
Di meja makan, Mika menatap Orang yang duduk di kursi dihadapannya. Matanya memicing.
Orang yang ditatap Mika hanya tersenyum jahil pada Mika sambil mengedip satu matanya pada Mika dan Mika menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Anda salah satu Om mesum di karaoke itu kan?" kata Mika.
Raga yang duduk disebelah Mika langsung menoleh ke arah Mika yang menyengir-nyengir pada Orang itu. Dan dia sedikit gemas karna Mika selalu memanggil teman-temannya dengan sebutan itu. Dia merasa menikahi anak kecil.
"Kau dengar, Heru? OM MESUM." kata Raga pada orang itu dengan menekan kata-kata terakhirnya.
Orang yang berada dihadapan Mika adalah Heru, dia sengaja datang pagi-pagi ke Mension Raga agar bisa makan gratis. Dan salah satu alasannya datang kemari adalah karna dia ingin menemui istri Raga yang tak lain adalah Mika.
"Pria tampan sepertiku kamu sebut Om mesum?" Heru merasa tidak percaya dengan sebutan yang diberikan Mika.
Mika menyengir kuda. "Wajah Anda terlihat seperti Om-om mesum sih!" seru Mika.
Raga yang mendengarnya menahan tawanya, dia menatap Heru yang juga menatapnya.
"Oh kalo itu nama kesayanganmu untukku, tidak masalah. Aku menerimanya dengan senang hati." ucap Heru dengan kedipan mata pada Mika.
Mika mengancungkan jempolnya pada Heru lalu fokus pada sarapannya yang berada dimeja. Dia menyendok nasi goreng dan menyuapi Raga.
Yah, maklumlah, Akhir-akhir ini Raga bertingkah seperti anak kecil yang ingin disuapi Mika.
"Hei kecil, aku juga mau disuapi," kata Heru dan Mika menatapnya.
"Anda mau disuapi juga?" tanya Mika dan diangguki Heru.
Mika menyendok nasi goreng di piringnya lalu dia berdiri agar bisa menyuapi Heru yang duduk di kursi seberang.
Baru ingin menyuapi ke mulut Heru, Raga langsung menekan tubuh Mika agar duduk kembali.
Heru menatap Raga kecewa, baru saja dia ingin disuapi Mika. "Ada apa? Mika baru aja mau nyuapi aku." protes Heru.
Mika juga menatap Raga dengan wajah penuh tanda tanya, bibirnya melengkung kebawah.
"Minta aja sana sama pacar-pacar mu yang hot itu." ketus Raga, namun matanya melirik Mika.
Mendengar ucapan Raga, Mika menatap Heru. "Apa Anda udah punya pacar, Om?" tanya Mika, penasaran.
Heru menggaruk tekuknya yang tidak gatal. "Udah putus kemarin," jawabnya sambil menyengir.
"Cih, dibuang setelah memakainya, hebat sekali kamu, Her!" sindir Raga membuat Mika tidak mengerti.
"Maksudnya apa sih?" tanya Mika pada Raga.
Raga mendekatkan wajahnya pada wajah Mika. "Tidak perlu tau!"
Tatapan Mika teralih pada Heru, dia mengangkat kedua alisnya meminta penjelasan dari Heru.
"Tapi saya gak mau sama Anda karna Anda playboy cap gajah." tolak Mika dengan ucapan Heru barusan.
"Kecil, kenapa tidak mau? Aku lebih asik daripada makhluk tidak berekspresi itu." ujar Heru sedikit menyindir Raga.
"Oh begitu, ya? Yaudah saya maunya sama Anda aja."
Raga yang mendengarnya langsung melotot. Dia melempar tatapan tajam pada Mika, kakinya menendang kaki Mika yang berada dibawah meja. "Kamu mau mati, heh?!" bentak Raga. Mika menyengir kuda.
"Tenang, kecil. Aku akan membawa mu jauh dari orang yang tidak ber ekspresi ini." Heru melirik Raga yang menatapnya tajam.
"Oh, begitu? Kalo begitu jangan harap bisa kembali lagi ke perusahaan ku!" ancam Raga membuat Heru meringis karna menyadari ucapannya barusan.
"Tidak, tidak jadi." Heru meminum air putih, matanya melirik-lirik Raga.
"Emang apa jabatan Anda di Antareja Groups, om?" tanya Mika.
"Aku? Aku pemegang saham yang besar. Dan aku orang kepercayaan Raga, bukan begitu, Raga?"
"Cih, tidak akan dan tidak pernah!" ketus Raga.
"Hahahaha kasian sekali Anda, Om." Mika menertawai Heru.
"Lihatlah istrimu saat tertawa itu, Ga, sangat lucu dan menggemaskan." kata Heru, memperhatikan Mika yang sedang tertawa itu.
Raga melempar garpu pada Heru. Untung saja Heru menangkapnya kalau tidak dipastikan garpu itu mendarat di wajah tampannya.
Mika memberhentikan tawanya. Dia meminum air putih didepannya. "Uhh, Anda tampan juga ya, sepertinya Anda pantas dengan Tasya."
"Siapa Tasya?" tanya Heru.
"Dia teman saya, mau saya kenalkan?"
"Tidak usah!" potong Raga ketika Heru ingin membuka mulut.
"Kenapa?" tanya Mika pada Raga.
"Dia kotor tidak pantas untuk Tasya yang suci!" sindir Raga.
"Ya, benar aku kotor!" Heru menatap Raga datar.
Raga berdiri, dia mengambil jasnya yang ia gantungkan disenderan kursi. "Antar aku!" perintah Raga dan Mika menurutinya.
Heru menatap kepergian Mika dan Raga. Kedua pasangan suami-istri itu terlihat berjalan dengan Mika yang terus berceloteh dan menyengir pada Mika. Pasangan yang menggemaskan bagi Heru.
Heru tersenyum miring, dia kembali menatap nasi goreng dipiringnya. Setelah itu menyantapnya.