
Hari ini Raga berkumpul dengan teman-temannya disalah satu Caffe terkenal di Jakarta. Dia berjanjian bertemu dengan teman-temannya disana.
Saat masuk kedalam Caffe, sepasang mata wanita-wanita menatapnya. Mereka memperhatikan Raga yang baru saja masuk kedalam Caffe.
Raga hanya memakai pakaian santai, dia hanya memakai kaos berwarna putih dan celana jeans hitam terlihat sangat tampan apalagi rambutnya sekarang dibiarkan berantakan.
Raga menghampiri teman-temannya yang mengangkat tangan agar Raga tahu keberadaan mereka. Raga menarik kursi lalu mendudukkan bokongnya disana.
"Wah, tambah bersinar aja kamu ya," goda teman Raga yang bernama Toni.
"Ya iyalah, dia udah punya Istri," ceplos Heru membuat Raga menatapnya tajam.
Yang ditatap tajam malah menunjukkan wajah konyolnya pada Raga.
"Seriusan? Kamu udah nikah, Ga?" tanya Rio yang duduk disebelah Raga. Matanya melotot tidak percaya.
"Ya, aku udah menikah." jawab Raga malas.
"Ah, aku ngeliat istrinya diacara pertunangan mu, dia si kecil yang kita temui dikaraoke itu." kata Toni pada Rio.
Mata Rio seperti mau keluar, dia melotot tidak percaya. Dia tidak percaya Raga menikah apalagi menikahi Gadis kecil itu.
"Berhenti melotot padaku atau aku colok matamu!" ancam Raga membuat Rio tetawa kecil.
"Kenapa Mika gak dibawa kesini, Ga? Kan seru kalo ada dia." ujar Heru sambil menyedot jus jeruk.
"Malas, nanti dia pasti mengabaikan aku dan berbincang dengan kalian." jawab Raga.
"Wah sulit dipercaya seorang Raga si presdir Antareja Groups takluk pada Gadis kecil itu.. Luarbiasa.." goda Toni dengan tersenyum geli pada Raga.
Raga menghebus nafasnya. "Kamu ingat, waktu kita sekolah dulu ada seorang Gadis yang kalian sebut dengan Gadis pemberani tapi memalukan?"
Ketiga temannya saling berpikir sejenak. Mengingat Gadis yang dimaksud Raga dan suatu ingatan langsung membuat mereka mengangguk-angguk kepalanya cepat.
"Ada apa emangnya dengan Gadis itu?" tanya Rio penasaran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Raga singkat.
Ketiga temannya menghebus nafasnya gusar karna kesal dengan Raga ia kira ada apa.
Tiba-tiba seseorang memeluk Raga dari belakang membuat Toni, Kevin dan Heru terbelakak terkejut melihat siapa yang memeluk Raga.
Raga melepaskan kasar pelukan itu, dia berbalik menatap orang yang sudah berani memeluknya seperti itu namun dia dikejutkan oleh orang itu.
Seorang Wanita cantik yang berpakaian feminim itu berdiri disana, menampilkan senyuman manis pada Raga. "Hay lama tidak bertemu," ucap Wanita itu.
Toni, Rio dan Heru mulai berbincang-bincang pelan menatap wanita itu. Sudah dipastikan Raga akan menjadi harimau yang marah karna melihat Wanita itu berada dihadapannya sekarang.
"Ngapain?" tanya Raga dengan nada terdengar tidak suka wanita itu ada dihadapannya sekarang.
Raga menghempas tubuh Wanita itu dengan satu tangan. Dia menatap datar Wanita yang ada dihadapannya itu.
"Wah, siapa ini yang datang? Karina kapan kamu datang?" ucap Toni mencairkan suasana.
Wanita yang disebut dengan nama Karina oleh Toni menoleh kearah Toni dia menampilkan senyuman lebar pada Toni. "Baru datang," jawabnya lembut.
Heru menyenggol lengan Rio, menahan tawanya ketika Karina berbicara lembut pada Toni padahal dulu Karina sangat membenci Toni.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya Raga membuat Karina menatapnya lagi.
"Kok kamu kayaknya gak suka gitu kalo aku datang? Aku kan kangen sama kamu, loh!" Karina memanyunkan bibirnya lagi.
"Tidak peduli, pulang sana!" usir Raga membuat Heru dan Rio meledek Karina yang mulai kesal.
"Ishh, kok kamu gitu sih? Aku kan cinta pertama kamu, kamu tega sih ngusir aku?" dengan percaya dirinya Karina mengatakan itu.
"Tidak pernah dan tidak akan."
Sukses tawa Heru dan Rio meledak mendengar ucapan tolakan Raga. Dia bahkan membuat isi Caffe menatap kearah mejanya.
"Jahat, dulu kamu kan bilang kalo kamu suka sama aku.."
"Siapa yang bilang?" tanya Raga.
"Heru,"
Raga menatap Heru tajam, bisa-bisanya dia mengatakan kebohongan seperti itu. Yang ditatap malah mengangkat kedua alisnya. "Apa?" kata Heru.
Raga menghebus nafas gusar. "Kamu dibohongi dia!" ketus Raga.
"Tapi waktu kita sekolah dulu. Aku selalu melihat kamu menatapku, loh! Apa itu dibilang tidak suka?"
"Sudah kubilang aku tidak suka sama kamu!" bentak Raga.
"Jangan malu-malu gitu dong Ga, semua orang juga bilang kalo kamu menyukai aku." Karina menggibas rambut panjangnya kebelakang.
"Seterah! Aku tidak peduli!" Raga bangun dari duduknya. Dia menatap tajam teman-temannya. Dia yakin ini rencana mereka bertiga yang mau mempertemukan Wanita gila ini.
"Aku pulang!" pamit Raga melengang pergi dari sana.
Karina menatap kepergian Raga, dia duduk di kursi yang tadi diduduki Raga kemudian Karina menatap ketiga orang yang saat ini saling tatapan-tatapan.
"Kalian kenapa tidak bilang ke aku kalo Raga datang kesini sekarang sih?!" gerutu Karina kesal pada ketiga orang itu.
"Untuk apa? Sekarang kamu udah menemuinya jadi untuk apa kita mengabari kamu?"
"Benar juga sih," Karina menggaruk kepalanya.