Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Acara pertunangan.



Mika berjalan beriringan dengan Raga masuk kedalam gedung yang mengadakan pesta itu. Mika terus berlari kecil, nafasnya sampai ngos-ngosan untuk menyeimbangi langkah Raga yang sangat lebar dan cepat.


Raga berjalan kedalam gedung itu dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Terlihat cool membuat Wanita-wanita yang juga menghadiri pesta pertunangan itu berteriak histeris melihat ketampanan Raga.


Mika menatap Wanita-wanita itu dengan tatapan bingung. Mengapa hanya dengan melihat wajah Raga membuat semua Wanita itu berteriak histeris? Apa Raga terlihat sangat menyeramkan? Ah, tentu saja kan dia makhluk halus jadi wajar saja mereka semua berteriak histeris seperti itu.


Langkah Raga berhenti tiba-tiba membuat wajah Mika seketika terbentur pungung Raga. Mika meringis sambil mengusap hidungnya yang terasa sakit karna terbentur tubuh atletis Raga itu. Apa tubuhnya terbuat dari besi? Kenapa hidungku rasanya sangat sakit saat terbentur tubuhnya itu?


"Aww hidungku sakit," ringis Mika sambil mengusap-usap hidungnya. "Ah, kenapa hidungku yang terbentur malah mataku yang perih?" gumamnya sendiri.


Dibalik punggungnya yang tegak, Raga tersenyum tipis mendengar ringisan dan gumaman dari Mika dibelakangnya.


"Hei, Antareja Groups." sapa seorang Pria yang menghampiri Raga. Pria itu terlihat seumuran dengan Raga. Dia melambaikan tangan pada Raga sambil melangkah mendekati Raga.


Mendengar sapaan dari seseorang yang asing, Mika menyembulkan wajahnya dibalik punggung Raga untuk melihat siapa yang menyapa Raga itu.


Pria itu bertosan seperti Pria sejati pada Raga begitu pun dengan Raga.


"Apa kabar? Lo kayaknya gak berubah ya." kata Pria itu seperti sudah mengenal lama Raga.


Raga hanya tersenyum miring.


Dibalik punggung Raga, Mika memicingkan matanya melihat Pria yang berbincang dengan Raga itu. Walau wajah Pria itu terlihat tampan dan keren tetap saja dia harus hati-hati, siapa tahu Pria itu adalah pedofil kan?


Menyadari Mika yang menyembul dari punggung Raga, Pria itu menoleh ke Mika. "Wahh, siapa dia?" tanya Pria itu, matanya tertuju pada Mika yang sekarang menatapnya dengan mata melotot.


Raga menarik tangan Mika yang berpegangan pada pinggangnya. Tubuh Mika langsung mengikut, Mika langsung berdiri disebelah Raga dengan tangan kanannya yang masih digenggam oleh Raga.


"Dia Istri gue." kata Raga, memperkenalkan Mika didepan Pria itu.


Pria itu mengusap-usap dagunya sambil memperhatikan penampilan Mika membuat Mika melihat penampilannya sendiri. "Datar." cibir Pria itu.


Mika yang mendengar itu sontak menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Matanya menatap Pria itu melotot.


"Cih," Raga hanya berdecih namun dia tersenyum tipis.


"Namanya siapa?" tanya Pria itu.


"Gue gak mau ngasih tau nama dia ke publik." jawab Raga.


Pria itu tersenyum. "Ah, lo kayak sama siapa aja. Udah lah kasih tau namanya, siapa tau kalo lo cerai sama dia gue yang akan jadi penggantinya." ucap Pria itu dengan percaya dirinya.


"Enak aja! Saya gak mau ya sama Anda?!" teriak Mika.


Pria itu tertawa. "Kamu lucu ya." ucapnya pada Mika.


"Udahlah, nanti aja kita lanjutin perbincangannya. Gue mau ke sana dulu, mau ngucapin selamat sama Rio." kata Raga.


"Kapan-kapan gue maen ke rumah lo ya. Gue mau culik Istri lo itu."


Mika memengang lengan Raga erat, dia menggeleng kuat pada Raga dengan wajah melasnya. Meminta agar Raga melarang Pria itu datang ke Mension. Dia takut jika dia diculik dan di makan hidup-hidup oleh Pria itu.


Raga menyerngitkan dahinya. Bertanya tanpa berbicara. Mika menjawabnya hanya dengan gelengan.


"Jangan takut kecil. Aku bukan Pria jahat kok." kata Pria itu, meyakinkan.


"Tapi muka anda terlihat seperti orang jahat, Pak." kata Mika membuat Pria itu tidak percaya.


Raga mengandeng tangan Mika ke panggung dimana kedua pasangan yang baru saja meresmikan tunangan disana.


Mika terus melangkah mengikuti langkah Raga namun matanya menatap ke tangan Raga yang menggenggam tangannya. Entah mengapa dia merasa nyaman dengan genggaman hangat itu.


Rio, sang Pria yang baru saja melangsungkan acara pertunangan itu langsung menatap Raga yang menaiki panggung dengan mengandeng tangan seorang Wanita di sebelahnya.


"Selamat bro." ucap Raga kala sudah berdiri dihadapan Rio. Raga menjabat tangan dengan Rio.


"Makasih bro." kata Rio dengan senyuman dibibirnya. Matanya masih menatap Mika yang berada di sebelah Raga. Wanita mungil itu seperti tidak asing baginya.


Mika juga menatap Rio dengan mata memicing. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sepertinya dia melihat Pria ini tapi dimana? Hingga sebuah ingatan melintas ke otaknya. Dia ingat Pria ini, Pria berkemeja putih yang ia temui di karaoke itu.


Mika langsung menunjuk-nunjuk wajah Rio. "Kamu Om-om mesum yang pergi ke karaoke itu kan?" ucap Mika.


Rio juga baru mengingat Mika. Wanita kecil yang ia temui di karaoke malam itu. "Ah, Gadis kecil?" Rio menyakinkan.


Wanita yang berada disebelah Rio yang diketahui tungangan pria itu mengerutkan keningnya kala mendengar Mika meyebut tunangannya Om-om mesum.


"Om-om mesum? Siapa Om-om mesum?" tanya Wanita itu.


Rio langsung mengisyatkan Mambawa Mika pergi sekarang juga. Dia tidak mau kalau tunangannya tahu malam itu dia bersenang-senang ke karaoke itu.


Tanpa Rio suruh, Raga sudah membawa Mika menjauh dari panggung. Dia tidak mau kalau kedua pasangan yang baru saja meresmikan tunangan itu hancur karna Mika.


"Tutup mulutmu! Dari tadi kamu terlalu banyak bicara disini?!" bentak Raga.


Mika memonyongkan mulutnya di depan Raga. "Sayakan cuma ingin memberi tahu pada Wanita itu kalo Pria yang disebelahnya itu Om-om mesum." kata Mika.


"Berhenti memonyokan bibirmu atau aku akan--" Raga memberhentikan ucapannya.


"Akan apa?" tanya Mika.


"Aku cium kamu disini?!" ancam Raga.


Mika menyentuh bibirnya sendiri. Dia tersenyum malu-malu. "Cium aja. Saya tidak takut."


"Hais, kamu ini?!" dengus Raga kesal. "Lihat nanti pulang aku akan melakukan apa padamu! Lihat aja nanti." ancam Raga.


"Saya mau kesana dulu ya, Ga. Hehe." Mika mengalihkan pembicaraan, dia langsung berlari ke persediaan makanan, meninggalkan Raga sendiri disana.


Mika melirik-lirik Raga yang masih berdiri disana dengan wajah datarnya. Dengan cepat dia mengambil piring kecil untuk menaruh kue-kue enak yang disediakan dimeja besar itu.


Dia mengambil semua kue-kue yang ada. Lalu dia memakan kue itu ditempat itu juga tanpa mempedulikan Orang-orang yang menatapnya. Mika menyuap salah satu kue, dia menggoyang-goyangkan  kakinya saat kue itu mulai di kunyah di dalam mulutnya.


"Enak banget," gumamnya.


"Dasar norak!" cibir Raga yang entah dari kapan sudah berada di sebelah Mika.


Mika terkejut sampai sedikit memundurkan langkahnya. "Ah, Ga Anda mengageti saya aja." kata Mika dengan sepotong kue yang masih ada dibibirnya.


"Cih, lihat semua orang menatapmu karna semua kue yang ada kamu habiskan." kata Raga, menunjuk-nunjuk orang-orang yang menatap Mika horror sekarang.


Mika merasa kikuk, dia melihat kue-kue yang ada di piring kecilnya. "Saya kan cuma ngambil sedikit."


"Sedikit apanya? Lihat, kamu membuat semua orang menangis karna kelaparan!"


"Yang benar saja, saya cuma ngambil lima kue mana mungkin mereka menangis karna saya." protes Mika.


"Cih, sudah. Habiskan itu, aku mau ke teman-teman ku dulu."


"Ehhh, tunggu saya juga mau ikut