Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Pelayan pribadi



Mika menatap ke atas langit-langit kamar, dia menarik selimutnya sampai ke hidung.  "Gaga, apa Anda sudah tidur?" tanya Mika.


Raga  menyembulkan kepalanya dari king size, menatap Mika yang tertidur di kasur tipisnya seperti biasa. "Apa?" tanya Raga.


Mika tersenyum. "Hmm, apa dirumah belakang tempat untuk para pelayan tinggal?" tanya Mika.


Raga mendengus. Dia terbangun terduduk menatap Mika yang masih berbaring di kasur tipisnya. "Emangnya kenapa? Kamu mau tinggal di sana?" Raga berbalik bertanya.


Mika menjauhkan selimutnya yang menutupi hidungnya lalu dia mengangguk kencang dengan senyuman dibibirnya. "Saya mau dekat dengan Tasya, Sahabat saya, Ga." kata Mika.


"Jadi kamu mau jadi pelayan juga, begitu?"


"Saya kan memang pelayan, Ga." ceplos Mika. Mika memukul mulutnya sendiri. "Maksud saya, pelayan pribadi Anda, hehe." Mika cengengesan.


"Cih," decih Raga. "Apa sesenang itu kamu menjadi pelayan pribadi ku, hmm?"


"Tidak senang, masa seorang istri diperlakukan seperti pelayan sih. Ku menangis membayangkan betapa--" ucap Mika diakhiri dengan nyanyian dramatis.


"Hei! Jangan bernyanyi! Suara mu sangat buruk!" teriak Raga membuat Mika membungkam dan memanyunkan bibirnya.


"Jangan manyun-manyun seperti itu! Kemari, naik kesini," titah Raga sambil menepuk king size-nya.


Mika langsung terbangun dengan cepat dia mendekati Raga, membanting tubuhnya disebelah Raga namun Raga malah melototinya.


"Siapa yang menyuruhmu tidur disana?!" teriak Raga.


Mika memanyunkan bibirnya, dia terduduk dengan lemas disebelah Raga yang menyender.


Raga membuka bajunya sendiri didepan Mika membuat Mika membulatkan matanya seketika. Raga melempar bajunya kesembarang arah. Lalu dia menodongkan tubuhnya pada Mika yang masih melototi tubuh telanjang atletis milik Raga itu.


Raga tersenyum smirk melihat Mika melototi tubuh telanjangnya. Dengan sengaja dia menyentil dahi Mika membuat Mika tersadar dan langsung terpekik terkejut.


"Mesum sekali pikiranmu itu, ya." cibir Raga dengan senyuman smirk tercetak dibibirnya.


Mika memengangi dahinya. Dia memanyunkan bibirnya lagi. Entah sudah berapa kali Mika memanyunkan bibirnya hari ini. "Anda sendiri yang mesum. Telanjang dada didepan seorang Gadis seperti saya." tukas Mika tidak terima dengan ucapan Raga barusan.


"Wah, wah. Hari ini kamu banyak memanyunkan bibirmu ya. Apa kamu sengaja? Biar aku mencium bibirmu itu, hmm?" kata Raga, menyentuh bibir sedikit tebal milik Mika lalu mendorongnya pelan.


Mika memengangi bibirnya sendiri. "Tidak, saya tidak mau dicium Anda." elak Mika.


Raga menautkan kedua alisnya. "Beneran?" godanya.


"Iya. Saya tidak mau dicium anda." tekan Mika.


"Baiklah, pijiti tanganku. Rasanya otot-otot tanganku sangat pegal." pinta Raga, merentangkan kedua tangannya didepan Mika.


Mika langsung meletakan satu tangan Raga dipahanya, dia memijat-mijat pelan tangan Raga yang berotot itu. Sebenarnya dia tidak tahu apakah pijitannya itu terasa atau tidak. Masa bodo, lagipun Raga sudah tahu kalau dia tidak bisa memijat. Salah siapa yang menyuruhnya memijit saat dia tahu kalau Mika tidak bisa memjiat.


Mika menekan-nekan tangan Raga yang bersender hanya memejamkan matanya. Pijatan Mika tidak terasa sama sekali ditangannya namun dia menikmati tangan mungil Mika yang menyentuh-nyentuh otot-otot tangannya. Entahlah kenapa dia sangat menikmati itu.


"Apa pijitan saya sangat enak sampai Anda memejamkan mata menikmatinya?" tanya Mika dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Kalo tidak terasa kenapa masih menyuruhku memijat tangannya?" gumam Mika namun masih bisa didengar Raga.


Raga menarik tangannya dari pangkuan Mika. Dia berdecak sebal mendengar gumaman dari mulut Gadis itu.


Mika menatap bingung Raga yang tiba-tiba menarik tangannya sendiri. "Ada apa, Gaga?" tanya Mika dengan kedua alis terangkat.


"Tidak usah memijat tanganku kalo kamu membual!" ketus Raga.


"Yasudah, lagipun Anda sendiri yang mau dipijat kan."


"Ckk, dasar kamu ini!" decak Raga. Tangannya mendorong kepala Mika.


"Ga, apa saya boleh menyentuh itu Anda?" tanya Mika, matanya melirik-lirik perut rata Raga.


Raga mengikuti arah lirikan Mika. Dia langsung menyentuh perutnya sendiri dan menatap Mika dengan senyuman smirk. "Nakal sekali kamu ya."


"Saya tidak nakal. Saya cuma mau menyentuhnya, apa boleh?" tanya Mika dengan wajah berseri-seri.


Raga mendengus. "Sentuh lah!"


Mika lebih mendekatkan tubuhnya pada Raga, tangannya langsung menyentuh perut rata Raga sesekali dia mencubit perut kotak-kotak itu sambil cekikikan membuat Raga merasa sensasi aneh.


Dengan cepat Raga menepis tangan Mika yang bermain-main diperutnya. Dia langsung menendang kaki Mika agar menjauh darinya. "Sana tidur! Sudah malam!" kata Raga dengan sedikit berteriak.


Mika beranjak bangun dari king size. Dia menatap datar Raga yang tiba-tiba berubah seperti itu. Tadi dia memperbolehkan dirinya menyentuh perutnya namun kenapa baru sebentar menyentuh perutnya Raga sudah menepis tangannya?


Mika kembali ke kasur  tipisnya yang berada di sebelah king size. Dia menidurkan tubuhnya dengan wajah kesal sedangkan Raga langsung menyelimuti dirinya dengan selimut, wajahnya memerah karna sentuhan Mika tadi. Raga melihat celananya dari selimut. Shit! Adik kecilnya terbangun karna sentuhan Mika itu.


Raga menarik nafasnya lalu mengelusnya lagi. Dia mengubah posisi tidurnya memiring. Dia harap adik kecilnya tertidur lagi dengan cepat.


--------------


Tasya merebahkan dirinya di kasur tipis miliknya. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan langsung kembali ke kamarnya dirumah belakang Mension. Rumah tempatnya pelayan seperti dirinya beristirahat.


Tasya terbangun lagi, dia baru ingat kalau dia belum membuka seragam pelayannya. Tasya berjalan ke lemari kecil yang berada di kamarnya. Dia memilih baju yang akan dipakai untuk tertidur dan dia mengambil baju singlet berwarna merah dan celana hitam bahan pendek dari lemari kecil itu.


Setelah itu Tasya membuka baju pelayanya dan memakai baju singlet itu dan celana pendek itu kemudian dia tidak kembali ke kasur tipisnya melainkan dia berjalan ke jendela kamarnya dan membukanya. Angin malam langsung menyentuh kulit putihnya ketika dia membuka jendela.


Senyum tipis tercetak di wajah cantik Tasya, dia sangat menyukai angin malam. Baginya sangat menenangkan. Dia menatap sekeliling halaman  rumah belakang. Matanya tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing baginya, orang itu tengah berdiri sendiri disana.


Sudut bibirnya terangkat ke atas melihat Pria yang dicintainya berdiri sendirian disana. Pria itu adalah Dion. Sepertinya Dion belum kembali ke rumahnya dan masih berada di Mension ini dan wajah Dion terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Dari kejauhan Tasya memperhatikan Dion dan menikmati wajah Dion itu tanpa sepengetahuan Dion dia tersenyum-senyum.


Merasa diperhatikan seseorang Dion menoleh ke arah jendela Tasya yang terbuka. Matanya menatap Tasya disana yang tengah tersenyum padanya. "Hei! Kamu tidak tidur?" tanya Dion, membuyarkan Tasya.


Tasya langsung gelagapan dengan cepat dia menutup jendela kamarnya.


Melihat gelagat Tasya seperti itu membuat Dion tersenyum-senyum. Sepertinya tingkah lucu nonanya menurun pada Tasya. Lihatlah sekarang Tasya benar-benar membuatnya gemas dengan tingkahnya itu.