
"Hei, kamu bisa tidak menonton dengan fokus jangan kebanyakan berkomentar!" protes Raga ketika Mika mengomentari penampilan salah satu tokoh didalam film yang diputarnya. Bahkan Mika selalu berkomentar jika orang itu muncul.
Mika menoleh ke Raga sambil menggigit biskuit yang tadinya ia pegang. "Abisnya saya kesel banget ngeliat Wanita penggoda itu, modal seksi dan cantik aja bangga!" Mika menggerutuki tokoh dalam film itu.
Raga tertawa kecil. Apa benar Gadis ini adalah Istrinya?
"Apa salahnya menjadi seksi dan cantik? Itu kriteria para pria asal kamu tahu." Raga menoyor kepala Mika sambil tertawa kecil.
Mika berdecak pelan. "Kalo kriteria para pria begitu kenapa Anda tidak, Ga?" Mika mendekatkan wajahnya pada wajah Raga lalu menjauhkannya lagi.
"Karna aku tidak suka, puas!" ketus Raga.
"Jadi saya salah satu kriteria Anda gitu? Mangkanya Anda memilih saya daripada Kak Sekar yang jelas-jelas sangat seksi dan cantik." ucap Mika menampilkan senyuman lebarnya.
"Jangan percaya diri kamu! Aku memilih kamu karna emang kamu jauh dari kriteria ku!"
Mika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan Raga itu. "Kenapa bisa begitu? Saya kan bukan kriteria anda kenapa saya dinikahi?"
Raga berdecak sebal. "Apa didalam pikiran mu, aku menikahimu karna aku menyukaimu begitu?" bukannya menjawab pertanyaan Mika, Raga malah bertanya balik.
Mika menggeleng. Dia tidak pernah berpikir begitu bahkan tidak pernah terlintas diotaknya jika Raga menikahinya karna menyukainya. Ia sadar itu tidak mungkin.
Raga memutar bola matanya malas. "Jangan percaya diri jadi orang!" cibir Raga.
"Saya gak bilang kalo saya berpikiran begitu." protes Mika.
"Oiya? Tidak mungkin kamu tidak memikirkan itu, banyak diluar sana wanita-wanita cantik dan seksi yang menyukai ku tapi aku memilihmu dan menikahimu begitu kan yang ada dipikiran mu?"
"Tidak! Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Saya ini orangnya tahu diri, Ga, asal anda tahu." Mika menantang Raga dengan memajukan wajahnya pada Raga.
"Baguslah kalo begitu. Jangan pernah kamu berpikir kalo aku menyukaimu atau aku mencintaimu, mengerti?!"
Mika menatap Raga malas, dia menjauhkan wajahnya. "Iya-iya," jawab Mika malas.
Mika kembali menonton televisi yang masih memutar film yang bergenre perselingkuhan itu sambil memakan biskuit-biskuit yang ada diatas meja.
Mata Mika memanas melihat seorang Istri yang meninggalkan dunia, baginya cerita itu sangat tragis. Bagaimana bisa Istri itu bertahan didalam rumah tangganya sedangkan dirinya dicampakkan dan selalu dizolimi.
Raga terkekeh melihat Mika, dia menghapus air mata Mika dengan tangannya. "Kenapa menangis? Apa kamu sangat mendalami cerita itu sampai menangis begitu, hmm?" Raga menggoda Mika.
Mika menoleh ke arah Raga dengan air mata yang membanjiri pipinya dan hidung terdapat ingus yang dia hirup lagi kedalam.
"Saya sedih, Ga, gimana bisa Istri meninggalkan karna punya penyakit dan lebih sedihnya lagi suaminya tidak peduli." cerita Mika menghapus ingusnya yang keluar dari lubang hidungnya dengan tangannya.
Raga terkekeh geli. "Segitu sedihnya film itu menurutmu, hmm?" tanya Raga menaikan kedua alisnya.
Mika mengangguk. "Saya sedih, saya pikir nantinya saya seperti wanita itu kalo anda mempunyai istri baru.." kata Mika membuat Raga diam seribu bahasa.
"Siapa yang bilang kalo aku akan menikah lagi?" tanya Raga.
"Tidak ada yang bilang sih, tapi itu mungkin akan terjadi kan,"
Raga menghebus nafasnya. "Aku bukan Pria gila wanita." ucap Raga terdengar tegas.
Mika memanyunkan bibirnya menatap Raga. "Mungkin saja nantinya anda--" ucapan Mika terpotong karna Raga menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Berani bicara lagi aku akan tenggelamkan kamu kedalam kolam!" ancam Raga.
"Oiya, dimana letaknya kolam renangĀ saya mau berenang tapi tidak pernah ketemu?"
"Dijidatmu!" Raga menunjuk dahi Mika.
"Seriusan Ga saya mau berenang sama Tasya tapi tidak pernah berjumpa dengan kolam renangnya, abisnya rumah ini besar sekali sih, seperti istana jadi susah mencari kolam renang."
"Apa Tasya tidak tahu dimana kolam renang?" tanya Raga.
Mika menggelengkan kepalanya. "Dia bilang dia cuma tahu rumah belakang, dapur dan kamar anda, Ga," jawab Mika.
"Pantas aja Tasya mau berteman denganmu ternyata dia sebelas dua belas denganmu,"
Mika menyengir, Raga salah, Tasya itu berbeda dengannya dalam semua hal namun cuma sifat pelupanya saja yang sama dengannya.