
Wajah Raga sudah merah padam saat Mika bilang dia sangat tidak menyukainya didepan Karina tadi. Dia menarik kasar tangan Mika kedalam kamar lalu mengunci kamar dari dalam.
Ditatap tajamnya Mika yang sekarang berdiri berhadapan dengannya di depan pintu. Mika mengaitkan alisnya.
"Kamu tidak menyukaiku?" pertanyaan yang keluar dari mulut Raga namun terdengar tajam dan sangat menusuk.
Mika mengangguk polos membuat Raga benar-benar marah sekarang. Dia mencengkram kedua bahu Mika kencang membuat Mika merintih kesakitan.
"Katakan sekali lagi kalo kamu tidak menyukaiku!" bentak Raga.
Mika terus merintih kesakitan. Dengan beraninya dia menatap Raga yang menatapnya tajam bak tatapan itu menusuk bola matanya. "Saya tidak menyukai anda." jawab Mika, lantang.
Karna anda menentang saya agar tidak menyukai Anda walaupun perasaan itu mulai tumbuh sendirinya.
Amarah Raga sudah naik ke ubun-ubun. Dia menarik tekuk Mika kasar dan mencium bibir Mika kasar. Raga terus mencium bibir Mika kasar, dia bahkan mengigit bibir Mika sampai berdarah.
Mika yang merasakan kekasaran Raga padanya hanya bisa menangis. Baru kali ini Raga menyakitinya sampai dia mengeluarkan air mata.
Raga terus mencium ganas bibir Mika, dia tidak membiarkan Mika bernafas sekalipun.
Raga m*lum*t, mengigit kasar dan ganas bibir Mika sampai bibir Mika terus mengeluarkan darah karna ulahnya.
Tangan Mika, memukul-mukul dada Raga agar Raga memberhentikan ciuman itu namun diluar dugaan, Raga malah makin liar menciumi bibir Mika.
Mika dengan sekuat tenaganya mendorong dada Raga dan berhasil Raga memberhentikan ciuman itu. Wajahnya masih merah padam.
Mika menghirup nafasnya dalam-dalam, dia menangis, kelakuan Raga benar-benar kasar baginya.
Mika menghapus airmatanya yang terus berjatuhan dengan lengannya. Dia menatap Raga yang menatapnya dengan wajah yang masih marah.
"Anda jahat, Ga," lirih Mika.
"Emang itu kan yang kamu mau? Aku menjadi orang jahat!!" bentak Raga, bentakan Raga kali ini benar-benar berbeda dari biasanya.
"Anda sangat jahat, Ga," Mika menangis semakin kencang. Dia meninju dada bidang Raga walau tidak berasa sama sekali tapi Mika sudah meninju Raga dengan sekuat tenaga.
"Apa sekarang rasa tidak sukamu menjadi rasa benci padaku?" tanya Raga.
Bukannya menjawab pertanyaan Raga, Mika malah makin menangis kencang. Dia tidak pernah bilang kalau dia membenci Raga.
Amarah Raga perlahan memudar. Dia menyadari kalau yang dia lakukan tadi membuat Mika merasa sakit.
"Anda jahat," lirih Mika.
Kali ini Raga mencium Mika dengan lembut, tidak ada gigitan. Dia hanya ingin memberi tahu perasaan sakitnya saat Mika mengatakan bahwa dia tidak menyukainya. Setelah itu Raga melepaskan ciuman itu, dia menatap Mika yang masih menangis.
Ditangkupnya wajah Mika, tangannya bergerak menghapus airmata Mika. Dia merasa tidak tega dan menyesal membuat Mika menangis seperti itu.
"Berhenti menangis." ucap Raga
"Huhu, anda menyakiti saya, Ga," tangis Mika belum berhenti.
Maaf, Raga ingin sekali mengatakan kata itu namun lidahnya kelu dan kaku.
"Berhenti menangis," kali ini Raga berbicara lembut pada Mika dan Mika memberhentikan tangisnya seketika.
Raga tersenyum. Dia menyentuh bibir Mika yang membiru dan bengkak karna ulahnya dan sentuhan itu membuat Mika meringis.
"Aku tidak suka kalo kamu berbicara seperti itu, kalo kamu tidak menyukaiku jangan berbicara itu didepan ku atau aku akan menghukum mu, mengerti?" Mika mengangguk.
"Tidurlah, aku akan memberi salep untuk bibirmu." Mika menurut dia berjalan ke king size dan merebahkan tubuhnya disana.
Raga berjalan kearah nangkas, dia mengambil sesuatu disana lalu menaiki king size, duduk disebelah Mika berbaring.
Raga menatap Mika yang juga menatapnya, dia membuka tutup salep itu lalu menyalepi bibir Mika yang berdarah. Dia merasa menyesal melakukan itu saat menyelepi bibir Mika.
"Apa salep itu ampuh?" tanya Mika.
"Tentu aja, aku akan menuntut perusahaan pembuat salep ini kalo salep ini tidak ampuh!"
"Anda jahat sekali ya, Ga," Raga tertawa kecil.
Setelah menyalepi bibir Mika, Raga menaruh lagi salep itu kedalam laci nangkas dan dia kembali menatap Mika lagi.
Dia mengecup bibir Mika singkat kemudian dia merebahkan tubuhnya.
Mika yang diberi kecupan singkat itu langsung menyentuh bibirnya sendiri. "Wah, salep itu sangat ampuh ternyata!" seru Mika.
"Benarkah?" Mika mengangguk.
"Saya tidak merasa perih lagi, luarbiasa pembuat salep ini." Mika memuji perusahaan yang membuat salep itu. Sebenarnya bukan salep itu yang ampuh mengurangi rasa perih dibibirnya namun kecupan singkat yang diberikan Raga lah yang menyembuhkan bibirnya.
"Tidurlah," titah Raga, dia membalik badannya membelakangi Mika.