Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Acara pertunangan 2



"Toni," panggil Raga membuat orang yang dipanggil dengan sebutan nama Toni menoleh kearahnya.


Mika yang mengikuti langkah Raga dari belakang hanya memperhatikan sekeliling gedung dengan mata berbinar-binar, melihat dekorasi gedung ini yang membuatnya kagum sekaligus terpesona.


Toni menjabat tangan dengan Raga seperti jabatan tangan para pria. Mata Toni langsung menangkap sosok Mika yang berada dibelakang Raga. Gadis itu sepertinya sedang melihat-lihat area gedung.


Toni mengisyaratkan pada Raga untuk menjelaskan siapa Gadis yang bersamanya. Dan Raga pun melirik Mika yang sibuk memperhatikan sekeliling gedung. "Dia Istriku," jawab Raga, santai.


Toni terkejut dengan ucapan Raga. "Yang benar?" tanya Toni, memastikan.


"Yah, dia Istriku."


"Kenapa tidak mengundangku saat kamu menikah, hah?!" kesal Toni.


Tersadar sesuatu Mika langsung menatap Toni yang ada dihadapannya. Dia tertegun dengan tinggi badan Toni. Mika mendekati Toni, menempel pada lengan kiri Toni untuk mengukur tubuhnya pada Toni.


Toni yang melihat tingkah Mika hanya diam saja. Melihat tingkah Gadis itu yang tiba-tiba mendekatinya.


"Wahh, Anda ini jerapa ya?" antusias Mika membuat Raga memutar bola matanya malas. Toni yang mendengar itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukan dia yang jerapa, tapi kamu yang seperti kerdil!" kata Raga, menimbal.


Mika menatap Raga jengkel. "Enak aja! Kerdil dari mananya? Saya ini cuma kurang zat besi tahu!" ujar Mika, tidak terima.


"Tunggu-tunggu apa benar kalian suami istri?" tanya Toni, tidak percaya.


Raga memutar bola matanya malas. "Menurutmu?"


"Cih, aku tidak percaya."


"Terserah!"


"Jerapa? Apa anda teman dari Gaga?" tanya Mika memotong pembicaraan mereka berdua.


Toni yang disebut Jerapa oleh Mika melotot tidak percaya. Berani sekali Gadis itu memanggilnya dengan sebutan itu. "Hei! Kalo aja kamu bukan Istri dari Raga, aku sudah menikahimu sekarang juga!"


"Ambil aja saya dari Orang ini." kata Mika, mendekatkan wajahnya pada Toni. Toni merasa gugup karna wajah Mika sangat dekat dengannya. Dia memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Melihat itu, Raga langsung menarik tangan Mika agar menjauh dari Toni dan berdiri disebelahnya. Wajah Raga sekarang benar-benar memerah melihat pemandangan barusan.


"Jangan dekat-dekat dengan orang lain!" dingin Raga.


Mika hanya mengangguk. "Iya-iya."


"Ayo kita pulang!" ajak Raga. Raga menatap Toni yang sekarang sudah menatapnya lagi. "Aku pulang duluan." pamit Raga dan melengang pergi sambil menarik tangan Mika keluar dari gedung.


Raga menggenggam tangan Mika melewati para Wanita yang saat ini menatap ke arahnya. Bukan, tatapan mereka teralih pada Mika yang berada dibelakang Raga. Entah mengapa mereka semua menatap Mika tidak suka. Apalagi tangan Raga yang menggenggam tangan mungil Mika.


 


"Dasar genit!" cibir Raga. Saat ini mereka berdua sudah berada didalam mobil, duduk di kursi belakang dengan saling menjaga jarak.


Mika yang tadinya sibuk membuka kunciran dirambutnya langsung menoleh ke Raga setelah mendengar cibiran dari mulut Raga. "Siapa yang genit?" tanyanya membuat Raga kesal setengah mati pada Mika.


"Yah, kamu lah!" ketusnya.


Mika menunjuk dirinya sendiri. "Saya? Saya gak deket-deket sama Pria lain kok," membela diri.


"Cih, gak dekat-dekat katamu? Tadi apa? Kamu sangat dekat dengan Toni diacara tadi!"


"Apa berteman harus berdekatan sampai mau mencium seseorang?"


Mika terdiam. Ya ya dia yang salah!


"Mendekat." titah Raga.


"Tidak mau," bantah Mika.


"Mendekat," kali ini Raga berbicara lembut pada Mika. Entah sihir apa yang digunakan Raga, Mika langsung menurut. Dia langsung mendekati Raga.


Tangan Raga terangkat mengangkat dagu Mika, Mika yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan membeku. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Raga padanya sekarang.


Raga mendekatkan wajahnya pada wajah Mika, diliriknya bibir sedikit tebal milik Mika yang pernah ia cium. Kemudian Raga menutup matanya, menghapus jarak dari mereka dan akhirnya bibir tipis nan merah muda Raga mendarat ke bibir sedikit tebal milik Mika.


Satu ciuman mendarat disana. Mika yang merasakan benda kenyal itu dibibirnya hanya terdiam, dia tidak bisa berbicara apa-apa sekarang. Lalu Raga melepaskan ciumannya, dia belum menjauh dari wajah Mika yang hanya berjarak satu senti saja.


"Itu hukuman buatmu karna dekat-dekat dengan Pria lain." kata Raga setelah itu menjauhkan wajahnya.


Raga memalingkan wajahnya pada kaca mobil disebelahnya,Senyum tipis terungkir dibibirnya. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri, pipinya memerah.


Dibalik kursi pengemudi, Dion hanya memfokuskan diri pada jalanan, enggan melihat apa yang dilakukan Raga pada Mika sampai Mika tidak bicara apa-apa.


Sama halnya dengan Raga yang memalingkan wajahnya, Mika juga menjauhkan tubuhnya dari Raga. Duduk di posisi sebelumnya. Pipinya memerah mengingat kejadian barusan.


"Ga, apa itu sebuah hukuman? Kenapa hukumannya mencium orang?" sekian lamanya Mika terdiam akhirnya dia membuka suaranya juga.


Raga menoleh ke Mika. "Emangnya kamu mau dihukum seperti apa?"


Mika menggeleng sambil tersenyum malu-malu. "Ini udah dua kalinya Anda mencium saya, loh." katanya.


Raga memutar bola matanya. "Apa kamu ketagihan dicium, hah?!"


Mika menyengir. "Tidak,"


Raga membuang pandangannya, dia tersenyum lagi untuk kedua kalinya. 


 


Di kediaman keluarga Mika, Pak Rusdi mendudukkan bokongnya ditepi kasur. Dia memijit-mijit kepalanya yang pening karna berjualan seharian. Akhir-akhir ini rumah makan miliknya ramai akan pembeli membuatnya sangat lelah.


Dari kamar mandi, Ibu Rini keluar dari sana. Dia langsung mendekati Pak Rusdi yang duduk ditepi kasur, dia tersenyum pada Pak Rusdi yang sekarang menatap kearahnya.


"Baru pulang, Pak?" tanya Ibu Rini, lembut.


Pak Rusdi mengangguk pelan. "Ya, saya saja pulang." jawab Pak Rusdi, ketus.


Ibu Rini menghela nafas panjang. "Pak, apa Mika bahagia dengan Presdir? Yah, pastilah dia bahagia, dia pasti senang menghambur-hambur uang tuan muda Raga itu." kata Ibu Rini, bernada sinis saat mengatakan itu.


Pak Rusdi malas meladeni Ibu Rini, dia menidurkan tubuhnya, mengabaikan Ibu Rini yang sekarang menatapnya kesal.


"Ihh bapak mah! Ibu lagi bicara malah ditinggal tidur." protes Ibu Rini.


Pak Rusdi membalik tubuhnya ke arah tembok. "Sudahlah, bu. Bapak capek. Mau tidur," kata Pak Rusdi.


Ibu Rini menatap kesal suaminya itu. Dia ikut menidurkan tubuhnya disebelah Pak Rusdi.