Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
jalan-jalan di siang hari



Siang ini, Mika berjalan-jalan mengelilingi daerah jakarta dengan berjalan kaki. Dia berjalan di trotoar sambil memandangi indahnya gedung-gedung tinggi kota Jakarta.


Mika menarik nafas banyak-banyak. Dia ingin menikmati udara kota Jakarta. Sudah lama dia tidak berjalan-jalan seperti ini semenjak dia menikah dengan tuan muda Raga itu. Dan dia sangat senang akhirnya dia bisa berjalan-jalan seperti ini lagi setelah hari-harinya hanya mengurusi tuan muda Raga itu dan berkerja dirumah makan Bapaknya.


Mika memberhentikan langkahnya, melihat seorang Kakek-kakek berjualan kripik-kripik pedas di trotoar. Kakek itu terlihat sedang beristirahat sejenak ditepi trotoar.


Mika mendudukan bokongnya disebelah Kakek itu sambil tersenyum manis pada Kakek itu. Kakek itu hanya melihat Mika bingung. Mata Mika melihat-lihat kripik dari kantung plastik merah yang dibawa Kakek itu.


"Wahh, Kakek jualan kripik pedas, ya?" tanya Mika seraya mengambil satu bungkus kripik pedas dari plastik merah itu.


Kakek itu tersenyum senang. "Iya, Kakek jualan kripik pedas, nak." jawabnya dengan nada bahagia karna ada juga yang mau membeli kripik pedasnya setelah berkeliling berjualan dari pagi sampai sekarang.


Mika memperlihatkan kripik itu pada Kakek itu. "Apa sangat pedas, Kek?" tanya Mika.


"Tidak terlalu pedas, hanya pedas saja."


Mika tertawa mendengar jawaban Kakek itu. "Kek, melihat Kakek berjualan seperti ini, aku jadi inget Bapak aku deh." kata Mika seperti sudah lama mengenal Kakek itu.


"Emangnya Kakek ini terlihat muda sampai disamakan dengan Bapak kamu?"


Mika tertawa lagi. "Iya, abisnya Kakek terlihat sangat muda sih!" seru Mika.


Kakek itu menggeleng-gelengkan sambil tertawa kecil. "Kamu bisa saja. Apa kamu sendirian?" tanya Kakek itu sambil melihat-lihat sekeliling Mika.


Mika menggerakkan tangannya. "Tidak, Kek. Aku sendirian." jawab Mika.


Kakek itu manggut-manggut. "Kakek pikir kamu kesini sama pacar kamu, biasanya disini banyak anak muda kayak kamu yang pacaran disiang bolong seperti ini,"


"Hmm, saya tidak punya pacar sih, Kek. Emangnya semua anak muda akan kesini di siang hari? Biasanya semua orang berpacaran dimalam hari saja."


Kakek itu tertawa mendengar ucapan Mika. "Emangnya mereka semua kalon?" Mika ikut tertawa.


"Kakek, apa Kakek tahu, aku punya suami yang sangat galak dan suka mengatur-atur. Dia itu Presdir yang sangat terkenal di negara ini tapi aku tidak menyukainya karna dia terus memarahi aku. Apa Kakek mau menjadi pengganti suami aku saat aku pisah dari Presdir itu?"


"Emangnya kamu mau nikah dengan orang tua bangka seperti Kakek?" ucap Kakek itu, bercanda.


Mika mengangguk. "Tentu,"


Kakek itu tertawa lagi. Baru kali ini dia berbaur dengan seorang Gadis muda seperti Mika yang mau menemaninya seperti ini. Dia senang ternyata masih ada anak muda yang peduli pada orang tua sepertinya ini.


Mika menggambil sesuatu dari tas ranselnya. "Kek, berapa harga semua kripik ini?" tanya Mika, sudah menyiapkan uang ditangannya untuk membeli semua kripik Kakek itu.


"Satu bungkus cuma 10 ribu saja." jawab Kakek itu.


Mika manggut-manggut. "Apa ada diskon untukku, Kek?" canda Mika.


"Kakek diskon 500 perak saja." Mika terkekeh.


"Ahh, Kakek ini sangat baik ya." canda Mika lagi membuat Kakek itu  tertawa. "Kek, kalo gitu aku beli semua kripik nya, dan ini uangnya." kata Mika membuat Kakek itu memberhentikan tawanya dan langsung terkejut mendengar ucapan Mika barusan.


Kakek itu mengambil uang yang disodorkan Mika padanya dengan hati terkejut sekaligus senang. Kakek itu melihat jumlah uang yang diberikan Mika dan dia langsung menatap Mika lagi dengan mata terkejut.


"Apa ini tidak terlalu banyak, nak? Harga kripik Kakek cuma 10 ribu dan diplastik itu cuma terdapat 15 bungkus keripik dan uang yang kamu berikan sangat kelebihan." kata Kakek itu masih terkejut.


"Kakek tahu, aku punya suami yang kaya raya, dia selalu menekanku untuk memakai uang-uang yang diberikannya dan aku bingung cara untuk menghabiskannya jadi Kakek tidak perlu khawatir, ambil aja uang itu untuk Kakek." cerita Mika dengan mata melotot seperti serius menceritakan ceritanya.


"Apa suamimu tidak akan marah karna memberikan uangnya pada Kakek?" tanya Kakek itu, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tidak akan, lagipun dia tidak akan peduli apa yang aku beli, dia kan cuma tahu aku senang-senang." kata Mika, tangannya mengusap-usap punggung Kakek itu.


Kakek itu benar-benar menangis di sana. Dia menutupi wajahnya dengan  kedua telapak tangannya. Dia terharu dan sangat senang. "Terimakasih nak. Kakek tidak tahu harus bicara apalagi, Kakek senang akhirnya Kakek bisa membawa Istri Kakek kerumah sakit. Terimakasih ya Allah," puji syukur Kakek itu.


Mika mendengarnya ingin menangis. Perjuangan Kakek itu berjualan di panas terik seperti cuma hanya ingin membawa Istrinya ke rumah sakit.


"Kakek, Kakek tidak perlu berjualan seperti ini lagi. Kalo Kakek merasa kurang dengan uang itu, aku bisa meminta pada suamiku. Dia itu sebenarnya baik, Kek."


------------------


Mika pulang ke Mension setelah sudah puas mengelilingi kota Jakarta. Dia langsung memasuki Mension tanpa mempedulikan Raga yang sudah menunggunya di ruang tengah dengan mata yang memajam melihat Mika.


Mika memberhentikan langkahnya tepat di hadapan Raga yang duduk disofa. Dia mengangkat kedua alisnya seakan bertanya ada apa pada Raga.


"Kemana aja kamu seharian?" tanya Raga.


Mika menyulitkan kedua matanya. "Saya---" Mika mengantungkan ucapannya membuat Raga kesal setengah mati padanya.


Raga berdiri mendekati Mika, masih menatap tajam Mika. Tangannya terangkat menjitak kepala Mika membuat sang empu terpekik.


"Berbicara yang benar!" teriak Raga.


"Ishhhh, saya jalan-jalan tadi." jawab Mika dengan nada kesal.


Raga tersenyum smirk. "Apa yang kamu liat saat berjalan-jalan?" tanya Raga.


Mika mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari seperti sedang berpikir sesuatu. "Hmmm, saya melihat banyak Pria tampan yang lebih tampan dari Anda, Gaga." kata Mika dengan senyuman lebar dibibirnya.


Raga mendengus. Tangannya menjitak lagi kepala Mika. "Emangnya ada Pria yang bisa melebihi ketampanan ku?"


Mika menatap Raga datar walau ekspresinya datar tetap saja wajah Mika terlihat menggemaskan. "Percaya diri sekali Anda, Ga."


"Itu kenyataannya."


Mata Raga teralih pada bungkusan plastik berwarna merah yang dibawa Mika. "Apa itu?" tanya Raga, menatap Mika dan plastik merah itu bergantian.


Mika mengangkat tinggi-tinggi kantung plastik merah yang dibawanya itu. "Ini? Ini kripik pedas, Ga. Apa anda mau?" jawab Mika.


"Beli dimana kamu?" tanya Raga lagi.


"Di Kakek-kakek, bukan Kakek-kakek sih, dia teman saya yang baru aja saya bertemu dengan Kakek itu di trotoar." jelas Mika.


"Teman?" beo Raga dan Mika menganggukinya  dengan semangat.


"Yapp, teman saya."


Raga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku minta satu," ucap Raga pelan namun masih bisa didengar Mika.


Mika mendekatkan wajahnya pada Raga, senyuman tercetak dibibirnya. "Harus beli dong, Ga. Karna saya kan sekarang berjualan kripik pedas."


"Sejak kapan?"


"Barusan,"


"Hais, iya-iya nanti aku transfer ke rekeningmu."


"Jangan  ditransfer," tolak Mika cepat.


Raga menatap bingung Mika. "Kenapa?"


"Karna saya tidak bisa menggunakan kartu ATM," cicit Mika diakhiri cengiran dibibirnya.


Aghhh, aku ingin tertawa sekarang!


Bibir Raga mengendut menahan tawa. Bukan ekspresi Mika yang membuatnya ingin tertawa, juga kebodohan dari Gadis itu. Jaman sekarang dia tidak bisa menggunakan kartu ATM? Luarbiasa.


"Kuno sekali kamu ya." cibir Raga.


"Hehe," Mika cengengesan.