
Tidak jawaban dari Raga membuat Mika makin ketakutan jika Raga tidak memperbolehkannya bagaimana dia bisa mengurangi rasa takutnya?
Pipi Mika memerah ketika Raga dengan tiba-tiba membawa Mika kedalam dekapannya. Andai saja lampu dinyalakan, Raga pasti melihat betapa lucunya Mika saat pipi Mika menyemburkan warna merah muda sekarang.
Raga menggelamkan wajah Mika kedadanya membuat Mika bisa merasakan detak jantung Raga yang tidak beraturan.
"Tidur!" perintah Raga namun terdengar lembut.
Mika memejamkan matanya. Entah mengapa dekapan Raga membuatnya sangat nyaman.
Sepasang suami-istri itu sekarang sudah berada dialam mimpinya masing-masing, mereka tertidur dengan nyenyak dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
------------------
Manarik nafas lalu membuangnya hanya itu yang dilakukan Mika sekarang. Dia menunggu Raga yang tak kunjung bangun. Mika masih dalam posisinya yang sama, di dekapan Raga.
Sepertinya Raga tidak melepaskan pelukannya dari tadi malam dan itu membuatnya sangat bosan karna harus berdiam diri didalam dekapan Raga menunggu sang tuan muda terbangun.
Mika menatap wajah Raga yang tertidur dari bawah sana lalu kembali menatap dada bidang Raga yang terlapis dengan kaos abu-abu. Tangannya bergerak menyentuh dada Raga. Mika menunjuk-nunjuk dada Raga dengan telunjuknya.
Sepertinya Raga mulai terusik dengan perlakukan Mika. Raga menggerakkan tubuhnya. Namun bukannya menjauh atau melepaskan dekapannya pada Mika, Raga malah makin mendekap Mika membuat Mika sulit untuk bernafas.
Tidak tahan, Mika langsung memukul-mukul bahu Raga kencang dan itu membuat Raga langsung terbangun. Raga menjauhkan tubuh Mika dari dekapannya, dia langsung menatap Mika dengan mata polosnya.
"Kamu sudah bangun?" suara serak-serak basah seperti suara orang khas baru bangun tidur.
Mika mengatur nafasnya yang sesak tadi. "Sudah dari tadi," jawab Mika dengan nafas tersegal-segal.
Raga memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi. Dia mendengus. "Apa kamu nyaman tidur didalam pelukan ku semalam? Cih, mesum!" cibir Raga.
"Bukannya Anda yang memeluk saya?"
"Bukannya kamu yang memintanya?" pipi Mika menjadi merah mendengarnya.
"I--iya juga sih, tapi kan-"
"Tapi apa?" Raga memotong kata-kata Mika.
"Anda yang mendekap saya sampai pagi begini," cicit Mika namun masih bisa didengar Raga.
Raga tertawa kecil. "Segitu senangnya kamu aku peluk sampai pagi?"
"Tidak senang sih, tapi agak gimana gitu,"
"Gitu gimana?"
Tokk! Tokk!
Suara ketukan pintu membuat kedua sepasang suami istri itu langsung bangkit dari tidurnya.
"Bukakan pintu sana!" titah Raga dan diangguki Mika.
Mika berdiri, dia berjalan ke pintu, membuka pintu kamar dan dia langsung menatap bingung orang yang baru saja mengetuk pintu kamarnya.
Dia Dion, sang sekretaris tuan Raga. Dion tersenyum manis pada Mika yang menatapnya dengan wajah bingung.
"Tumben sekali Anda kesini, Sekretaris Dion?" tanya Mika dengan alis terangkat.
"Setiap pagi memang saya kemari, nona. Anda saja yang bangunnya siang jadi tidak tahu kalo saya kemari setiap pagi," jawab Dion seakan meledek Mika.
"Wahh, jadi Anda kesini setiap pagi? Anda melakukan apa aja dengan tuan Raga disetiap pagi?"
Raga menoyor kepala Mika dari belakang membuat Mika hampir saja menabrak dada Dion.
Mika menoleh kearah Raga yang entah dari kapan sudah berada disebelahnya.
"Selamat pagi, tuan muda," sapa Dion dengan senyuman manisnya.
Mika memicingkan matanya kepada Dion dan Raga. Entah mengapa melihat kedekatan sekretaris dan bossnya membuatnya yakin mereka berdua mempunyai hubungan spesial.
Melihat Mika memicingkan matanya begitu, Raga menendang kaki Mika dari belakang. "Apa yang ada dipikiran mu, hah?!" bentak Raga.
Mika memengangi kakinya, dia menatap kesal Raga sambil berkomat-kamit tidak jelas.
"Apa menatap ku seperti itu?!" bentak Raga lagi.
Mika berdiri dengan tegak lalu membuang wajahnya kesembarang arah.
"Tuan, kalo begitu saya menunggu dibawah," kata Dion, beranjak pergi dari sana dengan bibir yang mengendut menahan tawanya melihat kelucuan Mika dan kegagalan Raga yang tidak pernah berubah.
"Apa kamu merajuk padaku?" tanya Raga terdengar ketus.
Mika menatap Raga lagi. "Tidak, siapa yang merajuk? Seperti yang Anda bilang, emangnya siapa aku?" ucap Mika dengan bibir memonyong.
Raga melengos pergi meninggalkan Mika yang masih berdiri diambang pintu. Dia berjalan kearah kamar mandi dengan senyuman tipis tercetak dibibirnya.
Mika menatap punggung Raga yang berjalan ke kamar mandi. Dia mencemberutkan bibirnya.