Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Dia Istriku



Di kantor utama Antareja Groups. Raga menyenderkan kepalanya pada senderan kursi, kakinya ia naikkan ke atas meja kerjanya. Wajahnya menonggak ke atas langit-langit ruangannya.


Senyum tipis tercetak dibibirnya kala dia mengingat kejadian tadi malam. Kejadian dimana Mika mencium pipinya dengan berani. Sungguh, dia tidak mengerti mengapa wajah Mika yang setelah menciumnya itu selalu berada di kepalanya. Wajah merah Mika membuatnya sangat menggemaskan tadi malam.


Kenapa aku jadi seperti ini? Tanya Raga pada dirinya sendiri.


Raga menyentuh pipi kirinya sendiri. Mengingat bagaimana bibir kenyal Mika mendarat di pipinya. Aghh rasanya dia ingin membalas Mika sekarang juga karna Gadis itu membuatnya jadi seperti ini.


Setelah mengingat-ingat wajah Mika tadi malam, Raga mengingat sesuatu. Dia menurunkan kakinya dari meja kerjanya dan mengambil benda pipih yang dia taruh di atas meja kerjanya. Tangannya menyalahkan layar ponselnya tersebut dan mengetik sesuatu disana lalu Raga menaruh kembali ponselnya diatas meja. Dia menunggu seseorang sekarang.


"Hallo tuan muda Antareja Groups, yuhuuuuu!" heboh orang yang Raga tunggu ketika memasuki ruangan Raga. Raga hanya menanggapi Orang itu dengan memutar bola matanya malas.


Orang itu mendekati Raga, duduk didepan meja kerja Raga. "Apa kabar, tuan muda," sapa Orang itu dengan nada dibuat-buat.


"Hentikan! Kamu membuatku jadi jijik!" cibir Raga dan Orang itu tertawa renyah. "Mana berkasnya?" todong Raga pada Orang itu.


Orang itu memberikan sebuah berkas pada Raga. Dia menampilkan senyuman lebar. Berkas itu adalah hasil keuntungan perusahaan diluar kota yang Orang itu tangani.


Raga membolak-balik kertas demi kertas yang ada didalam berkas itu kemudian dia menatap Orang itu datar. "Kamu korupsi diperusahaanku sudah berapa kali, Heru?!" tajam Raga.


OrangĀ  yang dipanggil Raga dengan nama Heru menyengir tidak berdosa. Dia mengangkat jari manis dan telunjuknya pada Raga. "Aku cuma kali ini korupsi." katanya membela diri.


"Kali ini? Bahkan kamu sudah sering melakukan itu!" kesal Raga.


"Ahhh, kita kan teman sejak kecil jadi uangmu adalah uangku juga. Jangan pelit." ucap Heru.


Raga menatap Heru kesal. "Emangnya kamu Istriku? Bisa-bisa bicara seperti itu."


"Ahh sudahlah. Aku korupsi juga tidak akan membuat kamu bangkrutkan?"


"Hais, kamu membuatku kesal. Setiap melihat wajah tengilmu itu rasanya aku mau memukul wajahmu itu." dengus Raga, kesal.


Reflexs Heru langsung menutupi wajahnya. "Jangan, wajah tampanku ini tidak boleh dirusak!" Raga hanya memutar bola matanya malas.


"Oiya, aku lupa aku mau tau Gadis mungil yang dikaraoke waktu itu.. Apa kamu sudah menidurinya?" tanya Heru dengan wajah dibuat serius namun tetap saja terlihat menjengkelkan.


"Kenapa emangnya?" Raga menaikkan kedua alisnya.


"Tidak apa-apa sih. Tapi apa kamu meminta nomer telponnya?" tanya Heru lagi.


"Tidak," jawab Raga singkat.


"Hais, kenapa tidak minta? Aku kan juga mau bersamanya semalaman." kesal Heru pada Raga.


"Untuk apa kalo Gadis itu adalah Istriku sendiri?"


"Iya, apa pernah aku bercanda?"


"Oh ya, aku lupa hidupmu sangat muram tidak pernah bercanda." ejek Heru namun dia malah mendapat lemparan berkas diwajahnya.


Heru mengambil kembali berkas itu yang jatuh kelantai. Dia menaruh berkas itu dengan gebrakan dimeja kerja Raga. "Kenapa aku tidak diundang ke pernikahanmu? Jahat sekali." cibir Heru.


"Untuk apa? Emangnya kamu siapa?"


"Cih, secepat itu kah kamu melupakan aku?"


"Tidak peduli,"


"Btw kenapa kamu tiba-tiba mau menikah? Padahal kan dari dulu kamu punya kelainan."


Mata Raga melotot sempurna. "Enak aja! Aku ini normal! Yang tidak normal itu kamu!"


"Setidaknya aku sudah mencoba-coba para Wanita lain diluar sana berbeda denganmu." senyuman bangga tercetak dibibir Heru.


"Bangga sekali kamu! Menikah sana, aku yakin istrimu nantinya tidak kuat denganmu."


"Justru nantinya dia puas denganku, Ga." bangganya lagi.


"Ckk," decak Raga kesal.


"Kapan kamu menikah dengannya?" tanya Heru.


"Satu bulan yang lalu,"


"Berarti saat di karaoke itu dia sudah menjadi Istri sah mu?" Raga mengangguk.


"Wahh benar-benar sangat mengejutkan. Padahal aku tertarik loh pada Gadis mungil itu. Walau wajahnya tidak ada cantik-cantiknya dan wajahnya terlihat sangat konyol tapi dia terlihat sangat lucu." Heru membayangkan wajah Mika saat dikaraoke dua Minggu lalu.


Raga mulai kesal dengan Heru yang bilang dia tertarik dengan Istri bodohnya. Walau ucapan Heru sangat benar namun dia tidak rela jika Heru mengatakan itu. "Dia istriku!" kesal Raga.


Heru menatap Raga lagi. Dia menampilkan senyuman jahilnya. "Aku mau merebutnya darimu, bolehkan?"


"Rebut aja! Tidak peduli." Raga memalingkan wajahnya ketika Heru menggodanya dengan tatapan konyol itu.


Dia benar-benar salah besar karna memberi tahu kalau Gadis mungil yang dimaksud Heru adalah Istrinya. Pasti Heru akan sering datang ke Mension nya untuk menemui Mika.


Walau begitu dia tetap akan membiarkannya, dia akan menepati janjinya pada Mika untuk memperkenalkan teman-temannya pada Mika.