjijikan!" cibiran yang keluar dari mulut Dion.
"Sayang, aku bisa jelaskan." Amera berdiri dan mendekati Dion.
Plakk!
Dion menampar keras pipi Amera membuat mata Amera memerah sambil memengangi pipinya. "Menjauhlah dariku. Menjauh sejauh mungkin. Akun benar-benar jijik padamu!"
"Tapi Dion, aku bisa menjelaskan." lirih Amera.
"Pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajah menjijikan mu itu lagi! Enyahlah dari pandangan ku sekarang!" bentak Dion.
Mata Amera berkaca-kaca. Dengan cepat dia memunggut kemejanya yang tergeletak di lantai lalu dia keluar dari ruangan Raga sebelum Dion benar-benar murka padanya.
Seperginya Amera, Dion menatap Raga yang kini juga menatapnya. "Maafkan saya, tuan." sesal Dion.
Raga tersenyum miring. "Kamu tidak salah, Yon. Aku kan sudah berapa kali bilang padamu kalo dia tidak pantas untukmu." ucap Raga sambil menepuk-nepuk bahu Dion beberapa kali.
Dion tersenyum. "Anda benar tuan." Dion dan Raga tertawa kecil.
--------------
Kini Mika terduduk dikursi di sebelah Raga yang sibuk mengutak-atik laptopnya dimeja kerjanya. Matanya melirik-lirik Raga yang sangat fokus pada laptop didepannya.
Perutnya terus mengeluarkan suara. Cacing-cacing diperut Mika berteriak meminta jatah makan malam namun dia tidak bisa makan sekarang berhubung Raga belum menyelesaikan perkerjaannya.
Padahal dia ingin sekali merengek pada Raga agar makan keluar namun melihat Raga fokus pada pekerjaannya membuatnya mengurungkan niatnya. Mika memengangi perutnya yang terus mengeluarkan suara. Dia benar-benar lapar.
"Tuan, kenapa ruangan kerja anda luas sekali? Ruangan ini bahkan lebih besar dari kamar saya dirumah bapak. Apa anda sengaja membuatnya seluas ini agar nanti anak-anak Anda bisa leluasa bermain disini?" celoteh Mika membuat Raga menoleh kearahnya.
"Anak-anak dari siapa? Anak-anak darimu maksud mu? Percaya diri sekali kamu ya." Raga mengangkat satu alisnya ke atas.
"Ah, tidak. Saya tidak berbicara seperti itu. Yah, bisa saja kan anak-anak Anda dari wanita yang dicintai Anda."
"Kamu pikir aku mencintai kamu, begitu?" Raga mengubah posisi duduknya memiring agar bisa menatap Mika langsung.
Mika menggelengkan kepala. Mana mungkin dia bisa bilang aku berpikir dia mencintaiku? Cih, tidak mungkin.
"Kan saya bilang tuan, Wanita yang Anda cintai. Bukan berarti saya. Mana mungkin Anda mencintai saya?" tukas Mika.
Raga menatap datar Mika. "Baguslah kamu sadar diri."
Kruukkkkk!
Suara perut Mika terdengar lebih kencang. Mika menyengir kala Raga menatapnya dengan kedua alis terangkat.
Mika menunjuk-nunjuk perutnya. "Cacing-cacing perut saya berteriak ingin makan tuan, apa anda bisa mendengarnya? Dia berteriak, 'aku lapar-aku lapar'." ucap Mika dengan suara lucunya. Raga tersenyum miring. Tangannya menoyor kepala Mika.
"Tuan ayo kita makan keluar." ucap Mika, mengedip- ngedipkan matanya.
"Apa kamu tidak lihat? Aku sedang sibuk sekarang!"
Mika mendesah kecewa.
"Suruh pelayan buatkan dua spageti saja sana." suruh Raga.
"Tapikan saya maunya---" belum menyelesaikan pembicaraannya, Raga terlebih dahulu memotongnya.
"Jangan banyak protes!"
Dengan kecewa Mika berdiri berjalan keluar kamar. Padahal dia ingin makan ayam goreng di tempat makan cepat saji, hiks.
Mika melangkah keluar dengan langkah malas. Bibirnya mencebik. "Ayam goreng," gumamnya.
Raga menatap kepergian Mika. Senyum tipis tercetak dibibirnya. Dia mengacak-ngacak rambutnya lalu memfokuskan diri lagi pada laptop di depannya.